Pengumpan RSS

Tentang Beranda Jiwa 18

Posted on

Beranda #22

Paling sulit berkata jujur. Jujur bisa berarti mengakui kebenaran. Tapi, jujur seringkali menimbulkan perasaan merendahkan martabat atau terhina. Padahal itu hanya permainan di wilayah angan-angan kita saja. Berkata jujur kenyataannya sangat membantu meringankan beban. Lalu apa yang membuat hati yang berdesakan karena dan atas nama rasa sakit ini supaya sedikit melonggarkan keadaan gelisahnya? Mungkin dengan berkata jujur, aku bisa lebih tegar. Memandang dunia yang tadinya serupa bola panas menjadi lebih dingin meski belum sekali.

Sederhana, tentang yang ingin kuungkapkan. Aku…begitu kehilangan yah kehilangan. Siapapun dia, bersama baik dan buruknya, adalah kisah. Memberi warna yang berbeda. Bahkan yang belum pernah kulihat sama sekali. Tapi inilah kehidupan. Yang ditumbuhi jalan-jalan. Jalan mana yang terpilh…ada zat yang kasat mata yang telah mengatur semuanya.

Baiklah, awalnya aku sangat menolak perasaan ini. seperti fenomena -tidak mungkin anjing menarik perhatian kucing-.karena mereka kerap bermusuhan. nyatanya, ketika mereka terpisah, ada yang hilang bersama perpisahan itu. entah apa?

Tapi waktu adalah penyembuh terbaik, kehilangan itu mutlak tapi perasaan “hilang” tidak. Kelak, akan diganti oleh peristiwa, persepsi, suasana yang baru, segalanya baru. Jangan terlalu tergantung pada orang lain. Itu yang penting dipelajari saat kehilangan. Karena saat terlalu terikat pada penopang yang rapuh, ketika kerapuhannya melapukkan dan ambruk. Kitapun ambruk…semoga kehilangan ini menjewer kepribadian getasku. Semoga

Kehilangan, memang kata yang paling mewakili perasaan Sheila. Tyo masih bisa diraihnya, tapi dia berjarak. Bukan Tyo yang dulu. Perasaan dicampakkan seringkali muncul tanpa bisa disanggah. Sheila terus menolak kenyataan bahwa Tyo telah mengakhiri ikatan agung mereka. Tyo yang meggunting pitanya, lalu ditambal dengan pita baru yang dinamai Tyo, persahabatan. Sementara Sheila memandangnya dari jauh dalam diam. Tidak melangkah, tidak mencegah, tidak berkedip. Hanya berdemo dalam hati, tapi tak bisa diluapkan.

Setiap terbagun dari tidur, Sheila sering lupa. Menganggap Tyo masih sebagai calon suami yang digadang-gadangnya. Butuh waktu lebih dari 15 menit untuk tersadar kalau keadaan memang sudah tidak sama lagi. Tyo selalu mengingatkan, perasaannya belum berubah, tapi sekedar itu, Sheila tidak bisa menuntut lagi. Tidak ada perbincangan tentang cinta atau pernikahan lagi. Hubungan mereka hanya sebatas memberi dukungan.

“De harus ingat, satu hal ini, terus menerus. Kalau kita memang berjodoh, pasti akan ada jalan untuk bertemu lagi. Mungkin De harus menikah dulu dengan orang lain, Mas juga. Lalu kita ketemu lagi, dalam keadaan sendiri. Who knows? Tidak ada yang bisa memecahkan kemisteriusan jodoh, sekalipun De sudah memilih mas sebagai belahan jiwa,” kata-kata Tyo memenuhi udara.

Sheila memang memiliki hak untuk mempertanyakan, menggugat, menolak, keputusan sepihak Tyo. Tapi penjelasan tidak lagi penting jika sifatnya menyakitkan. Mulai sekarang Sheila berusaha tidak peduli lagi dengan perasaannya, biar kepedulian itu dialihkan untuk kesembuhan Tyo saja.

Tyo sudah dua bulan terpaku di kursi rodanya. Sheila sekali-kali berada di samping Tyo untuk menyalurkan semangat. Apalagi saat Tyo harus pergi ke klinik fisioterapi untuk memperkuat otot-otot sekaligus memperbaiki pola berjalannya, Sheila nyaris selalu ada. Perlahan, tubuh Tyo yang terasa kaku mulai melentur. Demikian pula dengan kakinya yang selalu gemetaran tanpa terkontrol perlahan mulai mereda. Kakinya yang sempat baal, kini 80 persen sudah mulai terasa. Trauma pernah lumpuh, kadang-kadang masih mengganggu pikiran Tyo. Dia jadi kurang pede berjalan tanpa bantuan walker. Tyo sering dihinggapi rasa takut akan jatuh sehingga pennya lepas dan sebagainya. Tapi Sheila lagi-lagi membuat Tyo lebih nyaman.

“Pasti aku terlihat sangat kejam,memperlakukan kamu seperti ini, De. Kamu masih saja di sekelilingku, tapi aku…,”

“Mas, jangan membahas yang sudah berlalu. Kata Mas, kita harus melihat ke depan. De, sedang melihatnya sekarang. Mas akan pulih, suatu saat Mas bisa kuliah lagi,Mas bisa kerja lagi, menikah, punya anak. Kita akan berbahagia dengan kehidupan yang telah kita pilih nantinya,”

“Mas senang De bisa sedewasa ini,”

“Usia sama sekali tidak bisa menjadi ukuran kedewasaan. Usia hanyalah urutan, siapa yang lebih dulu lahir, jadi Mas yang lebih muda, berperan besar mempengaruhi Ade untuk yang satu ini. Thanks ya..,”

“Begitukah? Sama-sama Sayang…,”

“Heh? Apa?,”

“Ng….nggak…,”

***

Dibalik ketabahan yang ditunjukkan Sheila, Kinan, sahabatnya tahu, kalau Sheila sebenarnya remuk redam. Kinan sering membawa Sheila berbelanja, membeli baju atau sepatu, ke salon, berenang, dan berkuda. kegiatan di luar yang menyenangkan dipercaya Kinan bisa memperbaiki situasi hati Sheila. Sheila juga dipertemukan dengan psikolog kenalan Kinan, tanpa dibuka identitasnya sebagai piskolog. Jadi selama bergaul Sheila menganggapnya motivator biasa yang membuka kelas-kelas seminar motivasi, trainer dan semacamnya.

Ratih, nama psikolog berparas ayu dan berperangai lembut itu, meminta Sheila menuangkan perasaannya tentang cinta pada secarik kertas. Sore itu, suasana memang sedang cerah setelah beberapa hari diguyur hujan. Karena pekerjaan mereka sedang off, Kinan memaksa Sheila menikmati sore yang indah itu di sebuah mini cafe.

“Kinan sama Sheila, ayo masing-masing pegang kertas HVSnya. Lalu tulis, gambaran kalian tentang cinta atau perasaan jatuh cinta,” kata Ratih.

Sheila awalnya dongkol disuruh melakukan hal yang sedang tidak ingin diingatnya. Tapi ketika kalimat pertama sudah terbentuk, Sheila begitu larut, hingga melupakan sekelilingnya yang ramai.

“Memandang sosoknya dari kejauhan saja membuat hatimu berdesir. Apalagi berdiri di dekatnya. Pipimu akan merona merah dan bola matamu selalu kau gerakkan untuk menghindari tatapannya. Menjauh dari keberadaanya akan membuat matamu cepat memanas, lalu melelehkan air mata. Dadamu sesak dan bergeuruh bagai dijejaki ribuan kuda.

Saat melihatnya bersama orang lain, akan membuatmu merasa tidak berharga dan terasing. Kamu ingin sekali memakitapi pada siapa. Sedangkan keadaan antara kau dan dia belum jelas. Kamu Cuma sedang menerka-nerka apakah ada perasaan khusus dihatinya terhadapmu atau tidak.

Saat melihatnya terpuruk sendirian, kamu akan merasa bersalah meski bukan kamu penyebabnya. Ingin rasanya megulurkan tangan, paling tidak menggenggam pundaknya dan menenangkan dia dengan kata-kata manis yang telah dipersiapkan. Bahkan, kalau perasaanmu sudah tidak terbendung lagi, kamu ingin sekali berlari memeluknya.

Sedangkan, bila ia sedang bahagia, kamu merasa menjadi orang yang paling berhak mengucapkan selamat padanya. Membelikannya sekotak hadiah yang sangat ingin kamu kirimkan, tapi pada akhirnya hanya kamu simpan, karena malu menyerahkannya.

Jangan bertanya padaku apakah pendapat kita sama? Yang jelas bagiku, saat menautkan kelingkingku dengan kelingkingnya saja sudah membuatku demikian senang. Memakai jaketnya juga menyenangkan, seolah-olah menyatu dengan dirinya, bersenyawa dengan bau badannya. Meski dia memikirkan orang lain untuk berada di dekatnya. Tapi akulah yang akan selalu di belakangnya, mendoakannya.

Tahukah kamu, apa yang ingin dilakukan seorang wanita yang tengah berada di balik punggung pria yang dicintainya? Ia terus membatin sembari mengerjapkan mata, –aku mencintaimu—begitu terus diulang tanpa henti,”

Sheila menyodorkan hasil tulisannya, begitu juga Kinan. Ratih membaca kedua tulisan itu, lalu meletakkannya di meja. Ratih seperti tidak membacanya, kalaupun membaca hanya secara singkat saja.

“Bagaimana perasaan kalian?”

“Terus terang jauh lebih baik,” kata Sheila

“Iya plong gitu,” Kinan menyahut.

“Konsekuensi dari menyimpan perasaan yang tidak menyenangkan akan menimbulkan banyak masalah kesehatan. Sebaliknya, berbicara atau menulis tentang trauma pribadi terbukti memberi terapi  dan menigkatkan kesehatan. Ini latihan yang mudah kan, untuk membuang emosi negatif, jadi jangan sungkan untuk membacarakan masalah kalian pada orang lain yang bisa dipercaya atau melalui tulisan,”

“Maksudmu, kita bisa sakit kalau nggak hepi?” Kinan melongo.

“Jelas sekali. Sebuah kajian ilmiah sudah membuktikan kalau ada hubungan antara kegagalan untuk membicarakan pengalaman traumatis dengan penyakit kanker, tekanan darah tinggi dan gangguan kesehatan lainnya,”

“ihhh serem juga ya…denger tuh Sheil. Hidup itu harus bahagia-bahagia aja, jangan dibikin rumit,”

“Pernah denger nggak kalau kesedihan itu bisa membuat kita mati. Bukan gara-gara kecelakaan lalu lintas, sakit jantung kronis aja kita bisa wassalam. Justru pencetusnya ya rasa sedih itu,”

“Contohnya?”

“Angka kematian pria meningkat ketika dia menduda karena ditinggal mati istrinya. Itu karena kesedihan. Kalian pernah mendengar juga kisah sedih simpanse yang ditinggal mati induknya? Simpanse yang masih anak-anak sangat tergantung dengan sang induk. Hubungan mereka begitu intim. Memang,mereka mampu mencari makan sendiri, dan kebutuhannya yang lain. Tapi secara psikologis, dia menjadi lesu dan apatis. Dia jadi rentan penyakit. Dan anehnya, penyakit itu tak kunjung sembuh. Keadaan spikologislah yang membuat mereka sakit. Sebulan kemudian ia pun mati menyusul induknya,”

“Tapi menghilangkan kesedihan kan nggak segampang kita menjulurkan lidah,” Kinan protes.

“Nggak perlu jadi orang yang dianugerahi kemampuan istimewa atau harus berlatih bertahun-tahun untuk mengendalikan emosi. Kita semua bisa kok mengendalikan emosi dengan mengubah ekspresi wajah kita. Keep smile aja. Hati yang ceria adalah obat yang manjur, ingat pepatah itu. Tawa bisa memperbaiki sirkulasi darah, melatih otot-otot perut, memperbaiki frekuensi detak jantung, membantu pencernaan,”

“Kalau praktek segampang teorinya, pasti teori nggak dibutuhkan ya…Sulit sekali Rat. Orang kalau lagi sedih, punya dunia sendiri. Kita mau ngomong apa, dia nggak bakal dengerin,” Kinan melirik ke Sheila dengan lirikan menyindir.

“Dalam hidup itu, rekreasi, tidur cukup dan pola makan yang baik adalah kunci supaya tetap sehat dan gembira. Kadang aku menyebutnya sebagai kemewahan yang belum tentu bisa dimiliki semua orang. Jadi usahakan ketiganya seimbang”

Sheila menyeruput tandas sisa lemon tea di gelasnya. Meski kesedihan jadi bahaya latin kematian, toh Shiela tetap punya hak untuk bersedih. Semua orang juga tahu, jika hanya waktu yang bisa menyembuhkan.

***

Endita dan Gema akan menikah.

Kabar bahagia itu, terselip diantara rasa pedih yang masih bercokol di hati Sheila. Ternyata, mereka membuat keputusan berani lebih cepat dari yang Sheila bayangkan. Gema tak butuh waktu lama untuk bangkit dan menemukan cinta baru. Kalau Sheila bisa mencontoh, Gema pantas jadi panutan.

Sheila sedang mengemasi barang-barangnya, saat ponselnya berdering. Nomor yang memanggilnya adalah nomor asing. Sheila sempat membiarkannya. Sheila malas mengangkat telpon dari orang iseng. Tapi sebuah SMS kemudian mengejutkannya.

“Mbak bisa ke rumah sebentar? RATRI,”

Melihat SMS itu, Sheila langsung menelpon balik.

“Ada apa? Ada sesuatu sama Mas Tyo?”

“Iya mbak, demamnya nggak turun-turun, panasnya sampai 39 derajat celcius. Setelah aku bongkar kamarnya, Mas Tyo ternyata tidak menghabiskan obat yang harusnya diminum secara teratur. Apa mungkin dia stres karena harus minum obat berbulan-bulan ya mbak, kalau bakterinya balik lagi gimana?” suara Ratri bergetar.

Sheila melihat tiket keretanya. Masih tiga jam lagi baru berangkat. Dia bisa menengok Tyo sebentar sebelum ke stasiun.

“Mbak ke sana..sekarang,”

Sheila memasuki kamar Tyo yang sedikit sumpek. Tyo terbaring, sepertinya sedang tidur. Sementara, Ratri di sampingnya. Ibu tidak ada, Bapak juga entah kemana. Hanya kakak beradik itu yang sama-sama diam dalam cahaya lampu yang tidak begitu terang.

“Ratri..,”

“Mbak, mungkin Mas Tyo harus di X-ray lagi. Dia harus diperiksa. Mas Tyo mulai berhenti minum obat setelah dia sering muntah dan diare setelah minum obat,”

“Ibu dimana? Kalian harus memusyawarahkan ini,”

“Mas Tyo justru makin stres karena ibu selalu mengungkit-ungkit tanah kami yang tak seberapa terpaksa dijual hanya untuk pengobatan Mas Tyo.Kami juga terlilit hutang dengan rentenir. Tinggal sawah dua ubin saja yang kami miliki dan rumah ini. Ibu masih nggak rela kalau itu juga harus dijual untuk pengobatan lanjutan Mas Tyo,”

“Tapi Mbak khawatir, kuman TBC menyerang tulang Mas Tyo lebih ganas dari sebelumnya, karena dia berhenti minum obat. Mbak sendiri, sore ini harus berangkat ke Jakarta untuk urusan keluarga. Mbak pengen ikut jagain Mas Tyo..Tapi urusan yang satu ini benar-benar nggak bisa ditinggalkan,”

“Aku nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi, mbak. Meskipun pada akhirnya ibu nggak akan tega membiarkan Mas Tyo begitu. Tapi dia pasti pakai marah-marah dulu. Kondisi psikologis Mas Tyo jadi makin terpuruk,”

“Mbak usahakan secepatnya kembali ke sini untuk nemenin Mas Tyo. Begini, mbak minta nomer rekening kamu, nanti mbak transfer uang. Jumlahnya mungkin jauh dari cukup untuk pengobatan Mas mu, tapi semoga bisa membantu,”

“Jangan Mbak. Mbak udah membantu banyak. Nanti kalau ketahuan Mas tyo, dia bisa marah,”

“Sekarang yang harus kita lakukan adalah menolong Mas Tyo. Jangan pikirkan yang lain,”

“Bagaimana, kami mengembalikannya?”

