Jenkna’s Weblog

Januari 27, 2010

nobar film

Diarsipkan di bawah: my story — Tag:, , , , — jenkna @ 1:56 pm

“ini hari libur, ini hari minggu gunakan waktu untuk dirimu sendiri, jangan bekerja terus!”

kata-kata hwo di SMS sering masuk dan merusak diotakku. tapi juga sering membuatku jengkel, karena aku merasa dia tidak memahamiku. aku penguasa waktuku sendiri, jadi biarkan aku yang memutuskan. tapi lama-lama, aku memang lelah. kenapa waktuku berlalu begitu saja di depan komputer, memberi komentar-komentar tidak penting di fb, atau menonton beberapa cuplikan video di youtube yang melelahkan mataku. ehm, sialan ternyata dia benar.
Syukur deh, aku mulai menatanya sekarang. kadang aku membiarkan waktu senggangku bersama anak-anak di rumah cahaya. belum terllau sering, tapi aku mencobanya. melihat antusiasme mereka begitu menggairahkanku, menolong petugas rumcay mendaftar pinjaman dan pengembalian buku juga membuatku bermakna. ternyata aku memang lebih hidup.
lalu aku mulai menonton film lagi di bioskop. ini tentang waktu menonton film yang sudah lama kutinggalkan setelah icha pergi dengan laptopnya. padahal hampir tiap bulan aku menggunakan kartu rental videoku. uangku sudah terkuras banyak dulu. di kamar kostku yang luas, berselimut, mendekap guling atau menarik-narik rambut icha, berbekal cemilan, akupun menoton dan terlelap atau malah terjaga sepanjang malam.
sekarang..setiap ada film baru..aku melewatkannya, karena tentu saja aku butuh orang yang mengajak, sementara orang itu tak pernah mengulurkan tanganya lagi. aku akan merasa seperti kayu diam jika mengandalkan diriku sendiri nongkrong di kursi bioskop didampingi popcorn oh itu sangat tidak mengasyikan. aku butuh teman berdiskusi. aku juga tidak marah jika temanku menguraikan jalan ceritanya ketika filmnya sedang berlangsung (karena film itu diangkat dari novel). aku rasa aku hanya ingin temanku berhenti bicara jika adegannya adalah berciuman atau menangis, karena aku mungkin akan terlau berkonsentrasi dan meresapi hahahha.
tapi aku sedikit kaget dengan kebiasaan (buruk) Hwo saat menoton film.ku pikir cowok yang lebih doyan buku pluralisme dibanding novel meg cabott ini dan baru tahu komik kungfu komang ketika usianya sudah 25 tahun, memang mahluk yang aneh ehm baiklah unik. betapa menggelikannya melihat dia berteriak-teriak ketika adegan menegangkan (new moon, edward-Bella).aku hanya berpikir jika ada penjahat di belakangmu dan dia melihatnya dia hanya bisa berteriak itu…itu… sambil menunjuk pucat dan kau tak ditolongnya. kemudian,well, akulah sang superwoman itu haahahha yang lebih jago berkelahi. tapi saat kuungkapkan keberatanku dengan suaranya yang berisik sampai membuatku dan avis malu dan berpura-pura tidak mengenalnya, hwo mengancam akan mencoretku dari daftar nobarnya,uhhhh jahat banget.tapi aku berdoa pada Tuhan agar aku bisa ditabahkan begitu juga avis, melakukan prmohonan yang sama.aku hanya takut suaranya yang lumayan keras mengganggu penonton di sekitar kami. aku hanya malas melihat komplain.
minggu ini, kami sedang merencanakan nobar lagi. tapi belum menemukan waktunya. avis merencanakan jumat.tapi aku merengek agar jadwal itu dirubah. jumat sore aku masih rapat redaksi. kalau ditinggalkan, gajiku terancam dipotong. dan aku memilih gajiku daripada menonton dibioskop bukan. avis masih berbaik hati untuk mempertimbangkannya lagi, dan semoga hwo juga setuju kalau dia memang bersimpati. sembari menunggu keputusan avis, aku bilang padanya bahwa aku sedang mempersiapkan papan kecil dari karton bertuliskan kalimat, dilarang berisik, dan akan kutujukan buat hwo.hahhaha avis sepertinya langsung menyalamiku senang. tapi itu hanya hayalanku saja. tentu aku tidak mau membuat permusuhan hihihi
jadi, yah…ini memang catatan kacau tentang rencana menonton film sang pemimpi yang telat banget masuk purwokerto. semoga avis dan aku lebih bisa sabar dan hwo juga tidak egois dengan mengatakan aku memang begini, klo nggak mau aku berisik ya udah nggak usah nonton sama aku lagi.hiiiii, freak banget! satu sifat jelek dibalik sejuta sifat manisnya…okewlah semua orang memiliki sisi gelap kan? dont disturb it
!

Januari 24, 2010

4 my beloved Mita too

Diarsipkan di bawah: my story — Tag:, , — jenkna @ 8:01 am

Kisah Paramita Nilamsari, Penderita Skoliosis (2-habis)
Terbitkan Buku Berdamai dengan Skoliosis, Rintis MSI Jateng

Once scoliosis, forever scoliosis. Sekali divonis skoli selamanya adalah skolioser. Kalaupun dilakukan operasi, itu tidak bisa membuat normal, hanya mencegah derajat kemiringannya lebih parah. Kenyataan itu justru melecut Paramita Nilamsari (22) untuk menentang badai. Dua proyek besarnya adalah mebuat buku dan merintis forum Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) cabang Jateng.

