Beranda #22
Paling sulit berkata jujur. Jujur bisa berarti mengakui kebenaran. Tapi, jujur seringkali menimbulkan perasaan merendahkan martabat atau terhina. Padahal itu hanya permainan di wilayah angan-angan kita saja. Berkata jujur kenyataannya sangat membantu meringankan beban. Lalu apa yang membuat hati yang berdesakan karena dan atas nama rasa sakit ini supaya sedikit melonggarkan keadaan gelisahnya? Mungkin dengan berkata jujur, aku bisa lebih tegar. Memandang dunia yang tadinya serupa bola panas menjadi lebih dingin meski belum sekali.
Sederhana, tentang yang ingin kuungkapkan. Aku…begitu kehilangan yah kehilangan. Siapapun dia, bersama baik dan buruknya, adalah kisah. Memberi warna yang berbeda. Bahkan yang belum pernah kulihat sama sekali. Tapi inilah kehidupan. Yang ditumbuhi jalan-jalan. Jalan mana yang terpilh…ada zat yang kasat mata yang telah mengatur semuanya.
Baiklah, awalnya aku sangat menolak perasaan ini. seperti fenomena -tidak mungkin anjing menarik perhatian kucing-.karena mereka kerap bermusuhan. nyatanya, ketika mereka terpisah, ada yang hilang bersama perpisahan itu. entah apa?
Tapi waktu adalah penyembuh terbaik, kehilangan itu mutlak tapi perasaan “hilang” tidak. Kelak, akan diganti oleh peristiwa, persepsi, suasana yang baru, segalanya baru. Jangan terlalu tergantung pada orang lain. Itu yang penting dipelajari saat kehilangan. Karena saat terlalu terikat pada penopang yang rapuh, ketika kerapuhannya melapukkan dan ambruk. Kitapun ambruk…semoga kehilangan ini menjewer kepribadian getasku. Semoga
Kehilangan, memang kata yang paling mewakili perasaan Sheila. Tyo masih bisa diraihnya, tapi dia berjarak. Bukan Tyo yang dulu. Perasaan dicampakkan seringkali muncul tanpa bisa disanggah. Sheila terus menolak kenyataan bahwa Tyo telah mengakhiri ikatan agung mereka. Tyo yang meggunting pitanya, lalu ditambal dengan pita baru yang dinamai Tyo, persahabatan. Sementara Sheila memandangnya dari jauh dalam diam. Tidak melangkah, tidak mencegah, tidak berkedip. Hanya berdemo dalam hati, tapi tak bisa diluapkan.
Setiap terbagun dari tidur, Sheila sering lupa. Menganggap Tyo masih sebagai calon suami yang digadang-gadangnya. Butuh waktu lebih dari 15 menit untuk tersadar kalau keadaan memang sudah tidak sama lagi. Tyo selalu mengingatkan, perasaannya belum berubah, tapi sekedar itu, Sheila tidak bisa menuntut lagi. Tidak ada perbincangan tentang cinta atau pernikahan lagi. Hubungan mereka hanya sebatas memberi dukungan.
“De harus ingat, satu hal ini, terus menerus. Kalau kita memang berjodoh, pasti akan ada jalan untuk bertemu lagi. Mungkin De harus menikah dulu dengan orang lain, Mas juga. Lalu kita ketemu lagi, dalam keadaan sendiri. Who knows? Tidak ada yang bisa memecahkan kemisteriusan jodoh, sekalipun De sudah memilih mas sebagai belahan jiwa,” kata-kata Tyo memenuhi udara.
Sheila memang memiliki hak untuk mempertanyakan, menggugat, menolak, keputusan sepihak Tyo. Tapi penjelasan tidak lagi penting jika sifatnya menyakitkan. Mulai sekarang Sheila berusaha tidak peduli lagi dengan perasaannya, biar kepedulian itu dialihkan untuk kesembuhan Tyo saja.