“Tolong kasih sayangi Mas Tyo. Jaga dia baik-baik. Kamu harus mengabari terus perkembangan Mas Tyo ke Mbak,”

Sheila memegang tangan Ratri tapi matanya menatap Tyo. Ternyata cinta tetap bekerja. Mempersembahkan semua yang ada. Sheila tak lagi merasa dicampakkan. Dia justru diberi kesempatan untuk menebus segala kesalahan di masa lalunya.

1902

 

Tentang Beranda Jiwa 17

Posted on

Beranda #21

Keyakinan Tyo mampu menghadapi operasi tanpa bantuan Sheila, ternyata terbukti. Sheila tidak tahu darimana keluarga Tyo mendapat uang yang jumlahnya nyaris menyentuh angka Rp 100 juta. Sedangkan tulang punggung keluarga mereka hanyalah sang ibu. Penghasilan Ibu Tyo berasal dari home industri rempeyek dan konveksi kecil-kecilan.

Tapi Sheila tak ingin memusingkan itu. la cukup lega, akhirnya keluarga besar Tyo jadi lebih hangat setelah Tyo sakit parah. Bisa jadi itu kepedulian yang datang terlambat, tapi Sheila menghargainya. Tyo tidak akan merasa kesepian lagi.

“Mbak nggak kerja,”Ratri, adik Tyo, bertanya sambil menyodorkan secangkir kecil teh hangat. Pas sekali, udara malam begitu dingin menggigit. Sweater woll Sheila bahkan tak mamapu menahan terpaan dinginnya.

“Mbak ijin sehari,”

“Wah, kalau Mas Tyo tahu, dia bisa marah lho mbak. Dia paling nggak suka kalau Mbak menelantarkan pekerjaan,”

“Bagaimana bisa kerja, kalau pikiranku di sini, percuma,”

“iya, aku bisa mengerti perasaan, Mbak,”

“Lama sekali dia sadar, apa sudah ada kabar dari dokter?”

“Belum,”

Sheila begidik. Membayangkan tubuh Tyo dipasangi banyak alat di ruang ICU. Setelah operasi paling tidak satu malam, Tyo memang harus menginap di ICU, sebelum pindah ke ruang perawatan biasa. Sheila berusaha menenangkan diri dengan membuka internet, mencari artikel tetang TBC tulang. Beberapa pengalaman pasien TBC tulang, dihari kedua mereka sudah bisa belajar duduk. Hari berikutnya bisa belajar jalan. Asalkan rajin terapi gerak dan minum obat teratur, pasien akan sembuh. Ini bukan penyakit yang tidak bisa diobati.

***

“Sayang, diminum dulu obatnya,” Sheila membantu Tyo memegangi obat yang hendak diminum. 8 butir. Sheila hanya menelan ludah melihat obat sebanyak dan dengan ukuran sebesar itu.

“De, nanti di depan pintu tolong ditulisin yah, pengunjung yang membawa benda magnet dilarang masuk,”

“Lho kenapa?”

“Nggak tahu ya sekarang aku kan bionic man. Ada pen titanium sama mur ditanam badan Mas, nanti kalau pada nempel gimana?”

“Masihhh bisa bercandaaa,”

“Bercanda bisa, berdansa yang nggak bisa. Kakiku belum bisa gerak nih,” kata Tyo sembari menepuk-nepuk kedua kakinya.

“Sabar sayang, kalau cuma sakit pilek sih, sehari juga udah bisa lari-lari,” Sheila mengusap rambut depan Tyo yang berantakan.

“De lihat, kantung nanah yang dikeluarin dari tubuh Mas nggak? Ih..masa ya di tulang bisa abses,  ada nanahnya,”

“Hoeekk, Mas ih..jangan ngomongin itu. De mual,”

“Mual itu bawaan bayi kita,”

Sheila mendelik. Tyo memanyunkan bibirnya.

“De ijin berapa hari dari kantor?”

“Besok kebetulan tanggal merah, koran kan nggak terbit. De ijin sehari, plus libur sehari berarti,”

“De pulang aja ke Kebumen. Mas, mungkin masih lama dirawat di sini,”

“Iya Mas memang harus lebih lama di rumah sakit. Untung aja Purwokerto punya rumah sakit khusus tulang yang bagus, jadinya De nggak terlalu jauh buat jenguk Mas,”

“Sayang, Mas harus bilang apa untuk semua yang sudah de lakukan,”

“Mas, nggak ngusir Ade aja, De udah seneng. Mas kalau sakit suka berubah galak,”

“Mas malu kalau terlihat lemah, mau nangis juga nggak enak di depan Ade,”

“Menangis bukan lemah atau cengeng. Itu hanya ekspresi jiwa,”

“Ya tapi….eh ada dokter….,”

Dokter Gunawan Sp OT Spine datang bersama beberapa perawat dan co as dokter, memeriksa keadaan Tyo. Senyumnya yang kebapakan dan sifatnya yang suka berkelakar, membuat Tyo sangat nyaman. Dia pula yang meyakinkan Tyo untuk segera menjalani operasi, disaat dokter-dokter lain tidak mampu membujuknya.

“Mas Tyo akan mengalami masa-masa sulit setelah operasi. Itu wajar. Nafsu makan berkurang, berat badan turun, kaki belum bisa bebas digerakkan. Macam-macam lah. Tapi kalau disiplin menjalni fisioterapi, minum obat tepat waktu, Mas Tyo akan sembuh. Sugesti diri Anda juga, kalau semua bisa dilewati dengan baik-baik saja,” kata dokter Gunawan.

“Oh ya dok, saya takut penyakit saya menular. Bahaya tidak kalau kami sedekat ini?” Tangan Tyo menarik badan Sheila lebih dekat dengannya.

“hahaha…Ya memang keluarga ataupun yang dekat dengan pasien sebaiknya memeriksakan diri juga Karena penularannya tergolong cepat. Bisa melalui udara, darah dan peralatan makanan. Kalau mengalami gejala-gejala seperti berat badan turun drastis, demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas, tapi bukan tifus, malaria atau infeksi saluran nafas akut, disertai keringat malam, pembesaran kelenjar getah bening yang biasanya di daerah leher, ketiak dan lipatan paha, juga batuk lama lebih dari 30 hari, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter,”

“De, jauh-jauh sana,” Tyo cepat-cepat menyuruh Sheila menjauh. Tindakan Tyo kembali memancig tawa dokter Gunawan.

“Mas tyo juga harus rajin pakai masker, menjaga ventilasi dan makan makanan bergizi. Oh ya, sekali lagi soal obat,  harus dikonsumsi secara teratur dalam jangka lama atau berkisar satu tahun. Di sinilah kedisiplinan pasien sangat dituntut. Seringkali, pengobatan yang lama menimbulkan kebosanan  pasien. Jika hal itu terjadi, kuman tersebut menjadi kebal terhadap antibiotika,”

“Saya akan jadi satpamnya dok,” celetuk Sheila.

“Terimakasih. Sudah ya, besok kita cek lagi,”

“Terimakasih dokter,” ujar Sheila dan Tyo hampir bersamaan.

***

Sudah satu minggu, tumpukan pekerjaan kantor merenggut waktu Sheila membersamai Tyo. Gelaran safety riding yang merupakan kerjasama kantornya dengan kepolisian lalu lintas, sedang menjadi primadona di sekolah-sekolah. Sheila yang sudah kadung ditunjuk sebagai koordinator liputan, harus mengikuti agenda itu sampai selesai.

Padahal, Ratri pernah mengirim SMS kalau Tyo mengalami depresi karena tak kunjung bisa berjalan. Sheila sudah sangat ingin terlibat dalam keterpurukan Tyo seperti biasa, meski Tyo melarangnya memiliki rasa peduli yang berlebihan. Kata Tyo, hubungan kekasih, bukan untuk menjerat, membuat pasangannya tidak bebas beraktualisasi.

“Ki, please, ini kan tinggal sesi terakhir. Pasrahin ke Nugroho aja ya, Aku harus ke tempat Tyo. Andai kamu tahu keadaan dia sekarang. Dia masih belum bisa berjalan,”

Sheila sampai memohon-mohon untuk dibebastugaskan dihari terakhir penyelenggaraan safety riding tahap pertama. Sheila sudah tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya untuk secepat mungkin menemui Tyo. Untunglah, Kinan, bukan orang yang tak punya hati, dia mengijinkan.

Di atas kursi roda, dengan berat badan yang terus merosot, hingga nyaris kulit pembalut tulang, Tyo menatap nanar pada Sheila. Wajahnya sudah seputih kapas dan tidak ada segaris senyum yang biasa menyambut kedatangan Sheila. Saat Sheila bersimpuh di depan kursi roda, Sheila melihat mata kekasihnya berkaca-kaca.

Ratri bilang Tyo tidak bisa menelan nasi. baru melihat nasi saja dia selalu muntah. Jadi hanya bubur  sumsum yang dikonsumsinya tiap hari. Berat badannya sudah turun sekitar delapan kilo.

“Sayang…,” Sheila memanggil.

“Boleh nggak Mas peluk Ade, sekalii aja,” ucap Tyo lirih.

“Kenapa cuma sekali? Berkali-kali juga boleh,” Sheila berdiri lalu membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Tyo yang kini memakai masker.

Keduanya berpelukan. Sungguh, 10 menit yang hangat. Sheila tak mampu membendung airmatanya lagi. Tapi saat Tyo melepas pelukannya, Sheila sudah mengemas air mata itu dengan punggung tangannya.

“Sayang, dengarkan Mas baik-baik. Tolong Ade berpikir secara jernih. Tanamkan juga pada pikiran Ade, kalau Mas ini nggak bermaksud jahat,”

“Mas mau bicara apa?”

“Sayang, Mas mau kita kembali seperti waktu pertama kita ketemu. Sebagai sahabat yang baik,”

“Maksud mas?”

“Anggaplah ini jalan yang bercabang, kalau mau menengok masa lalu, tentu perasaan kita yang harus diperkuat, karena masa lalu membentuk perasaan kita yang sekarang. Tapi kalau mau menatap masa depan, De harus berani melawan perasaan itu, dan berjalanlah dengan realitas yang ada,”

“Tolong jangan berputar-putar, Ade nggak ngerti,”

“Kita kembali bersahabat aja ya…De harus bisa hidup tanpa bergantung dengan Mas lagi sebagai kekasih. Mas yakin De bisa. Perasaan mas nggak pernah berubah hingga detik ini, perasaan yang sangat dalam sampai Mas tidak mau ditarik keluar dari kedalaman itu. Tapi keadaanlah yang berubah, semua sudah tidak sama lagi. Tolong, kali ini jangan debat Mas. Mas sudah terlalu lelah untuk sekedar menaikkan volume suara supaya Ade mengerti,”

Sheila terkesiap. Ini sebuah perpisahan yang tidak dirancang sama sekali. Ini terlalu sepihak. Batin Sheila menjerit-jerit. Lutut Sheila gemetaran, seperti tak sanggup menyangga tubuhnya lagi. Sheila akhirnya terduduk di hadapan Tyo. Matanya kering. Air mata sudah tidak bisa dipompa lagi.

“De…jadilah pribadi yang kuat. kebahagiaan bisa didapat dari mana saja, tidak selalu searah, tidak harus dari Mas,”

“Jangan bilang apa-apa lagi, Mas. Cukup,” Sheila sedikit membentak. Giginya gemerutuk, menahan seribu macam rasa sakit yang membuncah.

“Sayang….,” Tyo membuka kedua tangannya lagi, berharap Sheila menghambur ke pelukannya, untuk yang terakhir kali.

Sheila terlalu lemah untuk bangkit. Dia hanya mampu merebahkan kepalanya di atas pangkuan Tyo. Semua serba gelap dalam dunia Sheila. Otaknya berharap kosong berisi angin atau minimal kerupuk. Supaya tidak terasa apa-apa.

***

1320

Tentang Beranda Jiwa 16

Posted on

Beranda #20

Seorang yang mencinta, ketika yang dicintainya luka, pasti merasa lebih terluka lagi, meskipun penderitaan itu tidak terjadi langsung padanya. dan, Sheila merasakan itu.  Sheila bisa memberi motivasi dan memompa semangat Tyo untuk bertahan dalam keadaannya, tapi dia sendiri begitu rapuh.

Setiap malam, Sheila terjaga dari tidur dengan perasaan perih. Kantuknya hilang entah kemana. Ia ingin selalu menggenggam tangan Tyo, tapi Tyo melarangnya memiliki perasaan yang terlalu berlebihan.

“Semua harus dilalui dengan tenang, sayang” bisik Tyo setiap kali Sheila mulai gelisah membabi buta.

“Kau mungkin tidak sekhawatir aku, karena kau yang mengalaminya, kau tahu bagaimana cara mengatasinya. Sedangkan aku? tidak tahu  bisa apa. Kau mungkin tidak seresah aku, karena kau yang merasakannya, kau tahu bagaimana meredakannya. Sedangkan aku? tidak mengerti dengan apa. Kau mungkin tidak sebingung aku, karena kau yang menjalaninya. kau tahu bagaimana mengendalikannya. Sedangkan aku? tidak paham harus seperti apa,” Sheila selalu protes kalau Tyo sudah menunjukkan mimik kesakitan, tapi tidak mau dikasihani. Justru mengusir Sheila keluar dari kamarnya.

“Simpati boleh, tapi jangan ditatap dengan pandangan kasihan begitu. Mas, nggak mau,”

“Biarkan De mengalami segala kekacauan rasa untukmu. Berpartisipasi supaya  merasa lebih baik. Jangan khawatir, karena rasa itu akan kembali sama, dingin dan tenang, sesaat lagi,” Hibur Sheila setiap Tyo mengungkapkan rasa tidak sukanya karena terlalu diperhatikan.

Berpartisipasi supaya merasa lebih baik? Itu kata-kata bohong. Sheila tidak pernah merasa baik, meski sudah mendampingi Tyo menjalani hari-harinya dengan badan digips. Ini sudah enam bulan, tapi gips tidak berpengaruh apapun, karena punggung Tyo memang sudah parah. Tiga rumah sakit yang memeriksa hasil rontgen Tyo, semua dokternya menyarankan untuk operasi.

“Tulang lumbal 2 dan 3 patah, Dua ruas tulang sudah hancur. Tulangnya sudah diselimuti nanah,” kira-kira seperti itu yang dikatakan dokter dan diterima telinga Sheila yang berdenging-denging.

“Mas memang harus dioperasi, supaya bisa seperti dulu lagi. Mas nggak mau kan, jadi nggak produktif?”

“Iya, tapi biayanya pasti sangat mahal. De tahu kan kondisi keluarga Mas?”

“Orangtua Mas pasti mau mengusahakan apapun. Ini keadaan gawat, mereka nggak bisa cuek lagi,”

“Entahlah apa ibu bisa berpikiran seperti De atau nggak?,”

“She’s a mother. Nalurinya sebagai ibu akan bicara juga. Atau kalau memang keluarga Mas, nggak ada yang peduli, De yang akan tanggung semuanya,”

“De, kalau De sampai melakukan itu, lebih baik kita akhiri saja hubungan kita. De tidak perlu berkorban begitu besar buat Mas,”

“Tapi Mas harus operasi secepatnya. De nggak ngasih cuma-cuma, De pinjami uangnya, nanti Mas bisa kembalikan,”

“De bisa pakai uangnya untuk melanjutkan hidup, melanjutkan masa depan Ade. Mas nggak ikhlas, sungguh! De nggak boleh seperti ini,”

“Jangan egois lah Mas.,”

“Ade yang jangan egois. Mas tahu, De cinta betul sama Mas. Tapi jangan terlalu total, hidup itu penuh batu sandungan. Ketika De mencintai secara total, rasanya bisa sakit terus dan kecewa. Sekarang saja, pasti De memiliki perasaan kecewa karena mas sakit, karena De terlampau peduli,”

“Mas kok gitu sih,”

“Sayang, Mas nggak bermaksud jahat. Mas akan berusaha dengan kemampuan Mas sendiri,”

“Baiklah. Tapi jangan melarang De berada di dekat Mas, itu namanya sudah menyakiti,”

“Kalau itu harus. Tanpa De, darimana Mas bisa dapatkan obat bius penghilang rasa sakit,”

“Hhhh Ade disamain obat bius?”

“Daripada obat tikus,”

***

516

Tentang Beranda Jiwa (15)

Posted on

Beranda #19

Masakan Padang yang identik dengan pedas bersantan, ternyata mampu menarik simpati lidah orang Jawa seperti Sheila dan Tyo. Salah satu rumah makan masakan Padang, Rasa Minang, sering menjadi langganan mereka berdua untuk santap siang. Apalagi, manajernya yang sudah sangat dekat dengan Sheila bilang, baru melaunching menu yang lebih variatif  yakni dendeng batokok dan pengek ikan.