INDRI AGUSTINA, Purwokerto

Mita terbiasa menumpahkan segenap suka dukanya hidup bersama skoli dan titan sebutan mesra Mita untuk mengakrabi skoliosis yang disandangnya dan skrup titanium yang bersarang ditubuhnya melalui diary elektronik berupa blog. Media itu pula yang mempertemukan Mita dengan teman senasib, Septi Hanum, Skolioser asal Jawa Timur.
“Berawal dari saling komen di blog, kirim email, chatting, telepon sampai SMS-an akhirnya kami menemukan banyak skolioser yang sebenarnya membutuhkan tempat berbagi,” terang gadis berhidung bangir ini.
Mita dan Septi yang belum pernah bertatap muka sekalipun akhirnya mulai bergerilya mencari responden yang mau berbagi kisah. Konsep tersebut sempat direspect oleh skolioser namun saat ingin ditindak lanjuti, mereka menghilang tanpa jejak. Meski banyak cerita para penderita skoli yang inspiratif tapi Mita tidak bisa memaksa mereka untuk terbuka, karena masalah skoli termasuk masalah sensitif bahkan masih dilabeli aib.
Pesimistis yang sempat menyerang Mita untungnya bisa teredam oleh kesediaan 10 skolioser bersedia menjadi responden. Mita sengaja mencari penderita dengan kuunikan pengalaman hidup yang berbeda.
“Aku dan Mbak Septi membuat naskah bukunya bareng tapi masih lewat internet, karena belum bisa ketemu muka. Kita juga cari percetakan sendiri, dan ngurus ISBN (internasional standar book number) sendiri,” ungkapnya.
Di dukung forum Masyarakat Skoliosis Indonesia cabang Jawa Timur tepatnya di Surabaya dimana Septi tinggal. Buku berjudul berdamai dengan skoliosis pun berhasil di launching bertepatan dengan launchingnya MSI Jatim. Mita berharap, buku ini bisa memberikan jawaban apa yang harus diperbuat jika diri kita atau orang lain yang ada di sekitar kita divonis menderita skoliosis sehingga mereka bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri skolioser.
Tidak hanya bagi mereka yang bersentuhan langsung dengan kehidupan skolioser, tapi buku ini juga ditujukan untuk masyarakat luas agar lebih mengetahui tentang skoliosis dan mencegah agar dirinya tidak terkena skoliosis karena tanpa disadari, sebenarnya siapapun bisa terkena skoliosis jika tidak menjaga sikap tubuhnya.
“Cetaknya memang terbatas sekitar 500 sampai 750 eksemplar dan baru dipormosikan lewat internet dan belum masuk ke toko-toko buku,”tuturnya.
Terkait soal MSI, Mita sudah menjadi anggota MSI pusat sejak awal 2008. Bagi Mita, wadah ini bersifat sosial yang menyediakan informasi yang benar dan jelas mengenai skolisosis, menggalang dana untuk membantu para penderita skoliosis yang mengalami kesulitan ekonomi, biro konsultasi, juga sebagai acara silaturahmi untuk mempererat rasa kekeluargaaan anggota MSI.
“Karena aku tinggal di Purwokerto dan tahu di kota ini ada ahli spine atau gangguan tulang belakang yaitu dr Iman Solichin SpOT SPINE, makanya aku mulai melobi MSI pusat agar di sini dibentuk MSI Jateng dan Rumah Sakit Orthopaedi Purwokerto (RSOP) sebagai support partnernya sekaligus basecamp,”kata dia.
Mita menambahkan, Januari ini MSI Jateng sudah dibentuk dan tinggal mempersiapkan Rencana Kerja serta pencarian dana. Mita optimis, jika sekarang skolioser masih malu-malu menampakkan diri, suatu saat mereka juga bisa membuka diri pada masyarakat. Mita melanjutkan, memang butuh proses yang panjang untuk sampai pada tahap seperti yang mita rasakan sekarang, yaitu menerima keadaan sepenuhnya.
“Aku selalu menyemangati diri sendiri dengan berkata aku tidak malu dengan skoliosis tapi aku bangga. Karena disaat yang lain bertulang belakang lurus, tulang belakangku bengkok. Dan itu unik,” ucapnya diiringi derai tawa yang renyah.(habis)

4 my beloved Mita

Diarsipkan di bawah: my story — Tag:, , , , , , — jenkna @ 7:56 am

Kisah Paramitha Nilamsari, Penderita Skoliosis (1)
Dua Bulan Didera Stres dan Kerap Dijauhi Teman

Tanpa bermaksud profokativ, tapi memang tak mudah menemukan manusia-manusia yang secara tulus peduli dengan penderita skoliosis. Skolioser tegas-tegas menolak belas kasihan namun tetap minta dipahami. Kelainan tulang belakang membuat mereka mudah sakit dan lelah. Namun sayangnya sering disalah artikan menjadi si manja yang minta diistimewakan.

