My born day

big thanks to Allah SWT

Iklan

CINTA YANG TERSEMBUNYI


Ada sebuah gelang berbahan batu jade berukuran setengah senti melingkar di pergelangan tangan Arya. Gelang itu adalah hasil dari pengorbanannya memecahkan celengan kodok. Arya menggigitnya. Keras. Entahlah tiruan atau asli, Arya buta soal perhiasan. Dia hanya iseng menitip pada Tono, sahabatnya yang seorang reporter televisi, membelikannya saat meliput berita di Singapura. Arya membaca sepintas di majalah, bahwa batu jade yang berwarna hijau bening sangat indah. Bahkan menjadi perhiasan bergengsi sejak jaman Dinasti Shang di Tiongkok. Arya sudah menyelidiki kalau Anty, gadis yang sedang menggetarkan kisi-kisi hatinya, sangat menyukai perhiasan dari batu alam. Demi kepuasan batin, Arya rela memberikan yang terbaik yang dia bisa untuk Anty di hari ulang tahun gadis itu.

“Untukmu An….happy b’day

Arya mengulurkan kadonya pada Anty dengan sedikit gemetar. Malam ini, Anty sangat cantik. Little black dress dengan paduan jaket berbahan velvet yang sederhana membelit tubuh semampainya secara anggun. Wow!

“Trims, buka sekarang ya?” Anty buru-buru merobek kertas kado yang susah payah Arya lipat-lipat seindah mungkin sebagai pembungkus.

Anty memandang kado itu dengan ekspresi datar. Arya pikir, Anty sedang terpana menyaksikan kado Arya yang mengagumkan.

“Anty sudah punya banyak. Di beli langsung dari Beijing. Tapi karena ini kado dari kamu, Anty nggak mungkin nolak, biar nanti Anty kasih ke Mbok Nah, kebetulan dia mau pulang kampung, bisa jadi cinderamata buat anaknya. Anty yakin kamu nggak bakal keberatan. Ehm..Anty baik ya Ar, masih mikirin orang-orang kecil seperti Mbok Nah.”

Kata-kata Anty meluncur deras, bak ribuan paku yang menghujam jantung Arya. Arya tertohok sekaligus geram setengah mati. Anty yang polos atau tinggi hati? Arya mendadak muak, menyaksikan kadonya hanya seharga Mbok Nah.

“Tapi ….aku ingin kamu memakainya An…”

Arya mencoba menawar. Wajahnya dibuat memelas.

“Ini kado Anty kan? Terserah Anty dong. Sorry, kulit Anty sensitif dengan gelang yang tidak jelas kadar keasliannya. Kalau infeksi atau terkena radang belum tentu bisa sembuh dengan obat-obat biasa berclotrimazole 0, 5 %. Anty harus ke dokter pribadi Anty di Jepang. Arya tahu sendiri Anty seorang model. Bahaya sekali kalau kulit Anty rusak, taruhannya masa depan! Sudahlah jangan berdebat Arya…Anty mau menyapa teman-teman yang lain dulu. Kamu bisa menikmati menu makanan di pesta ini semau kamu, ada yogurt dengan taburan raisin, crepe or waffle, ada beberapa makanan jepang dan Italia juga. Mungkin akan terasa aneh buat lidah kamu tapi kamu akan terbiasa. See you later..”

Arya melompong. Lambaian tangan Anty nampak seperti gada besar kepunyaan Hanoman yang bergerigi. Membuat Arya bergidik. Arya menggetok-getok kepalanya sendiri. Dia sedang menyesal, menyemaikan cinta untuk gadis sepongah Anty.

Tapi…dulu Anty sangat manis dan baik. Arya pertama kali mengenalnya di Aula Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, melewati Ospek dalam satu kelompok meski mereka berbeda jurusan. Arya jurusan Ilmu Politik sedang Anty jurusan Ilmu Komunikasi. Setelah semester 2, Arya mulai merasakan getar yang merambat halus disanubarinya. Anty bukan gadis biasa, dia sering menjuarai lomba debat bahasa Inggris antar Fakultas, lomba penulisan karya ilmiah, menjadi sekretaris BEM, dan terakhir menjadi model sebuah majalah khusus wanita yang karirnya terus menanjak. Bagi Arya itu menakjubkan!