Dendeng batokok, adalah masakan khas Sumatera Barat. Dendeng ini dibuat dari irisan tipis dan lebar daging sapi yang dikeringkan lalu digoreng kering. Setelah diiris tipis melebar, lalu dipukul-pukul dengan batu cobek supaya dagingnya menjadi lembut. Daging goreng ini lalu disiram bumbu balado.

Beda lagi dengan pengek ikan. Pengek ikan merupakan masakan khas Ombilin, Solok. Warna masakan ini sangar karena merah segar dengan banyaknya cabe yang dibubuhkan. Rasa pengek ikan lebih asam. Jenis ikan yang dipakai juga berbeda. Pengek ikan menggunakan ikan laut yang dagingnya berwarna putih dan ukurannya  sedang.

Bumbu pangek ikan sangat khas, sehingga rasanya juga khas, pedas-pedas asam. Bagi  yang tak berselera makan, masakan ini mampu menggugah selera dengan syarat ikan yang digunakan harus segar.

Selain dendeng batokok dan pengek ikan, Rasa Minang juga menyediakan menu lain seperti nasi ayam balado, nasi ikan balado, nasi cincang, nasi gulai kikil dan masih banyak lagi. Di malam hari, rasa Minang akan merubah wajahnya menjadi warung kuliner malam yang menyajikan aneka nasi goreng seperti nasgor ayam, nasgor pete, nasgor baso, nasgor kornet, nasgor kambing dan lain-lain. Sangat dahsyat menikmati makan malam di rumah makan yang luas dan bersih seperti ini.

Tyo tampak kepedasan tapi masih meneruskan melahap pengek ikan. Sheila yang selesai lebih dulu dengan nasi goreng kambingnya, mencuri kesempatan memandangi Tyo cukup lama. Namun, pikiran Sheila melayang pada kata-kata Kinan, belum lama ini.

“Mas Wawan mulai ngeluh karena produktivitas kamu yang mulai menurun Sheil. Sorry to say, tapi kayaknya waktumu terlalu banyak bersama Tyo,”

Setelah di pindah ke desk ekonomi bisnis, pekerjaan Sheila memang sedikit santai. Liputannya ringan, karena sifatnya komersial dan berhubungan dengan iklan. Peresmian toko, pameran produk, launching produk, yah seputar itu. Beda ketika dia berada di desk floating dan kriminal yang penuh dengan agenda investigasi.

“Mas Wawan sengaja rolling kamu  ke berbagai desk dalam tempo yang cepat, karena dia mempersiapkan kamu untuk jadi redaktur Sheil. Wajar kalau dia kecewa, karena tulisanmu sekarang datar, seperti asal ketik, kamu kaya buru-buru mengejar waktu untuk kegiatan lain di luar redaksi,”

Hhhhh….Sheila mendesah. Sheila tidak yakin, dirinya yang workaholic bisa begitu tidak profesional dalam bekerja hanya karena sibuk mengurusi cinta melulu. Tapi kalau sampai Mas Wawan mengeluh pada Kinan, berarti, kelakuan Sheila memang sudah kronis.

“Ada nasi nempel di muka Mas? Ngelihatinnya kaya begitu,”

“Kita bakal jarang ketemu, Mas”

“Kenapa? uhukk” Tyo tersedak.

“Pekerjaan De lebih sibuk sekarang,”

“Ada masalah?”

“Nggak Mas. Tugas Ade lebih berat aja,”

“Kalau begitu, Mas nggak akan sering-sering ngajak Ade keluar. Ade konsen aja ke pekerjaan. Kita kan masih bisa komunikasi lewat telepon. Itu pun kalau Ade nggak sibuk,”

“Nggak gampang ngerubah kebiasaan..,”

“Ade…jangan mulai mendramatisir keadaan deh. De harus mementingkan pekerjaan. Titik,”

Tyo masih batuk-batuk. Dadanya mungkin sakit, karena beberapa kali Tyo mengelusnya.

“Ade perhatikan, Mas udah tiga minggu batuk terus, udah periksa belum?”

“Ini batuk biasa. Mas udah minum obat kok, “

“Pasti nggak ke dokter, pasti obat warung, masa nggak ada perubahan” Sheila mendengus kesal.

Tyo menanggapi dengan cengiran dan muka tak berdosa.

***

Malam…
pernahkan ada fikir yang menggiringmu untuk tetap membersamaiku?
sampai kulit kita dimakan magnet bumi hingga menggelambir begitu renta?
bisakah kita dalam derit angin yang menampar tetap menegakkan bahu, saling menyangga?
mungkin waktu telah dikebiri waktu yang lain
mungkin jiwa telah digantikan jiwa yang lain
mungkin debu telah dihembusi debu yang lain
tapi apa engkau akan berselumur menjadi manusia yang lain?
kumohonkan tidak
kuharapkan jangan
pergi! bertengger yang jauh
tapi kelak putar wajahmu kembali
sekedar menggarisbawahi bahwa kita terikat
pada kenangan
pada pepohonan
pada hujan
pada bebatuan
aku tidak tahu sampai kapan kita bisa senantiasa “saling”.
malam ini, kamu masih bisa tertawa di seberang, menggodaku
aku juga masih berderai-derai , menanggapinya
entah esok..
entah esok..
kuucapkan kembali, malam ….
sementara aku sedang memetik satu jarum hujan
di jemari
dan kupersembahkan untuk kesejukan kita, dalam hubungan berjudul apapun nantinya….

Sheila sudah lama tidak menciptakan puisi. Tapi segala tentang Tyo menuntunnya untuk mengungkapkan perasaan lewat cara apapun termasuk kalimat-kalimat. Sheila mematuhi Tyo serta keras terhadap dirinya agar tidak terlalu larut dalam cinta. Tapi rindu tetap tidak bisa digubahnya menjadi madu. Rindu tidak pernah manis.

Masalahnya kondisi kesehatan Tyo terlihat makin menurun dari hari ke hari. Sheila ingin mendengar kabarnya tiap detik kalau bisa. Sheila punya firasat jka Tyo tidak baik-baik saja. Terakhir, saat mengantarkan peyek pesanan Sheila, Tyo berjalan terpincang-pincang. Tyo mengaku, kaki kirinya terasa lemah untuk berjalan. Tapi Tyo, si keras kepala itu, selalu menolak menjalani rontgen. Dia lebih percaya tukang urut.

Tiga bulan berlalu, Tyo berusaha tampil tegar dan kekar. Tapi Sheila tahu dia menahan rasa sakit di kaki. Bahkan, Tyo sampai terjatuh dari motor karena kondisinya melemah. Tapi Tyo selalu bilang, dia hanya keselo dan masih setia diurut. Sulit sekali membujuknya pergi ke rumah sakit. Air mata Sheila pun tak bisa lagi jadi senjata.

“Kedua adikku sudah ikut suaminya masing-masing. Selama ini, kalau Mas sakit, ibu nyaris tidak pernah peduli. Dalam kondisi terparah sekalipun, Mas harus ke dapur sendiri ambil makan, memijat badan sendiri, kerokan sendiri, pokoknya mengurus diri sendiri,” Kata-kata Tyo kembali terngiang. Membuat bulir-bulir air mata Sheila jatuh lagi dan lagi.

***

“De, ikan apa yang nggak bisa berenang,”

Tyo masih saja bercanda. Padahal sekarang mereka berada di rumah sakit, menunggu hasil pemeriksaan kondisi kesehatan Tyo. Bujukan Sheila akhirnya mempan. Tyo bersedia mengakhiri ketergantunganya terhadap obat warungd an tukang urut.

“Apa?” tanya Sheila kurang antusias. Dadanya berdebar karena dokter tak kunjung keluar menemui mereka.

“Ikan bego, masa nggak bisa berenang hahhaa aduh,” Tyo memegangi punggungnya. Dia bilang ngilu.

“Mas, makanya jangan kebanyakan ketawa,”

“Daripada kebanyakan minum es malah batuk kaya begini uhuk uhuk..,” Tyo batuk-batuk terus.

“Hanantyo Wicaksono,” asisten dokter yang didatangi Sheila dan Tyo memanggil. Sheila memapah Tyo ke dalam ruangan serba putih dan berbau obat itu.

“Pak Tyo dan ibu…sebagai dokter saya tidak akan menyembunyikan keadaan terburuk dari pasien. Kondisi Pak Tyo sudah cukup parah. Bakteri Mikobakterium tuberkulosanya memang tidak masuk ke paru-paru tapi sudah menyebar ke tulang punggung Bapak. Karena ada tulang yang hancur,tidak ada jalan lain kecuali operasi, untuk pemasangan pen”

“Harus operasi dok? Kalau tidak?’

“Itu akan mempengaruhi organ motorik bapak. Bapak nanti bisa lumpuh,”

“Lumpuh??

Entah bagaimana perasaan Tyo. Sheila tidak berani memandangnya. Apalagi matanya mulai basah. Tyo pasti tidak suka.

“Kalau bapak tidak puas dengan hasil pemeriksaan di rumah sakit ini, bapak bisa mencari second atau bahkan third opinion dari dokter lain. Apa memang harus dioperasi atau tidak,”

Melihat Tyo mengalami uji TBC saja Sheila tersayat hatinya. Melihatnya harus menyetorkan dahak di pagi hari selama dua minggu berturut-turut,  tes tuberkulin di kulitnya, ah Sheila bahkan enggan mengingatnya.

1132

 

 

Tentang Beranda Jiwa (14)

Posted on

Beranda #18

Kalau Sheila ditanya hari apa yang paling medebarkan dalam hidupnya, mungkin hari ini. Tyo tiba-tiba saja mengajak Sheila ke rumahnya. Bertemu ayah dan ibunya. Peristiwa ini tidak direncanakan. Sheila bahkan tanpa persiapan. Sheila sudah lama tidak berhubungan dengan sosok seorang ibu atau ayah, setelah orangtuanya meninggal. Entah bagaimana menghadapi orangtua yang Sheila harap kelak menjadi orangtuanya juga. Sikap apa yang harus Sheila tunjukkan. Sheila orang yang kaku, sulit berbasa-basi.

“Mas…De takut,”

“Takut kaya mau perang aja. Udah santai, Mas udah cerita ke Ibu soal Ade. Nggak masalah, ibu setuju kok,”

“De gugup,”

“Kalau De nggak gugup, itu namanya nggak normal. Semua orang yang akan bertemu orang asing, apalagi ini calon mertua. Ya gugup pasti,”

“Calon mertua?,”

“Memangnya, De nggak pengen nikah sama mas,”

“Ya pengen bangett, kapan?”

“Heehehe nunggu mas selesai kuliah dulu yaa, sabar, lima tahun lagi,”

“Ade udah jadi nenek-nenek dong!!” Sheila mencubit pinggang Tyo.

“Addu duuuu duuuu, enakk cubitannya,”

“Mending Ade liputan pembunuhan deh, daripada diajak ke rumah Mas, nervous berat,”

“Cepat atau lambat, ini proses yang harus De jalani. Mas juga nanti sama, sowan ke keluarganya Ade,”

“De kan nggak punya keluarga,”

“Huss, adikmu, keluarga pak dhemu, itu kan keluarga namanya,”

“Masss,” Sheila masih merajuk.

“Ssst udah hampir sampai nih. Nanti kalau ibu ngomong yang nggak enak. Diemin aja. Ibu emang cerewet, apa aja bisa jadi omongan. Nggak usah diambil hati okey?”

“He-em,”

Rumah Tyo yang cukup jauh dari kota akhirnya tampak juga. Halaman depannya sejuk dinaungi pohon mangga dan rambutan, membuat rumah sederhana berwarna merah muda itu dikelilingi hawa segar.Kaki Sheila gemetar menapaki tangga kecil menuju kursi kayu panjang yang dipajang di depan rumah.

“Selamat datang digubuk saya, Mbak,”

“Mas!” Sheila menabok punggung Tyo yang menggodanya.

Sheila lalu duduk dengan kikuk. Dia menolak mengikuti langkah Tyo masuk ke dalam rumah. Sheila mencoba menenangkan diri dengan mengatur nafasnya satu-satu. Tapi tetap tidak bisa tenang.

“De, masuk,” Tyo kembali memerintah. Sheila tak bisa membantah lagi.

Sheila duduk di ruang tamu. Matanya sibuk mengintai sudut-sudut ruangan. Kadang-kadang, Sheila juga merapikan dressnya yang terlihat kusut. Sheila kaget waktu ada seorang gadis muda membawa nampan berisi teh manis dan dua toples camilan ke hadapannya. Mukanya mirip Tyo.

“Mbak Sheila ya,”

“Iya,”

“Saya Ratri, adik bungsunya Mas Tyo,”

“Wah, yang sebentar lagi mau nikah ya? Kapan nih undangannya,” Sheila mencoba akrab.

“Iya Mbak. Bulan depan, Insya Allah. Datang ya mbak, Silahkan Mbak minumannya,”

“Pasti datang, De. Makasih ya…”

“Saya tinggal ke belakang dulu ya Mbak, “

“Iya..,”

Sheila yang merasa dehidrasi karena panik, bergegas menyeruput teh panas yang disajikan Ratri. Baru dua tegukan, Sheila nyaris menyemburkan tegukan yang ketiga begitu melihat wanita paruh baya keluar bersama seorang gadis muda yang tak kalah cantik dengan Ratri. Mereka berbicara bahasa Jawa dengan tempo yang cukup cepat untuk ukuran Sheila. Sehingga Sheila tidak bisa menangkap isi pembicaraan itu. Saat melewati Sheila keduanya tersenyum dan mengangguk. Sheila membalasnya. Tak lama kemudian Tyo menyusul di belakang mereka, bercakap-cakap dengan gadis itu sebentar dan mengantarnya hingga ke halaman rumah.

“Ibu, itu Sheila,” Tyo berbisik ke ibunya, ketika sudah masuk lagi ke dalam rumah.

“Ibu,” Sheila spontan mencium tangan wanita yang telah melahirkan kekasihnya itu.

“Ya begini ini gubuknya Tyo. Mungkin nggak kaya di rumah mbak Sheila yang gedong. Silahkan itu makanan sama minumannya dicicipi. Maaf, adanya cuma itu. Udah anggap aja rumah sendiri, jangan sungkan-sungkan. Ibu mau nerusin kerjaan dulu. Biar dapurnya tetep ngebul mbak. Makum Tyo kan belum bisa kerja yang bener, belum punya gaji yang cukup buat kuliah sama kebutuhan sehari-hari. Ibu tinggal dulu yaa,”

Sheila hanya bisa mengangguk, tanpa menjawab sepatah kata pun. Tyo benar, lebih baik tidak menjawab apa-apa.

“Lihat sendiri kan?”

Sheila menarik tangan Tyo agar ikut duduk di smpingnya. Sheila mengusap-usap bahu Tyo.

“Sabar, Sayang….Bapak mana?”

“Lagi keluar,”

“Eh Mas, Ade nggak asing sama wajah perempuan yang keluar bareng ibu tadi. Pernah lihat di facebook Mas,…dia…ehm…,”

“Iya, dia memang sering ke sini pesan peyek sama ibu,”

“Oh I see, dia mantan mu…,”

“Kenapa? Cemburu?”

“Dia memang yang paling Ade cemburui. Cantik, berkepribadian dewasa, sayang sama Mas, dekat sama keluarga Mas,”

“Kami masih berhubungan baik sebagai teman. Tapi soal perasaan kan sudah berubah, Mas cuma sayang sama Ade,”

“De tetap nggak bisa nahan cemburu kalau Mas udah bicara soal dia,”

“Lho kapan?”

“Setiap kali Mas marah sama Ade, Mas masih aja membandingkan De sama Dia. Tidak merasakah dirimu? De mencatatnya di otak!”

“Kapan?”

“Ya sering, lebih dari empat kali. Mas memang selalu mengawali dengan kata-kata, Maaf ya De bukannya Mas mau membandingkan. Cuma mantan mas yang dulu, tahu banget gimana membujuk Mas kalau lagi marah. Kalau dia ikut marah, Mas akan semakin marah. Jadi, dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ya, Mas diajak ngobrol kaya biasa aja, sampai Mas reda dengan sendirinya. Dia nggak pernah nanya, Mas marah ya, mas kok marah sih, mas kenapa diam aja. Meskipun usianya masih muda, tapi pikirannya dewasa banget,” Sheila nyerocos menirukan ucapan Tyo tiap mereka sedang mendiskusikan pertengkaran.