INDRI AGUSTINA, Purwokerto

Skoliosis adalah kelainan atau gangguan pada tulang belakang yang melengkung atau membengkok kearah kanan atau kiri yang terlihat seperti huruf “S” atau “C”. Kelainan ini salah satunya bisa disebabkan karena kesalahan sikap duduk.
Tak banyak Skolioser yang mau membuka diri ke publik. Perasaan malu, minder, ketakutan tak punya masa depan lebih banyak menggelayuti mereka ketimbang memupuk harapan. Namun, Paramitha Nilamsari (22) mahasiswa semester 7 Teknik Elektro Unsoed yang divonis menderita Skoliosis sejak kelas 2 SMP ini, seperti sedang mendobrak dinding ketakutannya sendiri.
“Memerlukan proses yang panjang sebelum aku bisa open seperti ini. Aku juga mengalami masa-masa sulit seperti nggak mau ketemu orang, di sekolah juga isinya cuma nagis terus. Pokoknya psikosimatis deh. Rasanya aku pasti nggak mungkin selamat. Aku pasti mati,” terangnya sendu.
Saat vonis awal sebenarnya kemiringan tulang belakang Mita baru 20 derajat. Namun, Mita mengaku bandel untuk mengikuti terapi seperti berenang dan fisioterapi. Padahal terapi itu bisa menghambat derajat kemiringan tulangnya. Setelah kelas 3 SMA, kemiringannya ternyata sudah 45 derajat. Angka yang tak bisa ditolerir lagi untuk tidak melakukan operasi pemasangan screw.
“Tadinya aku nggak mau dioperasi. Tapi aku itung-itungan sama dokter untuk melihat keparahan yang akan terjadi jika aku nggak operasi. Usia 17 tahun kemiringannya dah 45 derajat, padahal pertahun nambah 3 derajat. Sepuluh tahun berikutnya nambah berapa lagi? Nanti tulangku bisa mendesak jantung atau paru,” ucapnya.
Atas saran dr Iman Solichin SP OT SPINE, Mita melakukan operasi di Jakarta dimana kedua orangtua dan keluarga besarnya tinggal. Mita tak akan pernah melupakan tanggal 27 September 2006 sebagai hari operasi besarnya dimulai. Hari itu Mita berjuang dari rasa sakit, demi impian dan demi masa depannya.
Setelah menjalani enam jam pertaruhan di meja operasi dan rasa sakit melakukan treatment, hari kedua pasca operasi Mita sudah bisa memiringkan badan. Hari ketiga bisa duduk dan hari kelima sudah bisa berjalan. Mita bersukur tidak lumpuh seperti artikel-artikel yang pernah ia baca tentang skoliosis. Sisa kemiringan tulang belakangnya pun tinggal 7 derajat.
“Tapi operasiku juga nggak lepas dari masalah. Karena ternyata ada semaca, rotasi di tulangku. Atau biasa disebut lordosis (tulang belakang yang melengkung atau membengkok ke arah depan). Jadi ada pendarahan dan harus disedot,” ucapnya.
Musibah yang dialami Mita tak sampai disitu. Dalam perjalanan pulang ke Purwokerto untuk melanjutkan kuliahnya yang tertunda, kereta yang dinaiki MIta anjlog dan menurut Mita peristiwa itu cukup mempengaruhi kondisi tulangnya. Meski punggungnya terasa sakit, Mita tetap nekad kuliah hingga akhirnya sang ayah menyuruh Mita agar mengambil cuti untuk check up.
Bulan April 2007, dr Luthfi yang menangani Mita mengatakan jika ada dua skrup dari 16 skrup yang ditanam ditubuhnya bergeser sehingga harus diangkat. Agustus 2007, Mita lagi-lagi masuk kamar operasi untuk mengangkat 2 skrup berbahan titanium yang sudah miring itu.
“Berkali-kali OP tetap saja aku gemeteran. Bayangin aja, satu skrup panjangnya 5 cm. Dan seumur hidup si titan ini akan bersarang ditubuhku selamanya,” kata Mita seraya tertawa.
Namun, sakit fisik yang dirasakan Mita tak sesakit perasaan kehilangan teman-teman yang menjauhinya ketika tahu Mita skolioser. Mita sering dipandang sinis karena dinilai menggunakan cara-cara yang tak wajar mampu lulus ujian SMA meskipun ia tak pernah belajar karena sakit. Ia kerap jadi bahan gosip karena sering mendapatkan dispensasi dari kampus. Bahkan di cap manja, sok cari perhatian, dan anak emas kerap disandangnya.
“Dari jauh aku tampak normal seperti tidak menderita apa-apa. Tapi sebenarnya aku mudah lelah dan perlu dukungan. Kadang aku ingin semua yang ada didekatku itu tulus,” tandasnya. (bersambung)

Januari 9, 2010

Like This

Diarsipkan di bawah: my story — Tag:, , , , — jenkna @ 12:41 pm

Dunia tidaklah tamat meski seorang anak telah divonis menderita autis. Masyarakat harus mulai mengubah pardigma, bukan lagi menggali sisi kekurangan mereka melainkan potensi luar biasanya. Apa yang dikaryakan Muhammad Ammar (16) melalui kamus bahasa buatannya merupakan bukti bahwa ciptaan Tuhan tak satupun yang sia-sia.