Dan Arya tidak mampu lagi membendung gejolak, karena Anty tanpa sadar membuka peluang, dengan sering meminta Arya mengantar jemputnya kemanapun dia beraktivitas. Dua hari lalu, Arya melepaskan rasanya begitu saja saat menjemput Anty dari Studio Photo. Kata-katanya tidak sempat diatur dengan baik. karena Arya memang bukan laki-laki romantis. Pokoknya Arya hanya ingin maksud hatinya sampai. Tapi jawaban Anty bukannya ya atau tidak. Gadis itu menyuruh Arya menebak sendiri sambil berlalu begitu saja dari hadapan Arya. Wajahnya mendadak bengis. Benar-benar membingungkan.

Malam ini puncaknya, Arya merasa mendapat kartu jawaban, keangkuhan Anty menjadi ujung tombak arah hubungan mereka yang tidak mungkin. Memang tidak ada cinta untuk Arya.

“Bengong?” Seorang gadis berlesung pipit duduk menyebelahi Arya, tangannya memegang coke. “Aku Kinan. Aku paling nggak suka ngeliat orang bengong, diem, murung, dan menyendiri, seperti kurang kemenyan. Ups sorry, it’s a joke………’

Kinan tertawa. Arya hanya mengerjap tak mengerti

“Sepupuku, Anty, sudah membuatmu kecewa ya?”

Alis arya bertaut, dia terkejut dengan penyataan Kinan.

“Kamu sepupunya Anty?” Arya ketakutan, takut semua orang yang ada didekat Anty punya sifat sama jeleknya dengan Anty.

“Jangan jantungan begitu…aku relatif manis kok, tidak bertaring dan masih tersegel dengan baik…he..he..”

Mata jenaka Kinan meluruhkan sedikit pikiran negatif Arya.

“Sungguh? Tapi kalau kamu mau merendahkan orang lain atau memamerkan kekayaan lebih baik kamu pergi.”

So sensitive! Anty baru selesai melukaimu, ya? Terus terang aku memperhatikan kalian berdua sejak tadi. Muka kamu terlihat bodoh…ha..ha”

Kinan tertawa. Arya sedikit tersenyum. Hanya untuk menyenangkan hati Kinan.

“Anty melakukannya dengan tenang, polos, tanpa rasa bersalah, dan sengaja memilih kata-kata yang menyinggung. Kamu tidak menyesal mempunyai saudara aneh macam dia?” Arya mendengus.

“Hei, jangan begitu, aku sarankan jangan membencinya. Yang keluar dari mulutnya adalah kepribadiannya yang lain, kepribadian yang getas dan rapuh karena..ah..tak bisa kusebutkan! Pada prinsipnya Anty baik, kamu bisa buktikan itu. Asal…..jangan coba-coba bilang cinta padanya cukup bersahabat saja.”

Arya mengerling pandang. Apa yang dikatakan Kinan terdengar ganjil. Arya mulai tertarik dengan percakapan kebetulan ini.

“Terlanjur. Aku sudah mengungkapkannya dua hari lalu bahwa aku mencintainya. Apa itu salah?”

“Bodoh!” Kinan menghardik. “Maaf….Kamu tahu siapa yang akan disingkirkan Anty dari kehidupannya? Orang-orang seperti kamu!!..Orang-orang yang mencintainya lebih dari seorang sahabat.”

“Itu abnormal. Dia butuh psikiater” Arya meletup.

“Kamu kasar sekali. Pikirkan baik-baik, Anty selama ini pasti baik padamu, dia menyakitimu hanya setelah kamu mengungkapkan perasaan cinta kan? Jadi itu yang harus kamu pecahkan diluar koridor buruk sangka. Please,..okey?”

Kinan beranjak dari duduknya. Tapi saat memasuki langkah yang ke empat dia sempat berbalik badan.

“Namamu, Tuan?”

“Arya!”

Dan Kinanpun pergi dengan mengangguk-angguk.

Kalau ini sebuah adegan misterius, Arya sungguh tidak ingin berada di dalamnya. Arya ingin keluar saja. Pusing. Arya bergegas bangkit. Dia malas menyentuh apapun yang bisa ia lahap ke perutnya. Ia kehilangan selera. Maka, Arya memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum itu, dia membuat gebrakan yang tak dinyana oleh hatinya sendiri. Yaitu mendekati Anty  yang tengah memberikan potongan kue ulang tahunnya pada Kinan. Arya mengajak Anty ke sudut sebuah ruangan, Anty menyanggupi walau sedikit enggan.

“Anty…aku sadar..aku terbawa perasaan hanya karena kedekatan kita yang sesaat. Ternyata aku memang tidak mencintaimu. Perasaan sayang ini adalah persahabatan belaka. Aku kadang suka terburu-buru. Maaf kalau sempat menjadi beban. Aku pulang ya?”