“Mas, hanya cerita, bukan membandingkan,”

“Tapi terlontar tiap kali kitabertengkar dan sedang menuju proses berbaikan. De adalah De, nggak bisa bersikap seperti dia,”

“Sayang…,”

“Sudahlah…,”

“Maaf, untuk keegoisan Mas yang satu itu,”

“Iya, De juga minta maaf, nggak selalu bersikap seperti yang Mas harapkan,”

“Mas sayang banget sama Ade,” Tyo menyentuh ujung dagu Sheila.

“Ade juga sayang Mas,” Sheila menyandarkan kepalanya di bahu Tyo.

***

PERNIKAHAN.

Gerbang sakral itu…Sheila sangat menginginkannya sekarang. Sebelum bertemu Tyo, gambaran pernikahan terlalu jauh. Menghayalkannya saja malas. Tapi saat ini, Sheila merasa siap. Dia sudah 28 tahun,  dan Tyo 25 tahun. Bukan usia mencari pacar lagi, tapi suami.

Percakapan Sheila dan Tyo juga mulai penuh dengan rancangan-rancangan masa depan. Sheila makin yakin, kalau Tyo memang jodoh yang telah dipersiapkan untuknya.

Keputusan Tyo membawa Sheila ke rumahnya. Melibatkan Sheila pada acara pernikahan adik bungsunya, dianggap Sheila sebagai pintu penghubung ke derajat hubungan yang lebih tinggi. Sheila tinggal menunggu, Tyo melamarnya. Tapi…ketika harapan membumbung terlalu tinggi, seringkali dia menukik kembali menju bumi. Jatuhnya sangat menyakitkan.

“Kedua adik perempuan Mas sudah menikah. Giliran Mas kapan?”

“Mas harus selesai kuliah dulu, abis itu nyari kerja. Itu harapan orangtua Mas. Dalam waktu dekat, Mas belum siap secara finansial. Mas, mau jadi laki-laki yang bertanggungjawab, tidak mau menyengsarakan istri. Iya sekarang masih bisa bilang cinta, ketika Mas tidak bisa menafkahi secara benar, cinta itu akan kalah sama urusan perut,”

Kata-kata Tyo mungkin mengesankan kedewasaan dan tanggungjawab, tapi bagi Sheila, itu omong kosong. Menurut Sheila, materi bisa dicari bersama-sama. Semua tinggal kesiapan mental, bukan soal uang.

“Tapi, banyak kok teman-teman Ade yang nggak punya apa-apa, setelah menikah mereka bisa hidup layak,”

“Sayang, mereka adalah mereka. Keadaan mereka tidak sama dengan Mas. De tahu berapa gaji Mas sebagai guru wiyata bakti? Seujung kukunya gaji Ade. Mas, nggak mau bergantung sama Ade. Mas nggak mau Ade sengsara, terluka, saat menjalani hidup bersama Mas,”

“Kita belum menjalaninya, kenapa sudah tahu bakal sengsara?”

“Kita harus realistis De, jangan sampai cinta melumpuhkan logika. Mas, yakin, logika Ade juga terus berputar, berpikir,”

“Tapi De nggak mau lama-lama pacaran, Mas. De takut. Dorongan seksual itu, mas tahu kan?”

“Iya Mas tahu. Seberapa pun kita berusaha mengendalikannya, dorongan itu semakin kuat,”

“Cuma Mas yang bisa bikin De terangsang,” Sheila berusaha jujur, meski itu memalukan.

“Tapi itu bukan ciri khusus bahwa jodoh kita sudah dekat,”

“Mas nggak mau berjodoh sama Ade?”

“Bukan itu maksud Mas. Mas juga baru sekarang terpikir soal pernikahan, Setelah sama Ade. Tapi Mas butuh waktu dua sampai tiga tahun untuk menyelesaikan kuliah. Butuh waktu lagi untuk mencari pekerjaan yang sekiranya menghidupi,”

“De, akan sabar menunggu,”

“De nggak khawatir? Reproduksimu bagaimana? Tiga tahun lagi De sudah kepala tiga,”

“Tujuan pernikahan bukan selalu melahirkan keturunan,”

“De bisa ngomong itu sekarang. Tapi nanti De akan menyesal,”

“Sebenarnya arah pembicaraan Mas kemana? Mas peseimis soal hubungan kita? Mas seolah-olah mau berhenti berjuang..,”

“De, bukan seperti itu!! De memahami perasaan Mas yang begitu besar ke ade nggak sih?. Dalam otak Mas, cuma kebahagiaan Ade yang terpenting. Makanya Mas pernah bilang, rela mundur kalau ada yang lebih bisa membahagiakan Ade. Mas akan mengorbankan apa saja, termasuk perasaan Mas,”

“Sebaliknya, itu sikap yang mengecewakan dan menyakitkan buat Ade. Itu bukan pegorbanan, itu pengecut!”

“De jangan kasar,”

“Bukannya kasar. De ingin meluapkan perasaan saja. De hanya perempuan yang ingin segera menikah,”

“Kalau kitaberjodoh, kita pasti nikah. Mas sudah bilang berkali-kali, jangan ragukan perasaan mas. Ini tentang keadaan yang belum memungkinkan saja, tapi cita-cita menikah tetap jalan,”

“Makanya mas jangan melemah dong, kita harus berjuang sama-sama. Kalau ini soal kesiapan dan waktu, De mau nunggu,”

“Pengertian De sama Mas yang egois terlalu besar. Mas merasa nggak pantas mendapatkannya,”

“Selama De sanggup melakukannya, Pasti De lakukan. Kalau De udah nggak kuat, De akan bilang dan De nggak ragu untuk melepas Mas,”

“Melepasku? Seperti apa rasanya terlepas…..” suara Tyo seperti mengambang diudara. Lalu terdiam.

Tyo membelakangi Sheila. Menatap dinding. Tubuhnya kaku. Sama sekali tak ada gerakan. Bahkan bahunya seperti tidak naik turun. Tyo tidak memperdulikan panggilan Sheila yang mulai panik.

“Sayang, kenapa? Lihat Ade,”

Tyo Masih dalam posisinya semula. Tak ada rintihan, desahan nafas atau suara-suara helaan yang biasanya terdengar kalau Tyo sedang menahan perasaannya. Sheila berdiri lalu pindah ke hadapan Tyo. Mata Sheila terbelalak, melihat air mata Tyo mengalir. Tyo menangis tanpa suara. Pasti itu sangat menyakitkan. Tyo tidak pernah menangis di hadapan Sheila sebelumnya. Dia tidak pernah ingin terlihat lemah. Dia sering melarang Sheila menangis, karena baginya itu bisa melemahkan jiwa kelaki-lakiannya. Tapi sekarang, Tyo menumpahkan tangisnya juga.

“Sayang…,” spontan Sheila mendekap Tyo.

“Mas nggak bisa membayangkan kita berpisah, nggak bisa,” Tyo bicara patah-patah.

Sheila menciumi tangan Tyo dan mulai menangis. Beranda rumah Sheila terasa dingin saat mereka sama-sama menangis.

1586

 

Tentang Beranda Jiwa 13

Posted on

Beranda# 17

“De nggak pernah dibilang cantik, bajunya bagus, atau minimal, manis kek, mas nggak pernah muji,” Sheila protes pada Tyo saat mereka makan siang bersama sepulang Tyo kuliah. Karena kuliah di Universitas Terbuka, Tyo hanya kuliah dua hari, yaitu Sabtu dan Minggu.
“De, dari dulu, dari mantan-mantannya Mas, Mas juga nggak pernah memuji soal fisik. Itu bukan karakter Mas. Tapi kalau momennya pas, pasti tanpa diminta pun Mas bakal ngomong. Mas lebih suka berbicara tentang sifat bukan fisik,”
“Tapi perempuan kan paling suka dengar pujian…,” Sheila masih cemberut.
“Mas nggak mau kebanyakan ngegombal. Nanti lama-lama De pasti bosen. Kualitas hubungan kita, terletak pada yang nyata-nyata aja, bukan di atas puji memuji, Oke?”
“Memang mantannya Mas, sering minta dipuji juga?”
“Ya, kaya kamu itu. Kalau mau pergi ribut baget, bagus nggak bajunya, Mas nggak bakal jawab kalau yang gitu-gitu,”
Sheila menyoraki dirinya sendiri.Dia yang sering berinisiatif membuka cerita cinta Tyo di masa lalu, tapi dia sendiri yang terbakar cemburu memikirkan Tyo pernah memiliki mantan kekasih.
‘Tuuu kan, Ade mulai nih, panas. Makanya udah jangan nanya soal mantan,” Tyo tersenyum menggoda.
“Dulu, mas mellihat Ade sosok yang mature, kayaknya jauh dari manja. Sekarang setelah sama mas, kok jadi manja banget ya?”
“Ya karena aku Ade dan kamu Mas,”
“Aatau panggil mbak lagi aja ya,”
“Jangan….”
“Takut kelihatan tua ya,”
“Emang aku lebih tua, itu nggak bisa diubah, kenapa juga milih orang yang lebih tua,” Sheila tiba-tiba berubah sensitif.
“Ini tanggal berapa sih! Owh tanggal 25, udah masuk siklus  Pre Menstruasi Syndrom (PMS) nih.. Pantesan dari kemarin bawaannya aneh, yang diem aja, yang nangis, yang nungging,”

Sheila tertegun. Iya satu dua jerawat sudah muncul. Pinggangnya juga mulai pegal-pegal. Belum kedua payudaranya terasa lebih besar, dan sakit jika tersentuh. Perutnya seperti kram. Nafsu makaannya bertambah, dan kadang menangis karena hal-hal sepele. Tyo sampai menghapali perubahan hormon yang membuat tingkah laku Sheila unik.
“Gini aja, setiap tanggal 25, kita tetapkan sebagai pelampiasan day, karena semua terlihat serba salah. Mas akan memakluminya karena itu permintaan nona hormon yang tidak bisa dikendalikan,”
“Nggak usah, PMS kan bisa maju dan mundur, dan waktunya nggak cukup sehari. Bisa berhari-hari sampai mensnya keluar,”
“Ya ya, De ngaku PMS terus selama sebulan juga mas percaya, De kan biasa mengkambinghitamkan nona hormon kalau lagi ngambek,”
Tyo akhirnya menyadari juga kebiasaan Sheila yang curang. Tapi kali ini, Sheila tidak akan mengkambinghitamkan nona hormon lagi. Kehadirannya tidak salah, justru alamiah. Sheila yang salah menjadikannya nyonya besar. Sheila yang salah membuatnya merasa jadi majikan. Intinya, Sheila dikendalikan hormonnya bukan sebaliknya.
“Maaf De harusnya bisa mengendalikan perasaan De…”
“Iya sayang…De harus tahu ya, buat sebagian orang, mungkin manjanya perempuan itu menyebalkan. Tapi Mas suka kalau De manja. Mas jadi merasa dibutuhkan. Apalagi, De juga tahu banget kapan saatnya Mas diperlakukan sebaliknya. Cuma De yang bisa begitu,”
Tyo mengelus belahan rambut Sheila yang senyumnya kembang kempis karena baru saja dipuji.

***

Kota Kebumen begitu semrawut dan membara siang itu. Tapi perasaan cinta membuat segala suasana melembut. delman, becak, motor, mobil, dan angkudes seolah hanya melintas seperti pemeran cameo. Sedangkan Sheila hanya terfokus pada satu orang. Pemeran utama dalam sanubarinya. Orang itu telah mengalihkan dunianya, merebut perhatiannya…

Sebagian orang mengatakan, pukul 09.30 masih pagi. Meski terik matahari seakan tumpah bagai pertengahan siang, Sheila lebih memilih seperti pendapat orang-orang. Ah, Sheila sungguh tidak ingin beranjak dari pagi. Membeli mesin waktu kalau bisa. Menghentikannya supaya kebersamaannya dengan Tyo lebih lama. Sheila menunggu lelaki tercintanya nyaris satu jam. Di kota yang belum lama dikenalnya, Sheila merasa hampa. Tapi menunggu terkadang sangat menyenangkan. Semakin cepat bertemu berarti semakin cepat pula berpisah. Membayangkan melepas jemarinya dari tautan jemari Sheila saja rasanya enggan.

Jadi, Sheila menikmati detik-detik mendebarkan itu. Memejamkan mata, membayangkan senyumnya. Setiap tatapan pertama, yang Sheila dan tyo lakukan adalah tersenyum. Seperti perlambang kalimat “Hai, ketemu lagi. aku baik-baik saja, cinta”. Tapi rasa gelisah juga tak berhenti menjalar. kegelisahan yang sulit dicari alasannya. Otak Sheila hanya berseru soal pertemuan dengan Tyo saja.

Sheila mengenyahkan rasa khawatir karena Tyo tak kunjung menjemput dengan mengirim BB messager tanpa makna. sekedar menyapa teman yang sebenarnya tak seberapa penting untuk disapa. dan…saat matanya menjauh dari tuts HP, dia langsung tertumbuk pada sepasang sorot indah sang lelaki. Akhirnya, Tyo datang, nyaris tanpa  Sheila sadari. Hati Sheila luruh. Seperti melepas beban yang teronggok sangat lama. Ini sudah hampir satu tahun, tapi Sheila masih saja kikuk dan malu saat berduaan dengan Tyo. Dengan gemetar, Sheila menyambar tangan Tyo untuk dicium.

“De, temenin mas ke Warnet dulu ya. Mas mau ngecek nilai ujian,”

“Lho kan bisa pake laptop sama modemnya Ade,”

“Udah, pokoknya ikut aja,”

“Kan Ade yang ulangtahun, Mas dong yang nurut sama Ade,”

Tyo memelototkan matanya.Tapi Sheila tahu itu hanya candaan Tyo. Sheila akhirnya mengalah.

“Tapi pakai motor sendiri-sendiri ya, motor Ade harus ganti oli soalnya,”

“Hhhh…pake acara ganti oli segala. Kan Mas pengen berduaaaann. Besok kan Mas harus pergi ke Wonosobo Studi banding PNPM. Tiga hari lagi,” Tyo menunjukkan mimik lucu.

Kali ini, kemauan Sheila tidak bisa dibantah. Mereka berada di atas motor masing-masing. Tapi insiden datang, saat dalam perjalanan menuju warnet, datang sepeda motor beraliran ngawurisme, melaju sangat tidak tahu aturan. Menambah semrawut lalu lintas yang sudah kacau balau. Kalau Sheila tidak mengerem, mereka pasti sudah bertabrakan. Karena Sheila mengerem secara mendadak.,ban motornya selip, hingga ambruk ke sebelah kiri. Syukurnya, Sheila berhasil meloncat dan  tidak jatuh tertimpa motor. Di atas segala rasa sakit menahan pegal di kakinya, Sheila lebih terbebani malu.

Tyo sendiri sudah berjalan  sedikit agak jauh di depan. Sheila pikir, Tyo tidak akan melihat kejadian yang memilukan dan memalukan ini. Tapi Tyo ternyata berhenti dan nyaris berbalik. Jika di adegan sinetron, sang lelaki segera membanting motornya dan berlari menuju si wanita tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Sheila justru punya pikiran lain. Ia berharap Tyo tidak melihat itu semua. Melihat kebodohannya berkendara.

Jantung Sheila masih berdebar keras meski insiden itu berlalu. Tapi Sheila bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Sheila dan Tyo lalu memacu kuda besi masing-masing lagi. Entah apa yang ada di kepala Tyo melihat Sheila nyaris tertabrak. Apakah dia khawatir, atau menganggap biasa saja. Sheila tidak bisa membaca raut wajah Tyo di balik helmnya. yang jelas, sampai di Warnet, tidak ada bahasan itu. Sungguh melegakan. Tidak perlu memperpanjang kebodohan.

Bilik nomer 6. Sangat sempit untuk menampung Sheila dan Tyo.  Tapi Tyo bersikukuh memilih warnet tanpa AC itu

“Sayang…” Tyo memangil, lembut. Sheila menoleh.

Tyo  menyodorkan bungkusan kado berbentuk kotak, warna merah, motif bunga. Perayaan ulang tahun di warnet, memangnya tidka ada yang lebih romantis? Meski begitu, tindakan Tyo sampai membuat Sheila  lupa, sudah mengatakan terimakasih atau belum. Sheila merasa seperti ABG yang baru kenal cinta monyet. Malu-malu tidak jelas. Beradu pandang saja rasanya muka Sheila tersengat hawa panas.