INDRI AGUSTINA, Purwokerto

Gaya bicaranya santai namun berbobot. Sesekali lelucon segar meluncur dari bibirnya. Lalu, pada detik yang lain, ucapannya menggebu-gebu penuh letupan emosi. Itulah Ammar yang menyandang gelar autis sejak umur delapan tahun. Hebatnya, kesulitan konsentrasi yang dialaminya, nyaris tak terlihat sepanjang wawancara dengan Radarmas, Jumat (8/1).
“Ini karena aku lagi sadar, ngomongnya bagus, nyambung. Tapi kalau kebanyakan diledek atau dijahili teman trus banyak masalah aku suka ngeblank. Kira-kira sampai satu jam aku baru bisa konsentrasi lagi,”tuturnya jenaka, sampai-sampai membuat ustad Misbakh dan ustad Teguh sang pendamping, tersenyum simpul mendengarnya.
Ammar mengaku, sudah merasa berbeda sejak kelas 6 SD. Ammar bertanya-tanya sendiri kenapa ia sulit berkonsentrasi terhadap sesuatu dan melafalkan kata-kata dengan cadel. Semua lebih terang ketika Syifa, ibu Ammar memberitahu penyakitnya. Amar bahkan sempat pesimis bisa melalui jenjang pendidikan dari SD hingga SMA. Namun yang dikhawatirkan Ammar ternyata tidak pernah terjadi.
“Ada pikiran bisa nggak sekolah? Jangan-jangan nggak bisa kuliah. Nanti depresi, frustasi. Tapi nggak lah orang yang sungguh-sungguh pasti akan berhasil, ya kan? “kata pengidola klub Manchester United (MU).
Autis tampaknya tak melulu jadi momok jika melihat kerja keras dan kesabaran Ammar berusaha hidup di dunia yang berbeda dengan dunia ciptaannya sendiri. Untuk itu, Ammar berusaha keras menyelesaikan program atau proyek untuk menunjang bakat kebahasaan yang dimiliknya. Siswa kelas 2 SMA Al Irsyad Purwokerto ini, telah berhasil menelurkan sebuah karya yakni kamus bergambar untuk anak yang diberi judul Kamusku yang Pertama. Kamus tiga bahasa (indonesia-Arab-Inggris) tersebut dicetak Januari 2010 oleh Penerbit Jabal Bandung.
“Bener-bener fresh from the oven. Bukunya sudah bisa didapatkan di gramedia, mungkin cetakannya sekitar 150 eksemplar. Aku juga dapat royalti,” ucap putra pasangan Syifa dan Syarief ini.
Ammar berkisah, perlu waktu sekitar satu tahun untuk menyusun kamus tersebut. Ammar juga tidak sendiri karena dia dibantu oleh tukang desain gambar, editor bahasa Inggris dan editor bahasa Arab. Karena segmennya untuk kaum muslim, Ammar mengaku tak sembarangan memilih desain gambar yaitu jauh dari pornografi dan erotisme. Ammar menggunakan jasa desain gambar karena membenci pembajakan jika hanya menjiplak foto. Ammar memuji bukunya sebagai buku yang memiliki keunggulan ekstra yakni bisa diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, bahkan ahli bahasa.
“Kesulitannya waktu menerbitkan, bagaimana memasarkannya. Ketika aku harus presentasi karyaku di depan penerbit, aku juga khawatir. Tapi anggap saja ini seperti berdagang dan kebetulan aku suka berdagang,” terang pemuda yang setia naik sepeda listrik karena takut merusak lingkungan.
Ya, selain cerdas di bidang bahasa, Ammar menuruni bakat orangtuanya berbisnis. Sedari kecil, Ammar sudah pandai berjualan es, nugget, dan parfum. Saat ini Ammar menekuni penjualan pulasa tronik dan tentu saja kamus kebanggaannya itu. Kelak, jika Ammar berhasil menjadi pengusaha. Ammar berjanji, akan menjadi pengusaha yang membumi dan sederhana.
“Aku suka bisnis supaya nggak terus-terusan minta orangtua.Uang hasil penjualan kamus juga aku tabung. Kasihan, Ummi sudah tua. Lagian aku nggak suka jadi peminta-minta,” celoteh bungsu dari dua bersaudara.
Debut perdana Ammar menerbitkan kamus, sepertinya akan disusul dengan karya-karya fantastis lainnya. Ammar yang mengaku masih mudah tersinggung dan sakit hati ini, berniat membuat buku-buku pengetahuan tentang sejarah, tokoh, dan pengetahuan mengenai keislaman lainnya. Ammar menegaskan, auitis bukanlah kecacatan sehingga apapun pasti bisa diwujudkan. Tekad Ammar ini tentu tak lepas dari dukungan orangtuanya yang tak kenal lelah membentuk pribadi Ammar agar bisa diterima dimasyarakat, bukan sebagai spesial needs tapi sebagai Ammar dengan mutiara terpendamnya. (*)

Desember 13, 2009

if u know about freedom

Diarsipkan di bawah: my story — Tag:, , , , , , — jenkna @ 11:24 am

Duhai pemuja cinta, apakah arti kebebasan dan kemerdekaan itu? sejatinya, ia adalah semu.meski meringkuk dalam sekat, cinta tetap lah bebas mengayun langkahnya…membentur teralis, menabrak udara. tidak ada dinding meski berdinding.cinta bahkan bisa memerdekakan diri meski hanya lewat tatapan
(jenkna, 13 des 2009, 5:44 pm)

hai, hai, hai,
don’t be seriously…

jeperetan jenkna sebenarnya humanis (meski kata fotografer sedikit mengganggu dibagian kaki si ibu yang berwarna biru). dia seorangg terdakwa kasus pencurian teralis besi yang diganjar delapan bulan penjara. setiap kali sidang, istrinya nggak pernah lepas menemani di sel transit. mereka seolah nggak peduli ada banyak pasang mata yang mencemooh melihat kemesraan yang begitu nyata.
meski romantis, jenkna yakin nggak ada yang mau mengalami perpisahan macam ini. bayangkan, orang yang dicintai adalah pelaku kejahatan, terbukti secara hukum, disingkirkan dari keluarga dan atau masyarakat, cinta sih tetap cinta tapi cinta yang bagaimana, pasti ada luka di hati…

if u know about freedom….sangat relatif….burung yang dilepaskan dari sangkar juga belum tentu merdeka karena dia bisa saja ditembak mati atau dimangsa predator atau apalah…

Jadi, bagi kamu yang masih berpikir, bahwa bapak, ibu, adik, kakak, ponakan, kakek, nenek, sahabat, kekasih bisa celaka, meninggal hanya ada di sinetron. Mereka bisa dipenjara hanya cuplikan di film-film. Mereka bisa menghilang diculik, dibunuh dikebiri hanya terjadi di surat kabar, mulailah terbangun….bahwa di alam nyata ini, penjara itu ada. sesuatu yang bisa mengkungkung dan tidak membebaskan engkau. berhati-hatilah menjaga diri dan keluarga…..

ini kebebasan yang lain…merdeka satu langkah sebelum meraih kemerdekaan yang sesungguhnya. yah, memenuhi harapan orangtua, juga melepas satu beban di hati….congratulation 4 mr hwo before…

Saat Hwo mendirikan rumah cahaya, ia ingin memerdekakan anak-anak dari keterbelakangan dan antisosial dengan buku-buku bermutu dan kehangatan.rumah itu bisa dikunjungi anak-anak tak bersepatu sekalipun. rumah yang bebas oleh kasta. dan aku sangat bangga pada pendiri-pendiri rumah itu.apalagi tanggal 22 desember ini rumah cahaya akan mengadakan lomba menulis surat untuk mama.great job! suatu saat, jenkna akan membahas apa itu rumah cahaya lebih lanjut.

gambaran mininya, klo kata mr hwo sih…ya taman bacaan, lokasinya ada di Sawangan, persisnya di depan Martabak Legit Sawangan, Samping SDN Kedungwuluh, Purwokerto. Selain konsep rumah baca annatinya akan dikembangkan menjadi tempat berkegiatan anak-anak pelajar

begitulah, ada banyak cara membuat orang lain atau diri kita merdeka atas atau dari sesuatu. melihat sepak terjang hwo dan kawan-kawannya, aku sendiri seperti tercerahkan bahwa hidup itu bukan hanya makan, tidur, bekerja mencari uang, tapi juga membangun sebuah kegunaan alias manfaat. hal yang belum bisa aku lakukan….
jadi hormatku pada perjuanganmu….aduh aku menyebutmu apa ya mr hwo…wkwkwkwkkw. ambil saja dari hatiku ini.bukankah banyak berkata-kata bisa mengurangi makna?