Tyo sudah dua bulan terpaku di kursi rodanya. Sheila sekali-kali berada di samping Tyo untuk menyalurkan semangat. Apalagi saat Tyo harus pergi ke klinik fisioterapi untuk memperkuat otot-otot sekaligus memperbaiki pola berjalannya, Sheila nyaris selalu ada. Perlahan, tubuh Tyo yang terasa kaku mulai melentur. Demikian pula dengan kakinya yang selalu gemetaran tanpa terkontrol perlahan mulai mereda. Kakinya yang sempat baal, kini 80 persen sudah mulai terasa. Trauma pernah lumpuh, kadang-kadang masih mengganggu pikiran Tyo. Dia jadi kurang pede berjalan tanpa bantuan walker. Tyo sering dihinggapi rasa takut akan jatuh sehingga pennya lepas dan sebagainya. Tapi Sheila lagi-lagi membuat Tyo lebih nyaman.
“Pasti aku terlihat sangat kejam,memperlakukan kamu seperti ini, De. Kamu masih saja di sekelilingku, tapi aku…,”
“Mas, jangan membahas yang sudah berlalu. Kata Mas, kita harus melihat ke depan. De, sedang melihatnya sekarang. Mas akan pulih, suatu saat Mas bisa kuliah lagi,Mas bisa kerja lagi, menikah, punya anak. Kita akan berbahagia dengan kehidupan yang telah kita pilih nantinya,”
“Mas senang De bisa sedewasa ini,”
“Usia sama sekali tidak bisa menjadi ukuran kedewasaan. Usia hanyalah urutan, siapa yang lebih dulu lahir, jadi Mas yang lebih muda, berperan besar mempengaruhi Ade untuk yang satu ini. Thanks ya..,”
“Begitukah? Sama-sama Sayang…,”
“Heh? Apa?,”
“Ng….nggak…,”
***
Dibalik ketabahan yang ditunjukkan Sheila, Kinan, sahabatnya tahu, kalau Sheila sebenarnya remuk redam. Kinan sering membawa Sheila berbelanja, membeli baju atau sepatu, ke salon, berenang, dan berkuda. kegiatan di luar yang menyenangkan dipercaya Kinan bisa memperbaiki situasi hati Sheila. Sheila juga dipertemukan dengan psikolog kenalan Kinan, tanpa dibuka identitasnya sebagai piskolog. Jadi selama bergaul Sheila menganggapnya motivator biasa yang membuka kelas-kelas seminar motivasi, trainer dan semacamnya.
Ratih, nama psikolog berparas ayu dan berperangai lembut itu, meminta Sheila menuangkan perasaannya tentang cinta pada secarik kertas. Sore itu, suasana memang sedang cerah setelah beberapa hari diguyur hujan. Karena pekerjaan mereka sedang off, Kinan memaksa Sheila menikmati sore yang indah itu di sebuah mini cafe.
“Kinan sama Sheila, ayo masing-masing pegang kertas HVSnya. Lalu tulis, gambaran kalian tentang cinta atau perasaan jatuh cinta,” kata Ratih.
Sheila awalnya dongkol disuruh melakukan hal yang sedang tidak ingin diingatnya. Tapi ketika kalimat pertama sudah terbentuk, Sheila begitu larut, hingga melupakan sekelilingnya yang ramai.
“Memandang sosoknya dari kejauhan saja membuat hatimu berdesir. Apalagi berdiri di dekatnya. Pipimu akan merona merah dan bola matamu selalu kau gerakkan untuk menghindari tatapannya. Menjauh dari keberadaanya akan membuat matamu cepat memanas, lalu melelehkan air mata. Dadamu sesak dan bergeuruh bagai dijejaki ribuan kuda.
Saat melihatnya bersama orang lain, akan membuatmu merasa tidak berharga dan terasing. Kamu ingin sekali memakitapi pada siapa. Sedangkan keadaan antara kau dan dia belum jelas. Kamu Cuma sedang menerka-nerka apakah ada perasaan khusus dihatinya terhadapmu atau tidak.
Saat melihatnya terpuruk sendirian, kamu akan merasa bersalah meski bukan kamu penyebabnya. Ingin rasanya megulurkan tangan, paling tidak menggenggam pundaknya dan menenangkan dia dengan kata-kata manis yang telah dipersiapkan. Bahkan, kalau perasaanmu sudah tidak terbendung lagi, kamu ingin sekali berlari memeluknya.
Sedangkan, bila ia sedang bahagia, kamu merasa menjadi orang yang paling berhak mengucapkan selamat padanya. Membelikannya sekotak hadiah yang sangat ingin kamu kirimkan, tapi pada akhirnya hanya kamu simpan, karena malu menyerahkannya.