“Mas, kirain mau bawa De ke warung makan agak mewah dikit,”

“Iya nanti ke warung mewah, mepet sawah. Bukannya rumah Kinan deket sama sawah. Sekalian  De, mas juga mau nyari hasil ujian,”

“Iya Oke. Dibuka di sini ya, boleh?”

Tyo mengangguk. Telapak tangannya mengusap wajah. Kasihan, agak sedikit pucat. Sheila mengelus wajah kekasihnya yang basah keringat. Tangannya juga. punggungnya apalagi. Sheila tersenyum geli. Tyo sedikit gusar karena ditertawakan. Dia tak kalah grogi rupanya.

“Aku tegang tau nggak..Takut nggak cocok.  Tapi, kalau nggak suka, nanti bisa ditukar kok,”ucapnya. hhh…belum apa-apa dia sudah kehilangan percaya diri. Menyebalkan. sejurus kemudian, Sheila menyobek bungkus kado yang mungkin telah susah payah dihiasnya. Terlihat karton sepatu. wah…Sheila membatin dia akan punya sepatu baru. Begitu plesternya terbuka, ada plastik bening berisi kain. Ternyata baju.

Sheila menelitinya seksama. Tyo menahan napas. Tak sabar melihat reaksi Sheila. Sheila sengaja berlama-lama, menyiksa kekasih dengan cara seperti ini, cukup mengesankan dan menyenangkan. Hem…blazer mirip kain woll merah marun dengan dalaman warna putih berkerah tanpa lengan. Sheila mencoba mengukurnya dengan menempelkannya ke tubuh. Sepertinya pas. Ini baju yang memang Sheila inginkan meski modelnya bukan yang ter up to date.

“De, selamat ulang tahun ya, semakin sayang sama mas,” Tyo kembali pada kebiasaan lamanya, cengangas cengenges . Sebenarnya kalimat yang dia ucapkan lebih panjang. Tapi Sheila tidak mendengar. Pertama, suara debar jantungnya rasanya jauh lebih kencang. Kedua Sheila menahan haru. Oke ini memang di warnet, tapi romantisnya bagi Sheila sudha cukup.

‘Mas jangan meluk atau cium Ade, nanti kalau ada Satpol PP razia, bisa diciduk kita.Dikira berbuat mesum,” Sheila berbisik.

“Dikitttt aja..,” Tyo mengecup kening Sheila dua detik.

“Mas, Ade juga mau ngasih mas sesuatu. Nih, ada handuk kecil. Mas kan suka keirngetan,” Sheila menyodorkan handuk baru yang memang sengaja dibelinya untuk Tyo.

Sheila menepis airmata yang nyaris tumpah. Sheila berusaha tidak memandang mata Tyo untuk sementara. Sheila hanya menatap layar monitor komputer, sambil menggenggam jemari Tyo dan mengusap -usap punggungnya saja. Tyo gantian mengelap wajahnya dengan handuk pemberian Sheila. Terlihat sekali kelegaan di matanya. Sheila mau tidak mau tertawa dengan tingkah Tyo yang konyol. Seharusnya sebagai laki-laki dewasa, dia tidak perlu begitu ketakutan ketika memberi kado. Sheila sudah bilang berkali-kali, kado tidak penting. Cukup kehadirannya.

“Simbol itu penting,”Tyo ngeyel.

Sheila masih menimang-nimang baju pemberian Tyo. Ada rasa hangat mengalir di sekujur tubuh. Kalau boleh memeluk, Sheila ingin sekali merengkuhnya. Membenamkan kepala di dadanya. Tapi, Sheila hanya bisa merengkuh pundaknya, mengelus punggungnya. Ya, sesederhana itu. Sheila lalu mengangkat pergelangan tangan Tyo yang kurus. Miris rasanya. Tyo semakin hari semakin kurus entah apa sebabnya. Tyo  menepis tangan Sheila. tidak nyaman dipandang kasihan.

“Ade juga kurus,” Tyo melakukan pembelaan. “

Tuhan, apa yang bisa kulakukan untuk membuat tubuhnya lebih kuat. Sheila mendesah sendirian.

“Nilainya udah ketemu belum,”

“Ehm kayaknya dicek besok aja,”

“Mas, sengaja ya cuma numpang ngasih kado di warnet. Kalau begitu, dirumah kontrakan Ade juga bisa,”

“Hehehhehehe,”

“Cengar-cengir aja,”

“Nih udah sempet download lagu-lagunya Yngwie Malmsteen, Idolanya Mas. Nggak sia-sia kan ke Warnet,”"

“Pinter cari alasan,”

Tiba-tiba, handphone Sheila menjerit. Kinan sudah menunggu di rumahnya. Kinan memang mengadakan sedikit pesta kecil-kecilan untuk Sheila. Sheila dan Tyo saling memandang. Tersenyum. Mengalihkan arah bola mata ke monitor, memandang lagi, tersenyum lagi. Bahasa tubuh yang baku untuk mengakui kalau sama-sama tak ingin mengakhiri kebersamaan hari ini.

Perjalanan ke rumah Kinan, medannya agak sulit karena ada jalan menurun yang cukup curam. Aspal jalan itu sudah terkelupas dan menyisakan tanah serta bebatuan kasar. Belum lagi berlubang di sana-sini. Sugesti bahwa Sheila bisa melaluinya seperti biasa tak bekerja.

Sugestinya mati. aku pasti jatuh. batin Sheila berkoar-koar tanpa bisa dicegah.

“Ade tenang, remnya yang stabil, jangan direm kenceng begitu. Dan jangan berhenti, nanti jatuh,” Tyo seperti bayangan Edward Cullen yang terus menguntit Bella Swan. Sheila tahu Tyo berusaha menjaga Sheila dengan instruksinya. Tapi instruksi itu keluar masuk tidak jelas dalam otak Sheila. Sheila justru fokus pada rasa sakit yang belum terjadi. karena jika terbentur batu-batu itu dan tertimpa motor, Sheila mungkin akan berdarah, lebam, lecet apalagi… pada turunan curam terakhir, Sheila sudah tidak bisa menguasai stang. dan….ya…sesuai prediksinya,  terseok jatuh ke sebelah kiri. Untung tidak rubuh seratus persen. Entah apa yang Tyo pikirkan, ini kebodohan kedua.

Sheila menunjukkan muka memelas. Setengah manja, Sheila merengek pertolongan. Tyo mengambil alih kendali motor dan memboncengkan Sheila sampai jalan yang lebih landai. Tyo lalu menyuruh Sheila melanjutkan perjalanan lebih dulu, karena dia harus naik lagi mengambil motornya yang terparkir sembarangan. Sheila memperhatikan kelebat punggungnya dari kaca spion. Apa cinta benar-benar membuat laki-laki menjadi lebih sabar?

“De, nggak denger instruksi Mas sih. Kenapa sih naik motornya mengkahwatirkan begitu. Tadi aja hampir ketabrak. Mas tuh jadi ngerasa ilang separo nyawa, berasa nggak becus jagain Ade,” Tyo nyerocos sembari mmebanting tubuhnya di Sofa rumah Kinan.

“Iya Maaf,”

Sheila lalu mengalami histeria aneh. Sheila jadi lebih cerewet menanyakan apa Tyo baik-baik saja, sampai Tyo merasa risih. Sheila ingin memijit bahunya, atau apalah yang bisa Sheila lakukan untuk memastikan dia sehat setelah naik ke dataran tinggi dengan perut kosong dan dehidrasi.

“Banyak anak kecil di sini, De jangan pegang-pegang ah,” Tyo mengingatkan Sheila.

Mereka, sepanjang sore terpaksa berlatih mengendalikan diri. Sheila menyalurkan cinta hanya lewat tatapan, begitu juga sebaliknya. Sheila sibuk membantu Kinan di dapur. Sedangkan Tyo asyik meladeni dua keponakan Kinan yang hiperaktif. Sheila tidak sempat menghitung berapa lama mereka duduk berdekatan, tapi tidak bisa menjangkau satu sama lain. Mereka membentuk dinding sendiri.

Sheila melihat Tyoberseliweran antara ruang tamu, ruang keluarga dan dapur, itu membuat Sheila tenang. Setidaknya Tyo ada. Sheila mengalah tidak memilikinya secara khusus. Tapi…Sheila sangat rindu…meski dekat tapi Sheila merindukanya…

“Ki, makasih ya dah bikin pesta kecil buat aku,”

“Pesta apa, kita kan cuma makan bareng aja. Kebetulan keponakanku juga ada yang ultah hari ini. Anak-anak redaksi juga nggak ada yang kita undang. Ini semacam private party, buat kamu dan Tyo, biar bisa berduaan,”

“Berduaan apaan, banyak tuyul-tuyul begini,” Sheila tertawa.

“Mereka bisa jadi satpam, biar kalian nggak ngapa-ngapain. Ya udah, aku tinggal ke dalam dulu ya. Mau beresin dapur, Sheila kamu di sini aja, temenin Tyo,”

“Sipp,”

Saat itu, hampir senja, Sheila melihat Tyo sudah sangat kelelahan. Merebahkan diri di sofa panjang. Tangannya bersidekap memeluk bantal. Matanya terpejam. Melihatnya tertidur, menjadi hal yang Sheila sukai. Tidur seperti bayi yang tidak punya daya. Kalau tidur dipangkuan Sheila, pasti akan lebih nyaman. Sheila mengelus kening Tyo. menyematkan jemarinya ke helai rambut depan Tyo. Tyo terbangun. Sorot matanya merah dan sayu. Sheila semakin merasa bersalah. Tapi, Tyo meyakinkan Sheila bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana tidak khawatir? Sheila adalah orang terpanik di dunia jika terjadi sesuatu yang tidak beres pada Tyo. Ya, paling tidak  Sheila merasa begitu.

“Sayang, sini..,” Sheila meminta Tyo tidur di pangkuannya. Mungkin karena rindunya juga membuncah, Tyo tak ragu lagi. Dia menurut.

“Tidurlah…,” Sheila membelai kepala Tyo.

Bukannya tidur, Tyo malah mendekap pinggang gadis itu. Lalu menciumi perut Sheila.

“Kalau kita punya anak nanti, aku mau dia seperti kamu, cerdas, punya banyak keahlian. Tapi kalau soal kesabaran, keuletan, kedewasaan, dia harus menuruni sifat Mas,”

“Ngayalnya jauh amat Mas,”

“Kegiatan asyik yang gak bayar ya berhayal yang indah-indah,”

Disaat Sheila masih sangat ingin bercakap-cakap lebih lama, tiba-tiba dua keponakan Kinan sudah mengerubuti Tyo lagi.

“Om main PS lagiii!” seru mereka. Untung Kinan, memberi kode untuk persiapan makan malam.

“Sayang, mau minum apa?”

“Teh manis hangat,” jawab Tyo singkat

Meski singkat, tapi Sheila suka cara dia menatap, seperti mengatakan, dia suka dilayani begitu. Sheila menyeduh teh dengan air panas. Lalu memasukkan sebutir gula batu ke dalamnya. Sembari mengaduk, Sheila merapikan meja dan menata masakan. Rasanya melayani lelaki yang dicintai, seperti  duduk di sebuah taman indah dalam keadaan lelah. Lalu diberkahi kesiur angin sejuk yang menyamankan tubuh. Singkatnya, hati Sheila senang. bergembira.

Sebenarnya, Sheila ingin melakukan lebih. seperti mengambilkan nasi, lauk dan sayur ke piringnya. Tapi, sheila tidak ingin membuatnya tidak nyaman. Jadi Sheila membiarkan Tyo melakukannya sendiri. Sheila dan Tyo duduk berdampingan. Ia melahap makanan dengan begitu nikmat. Sesekali melempar lelucon sampai Sheila dan Kinan terbahak. Kalau guyonannya keterlaluan, Sheila kadang tak sadar menyentuh jemarinya, gemas. Sebelum Tyo beranjak dari meja makan, Sheilasempat mengiriskan buah kiwi untuknya. Melihatnya mengernyit menahan rasa asam, membuat Sheila mendapat lawakan gratis. Wajahnya sangat lucu.

Malam terus merambat tanpa memberi jeda pada Sheila untuk memeluknya sebentar saja. Malam akan membawanya pulang. Saat Tyo mengancingkan jaket, hati Sheila seperti terbelah. Andai bisa lebih lama. Andai Sheila bisa bersamanya sampai hari berganti pagi. Berat ketika harus mengantar Tyo sampai ke pintu. Tubuh Sheila terasa ringan, tak menapak bumi. Limbung dalam hati. Sakit, tak bisa berlama-lama menggenggam erat punggung tangannya. Menciumnya hanya dalam hitung detik.

“Maaf ya Mas, De harus nginap di rumah Kinan, ada proyek dari kantor yang mesti kita selesaikan,”

“Nggak papa. Mas bisa mengerti. Besok, sebelum Mas berangkat ke Wonosobo, Mas perlu mampir jemput Ade nggak,”

“Terserah Mas, ” Jawab Sheila.Tapi dalam hatinya bersorak, tentu saja.
“Iya apa nggak?” Tyo menanyakan ulang.

“Terserah Mas. Kalau kondisi Mas memungkinkan, “

“Baiklah, Mas pulang, ya?” Tyo melihat ke bola mata Sheila. lembut. Sheila hanya mengangguk. Dalam imajinasi Sheila, Sheila sudah merengkuh lengannya dalam gamitan jemari supaya tak pergi. Tapi kenyataannya, Tyo tetap pergi. Gelap menelan tubuh kurusnya. Sheila tidak bisa melihat gerak geriknya lagi dalam remang. Hanya deru suara motornya yang berpacu seirama debar jantung Sheila. Inilah perpisahan kecil itu. Sheila sekarang seperti sendirian. mengumpulkan serpihan bayangnya di setiap sudut rumah Kinan supaya tetap jelas.

Tyo masih di sofa ruang tamu, di depan TV, memegang stik PS,  duduk sejajar dengan Sheila di ruang makan. Sheila terus melakukan napak tilas. Sheila dan kerinduannya memekik-mekik sendiri memanggil nama Tyo. Berharap Tyo juga mengingat seperti cara Sheilamengingatnya.

“Sayang, tiba-tiba aku merindukan hujan. Basah yang dibawanya membuatmu meminjamkan sebagian tubuhmu untuk melindungi, dingin yang menyertainya, membuat genggamanmu menguat supaya aku tetap hangat,” desah Sheila pada langit-langit kamar. Saat itu, semua sudah terlelap. Sheila terjaga dalam rindu yang semakin menggigit.

2720

Tentang Beranda Jiwa (12)

Posted on

Beranda #16

Sayangggg, Permohonan Eman Dikabulkan. SEND.

Sheila sangat girang saat mengirimkan SMS singkat itu ke Tyo yang tidak ikut dalam persidangan terakhir. Senyumnya terus mengembang sembari memandangi layar ponselnya. Menunggu balasan Tyo.

Ya. De masih meliput persidangannya Andrian? Yang Ganja?

SMS balasan Tyo datar saja. Justru membahas persoalan lain. Sheila paling malas kalau kekasihnya kehilangan antusiasme.

Masih. De ditugasi mengawal kasus itu.

Kita perlu bicara soal itu.

Sheila terhenyak. Kenapa Tyo berubah sangat serius? Tyo seperti sedang berbicara dengan wartawan bukan cintanya.

***

Beranda rumah Sheila terasa gersang. Hawanya gerah. Mungkin karena ada dua manusia yang tak kunjung angkat bicara meski setengah jam sudah berlalu. Mereka sibuk menghabiskan minuman masing-masing. Memandang ke arah yang berbeda.

“Mas, katanya mau bicara? Kok Diam?”
“De, Mas mau bicarakan ini baik-baik. Nadanya nggak usah tinggi kaya gitu!”
“Mas juga! Nggak usah natap De seolah-olah De salah begitu!”

Suasana hening. Keduanya diam lagi. Beberapa saat.