mom and kids…
merupakan tema selanjutnya…
Ini adalah alifia dan sahabatku agustinah titin.ia sempat dilarang hamil karena penyakit yang diderita, bahkan divonis sulit memperoleh buah hati. Tapi bagi pemuja Sang Maha Cinta, doanya memang menakjubkan. gadis kecil itu pun lahir, tumbuh besar dan merasakan limpahan kasih sayang dari keluarga intinya. Titin, begitu ia karab disapa, memiliki kebebasan mencurahkan kodrat keibuannya pada Alifia…sementara di tempat lain ada ibu yang akhirnya hanya bisa melihat anaknya di kotak ajaib, tak mau lepas dari gandengan ayahnya, mungkin juga memilih agama yang dianut ayahnya, membelokkan cita-cita demi sang ayah..apalagi?

melihat berita selebriti akhir-akhir ini, begitu menjengahkan. jadi lebih baik tidak usah ditonton.ini soal, kebebasan memeluk (mikro) dan melindungi (makro) seorang anak. Perceraian tidak baik-baik yang melanda kalangan selebriti memunculkan penjara dalam layar televisi yang begitu besar. ibu kehilangan hak asuh, ayah tak boleh menyentuh anak kandung, ibu dan ayah sama-sama terpenjara dalam egoisme gengsi.

Desember 7, 2009

Resepsi

Diarsipkan di bawah: love — Tag:, , , , , , — jenkna @ 2:35 pm

Resepsi Pernikahan Unik Ala Anggota Teater Tubuh

“Hai ma, ingatkah waktu itu aku berkata? kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna ha…ha…ha.. Wah aku memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini,” sepenggal puisi milik rendra berjudul Hai Ma meluncur penuh makna dari mulut Tejo. Disaat kebanyakan resepsi pernikahan disuguhi orgen tunggal, namun untuk yang satu ini, justru kalimat puitis dan drama teaterlah yang digelar.

Indri Agustina, Purwokerto

Hujan tak lagi gerimis tapi kian gemuruh mengguyur pemukiman padat penduduk di jalan Turmudi RT2 RW 1 SOkaraja Lor, Senin malam (7/4) lalu. Tepatnya di rumah mungil bertembok papan milik Ashar Bachtiar, seorang aktor teater tubuh, tengah digelar resepsi pernikahan yang sederhana. Saat Radarmas menyambagi tempat tersebut, keadaan sekeliling nyaris gelap gulita, hanya beberapa pendar lilin yang terpancar dari beberapa meja tamu.
“Setiap pentas seni biasanya memang identik dengan suasana remang, tapi ini sungguh tidak disengaja, ini darurat karena tempat kita mati lampu,” ujar Ashar sedikit terkekeh.
Malam itu, Ashar mungkin menjadi orang yang paling berbahagia, cita-citanya untuk mengenalkan seni dan sastra yang kian jauh dari kehidupan masyarakat nampaknya akan segera terwujud. “Sokaraja sebenarnya merupakan desa budaya, banyak seniman jalanan, yang lahir ditempat ini misalnya komunitas senthir, atau komunitas tanpa nama, tapi saat ini eksistensi mereka mulai terkikis. Momen pernikahan saya rasanya tepat untuk dijadikan pagelaran seni” terangnya.
Teater tubuh sendiri menurut Ashar masih harus berjuang untuk bertahan hidup. Teater yang berdiri sejak tahun 80-an ini, harusnya menjadi contoh bagi teater lain agar tidak tergilas oleh perkembangan jaman. “Ini teater freelance atau non kampus terbesar di Purwokerto, di dalamnya terdapat berbagai komunitas, ada pengamen jalanan, mahasiswa, guru, siswa, petani, apa saja bisa masuk. Namun karena kurangnya koordinasi dan banyak faktor lainnya, kadang kita masih kesulitan menggelar pentas seni semacam ini,” bebernya.
Di tengah obrolan yang hangat dengan koran ini, Ashar masih menampakan wajah kurang sumringah. Dia seperti berharap padamnya listrik tak berlangsung lebih lama lagi, ia seolah tak sabar ingin melihat persembahan kejutan dari rekan-rekannya. Namun, karena tak kunjung menyala, panitia terpaksa tetap menggelar pentas dengan bantuan dua petromax besar di sekeliling panggung mini yang mereka buat.
Ashar yang penikmat puisi namun mengaku tidak bisa membaca puisi dengan baik, tampak senang saat satu-satu rekannya dari Unwiku, dari komunitas hujan tak kunjung padam, dan beberapa komutias kecil teater SMA bertubi-tubi memberinya hadiah puisi ciptaan mereka sendiri yang bertemakan cinta dan sosial. Selain itu pimpinan teater tubuh, Bambang Wadoro, berkenan pula membacakan puisi milik Darmanto Jasman berjudul Istri untuknya.
Menurut Tejo, rekan Ashar yang juga membawakan puisi tersebut untuk kedua kalinya, isi dari puisi tersebut tujuannya untuk mengingatkan pada pasangan pengantin, bahwa istri adalah segala-galanya. “Dia adalah sigaran nyawa,” kata Tejo mengutip pusi itu.
Selain dimanjakan dengan hampir 40 buah puisi dari bermacam-macam komunitas sastra dan seni, tiba giliran Ashar maju ke pentas untuk berteater. Bersama dua orang rekannya, Ashar menyajikan teater bertema kehidupan dengan membawakan lagu macapat dari mijil hingga pucung. Mijil menceritakan tentang awal mula manusia tercipta, sedangkan pucung menceritakan saat manusia mati dan dibungkus kain kafan menjadi pocong.
Yang tak disangka-sangka, antusiasme masyarakat setempat, ternyata sangat tinggi. mereka saling berdesakan untuk menonton aksi treatikal dan puisi di rumah Ashar. Mereka juga tak pelit-pelit memberikan tepuk tangan sebagai penghargaan.
Keberhasilan pementasan ini tentunya sangat melegakan Ashar, meskipun akhirnya lampu menyala juga saat detik-detik pementasan akan berakhir yakni pukul 12 malam, Ashar tak merasa kecewa. “Saya puas dan senang, meskipun tak disaksikan oleh calon istri yang sedang di pingit,” tandas pria yang bekerja difarmasi yang akan melangsungkan akadnya Rabu (10/4) besok itu.(*)

