Anak Kandang

bertemu mahasiswa dan meliput aktivitas mereka, sungguh menyenangkan. saya merasa tak pernah beranjak tua…seperti anak-anak kandang yang lucu dan menyenangkan ini..

Melihat Kehidupan Anak Kandang
Belajar Wirausaha, Dipesan Perusahaan Sebelum Lulus

Sejak tahun 1996, mahasiswa di Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) punya “tradisi” turun-temurun. Beberapa diantara mereka rela tinggal di sekitar kandang-kandang peternakan ayam dan sapi milik Experimental Farm (exp farm) Sub Stasiun Percobaan (SSP) Fapet Unsoed demi belajar hidup mandiri. Maka dijulukilah mereka si “Anak Kandang”.

INDRI AGUSTINA, Purwokerto

Dede Novan, Muklis Triono, Arteka, Eris Susandi, dan Virgian yang merupakan anak-anak Pawang, tampak berleha-leha di depan televisi, Minggu (25/7). Televisi tersebut mungkin menjadi satu-satunya barang yang terlihat mewah diantara ruangan kamar yang sempit dan sedikit berantakan. Dari balik daun pintu markas Pawang yang terbuka, sesekali tercium aroma busuk dari arah kandang ayam yang mengelilingi markas tersebut. Tak jauh dari tempat itu, terdapat pula kandang sapi yang bau amoniaknya jauh lebih menusuk hidung.
Tapi Eris, salah satu anak kandang asal Tasikmalaya, tetap menikmati sarapan pagi dengan begitu lahap. Eris mengaku sudah terbiasa. Ia mengatakan, teori di bangku kuliah saja tidak cukup untuk bekal hidup di masa yang akan datang. Sehingga tinggal di kandang merupakan sarana untuk praktik secara langsung yang dipilihnya secara sadar.
“Kalau disini kita bisa beternak ayam langsung, nggak sekedar teori. Kasih pakan, mengobati kalau ayam sakit, membersihkan kandang, semuanya,”ucap Eris seraya menambahkan jika Pawang awalnya dipelopori oleh Unit Penelitian dan Pengembangan Peternaan (UP3)
Virgian, anggota Pawang yang cukup senior menambahkan jika Eks Farm Fapet Unsoed merupakan emas yang terlupakan. Padahal, tempat tersebut merupakan media gratis untuk belajar gratis pula. Bandingkan jika orang ingin praktik sendiri, tentu memerlukan modal puluhan juta rupiah untuk menyiapkan kandang hingga tetek bengeknya.
“Selain untuk pelatihan, di sini hasil ternak ayamnya juga dikomersilkan. Kita jadi tahu parameter untung dan rugi kalau beternak ayam. Bergabung di Pawang juga belajar manajerial. Struktur jabatannya dibuat seperti perusahaan betulan,” jelas Virgian.
Mahasiswa asal Purwokerto itu melanjutkan, sedikitnya ada enam sampai sepuluhmahasiswa yang tinggal di kandang. Mereka juga melalui pola rekruitmen dan training. Jabatan-jabatan yang ada dalam komunitas tersebut misalnya supervisor kesehatan, supervisor pemasaran, supervisor, pakan, supervisor, peralatan dan recording atau pengolahan data. Jabatan tersebut akan dirolling tiap periode tertentu supaya semua bisa merasakan peran yang berbeda. Masing-masing supervisor biasanya memiliki dua anggota. Dalam satu tahun, kata dia, ada pergantian struktur sebanyak dua kali/periode.
Masih menurut Virgian, bergabung di Pawang juga harus tahan banting. Mereka tidak bisa menolak jika pakan ayam seberat masing-masing 50 kg datang meski sudah tengah malam. Mereka harus mau membongkar pakan malam itu juga. Tapi manfaat yang didapat memang lebih besar ketimbang kesulitan yang dihadapi. Salah satunya membangun networking dengan perusahaan-perusahaan terkait sekaligus merintis jaringan kerja. Seringkali, anggota Pawang sudah ditraining perusahaan meskipun mereka belum lulus. Sementara yang sudah jadi alumnus, banyak pula yang telah menjadi “bos” dan membuka peluang kerja bagi para junior mereka.
“Tidak cuma pengetahuan dan ketrampilan, kita juga mendapatkan keluarga. Kalau ada yang kesulitan keuangan, kita punya uang kas untuk membantu mereka yang belum bisa membayar uang semesteran, misalnya. Setiap lebaran ada juga momen kumpul-kumpul dengan alumni,”tambah Muklis, mahasiswa asal Riau.
Tinggal di tengah kotoran ayam dan bau, ternyata tak sepenuhnya menyedihkan. Buktinya anak kandang masih sempat memelihara lele di kolam dan berkebun singkong di sela-sela kesibukan mereka sebagai sarana hiburan. Tak jarang mereka memasak hasil panenan lele dan singkong sendiri. Kalau ada anggota yang berulangtahun, mereka harus siap-siap diceburkan di kolam lele yang super bau dan gatal itu.
“Syukurlah selama ini tidak ada protes dari orangtua maupun pacar. Ini kan bisa jadi modal nikah juga,” gurau Eris mengakhiri perbincangan dengan Radarmas.(*)