“Apa sidang Andrian begitu penting, dan harus jadi headline?” nada bicara Tyo berubah lembut.
“Headline sih nggak. Tapi tetap harus dikawal. Dia kan bandar. Maling ayam aja masuk koran,  masa bandar ganja nggak. Kalau ada istilah, semua orang sama di mata hukum, kita juga, semua orang juga bisa masuk koran karena kebaikan atau kejahatannya,”
“Yakin bisa menimbulkan efek jera?”
“Itu tujuan hukum, bukuan tujuan de. Banyak hal menarik yang terungkap di persidangan. Apalagi ini ada sangkut pautnya sama anggota dewan yang ikut pesta ganja sama dia,”
“De tidak memandang dia sebagai ayah dua orang anak yang masih kecil-kecil, istrinya sedang menuntut cerai? Bagaimana perasaan keluarganya?”
“Mas jangan muter-muter deh. Mas mau intervensi aku supaya nggak meliput sidang Andrian lagi?”
“Bukan intervensi. Mas, mau De merenung aja. Kalau dia keluargamu, suamimu, kekasihmu, apa De juga akan membiarkan beritanya sampai ke media?”
Sheila mendengus. Pertanyaan yang sulit dia jawab. Tapi lebih dari itu, kata-kata Tyo mulai menjengkelkan.
“Memang dia keluarga mas?”
“Bukan, Mas sebatas kenal saja,”
“Kalau berita Andrian berhenti, itu artinya De udah dipecat dari kantor.  Tapi selama De masih di HPK, mas jangan harap itu terjadi,”.
“Kamu…oke silahkan teruskan berita itu. Tapi mas minta, de meliput apa yang terjadi di persidangan aja. Di luar sidang, De nggak usah wawancara Andrian, cukup lewat kuasa hukumnya aja,”
“Jangan setir ade harus berbuat apa. Kalau wawancara itu diperlukan, kenapa nggak? Aku udah pernah wawancara dia beberapa kali. Mas juga pernah lihat kan aku ngobrol sama dia waktu mas ikut sidang pembacaan surat dakwaan? Dia welcome,”
“Mas, takut dia menyakiti ade. Mengancammu!”
“Kan ada petugas dari kejaksaan dan kepolisian yang selalu ngawal,”
“De keras kepala,”
“Mas juga egois. Mas menyembunyikan apa sih dari ade?? Hah?? Tadi katanya kasihan keluarganya, sekarang bilang bakal menyakiti dan mengancam ade, maksudnya apa?”
“De nggak bisa merasakan kekhawatiran mas. Nggak pernah bisaa!!”
Baru kali ini Tyo berteriak pada Sheila hingga kerongkongan gadis itu tercekat. Tyo bangkit dari duduknya dengan kasar. Kalau Sheila tidak salah lihat, sudut mata Tyo sedikit basah. Mungkinkah menangis? Seorang Tyo?

***

Cinta. Melepas cinta yang baru hangat digenggaman pasti menyakitkan. Tapi seburuk apapun hubungan Sheila dan Tyo, Sheila tidak akan terburu-buru melepas Tyo. Tidak ada masalah tanpa disertai jalan keluarnya.

Di sel transit pengadilan, Sheila terlibat percakapan dengan Andrian. Kali ini, Sheila datang dengan segunung rasa penasaran. Hubungan Tyo dan Andrian harus dipecahkan. Tak peduli seberapa buruk pengaruhnya terhadap kondisi percintaan Tyo dan Sheila nantinya.

Awalnya, Sheila hanya membahas perasaan Andrian yang  dituntut 10 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).  Selain pidana penjara, terdakwa juga dihukum membayar denda sebesar Rp 1 milyar. Menurut jaksa, Andrian memenuhi unsur tidak pidana menjual ganja.
Andrian memang mengaku kalau ia melakukan transaksi penjualan dua bungkus paket ganja seharga Rp 100 ribu pada rekannya yang anggota dewan di sebuah showroom motor.

Andrian memang termasuk bos pengedar. Saat ditangkap Andrian kedapatan meyimpan barang bukti berupa 10 paket kecil, satu paket sedang, satu paket besar dengan jumlah hampir 128 gram ganja atau sebanyak tiga baris di lemari pakaiannya. Andrian mengaku, barang tersebut didapat dari luar kota seharga Rp 1 juta. Dia juga mengaku sudah tiga kali mengambil barang dari luar kota. Saat hendak dilakukan penggerebekan, Andrian sempat melempar barang  bukti ke lubang pembuangan sampah di belakang rumahnya. Tapi toh akhirnya Andrian bisa dibekuk dan disita barang buktinya.

“Tidak capek ngikutin saya terus mbak? Udahlah, yang lain juga banyak yang bisa diberitakan,”
“Lho, kan harus sampai tuntas mas. Masa jaksa penuntut umum saja aja yang masuk koran dengan pembacaan tuntutannya. Biar berimbang, pledoi (pembelaan) nya mas Andrian juga dong,”
“Tidak perlu,” kali ini, Andrian berubah tegas.
“Persidangan terbuka untuk umum, semua bisa menonton, termasuk wartawan,”
“Tapi pemberitaan mbak, bisa mempengaruhi putusan hakim,”
“Hakim punya konstruksi hukum sendiri, bagaimana mungkin saya ikut andil,”
“Hakim juga melihat bagaimana tekanan masyarakat terhadap pengedar narkoba. Mereka pasti membuat putusan yang memenangkan hati masyarakat, tapi tidak adil bagi kami yang cuma bandar kecil. Kami itu korban juga karena terlanjur jadi pengguna. Untuk tetap mendapat pasokan, mau tidak mau kami harus jualan,”
“Korban? Mas itu udah residivis, memangnya penjara nyaman ya mas, sampai mas mau kembali ke sana. Bukannya bertobat…”
“Eh jaga mulutnya kalau gomong. Kamu pikir Tyo bersih apa. Aku juga bisa jeblosin dia ke penjara,”
Umpan Sheila ditangkap Andrian. Dia terpancing.
“Kenapa tiba-tiba Tyo? Dia tidak ada sangkut pautnya dengan kasus mas ini!”
“Memang tidak. Tapi dia pemakai. Aku yang pasok dia. Nanti tulis juga nama pacarmu itu gede-gede di koran, seperti kamu menulis kasusku!”

Sheila tenang! wake up! jangan tunjukkan raut ketakutanmu! Andrian hanya mengancam. Oh ya mengancam. Inilah yang ditakutkan Tyo. Lalu Tyo? Jadi benar, dia pemakai ganja? Apa Sheila harus percaya semudah itu dengan perkataan Andrian?

Gemetar merambat ke sekujur tubuh Sheila. Bukan karena amarah, sama sekali tidak ada itu. Justru rasa takut kehilangan yang nyata. Kenapa bisa seperti ini? Seharusnya jika Sheila ingin marahpun, itu sangat manusiawi.

***

Senja di pantai Setrojenar masih belum sempurna saat langkah empat kaki menyeraki pasir hitam yang terhampar. Tanda kegundahan tertanam dalam sepakan mereka. Ombak bahkan lebih nyaring dari suara mereka yang masih disimpan dalam pitanya masing-masing. Hingga….sentuhan kelingking Sheila pada kelingking Tyo hadir memecah keheningan.

“Mas.., bisakah aku membawamu kembali?”
“Maksud ade?”
“Menjadi orang yang berbahagia tanpa harus menghisap ganja?”
“Andrian sudah cerita?”
“Ya..”
“Mas datang ke sini untuk menyerahkan pipi ke tanganmu. Mas sungguh siap ditampar. Tapi De malah membuat Mas khawatir. De tidak melakukan apapun sedari tadi. Maaf, kalau De harus mendengarnya dari orang lain. Mas, udah nggak jujur kalau pernah bersentuhan dengan ganja,”
“Pernah? Memangnya sekarang?”
“Itu jauh sebelum kita ketemu sayang, itu jaman nakal-nakalnya mas di SMA dulu. De nggak percaya? Yuk kita ke laborat, tes urin,” Tyo menarik pergelangan tangan Sheila.
“Nggak perlu Mas. Kenapa Andrian menipu ade?”
“Pasti dia pikir, De akan bereaksi berlebihan seperti orang pada umumnya. De memilih percaya Andrian ketimbang Mas. Jadi, meski nantinya mendapat penjelasan dari Mas. De tetap akan melakukan segala macam cara supaya Mas terlindungi. Tidak mencuat ke media,”
“Tentu…jalan pikiran Andrian benar.De memang terpikir seperti itu. Rencananya, De akan membawa mas ke pusat rehabilitasi. Jadi sebelum Andrian melaporkan Mas ke polisi, Mas udah sembuh,”
“De…mas udah nggak nyentuh barang haram itu lagi. Nggak akan pernah. Mas sudah merasakan dampaknya sekarang. Mas cepet lupa, hipersensitif, mudah sakit, semua itu jadi pelajaran berharga banget buat Mas,”
Jemari Sheila menyentuh kedua pipi Tyo. Menelusurinya perlahan. Kalau cinta itu buta, Sheila mengakuinya. Sheila tidak membuka pintu bagi masa lalu. Baginya, Tyo dan masa lalunya adalah satu paket hadiah. Entah isinya baik atau buruk, Sheila tidak ingin tertipu dengan kemasan. Hadiah tetap hadiah. Ia indah dan menyenangkan.
“De…Mas semakin merasa nggak pantas buat Ade…sebelum terlalu jauh…Mumpung perasaan De belum begitu dalam, pikirkan ulang hubungan kita. De punya kesempatan memilih yang lebih baik dari Mas…,”

Plakkk!! kali ini pipi Tyo benar-benar ditampar Sheila. Gemuruh ombak karena air laut mulai pasang, kalah gemuruh dengan apa yang terjadi di dalam tubuh Sheila. Sheila sampai menggigil menahan amarah. Apa Tyo kurang paham kalau mempercayai cinta seperti yang dirasakannya sekarang, adalah hal langka.

Sheila berlari menjauh. Berlari secepat mungkin. Supaya langkah kakinya bisa mengalahkan suara detak jatungnya yang memburu. Air mata Sheila bergerak turun. Jatuh ke pasir lalu tersapu angin. Sheila terus berlari dengan pandangan yang semakin berkabut, dengan pikiran yang oleng.

Tyo yang berusaha mengejar berhasil menangkap tubuh Sheila yang limbung, hilang keseimbangan karena terantuk batu.Keduanya terjatuh di pasir. Tangis Sheila pecah. Menangis seperti anak-anak yang kehilangan permen lolipopnya.

“Sayang…,ssstt jangan begini. Mas paling nggak kuat kalau melihat perempuan menangis. Jangan buat Mas jadi lemah,”

Sheila berontak dari pelukan Tyo. Tapi cengkeraman Tyo semakin menguat.

“Iya maafkan ucapan mas, Mas salah. Mas sayang banget sama Ade,”

Senja nyaris sempurna. Berkejaran dengan matahari yang temaram di pantai Setrojenar. Sheila sudah terlalu lelah untuk menambah volume tangisnya atau berbicara. Hanya tubuhnya yang lunglai dalam dekapan Tyo.

Keduanya hanya bisa saling terdiam dan berpelukan. Tapi hati mereka sedang saling menyembuhkan. Sheila tahu, Tyo sedang rapuh karena keadaannya. Tyo pun tahu, Sheila bersikap kekanakan karena cintanya yang tulus dan kuat pada Tyo.

***

Malam mengepakkan sayapnya makin tinggi. Di sudut kamar yang remang dan sunyi, Sheila masih didera rasa sakit karena melihat sikap Tyo yang lemah. Sheila memaafkan Tyo,tapi sulit melupakan kata-kata ..Jika ada laki-laki yang lebih baik darinya…maka..DAMN!…Itu pernyataan tidak bertanggungjawab yang menyedihkan. Sangat menyedihkan. Tak bisakah Tyo berhenti memandang dirinya rendah dan tidak pantas. Tak bisakah dia lebih berjuang lagi agar tidak pernah ada laki-laki lainyang lebih baik darinya? Sheila masihterus menangisi peristiwa sore penuh luka tadi.

De? sampai kapan berdiam diri? Mas kan udah janji, tidak akan mengatakan hal bodoh seperti itu lagi,”

SMS Tyo yang ke 18 masuk. Sheila bergeming. Tapi tak berapa lama kemudian, tangan Sheila tergerak membuka inbox facebook. Kadang Tyo menuliskan kata-kata yang lebih panjang untuk menghiburnya atau menasehatinya.

Diam adalah ketika kau merindukan seseorang begitu dalam, sampai sulit untuk menguraikannya dengan kalimat, karena yang terdengar nantinya suaramu sendiri yang bergetar kelebihan emosi. Diam adalah suatu jarak yang kau buat untuk menilai kadar kemampuanmu bertoleransi terhadap keadaan sedih karena merasa diabaikan. Diam juga merupakan tanda setuju sekaligus tidak setuju terhadap reaksi orang lain, namun terlalu sungkan untuk mendebatnya. Diam kadang dijadikan tempat persembunyian dari rasa marah yang bersarang didadamu, tapi masih bisa kau atasi karena itu hanya amarah dangkal yang disebabkan tidak terpenuhinya harapan. Jika diammu sering minta ditemani airmata karena berpikir menjadi orang yang paling menderita, meski di belahan dunia lain ada yang lebih akut, itu adalah diam dengan latar belakang cinta kepada mahluk.

Diam adalah sarana menjaga lidah dari ucapan keliru sehingga menimbulkan peristiwa. Diam merupakan bentuk purba dari kecewa.itu yang paling klasik dan sederhana. Diam untuk dirimu sendiri mungkin menenangkan hatimu, tapi sangat meresahkan orang lain.

Bicara, memberikan penjelasan, akan menyamankan orang lain sekaligus hatimu. Namun, bicara tanpa makna justru merusak keduanya, perasanmu dan perasaannya. Jadi, kadangkala diam adalah aplikasi bicara dari ke hati. Secara magis menembus langsung ke pemahamanmu tentang kenapa dia begini begitu. Kau mugkin tidak bisa memahami seseorang dengan terus berbicara memakai tumpukan teori, karena yg kau dengar adalah jalan pikiranmu sendiri.kau dengan diam dan mata batinmu mungkin bisa lebih menghargai sisi lain. Kenapa menggunakan kata ‘mungkin’? Karena diam dan berbicara tetap pilihan. Dia bagai diksi yang dipakai secara tepat dalam menyampaikan keinginan. Meski yang sering terjadi, diam hanya menyumbang kekhawatiran yang repetitif dan lama dalam benak seseorang.

Betapa sulitnya, mengurai labirin isi kepala seseorang yang diam. Bukan masanya lagi diam itu emas atau bicara itu berlian. Setelah berpanjang-panjang, ini tak lebih dari kegagalan berkomunikasi yang sering menyerang manusia. Ini efek kronis dari mandulnya kepercayaan. Jadi, Diamlah jika kau pikir itu membawa kebaikan atau bicaralah jika itu jauh lebih membawa kemanfaatan.

De, diam boleh aja. Tapi jangan lama-lama ya, mas kangen…”

1913

Tentang Beranda Jiwa (11)

Posted on

Beranda #15

Ruang sidang utama yang bernuansa hijau kini lengang. Tak seperti awalnya, penuh sesak pengunjung yang ingin melihat lebih dekat sosok Sulaeman. Sidang permohonan perubahan nama dan pergantian jenis kelamin sudah digelar kali ketiga. Tapi khalayak masih antusias menonton.

Sheila sedang di ruang mediasi sekarang. Bersama hakim tunggal yang menyidangkan kasus tersebut, Wijanarko Ardi SH MH. Ruang mediasi, kerap digunakan wartawan peliput sidang di pengadilan untuk keperluan wawancara. Sheila yang sudah akrab dengan Pak Ardi, tidak sedang melakukan wawancara khusus,  hanya berdiskusi ringan.

“Kalau  status Eman tidak sedari dini diperjelas secara hukum, kehidupan sosialnya bakal terganggu kan pak? Dengan disahkannya status Eman sebagai laki-laki, peran dia di masyarakat juga lebih jelas. Seandainya masih ada yang meragukan statusnya, Eman sudah mengantongi bukti klinis dan hukum,” kata Sheila. Sedikit berapi-api.

‘Memang kamu yakin saya akan mengabulkan permintaan mereka,” Pak Ardi tersenyum.

“Dari saksi-saksi yang dihadirkan, semua mengarah kalau Eman memang laki-laki,” jawab Sheila.

“Yah semoga saja kesimpulannya begitu,”

Masih hangat dalam ingatan Sheila, barusan dokter dan psikolog sudah memberikan keterangan dari segi klinis dan kejiwaan Emang yang genotipnya laki-laki normal. Sementara tokoh masyarakat serta bidan di lingkungan Eman tinggal, juga tadi bersaksi tentang keseharian Eman. Bahkan MUI telah membahas dari segi agamisnya tentang berdosa tidaknya tindakan klinis yang dilakukan pada Eman.

“Kasus seperti ini sudah banyak pak? Kalo di Kebumen ada datanya nggak?”

“Wah, selama menjadi hakim,  baru kali ini saya mendapat kasus anak hipospadia,” Pak Ardi mengehela nafas.