Tulisan ini usianya sudah setahun lebih..awal-awal jenkna jadi wartawan.tapi entah kenapa begitu membekas di jiwa. mungkin karena new comer tapi sudah harus menembus malam pekat dingin dengan hujan yang terus jatuh. Ditambah, kesasar karena hanya mengandalkan alamat seadaanya.namun, yang paling melekat di hati adalah pernikahan mas Ashar yang unik. Siapapun ingin momen sekali seumur hidup (some people wish like that) tersebut berbeda. entah di dalam air, diatas balon udara, atau dipuncak gunung….mungkin keunikan itu bisa mengembalikan jiwa-jiwa yang gersang ketika perkawinan mulai menginjak tahun pertama, dan dopamin dalam otak yang memendarkan cinta sudah berkurang separuh, sepertiga atau semuanya.

bulan desember, setelah musim haji, lazimnya adalah musim hajatan. beberapa karib telah melangsungkan walimah nan indah itu. congrat 4 them! Semoga menjadi keluarga samara.

be unique! coz u are different…

Desember 6, 2009

Renyai pun Jadi Lazuardi

Diarsipkan di bawah: perenungan — Tag:, , , , , , — jenkna @ 9:01 am

tulisan ini masih hangat karena baru dikorankan dua hari yang lalu.
semoga menjadi inspirasi bagi kita semua..

Perjuangan Gautama, Penderita TBC Tulang (1)
Dua Bulan Lumpuh, Rutin Suntik Hingga 60 Hari

“Jika ada pisau di dekat saya, mungkin akan saya gunakan untuk bunuh diri,”kata-kata itu pernah terlontar dari mulut Gautama (28) sebagai klimaks dari rasa depresinya berjuang melawan TBC tulang beberapa bulan silam. Namun kini, Gogo -begitu ia akarab disapa- justru berhasil berjuang melawan rasa sakit fisik dan psikologisnya sendiri, bahkan menjadi motivator bagi rekan senasib. Bagaimana kisahnya?

INDRI AGUSTINA, Purwokerto

Gogo, di usianya yang masih produktif sebenarnya punya masa depan cemerlang. Tahun 2006, Sulung dari tiga bersaudara ini sudah bekerja di Direktorat Peternakan yang berada di bawah naungan Departemen Pertanian Jakarta. Ketika sedang mereguk bahagia bisa mencari penghasilan sendiri, Gogo terserang batuk sekitar bulan Juli hingga Agustus 2008. Tak hanya batuk, awal bulan September, jalannya mulai terpincang-pincang karena kaki kirinya terasa lemah.
“Saya masih bisa naik motor. Memang sempat jatuh, tapi saya pikir hanya kecetit jadi saya memutuskan pergi ke tukang urut. Apalagi hasil Rontgen juga nihil, tak menunjukan apa-apa,” kata Gogo.
Tiga bulan berkutat dengan tukang urut, ternyata tak membuat kondisi kaki Gogo sembuh. Ditambah punggungnya mulai sakit. Gogo pun melakukan rontgen ulang di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta. Hasilnya mencengangkan, ia divonis menderita TBC tulang. Dokter juga mengharuskan Gogo menjalani operasi, suatu tindakan yang awalnya hanya Gogo lihat di film-film atau sinetron.
“Nggak terbayang betapa downnya saya. Saya akhirnya mencari second opinion ke RS Orthopaedi Purwokerto (RSOP) sekitar bulan Desember 2008. Diagnosanya sama dan saya harus dioperasi. Hasil Rontgen saya juga dibawa ke RS di Tasikmalaya sebagai third opinion. Apa mau dikata, saya memang harus dioperasi,”kisahnya pilu.
7 Januari 2009, menjadi hari yang bersejarah untuk Gogo, karena akhirnya ia bersedia menjalani operasi di RSOP. Ia ditangani langsung oleh dr Iman Solichin SP, OT. SPINE. Pasca operasi, Gogo semakin shock karena kaki yang awalnya masih bisa dipakai untuk berjalan justru tak bisa digerakkan. Padahal selama kurang lebih 60 hari, ia diinjeksi dikedua pantatnya. Minum obatpun rutin dilakukan, tak kurang dari delapan butir obat setiap pagi harus ia telan.
Kelumpuhan sungguh menjadi pukulan besar yang membuat Gogo berubah dari periang menjadi pemarah. Apalagi kalau melihat orangtua yang sudah renta masih dengan gagah berjalan, sementara dirinya yang masih muda bergantung pada kursi roda.
“Dua bulan cuma diatas tempat tidur, lalu di kursi roda. Siapa yang nggak depresi? Saya nggak mau minum, nggak mau makan, nggak mau beribadah. Dikasih sarung buat salat aja rasanya panas dalam hati,” ujarnya terkekeh.
Berat badan Gogo praktis turun sekitar delapan kilo. Saat mulai mau makan, Gogo hanya mau mengkonsumsi bubur sumsum selama empat bulan. Jangan sampai ia melihat nasi, karena bisa-bisa pria kelahiran Banjarnegara itu muntah ditempat. Gogo juga mulai dirasuki pikiran-pikiran buruk misalnya merasa operasi itu gagal dan akan lumpuh selamanya. Lalu bagaimana, Gogo bisa melewati masa kritisnya tersebut?
“Adik membawakan artikel yang ia print dari internet juga brosur tentang TBC tulang. Saat membaca tulisan itu, saya tertegun karena penderita TBC tulang memang wajar mengalami masa-masa sulit setelah operasi seperti nafsu makan yang berkurang. Ditambah mendengar lagu-lagu religius milik Opick, perlahan saya mau bangkit,” terangnya.
Di poliklinik fisioterapi RSOP, Gogo memulai latihannya untuk memperkuat kembali otot-otot tubuhnya sekaligus memperbaiki pola berjalan. Tubuhnya yang terasa kaku kian lama mulai melentur. Demikian pula dengan kakinya yang selalu gemetaran tanpa terkontrol perlahan mulai mereda. Kakinya yang baal, kini 80 persen sudah mulai terasa.
“Trauma pernah lumpuh, kadang-kadang masih mengganggu pikiran Gogo. Dia jadi kurang pede berjalan tanpa walker, karena takut jatuh lalu pennya lepas dan sebagainya. Tapi itu wajar, masih dalam proses pemulihan,” tambah Peni Kurniawati, fisioterapis yang setia mendampingi Gogo selama proses penyembuhan.(bersambug)