Jangan bertanya padaku apakah pendapat kita sama? Yang jelas bagiku, saat menautkan kelingkingku dengan kelingkingnya saja sudah membuatku demikian senang. Memakai jaketnya juga menyenangkan, seolah-olah menyatu dengan dirinya, bersenyawa dengan bau badannya. Meski dia memikirkan orang lain untuk berada di dekatnya. Tapi akulah yang akan selalu di belakangnya, mendoakannya.
Tahukah kamu, apa yang ingin dilakukan seorang wanita yang tengah berada di balik punggung pria yang dicintainya? Ia terus membatin sembari mengerjapkan mata, –aku mencintaimu—begitu terus diulang tanpa henti,”
Sheila menyodorkan hasil tulisannya, begitu juga Kinan. Ratih membaca kedua tulisan itu, lalu meletakkannya di meja. Ratih seperti tidak membacanya, kalaupun membaca hanya secara singkat saja.
“Bagaimana perasaan kalian?”
“Terus terang jauh lebih baik,” kata Sheila
“Iya plong gitu,” Kinan menyahut.
“Konsekuensi dari menyimpan perasaan yang tidak menyenangkan akan menimbulkan banyak masalah kesehatan. Sebaliknya, berbicara atau menulis tentang trauma pribadi terbukti memberi terapi dan menigkatkan kesehatan. Ini latihan yang mudah kan, untuk membuang emosi negatif, jadi jangan sungkan untuk membacarakan masalah kalian pada orang lain yang bisa dipercaya atau melalui tulisan,”
“Maksudmu, kita bisa sakit kalau nggak hepi?” Kinan melongo.
“Jelas sekali. Sebuah kajian ilmiah sudah membuktikan kalau ada hubungan antara kegagalan untuk membicarakan pengalaman traumatis dengan penyakit kanker, tekanan darah tinggi dan gangguan kesehatan lainnya,”
“ihhh serem juga ya…denger tuh Sheil. Hidup itu harus bahagia-bahagia aja, jangan dibikin rumit,”
“Pernah denger nggak kalau kesedihan itu bisa membuat kita mati. Bukan gara-gara kecelakaan lalu lintas, sakit jantung kronis aja kita bisa wassalam. Justru pencetusnya ya rasa sedih itu,”
“Contohnya?”
“Angka kematian pria meningkat ketika dia menduda karena ditinggal mati istrinya. Itu karena kesedihan. Kalian pernah mendengar juga kisah sedih simpanse yang ditinggal mati induknya? Simpanse yang masih anak-anak sangat tergantung dengan sang induk. Hubungan mereka begitu intim. Memang,mereka mampu mencari makan sendiri, dan kebutuhannya yang lain. Tapi secara psikologis, dia menjadi lesu dan apatis. Dia jadi rentan penyakit. Dan anehnya, penyakit itu tak kunjung sembuh. Keadaan spikologislah yang membuat mereka sakit. Sebulan kemudian ia pun mati menyusul induknya,”
“Tapi menghilangkan kesedihan kan nggak segampang kita menjulurkan lidah,” Kinan protes.
“Nggak perlu jadi orang yang dianugerahi kemampuan istimewa atau harus berlatih bertahun-tahun untuk mengendalikan emosi. Kita semua bisa kok mengendalikan emosi dengan mengubah ekspresi wajah kita. Keep smile aja. Hati yang ceria adalah obat yang manjur, ingat pepatah itu. Tawa bisa memperbaiki sirkulasi darah, melatih otot-otot perut, memperbaiki frekuensi detak jantung, membantu pencernaan,”
“Kalau praktek segampang teorinya, pasti teori nggak dibutuhkan ya…Sulit sekali Rat. Orang kalau lagi sedih, punya dunia sendiri. Kita mau ngomong apa, dia nggak bakal dengerin,” Kinan melirik ke Sheila dengan lirikan menyindir.
“Dalam hidup itu, rekreasi, tidur cukup dan pola makan yang baik adalah kunci supaya tetap sehat dan gembira. Kadang aku menyebutnya sebagai kemewahan yang belum tentu bisa dimiliki semua orang. Jadi usahakan ketiganya seimbang”
Sheila menyeruput tandas sisa lemon tea di gelasnya. Meski kesedihan jadi bahaya latin kematian, toh Shiela tetap punya hak untuk bersedih. Semua orang juga tahu, jika hanya waktu yang bisa menyembuhkan.