“Persoalan kelamin rupanya bisa jadi begitu rumit. Masalahnya ini yang menyebabkan adanya salah persepsi, yang tadinya dikira perempuan eh ternyata adalah laki-laki,” Sheila ikut-ikutan menghela nafas.

“Tapi semuanya memang harus dibuktikan. Karena orangtua si anak yang memohon, mereka pula yang harus menghadirkan saksi dan buktinya. Sidang ini seperti halnya sidang permohonan adopsi atau pengangkatan anak. Jika permohonannya tidak ada perubahan kita langsung menginjak pada pembuktian disertai keterangan saksi-saksi, seperti yang tadi telah kita lakukan,”ucapnya.

“Penetapan perubahan jenis kelamin dan ganti nama dari pengadilan memang dibutuhkan jika Eman ingin membuat akta kelahiran. Akta kelahiran itu sendiri akan berguna bagi masa depannya, seperti mendaftar sekolah, melamar pekerjaan, menikah dan sebagainya,” Pak Ardi kembali menjelaskan.
“Sekarang marak terjadi kasus penggelapan asal-usul, ijasah palsu dan sebagainya. Bahkan banyak yang melakukan praktek dibawah tangan untuk mengubah surat kelahiran ataupun KK.  Kalau ada masyarakat yang mau mengurus melalui prosedur hukum yang benar, hal tersebut sangat kami hargai,” tandas Pak Ardi mengakhiri perbincangan dengan Sheila.

***

396

Tentang Beranda Jiwa (10)

Posted on

Beranda #14

Setelah status Sheila dan Tyo berubah menjadi kekasih walau tanpa deklarasi dan hari jadi, kehidupan mereka tak lagi sama. Banyak kejutan manis dan pahit yang berganti posisi setiap hari. Petualangan Sheila mencari berita pun makin seru karena Tyo sering mendampinginya.
“De’, punya kenalan pengacara nggak?”
Tanya Tyo di suatu sore, seperti biasa di beranda rumah kontrakan Sheila.
“Mas nggak tersangkut masalah hukum atau sejenisnya kan?”
“Orang kaya aku ini, mana ada muka kriminalnya, De,” Tyo memencet hidung Sheila yang nggak bangir-bangir amat.
“Trus buat apa??”
“Ada tetanggaku yang butuh bantuan. Dia mau mengurus status hukum anaknya ke pengadilan. Tapi mereka cuma buruh serabutan, nggak ada biaya buat bayar pengacara. Kita harus nyari pengacara yang ikhlas nggak dibayar. Atau minimal, cuma numpang ngetop karena menangani kasus ini, jadi rela nggak dibayar, hehe,”
“Status hukum gimana maksud mas?”
” Itu lho mengajukan surat permohonan perubahan jenis kelamin dan ganti nama ke pengadilan negeri,”
“Anaknya waria?”
“Bukan, anaknya masih umur 6 tahun. Waktu lahir, kata bidannya perempuan. Tapi setelah dua bulan, penisnya tumbuh meskipun nggak sempurna. Dokter yang periksa juga menyatakan bergenotip laki-laki normal. Kalau Status hukumnya nggak jelas, kasihan anak itu, suatu saat dia kan bakal bekerja, menikah, masa statusnya abal-abal,”
Sheila melempar Tyo dengan bantal kursi.
“Mas ini, status kok abal-abal,”
“Ada nggak?”
“Ehm…kalo di Jakarta, de punya link, tapi kalo di sini, de nggak yakin,”
“Usahain lah,”
Sheila meraih ponselnya. Sesaat kemudian, ia memencet sebuah nomor.
“Hallo, Dit…iya ini aku. Punya kenalan pengacara yang berdomisili di Kebumen nggak? Tapi yang mau kerja sosial, nggak dibayar. Apa? Gema? ehm…tolong tanyakan ke dia ya. Ya dong kamu yang nanya, jangan aku. Oke tengkyu..,”
“Siapa?”
“Adikku, Endita. Dia lagi cari tahu,”
“Trus Gema itu siapa?”
“Pacar adikku,”
“Kelihatanya, De’ sungkan sama dia, kenapa?”
“Perasaan mas aja,”
“Kamu nggak setuju ya sama hubungan mereka,”
“Mas jangan mulai deh,”
“Kok sewot, jangan-jangan…”
“Mass…”, Sheila mendelik.
***
Sembari menunggu kabar dari Gema, Tyo mengajak Sheila ke rumah Suliasih alias Sulaeman, bocah 6 tahun yang mengalami kelainan pada alat kelaminnya. Rumah Pak Partono dan Bu Jumilah, orangtua Sulaeman, sangat sederhana.

Ukurannya sempit, hanya terdiri dari ruang tamu, satu kamar tidur, dan sedikit ruang penghubung ke dapur. Kamar mandi ada diluar bersama sumur tapi tanpa WC. Dinding rumah pasutri ini masih terbuat dari papan dengan cat yag sebagian sudah terkelupas. Di sebelah kiri rumah, ada warung kecil tanpa atap. Hanya meja, kursi, juga kompor. Kalau sudah malam, perkakas itu diangkut ke dalam rumah. Jumilah memang memanfaatkan sedikit petak pekarangan di sebelah kiri rumahnya untuk berjualan gorengan. Saat berkunjung, Sheila tak lupa membawa oleh-oleh untuk Sulaeman. Jajanan anak itu diberikannya karena keinginan pribadi bukan dirinya sebagai wartawan.

Sesekali, Sulaeman ikut bergabung di ruang tamu, bergelayut manja pada ibunya. Lalu minta dipangku ayahnya. Tapi tak lama. Dia dengan cepat berlari ke seluruh penjuru rumah. Lalu bermain kelereng bersama teman-teman sebayanya. Terakhir, Sheila melihatnya sedang berada di atas pohon jambu yang tidak terlalu tinggi.

“Melihat tingkahnya, dia memang laki-laki sekali, ya mbak,” kata Bu Jumilah pada Sheila.
“Iya bu, wajahnya saja yang imut. Tapi tingkahnya pethakilan, kaya saya,” Tyo nyeletuk. Sheila mencubit paha Tyo.
Bu Jamilah lalu berkisah tentang Sulaeman. Anak yang selama ini dikiranya perempuan sesuai surat keterangan kelahiran dari bidan yang membantu persalinan. Semua berubah setelah Eman, panggilan akrab bocah itu,berusia dua bulan. Saat itu, dukun pijat langganan Bu Jumilah mengatakan kalau Eman adalah laki-laki. Merasa penasaran, Bu Jumilah segera memeriksakan Eman ke dokter untuk memastikannya.
Bu Jumilah shock ketika dokter membenarkan kalau anaknya berjenis kelamin laki-laki. Penisnya tidak terlihat karena Eman mengalami kelainan penisnya. Dokter lalu menyarankan agar Jumilah memeriksakan Eman ke RS Karyadi Semarang. Kenyataan tersebut, jelas membuat Bu Jumilah meradang. Maklum saja, setelah dikaruniai dua putera, Bu Jumilah memang mendambakan anak perempuan.
“Waktu sedang konsultasi ke dokter, antingnya masih belum saya lepas. Saya juga masih memakaikan dia baju perempuan. Saya bilang ke dokter, saya akan melepasnya pelan-pelan karena rasanya memang berat sekali,” ungkap Bu Jumilah.
Selain shock, Bu Jumilah juga pening memikirkan biaya untuk memeriksakan Eman ke RS Karyadi Semarang. Pak Partono, suaminya hanya buruh bangunan dan tukang pemecah batu. Kalau order bangunan sedang sepi, Pak Partono memilih menarik becak. Bu Jumilah sendiri membuka warung gorengan kecil-kecilan yang kadang buka tapi juga seringkali tutup karena terganjal modal.
Beruntung, para tetangga masih banyak yang peduli. Dengan mengantongi surat jamkesmas, bantuan dari lurah, sumbangan warga, dan salah satu organisasi amal di Kebumen, orangtua Eman akhirnya berangkat ke RS Karyadi Semarang. Di RS karyadi, Eman disuntik hormon untuk menumbuhkan penisnya yang masih sangat kecil. Selama dua tahun, pasutri itu bolak-balik Kebumen-Semarang tiap tiga minggu sekali untuk suntik hormon supaya mempercepat pertumbuhan penis milik Eman.
“Tapi karena jarak yang terlalu jauh juga biaya trasportasi. Kami terpaksa pindah ke RS Sardjito Yogya dan harus memulai pengobatan dari nol lagi,” Bu Jumilah menerawang masa-masa sulit itu.
Berdasarkan surat keterangan hasil pemeriksaan kromosom di RS Sardjito yag diterima Bu Jumilah, Eman ternyata mempunyai genotip laki-laki normal. Eman sendiri diindikasikan mengalami Hipospadia (kelainan pada saluran kencing). Hipospadia memang sering menyulitkn penentuan jenis kelamin, terutama pada bayi baru lahir. Pada kelainan ini saluran kencing tidak berakhir di ujung penis, tapi terputus di tengah saluran. Karena itu, jalan keluar urin ada di tengah bawah batang penis, pada daerah perineal di dekat anus atau di antara buah zakar.
Kalau lubang itu cukup besar memberikan kesan mirip lubang kemaluan perempuan, Apalagi pada bayi baru lahir, buah zakar belum begitu besar atau belum turun dari rongga perut, sehingga mengesankan kantong buah zakar seperti bibir vagina.
Demi membetulkan saluran kencingnya, Eman sampai menjalani tiga kali operasi. Pertama, setelah menunggu penisnya agak sedikit panjang sekitar 3 cm, Eman disunat. Kedua, lubang yang menyerupai lubang kemaluan perempuan dijahit dan membuat lubang baru pada penisnya. Tapi operasi kedua ini sempat mengalami kegagalan. Operasi yang dilakukan saat Eman berumur 4 tahun itu gagal karena lubang baru masih belum bisa mengeluarkan air kencing, sehingga membuat lubang lama yang sudah dijahit jebol kembali. Namun, setelah operasi ketiga, lubang penisnya mulai berfungsi.
“Sebenarnya harus operasi sekali lagi untuk menyempurnakan fungsi penisnya. Sampai saat ini Eman belum bisa mengontrol pipisnya sehingga sering mengompol. Tapi kami sudah habis-habisan, jadi nunggu uang kumpul dulu. Kami tak bisa selamanya mengandalkan jamkesmas, karena ada pemeriksaan maupun obat-obat yang tidak tercantum dalam jamkesmas,” Pak Partono ikut bersuara.
Sejak operasi, Eman mendapat kehidupan baru dengan nama baru yaitu Sulaeman. Meski dalam rapot maupun surat yang lain masih tercantum nama Suliasih, tapi jenis kelaminnya sudah tertulis laki-laki. Eman yang saat ini duduk dikelas I SD itu juga menunjukkan tanda-tanda fisik maupun psikologis seperti laki-laki. Menurut penuturan Bu Jumilah, Eman paling suka memanjat pohon dan bermain permainan laki-laki. Eman nyaris tidak pernah mengeluh tentang keadaannya, hanya saja jika mendengar kata Yogya atau operasi, Eman trauma.
“Dia mungkin sudah bosan berobat dan disuntik, apalagi dioperasi. Jadi kalau saya bilang pergi ke Yogya lagi, dia suka merengek tidak mau,” beber Pak Partono dengan raut wajah sedih.
“Sekarang tinggal bagaimana mengurus pergantian nama dan perubahan jenis kelamin anak saya lewat pegadilan. Itu yang sedang kami pikirkan,” lanjut Partono
“Mbak Sheila, sedang mengusahakan mencarikan pengacara Pak, Bu. Yah, semoga saja, nanti bisa membantu,” Tyo mulai bicara sembarangan.
“Waduh, Alhamdulillah, maturnuwun sanget!…” Bu Jumilah memegangi tangan Sheila.
Tyo memang keterlaluan. Siapa yang bisa menjamin? Endita saja belum memberi kabar. Meskipun Tyo begitu. Sheila tetap sulit untuk marah.

***
“Jalan pupus, nomer 202 B, iya bener nih alamatnya,” Sheila mencocokkan alamat yang tertulis di message inboxnya dengan papan nama rumah itu.
Tyo lalu memencet bel dua kali. Perlahan pintu rumah terbuka. Muncul sesosok laki-laki perlente dengan kumis lebat dan rambut kaku diolesi gel.
“Mbak Sheila ya?” Mari masuk..mari…mas juga, monggo,” laki-laki yang usianya kira-kira diawal 40 tahunan itu begitu ramah menyambut Sheila dan Tyo.
“Saya Irawan. Irawan SH. Saya yang akan mengurus permohonan perubahan jeis kelamin dan ganti nama ke pengadilan secara prodeo,”
“Prodeo itu apa pak? kaya nama permainan banteng gila”
“Itu Rodeo mas. Prodeo artinya cuma-cuma, nggak dipungut biaya,”
“Ooohh”
“Saya diminta mas Gema untuk membantu mbak Sheila. Saya kenal baik dengan beliau waktu menjadi konsultan hukum salah satu anak cabang perusahannya,”
“Jadi dulu bapak kerja di kantor Gema? Kok pidah pak?” Sheila penasaran.
“Hihihihi…anu mbak, saya baru menikah, dapat istri orang Kebumen. Kalau nggak sayang istri sih, saya lebih betah tinggal di Jakarta. Tapi, daripada istri kabur. Sudah uzur begini, sulit dapat yang semlohe kaya istri saya, mbak,”
Sheila memandang ke dinding rumah bercat hijau itu. Ada foto pengantin tergantung di sana. Istri Pak Irawan terlihat berbodi sintal. Pantas pengacara klimis ini tak mau melepasnya.
“Jadi bagaimana mbak Sheila?”
“Kalau hari ini ada waktu, Pak Irawan lebih baik kenalan sama orangtuanya dulu. Lalu menjelaskan proses yang akan mereka lalui. Sebagai orang desa, mereka belum pernah sekalipun menghadiri persidangan. Saya yakin, mereka sedikit takut,” jelas Sheila.
“Tapi bagaimana pun, Eman perlu akta kelahiran, jadi orangtuanya harus siap mental menghadapi persidangan. Surat kelahiran dan KK nya harus segera di ubah,” Tyo berpendapat.
“Pak guru yang terhormat, jangan samakan kesiapan mental kamu sama mereka dong. Mendengar kata hakim aja mereka gemeter kok, jadi perlu pendekatan betul. Dalam hati mereka mau mengubah itu, tapi dalam tindakan perlu persiapan psikologis juga,”
“Iya sayaaang…,” Tyo mengacak-acak rambut Sheila
“Ih mas…lihat-lihat tempat,” Sheila berbisik.
“Kalian pasang muda yang menggemaskan ya. Saya jadi merasa telah menyia-nyiakan waktu muda. Terlalu tenggelam mengejar karir, sampai nggak kepikiran nikah. Cepat-cepatlah menikah. Menikah itu enak lho, ada yang bisa dielus-elus, melebihi ngacak-acak rambut,”
Tyo tertawa. Sheila hanya tertunduk malu.
“Oh ya mbak, ada salam dari mas Gema. Beliau bilang, kalau mbak kecewa sama pelayanan saya. Saya bisa dipecat jadi teman, wah serem betul ancamanya hahaha,”
“Ah dia pasti bercanda pak,”
“Ya saya tahu, itu gurauan dibalik gurauan. Artinya, bisa berarti, saya harus melakukan yang terbaik untuk membantu mbak Sheila. Saya malah tadinya berpikir, mbak ada hubungan khusus sama mas Gema. Maaf lho Mas Tyo, kalau saya sempat salah sangka,”
Tawa Tyo mendadak hilang. Yang tersisa hanya segaris senyum yang dipaksakan. Sheila jadi tidak enak hati.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Eman, Tyo berubah pendiam. Sheila berusaha mengajaknya bicara tapi jawaban Tyo cenderung singkat. Sheila mulai khawatir Tyo dilanda cemburu. Bahkan, begitu sampai di rumah Eman, Tyo memilih duduk di dekat warung dan mengobrol dengan Jumilah yang sedang melayani pembeli. Sementara Sheila dan Pak Irawan terlibat obrolan serius dengan ayah Eman, Partono.