………………………………………………………………..

Perjuangan Gautama, Penderita TBC Tulang (2-Habis)
Waspadai Batuk, Demam dan Penurunan Berat Badan Drastis

Berbulan-bulan bertarung melawan bakteri mikobakterium tuberkulosa, menjadi pengalaman berharga bagi Gautama (28). Bayangkan, bakteri itu telah menggerogoti tulang belakangnya secara membabi buta hingga sempat membuat warga Jalan Overste Isdiman itu lumpuh. Bisa berjalan lagi, merupakan keajaiban besar buatnya.

INDRI AGUSTINA, Purwokerto

Gogo sudah tak sabar lagi melihat Jakarta, tempatnya mencari nafkah. Ia optimis awal tahun sudah bisa menginjakkan kaki lagi di kota metropolitan dan siap bekerja. Di sisi lain, ia sebenarnya tak tega meningalkan dua orang temannya yang divonis TBC tulang dan masih perluh dimotivasi untuk berobat.
“Mereka sangat membutuhkan sharing pengalaman. Mereka bukannya takut berobat tapi sedang mengumpulkan uang. Kalau sampai operasi biayanya memang tidak sedikit,” kata Gogo mencoba maklum.
Gogo pun mewanti-wanti agar tidak menyepelekan gejala batuk. Gogo sendiri pernah cuek dan hanya mngkonsumsi obat batuk warung untuk meredakannya. Tapi kuman Tb membandel, meski tak masuk ke paru-parunya namun ternyata malah menyerang organ motoriknya.
Kasus TBC tulang yang dialami Gogo mungkin jarang terdengar karena kalah pamor dengan HIV/AIDS dan kanker darah. Padahal TBC tulang merupakan permasalahan genting yang menjadi target penyelesaian oleh WHO dan Departemen Kesehatan setelah HIV/AIDS dan Angka Kematian Bayi. Diindonesia sendiri Kasus TBC Tulang tergolong tinggi.
Menurut dr Rosa Indiarto dari RS Orthopaedi Purwokerto, kasus TBC tulang di RS tersebut menduduki peringkat ketigas setelah kecelakaan dan penyakit degeneratif. Penularannya tergolong cepat dan bisa melalui udara, darah, juga peralatan makanan. Rosa, menjelaskan, jika mengalami gejala-gejala seperti berat badan turun drastis, demam lama/berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria atau infeksi saluran nafas akut), dapat disertai keringat malam, pembesaran kelenjar getah bening yang biasanya di daerah leher, ketiak dan lipatan paha (inguinal), dan batuk lama lebih dari 30 hari, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
“Uji TBC disebut tes Mantoux yakni tes pada kulit. Selain itu juga memeriksa dahak pagi hari untuk diuji lab,” jelasnya.
Jika memang terdeteksi, lanjut Rosa, ada yang cukup dengan pengobatan oral namun ada juga yang harus menjalani operasi untuk membersihkan kuman-kuman yang ada ditulang. Obat itu sendiri harus dikonsumsi secara teratur dalam jangka lama atau berkisar satu tahun. Di sinilah kedisiplinan pasien sangat dituntut. Seringkali, pengobatan yang lama menimbulkan kebosanan sang pasien. Jika hal itu terjadi, kuman tersebut menjadi kebal terhadap antibiotika.
“Diharapkan, keluarga penderita juga ikut memeriksakan diri, karena kuman cepat menyebar lewat udara. Penderita sebaiknya mengunakan masker, menjaga ventilasi, dan memakan makanan bergizi,” tandasnya. (habis)

November 18, 2009

mengaku dosa

Diarsipkan di bawah: love — jenkna @ 10:34 am

November , 18

aku ingin berbalik, menciumi tangan-tangan manusia yang telah kutipu…
aku adalah pembohong kelas satu yang bolehlah dianggap seperti lendir amuba
akulah lunar.. yang menggoreskan kisah yang kukatakan nyata namun sebenarnya palsu.
Sejatinya tidak pernah ada cinta atau sejenisnya buat bagas.ia hanya kujadikan tumbal harga diri didepan sejawat bahwa aku punya orang yang kukasihi…
dalam kebenaran yang terendap, aku sebenarnya mengharu biru dan mendamba pada orang lain…apa aku pernah menyebutnya? jika belum, aku ingin sekali melafalkannya dalam terang dan jernih…tapi dia menahanku….karena dia merasa aku masih terintimidasi bagas.
dia pun terhasut dengan karanganku sendiri…jadi kutimbuni dia dalam bulan-bulan ini sebuah proposal kejujuran bahwa bagas memang permainan alam imajinerku karena desakan teman-teman yang menganggap kami cocok. sedangkan ‘dia’ nyata sepenuhnya…
jadi maafkan aku, lelaki yang tak pernah surut memangku sedikit bebanku…

bacalah ini dengan hatimu yang kuanggap cukup lembut…
aku lunar yang menipumu telah mengaku dosa
menghapus tangis pura-pura
menghentikan sandiwara…

sore ini, lelakiku,( boleh kueratkan panggilanku)
kita diam dalam dua sudut yang berbeda, tetapi memandang
dalam diamku yang berkubang sesal…harusnya kau paham kedudukanmu
dalam coretan sebuah nama yang dusta
ya itu kamu
bukan dia..
trust me….