***
Endita dan Gema akan menikah.
Kabar bahagia itu, terselip diantara rasa pedih yang masih bercokol di hati Sheila. Ternyata, mereka membuat keputusan berani lebih cepat dari yang Sheila bayangkan. Gema tak butuh waktu lama untuk bangkit dan menemukan cinta baru. Kalau Sheila bisa mencontoh, Gema pantas jadi panutan.
Sheila sedang mengemasi barang-barangnya, saat ponselnya berdering. Nomor yang memanggilnya adalah nomor asing. Sheila sempat membiarkannya. Sheila malas mengangkat telpon dari orang iseng. Tapi sebuah SMS kemudian mengejutkannya.
“Mbak bisa ke rumah sebentar? RATRI,”
Melihat SMS itu, Sheila langsung menelpon balik.
“Ada apa? Ada sesuatu sama Mas Tyo?”
“Iya mbak, demamnya nggak turun-turun, panasnya sampai 39 derajat celcius. Setelah aku bongkar kamarnya, Mas Tyo ternyata tidak menghabiskan obat yang harusnya diminum secara teratur. Apa mungkin dia stres karena harus minum obat berbulan-bulan ya mbak, kalau bakterinya balik lagi gimana?” suara Ratri bergetar.
Sheila melihat tiket keretanya. Masih tiga jam lagi baru berangkat. Dia bisa menengok Tyo sebentar sebelum ke stasiun.
“Mbak ke sana..sekarang,”
Sheila memasuki kamar Tyo yang sedikit sumpek. Tyo terbaring, sepertinya sedang tidur. Sementara, Ratri di sampingnya. Ibu tidak ada, Bapak juga entah kemana. Hanya kakak beradik itu yang sama-sama diam dalam cahaya lampu yang tidak begitu terang.
“Ratri..,”
“Mbak, mungkin Mas Tyo harus di X-ray lagi. Dia harus diperiksa. Mas Tyo mulai berhenti minum obat setelah dia sering muntah dan diare setelah minum obat,”
“Ibu dimana? Kalian harus memusyawarahkan ini,”
“Mas Tyo justru makin stres karena ibu selalu mengungkit-ungkit tanah kami yang tak seberapa terpaksa dijual hanya untuk pengobatan Mas Tyo.Kami juga terlilit hutang dengan rentenir. Tinggal sawah dua ubin saja yang kami miliki dan rumah ini. Ibu masih nggak rela kalau itu juga harus dijual untuk pengobatan lanjutan Mas Tyo,”
“Tapi Mbak khawatir, kuman TBC menyerang tulang Mas Tyo lebih ganas dari sebelumnya, karena dia berhenti minum obat. Mbak sendiri, sore ini harus berangkat ke Jakarta untuk urusan keluarga. Mbak pengen ikut jagain Mas Tyo..Tapi urusan yang satu ini benar-benar nggak bisa ditinggalkan,”
“Aku nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi, mbak. Meskipun pada akhirnya ibu nggak akan tega membiarkan Mas Tyo begitu. Tapi dia pasti pakai marah-marah dulu. Kondisi psikologis Mas Tyo jadi makin terpuruk,”
“Mbak usahakan secepatnya kembali ke sini untuk nemenin Mas Tyo. Begini, mbak minta nomer rekening kamu, nanti mbak transfer uang. Jumlahnya mungkin jauh dari cukup untuk pengobatan Mas mu, tapi semoga bisa membantu,”
“Jangan Mbak. Mbak udah membantu banyak. Nanti kalau ketahuan Mas tyo, dia bisa marah,”
“Sekarang yang harus kita lakukan adalah menolong Mas Tyo. Jangan pikirkan yang lain,”
“Bagaimana, kami mengembalikannya?”
“Tolong kasih sayangi Mas Tyo. Jaga dia baik-baik. Kamu harus mengabari terus perkembangan Mas Tyo ke Mbak,”
Sheila memegang tangan Ratri tapi matanya menatap Tyo. Ternyata cinta tetap bekerja. Mempersembahkan semua yang ada. Sheila tak lagi merasa dicampakkan. Dia justru diberi kesempatan untuk menebus segala kesalahan di masa lalunya.
1902