“Nanti setelah permohonannya saya daftarkan dan disetujui ketua pengadilan, kita mulai masuk tahap sidang. Nah, kita disebut sebagai pemohon dan harus menghadirkan saksi dan bukti yag menunjukkan kalau Eman berjenis kelamin laki-laki,” Pak Irawan mencoba memberi penjelasan pada Pak Partono.
“Saya harus hadir ya pak?”
“Tidak juga tidak apa-apa, kan sudah diwakilkan saya sebagai kuasa hukum. Tapi yang mengetahui persis kondisi Eman adalah orangtuanya. Keterangan bapak dan ibu, tentu semakin memperlancar proses persidangan,”
“Sekarang saya harus bagaimana, pak?”
“Bapak mulai menyiapkan saksi. Dari bidan yang membantu persalinan, ketua RT, juga lurah. Nanti saksi yang lain seperti saksi ahli dari psikolog, MUI, dan dokter biar saya yang urus. Tolong kartu identitas mereka difotokopi sebagai lampiran ya, pak?”
“Baik. Cuma itu saja, pak?
“Ada lagi. Bapak harus mengumpulkan surat-surat keterangan kesehatan dari dokter saat Eman memulai proses operasi hingga selesai,”
“Itu memang saya siapkan pak. Bahkan alat pengukur pertumbuhan penis Eman masih saya simpan. Saya tidak berani membuang satu suratpun, karena mungkin akan berguna sebagai kelengkapan berkas,”
“Bagus kalau begitu. Sejauh ini, bapak memahami penjelasan saya kan. Kalau belum, saya akan jelaskan ulang,”
“Oh mengerti pak. Terimakasih. Tapi maaf soal biaya…,”
“Sudah pak tidak perlu. Saya tidak akan memungut biaya sepeserpun dari bapak, ya kan Mbak Sheila?”
“Iya pak. Bapak tidak perlu memikirkan hal itu. Lebih baik, bapak dan ibu, fokus untuk persidangan saja,”
Pak Partono memandang Sheila. Matanya memancarkan rasa terimakasih yang tak terucap.
“Sampai detik ini, Eman memang tumbuh sebagai anak yang percaya diri. Dia tidak pernah minder bermain dengan teman-teman sebayanya yang laki-laki. Namun, entah kelak. Saya berharap, Eman benar-benar tumbuh dengan kondisi alat kelamin yang normal dan diterima sebagai laki-laki sepenuhnya tanpa harus dipertanyakan masa lalunya,”Imbuh Pak Partono lagi. Matanya mulai berkaca-kaca.  Suasana berubah murung.
“Semoga pak, banyak-banyak berdoa saja. Kami pamit ya, Pak?” Sheila beranjak dari duduknya diikuti Pak Irawan.
“Bu, tamunya mau pamit,”
“Kok buru-buru. Belum sempat nyicipi gorengan saya,” Bu Jumilah berlari menghampiri Sheila.
“Makasih bu, cukup Mas Tyo aja yang ngabis-ngabisin. Udah makan berapa gorengan dia bu?”
“Halah cuma bakwan satu, nggak banyak,”
Tyo tak bereaksi mendengar candaan Sheila. Dia beringsut menuju motor yang terparkir di pinggir jalan. Dalam diamnya, dia menunggu Sheila naik ke boncengannya.
“Sayang, kenapa? Jangan diamkan de’ seperti  ini,” Sheila mempererat pelukannya ke pinggang Tyo dalam perjalanan pulang.
“Mas cuma capek, kurang tidur,”
“Kenapa nggak bilang, kalau de tahu, de nggak akan merepotkan,”
Tyo diam lagi. Hanya desahannya yang terdengar panjang.
“Mas langsung pulang ya?” Tyo menolak mampir. Sheila diturunkan di depan pagar rumah.
“Tunggu! De’ tahu mas berubah setelah Pak Irawan cerita soal Gema, ya kan? Kami memang pernah punya hubungan dekat. Lebih tepatnya dia pernah menaruh rasa sama ade. Tapi nggak sebaliknya. Ade nggak pernah punya perasaan lebih terhadap Gema. Apalagi sekarang, dia sudah jadi pacar Endita. Kalau pun dia membantu, posisi dia nggak berubah. De sudah memilih mas,”
“Mas nggak mau bicarakan itu sekarang, mas capek,”
“Mas…, ade minta maaf kalau ini mengganggu pikiran dan perasaan mas. Apa mas sakit hati?”
“Mas pulang dulu,”
Tyo menghidupkan motornya dan pergi. Debu beterbangan dari roda belakang motor Tyo. Sebagian terselip masuk ke mata Sheila yang mulai basah. Bukan basah karena debu tapi karena perih dihatinya tak tertahankan lagi.
***
Sheila hanya bisa memejamkan mata dua jam. Tidurnya sama sekali tidak nyenyak. Tyo belum memberi kabar hingga pagi. Tyo tidak pernah melewatkan satu malam pun tanpa menelpon. Kebiasaan mereka berdua setiap malam adalah berbincang sampai tertidur. Sheila mengamati, Tyo tidak pernah marah lebih dari sehari. Tyo mungkin gampang tersinggung, tapi dia juga mudah minta maaf.

Pandangan Sheila mendadak berputar, kepalanya berat. Sheila memegang dahinya yang terasa panas. Sepertinya demam. Padahal, Mas Wawan menugasinya memberi diklat jurnalistik di SMP Juang.
“Ki, ada yang bisa gantiin aku ngasih diklat di SMP Juang nggak?”
“Lho kenapa Sheil, ini sudah jam delapan lho, acaranya setengah jam lagi,”
“Aku pusing dan demam ki. Jalan aja nggak sanggup nih,”
“Demam? Serius? Soal diklat, biar nanti diurus mas Wawan. Aku langsung ke sana, jangan nyoba bangun, tahan ya, nanti kamu pingsannnn,” Kinan yang cemas segera menutup telpon.
Dengan kemampuan pembalap seperti Kinan, gadis berkacamata itu, hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai di hadapan Sheila.
“Ya ampun, panas banget Sheil, kita ke dokter ya,”
“Please jangan ke dokter Ki,”
“Tapi, kita nggak tahu, penyebab demamnya apa?”
“Kamu tahu kan, aku nggak bisa nelen obat tablet atau kapsul,”
“Biasanya kan bisa pakai pisang,”
“Kadang bisa ya, bisa nggak. Kalau nggak masuk nanti malah muntah,”
“Aduh stress ngadepin orang sakit kaya kamu Sheil, sakit tapi nggak bisa minum obat. Ya udah, kita ke rumah sakit aja. Biar diinfus, nanti obatnya minta yang injeksi semua. Biar disuntikin lewat infus,”
“Emangnya, dokternya kamu, mana ada obat sesuai permintaan pasien,”
“Selain demam, kamu ngerasanya gimana?”
“BABnya encer, mual juga,”
“Diare?”
“Mungkin,”
“Lambungnya berarti. Kamu punya mag kan? Pasti telat makan kemarin, kamu tuh kalau udah kerja lupa segalanya. Aku beliin obat mag dulu,”
“Lho bukannya obat mencret?”
“Menurutku, sumbernya dulu yang mesti diatasi. Nanti aku beliin bubur sekalian,”
“Obat mag yang cair ya, Ki,”
“Iya iyaa..bawel…,”
“Eh sebentar. Aku sedia obat mag kok Ki. Itu di lemari dapur. Jadi nggak usah ke apotek. Kalo bubur, kamu kan pinter masak, masakin bubur beras aja, tinggal tambah garam sama daun pandan, daun salam,”
“Huh, kalau lagi sakit kok ngelunjak,”
Sheila tertawa sembari menahan nyeri diperutnya. Sheila sangat beruntung memiliki Kinan yang pernah kuliah keperawatan selama setahun dan berhenti karena tertarik masuk jurusan komunikasi. Kinan menyuapi Sheila dengan telaten, meminumkan obat, dan mengelapi keringat di tubuhnya menggunakan waslap.
“Kerjaanmu gimana, Ki,”
“Itu dia masalahnya. Aku harus ke kantor, tapi nggak tega ninggalin kamu,”
“Udah ke kantor aja, I’m fine
“Fine dari Hongkong! Kamu masih demam,”
“Ya obatnya nggak bereaksi secepat kamu naik motor Kinan…,”
Kinan garuk-garuk kepala. Dilihatnya arloji di pergelangan tangannya berulang-ulang. Hari semakin siang. Siang yang menggelisahkan.
“Kamu lagi ada masalah juga ya?” Kinan bertanya seraya mengerutkan dahi.
“Apa, pertanyaan aneh?”
“50 persen penyebab mag bukan cuma karena pola makan, tapi stres.Kamu butuh cuti?”
“Nggak, ini murni pola makan yang buruk Ki,”
“Mata kamu sembab bukan karena demam. Kamu abis nangis ya?”
“Aku mau tidur. Kalau mau pergi tutup pintunya ya,” Sheila menarik selimut sampai menutupi mukanya.

Semua nampak serba putih setelah Kinan pergi. Danau yang harusnya bening pun jadi seputih susu. Sheila menatap bunga berbentuk waru berguguran, warnanya tak kalah putih. Di samping Sheila, tertambat tali pengekang kuda putih. Kuda tunggangan Sheila itu meringkik pelan. Sorot matanya mengarah pada sesosok bayangan yang timbul tenggelam di balik dedaunan pohon oak yang terselubungi salju. Sosok itu berbeda, dibalut baju hitam pekat. Mata sosok menyeramkan itu merah terang. Laksana api, sorotnya membakar hingga ke dalam tubuh Sheila.

“Kau tahu siapa aku,”

Sheila menggeleng ketakutan.

“Aku jiwa angkara kekasih yang telah kau bunuh. Aku tidak mau mati sendirian, kau harus ikut. Jadi hambaku di neraka!”

Wajah sosok menyeramkan itu retak, lalu pecah. Saat ditatap ulang, wajahnya sangat dikenali Sheila. Itu Tyo dengan lesung pipitnya,  dengan bulu matanya yang lentik, dengan hidungnya yang runcing. Sheila sangat merindukannya. Kalau Tyo berubah menjadi jahat, itu pasti salah Sheila.

“Mas…,” Sheila menggapai wajah itu. Tapi tangannya memecah udara. Sheila menjerit sekeras-kerasnya. Dia sudah kehilangan Tyo di alam nyata, kalau kali ini mimpi, Sheila tidak mau melepasnya. Sheila menangis, sesenggukan. ia berlari mengejar sosok Tyo yang tiba-tiba berubah arah, meninggalkannya di tepi danau yang sepi.

“Sayang….,” sayup suara Tyo terdengar lagi. Jauh lebih ramah. Berbeda dengan yang baru saja Sheila temui.

Dahi Sheila disentuh lembut. Sheila membuka matanya perlahan. Mengerjap sebentar, lalu mengerling ke tepi tempat tidurnya. Ada Tyo di sana. Tyo yang dirindukannya.

“Sayang…Sejak kapan demamnya? Kita ke dokter ya?” bujuk tyo.

Sheila masih bengong. Dia sulit mengucap, meski satu patah kata. Takut kata-katanya membuat Tyo pergi.

“Mas salah, mas minta maaf. Mas tiba-tiba diserang rasa minder luar biasa, nggak bisa berbuat banyak buat ade. Merasa dikalahkan lelaki lain yang punya segalanya untuk membantu ade. Mas seperti nggak punya cukup rumah, untuk De berteduh. Mas ketakutan sendiri,”

Sheila mencoba bangun dari tempatnya berbaring. Tyo menggapai lengan Sheila. Membantu kekasihnya duduk.

“Peluk,” Sheila mengembangkan tangannya.

Tyo tanpa pikir panjang merengkuh tubuh lemah gadis itu.

“Sayang, badanmu masih panas,”

“Bukan panas, tapi hangat,” Sheila berusaha membuat Tyo tenang.

“Mas jangan pernah menjadi sempurna untukku. Karena mas  akan kecewa. Aku menerima kesempatan bertemu mas, lalu memilih bersama mas, apa nggak cukup membuat mas tenang?”

“Iya sayang…maaf,”  Tyo mempererat pelukannya.

Sheila gantian memeluk leher Tyo. Membenamkan wajahnya di dada laki-laki itu.

3088

Tentang Beranda Jiwa (9)

Posted on

Beranda #13

Rapat listing wartawan dan redaktur tidak berlangsung membosankan. Komputer tempat Sheila mengetik berita, juga tak menunjukkan tanda-tanda eror  dan harus dipukul CPUnya supaya normal. Internet mendadak tidak lemot. Lalu lintas di depan kantor tidak bising. Semua berjalan damai…dalam perasaan Sheila. Gadis itu mengabaikan semua persoalan yang biasanya membuatnya menggerutu. Di sekililingnya cuma ada bunga.

“Wajahmu itu lho Sheil, something!” celetuk Kinan.

“Napa?” Sheila menyentuh pipinya.

“Entahlah, sesuatu telah terjadi sama kamu. Yang jelas membahagiakan, Am I right?

Sheila hanya tersenyum sembari memberesi block note, falshdisk, dan kameranya.

“Mau kemana? Kok langsung pulang, nggak nongkrong sama kita dulu? Mas Wawan ulang tahun lho. Katanya mau pesen bebek goreng,” Kinan memegangi tas punggung Sheila.

Pemimpin Redaksi Harian Pagi Kebumen (HPK), mas Wawan memang sudah woro-woro agar semua awak redaksi menunggu sampai pesanan bebek goreng–yang menurutnya paling enak di Kebumen– itu datang. Tapi Sheila sudah ada janji dengan Tyo. Kata-kata Tyo begitu menguasainya, ini adalah kesempatan, dan Sheila memilih kesempatan itu.

“Bye Ki…” Sheila melambaikan tangannya agak centil. Seperti bukan dirinya.

“Sheila, bebek gorengnya bentar lagi dateng,” Mas Wawan berteriak dari kejauhan.

“Hibahin buat yang lain aja, mas,”

“Wah, kalau mau kabur ngasih kado dulu,”

“Kentut mau?”

“Bisa ngelucu kamu sekarang. Jangan lupa, isu penahanan anggota dewan terkait penggelapan aspal, dilanjutin besok ya?”

“Siapp,”

***

Tyo duduk sejajar dengan Sheila sekarang. Di beranda rumah kontrakan gadis yang baru menjadi kekasihnya kurang dari 2×24 jam itu. Tyo memandangi Sheila dengan mimik menggoda. Sheila memutar bola matanya supaya tidak bertabrakan dan terlihat memalukan.

“Aku punya permintaan,” Tyo semakin mempertajam pandangannya. Sheila menunduk.

“Apa?”

“Ssst..pandang mas dulu,” Tyo mengangkat dagu Sheila.

“Heh?” Sheila kaget.

“Ya, panggil aku mas,”

Sheila tak bisa menahan tawa. Perutnya sampai sakit. Sheila merasa butuh pampers karena sepertinya dia nyaris ngompol. Tyo lucu. Sangat lucu.

“Nggak bisa Tyo, kamu tiga tahun lebih muda. Bayangin aja, aku dah semester satu kuliah, kamu baru masuk SMA. Persepsi itu ah…sulit melepasnya?”

“Harus bisa!” Tyo cemberut. Sheila menghentikan tawanya. Tampaknya Tyo serius.

“Seberapa penting, hal-hal semacam ini dibahas. Ini kekanak-kanakan, Tyo,”

“Terserah jika ini tidak penting buatmu, tapi dari sisi ku, ini sangat penting. Seperti simpul yang mengikat kedekatan. Bagimanapun simbol itu diperlukan. Kabulkan saja lah?”

“Haruskah Tyo?”

“Sini, aku ajari….,” Tyo memegang kedua bahu Sheila.

“Mas, ucapin pelan-pelan aja…”

Sheila berat sekali membuka mulutnya.

“Emmas,” Sheila gugup.

Giliran Tyo terkekeh, sampai matanya berair.

“Bukan emas, Mas gitu. Semudah aku melafalkan, Dhe’…Tuh gampang kan, Dhe..,” Tyo terdengar sangat lancar mengucapkannya.

“Mas….,”

Tyo menggeleng.

“Masih fals. Nggak natural. Ayo lagi,”

Dan….latihan tak penting itu berlangsung hingga setengah jam. Sampai Tyo puas. Sheila jadi bertanya tentang ketepatan intuisinya memilih Tyo. Tapi Sheila memang kadung mabuk kepayang. Dia dalam fase menabrak semua prinsip hidupnya yang dulu. Menembus semua batas yang dibangunnya dulu. Sehingga sanggup menjadi pribadi yang berbeda.

Kenapa ada yang bilang cinta itu memabukkan, sehingga disingkat mabuk cinta. Bagi yang pernah mengalami kejadian mabuk, pasti bisa mengerti. Ketika mabuk, orang hanya bisa berpikir tentang mabuknya, rasa tidak enak dan enaknya mabuk, tidak mau memikirkan yang lain.

Sheila sedang mabuk sekarang. Terlalu mabuk.

***

506

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.