September 13, 2009

merasa tidak pantas

Diarsipkan di bawah: perenungan — jenkna @ 8:44 am

keterlaluan memang meninggalkan blog tercinta dengan cara seperti ini dan lebih setia pada facebook.keliatan banget, lebih enjoy nulis pendek2, sebua stastus sederhana yang diupdae tiap hari, dibanding nulis sesuatu yang bisa menginspirasi orang lain, seperti tujuan semula. yeah, tapi begitulah manusia, seperti anyaman tikar, tambal sulam, dan hatinya (gampang) bolak-balik banget.

What i’ve to say???

judulnya bukan ngerendahin diri atau pura-pura munafik ngerendahin diri supaya dipuji orang. tapi ini berupa ketidakberdayaan hati menerima sesuatu disaat qta merasa nggak pantas menerima atau mendapatkannya. misalnya kuliah sering absen,tugas jarang dikerjain, nggak pernah aktif waktu diskusi panel, tiba-tiba didaulat jadi mahasiswa berprestasi. gimana? pasti ada sesuatu yang menghentak dan melintasi pikiran bahwa meskipun gue seneng tapi sebaiknya jangan gue. banyak kok sosok2 lain yang kredibel dibanding gue.Why me?

kalo buat orang lain,perasaan itu bisa masuk tong sampah.nggak buat gue.bukannya jadi terpacu buat membuktikan kalau gue memang berhak, yang ada gue malah asyik mencari kelemahan-kelemahan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa gue nggak sehebat itu. oke ini emang ganjil dan rada aneh.gue sendiri heran. tapi perasaan itu kudu gue nikmati, soalnya nggak bisa diusir, dateng dan menghantui terus.

what happen to me?

Juli 31, 2009

choose one chair

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — jenkna @ 2:09 pm

Jabat tanganku mungkin untuk yang terakhir kali
kita berbincang tentang memori dimasa itu
peluk tubuhku usapkan juga airmataku
kita terharu seakan tiada bertemu lagi

bersenang-senanglah karna hari ini yang kan kita rindukan
di hari nanti sebuah kisah lasik untuk masa depan
bersenang-senanglah karna waktu ini yang kita banggakan di hari tua

sampai jumpa kawanku
smoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
sampai jumpa kawanku
smoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

mugkin diriku masih ingin bersama kalian
mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian
by:Sheila On 7

Meski tidak persis, tapi inilah yang sedang terjadi pada kami terlebih aku, kehilangan salah satu anggota keluarga sekaligus teman. aku dicegah mengatakan ini sebagai perpisahan, sebab perpisahan hanya dari yang hidup untuk si mati. bagi sesama mahluk bernyawa yang ada hanya sebuah perbedaan ruang dan waktu….

hari ini, nyaris diluar dugaanku, partner kerjaku sesama wartawan desk kriminal resign dari kantor. awal Januari 2009, letupan keresahannya sudah terlihat. seperti meminang dua calon pengantin yang sama-sama dicintai. mr Han bilang, jika bagian tubuhnya disilet, darah yang keluar dari sana pasti bertuliskan jurnalistik. sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa mendarah dagingnya jurnalistik di jiwanya. rela mati sekali tampaknya. tapi di sisi yang lain, cita-cita menjadi sarjana ilmu politik yang sudah digadang-gadang orangtuanya juga memanggil.
“Kebahagiaan orangtuaku adalah melihatku diwisuda….” katanya di sebuah pertemuan bisik-bisik yang sering kami lakukan di balik bilik komputernya.

aku kadang menyesal harus memberikan pandangan seperti ini di tengah keluhnya. saat mengambil air wudhu di mushala belakang kantor (seingatku), aku membeberkan filosofi yang aku anut setelah mengenal luciano pavarotti. lelaki bersuara indah ini pun dulu bingung, mau jadi penyanyi atau tukang roti seperti ayahnya. ayahnya lalu memberi nasehat, choose one chair luciano! karena kita nggak bisa duduk diantara dua kursi. mau tidak mau harus memilih salah satu kalau mau proporsional dan profesional.

filosofi ini ternyata diresapi mr Han juga, dan itu pula yang membawanya pergi menjauh…..

semoga kesedihan ini tak berlarut-larut. sebab, mr Han berpesan bahwa akulah tongkat estafetnya (sepihak sekali) sekarang.semangatku harus terus dinyalakan karena aku perempuan tangguh. sebuah kalimat yang diriku sendiri saja tidak mampu mempercayainya. aku tangguh? padahal ada sudut mata yang memandangku seperti pecundang….

“setiap melewati jalan ini, melihat setiap sudut ruangan ini, ada yang tertinggal disana, bahwa aku pernah menjadi bagian dari itu semua, ini pasti akan jadi kenangan,” ucap mr Han sebelum berpamitan pulang (setelah mengetik berita liputan terakhirnya tentu saja).

suaranya datar, tapi dalam dan sarat kesedihan. bahkan mungkin hampir menangis. :) aku tahu ia enggan. tapi eksistensi hidup adalah ketika berani memilih jalan.

aku mengantarnya sampai ke pintu usai berjabat tangan. saat dia pergi tanpa sapa lagi, aku hanya bisa membatin…
Kehilangan seperti beranjak dari tempat duduk. hangatnya tertinggal, bentuknya telah mengabur. lalu lenyap di telan waktu……digantikan pertemuan baru….juga kehilangan yang baru…waktu hanya sebuah persepsi yang berulang….terus begitu

end note
buat mr Han, harus semangat menyelesaikan skripsi! jika hidupmu memang disini pasti masih bisa menempuh jalur pulang yang sama…semoga.

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.