Raut muka Anty berbinar seketika. Dia menggenggam erat tangan Arya.

“Thanks ya Ar. Aku tahu, kamu cuma salah mendefinisikan rasa.” Ucapan singkat Anty itu menggodok tubuh Arya hingga berpeluh. Arya bagai ranting tua yang patah hanya karena tiupan angin sepoi. Dusta membawanya menemukan senyum Anty yang dulu, senyum yang tidak merendahkanya lagi. Kenapa Anty? Kenapa! Arya berteriak pada malam pekat yang memeluknya pulang.

***

Satu bulan berselang. Arya sudah lebih kokoh menata hati. Meski tidak mudah berpura-pura biasa pada Anty. Arya cukup senang, Anty bisa digapainya lagi. Saat tidak sengaja bertemu di ruang bagian kemahasiswaan untuk mengurus surat penelitian, mereka tenggelam dalam senda gurau. Tapi..rasanya cinta itu masih melilit di sudut-sudut hati Arya, membelenggunya sampai tak bisa berlari kemanapun. Arya ingin memberi tahu Anty tentang itu tapi dia tidak mau mengubah Anty menjadi Rahwana jahat lagi.

“Arya, kamu yang terbaik. Kamu akan tersimpan di otak Anty sampai Anty mati.”

Arya gugup. Kata-kata Anty sebelum mereka berpisah di tempat parkir sepeda motor, karena Anty mengendarai mobil sendiri, menggetarkan tubuh Arya. Ah, kenapa kata-kata itu seperti harapan? Arya merasa mati langkah. Mendekat tidak bisa, menjauh apalagi. Hal ini terus berlanjut sampai…

Berita duka itu datang. Arya terkapar jiwanya. Sembilu telah menusuknya ribuan kali saat menemukan Anty tiba-tiba terbenam dalam sebuah gundukan tanah merah basah yang sunyi. Tanpa lambaian tangan, tanpa kata pisah. Padahal, paling tidak Arya ingin melihat detik-detik terakhirnya, saat ada jarum infus yang menusuk di pembuluh darahnya, atau saat ada dokter dan perawat dengan cekatan menempelkan alat pacu ke jantungnya agar tidak berhenti berdetak. Ternyata, tidak ada seorangpun yang menghubungi Arya saat Anty sekarat. Bahkan Kinan yang sekarang menjadi teman dekatnya, membisu.

“Sorry Ar, Anty melarangku keras. Dan kamu berhak kok marah…”

Kinan menepuk bahu Arya sembari menyodorkan tissue. Meski berkacamata hitam. Airmata Arya tampak menggenang dengan jelas. Arya mengelus makam Anty, pilu. Isaknya belum usai.

“Dia begitu sehat, tidak pernah pucat, apalagi mengeluh…seminggu yang lalu kami masih bercanda di tempat parkir..sebenarnya dia kenapa?”

“Kanker mulut rahim, Ar. Anty berpesan agar aku menceritakannya sama kamu sepeninggal dia. Semasa SMU, Anty tinggal di L.A. Gaya hidup  di sana membuatnya lepas kendali. Orang tuanya juga kurang pengawasan karena sering bolak-balik Indonesia-Amrik. Anty sempat melakoni pergaulan bebas. Bergonta-ganti pasangan. Karena dia juga butuh pasokan morphin dari pacar-pacarnya. Dia kecanduan. Dia terjebak lingkaran setan yang dia ciptakan sendiri. Tapi sejak pulang ke Indonesia, dia sungguh-sungguh bertaubat dan mau menjalani rehabilitasi. Tapi saat itu juga dia divonis terkena kanker mulut rahim stadium tiga. Dia pasrah, tidak mau menjalani pengobatan lebih lanjut dan menganggap itu semua teguran Tuhan bagi masa lalunya dan pelajaran bagi kami yang masih hidup. Makanya, dia tidak mau ada seorangpun mencintai dia karena dia sudah menggadaikan kehormatannya, dulu. Dia tidak ingin orang yang mencintainya itu menderita melihatnya mati. Meski…sebenarnya dia juga mencintaimu Ar…dalam diam dan sembunyi.”

Arya terperangah. Sesuatu hal yang nyaris diluar jangkauan pikiran Arya. Ternyata dibalik kecerdasan Anty, kecantikannya, dia punya kekelaman masa lalu yang tak terjamah. Dan ternyata…cinta Arya sebenarnya telah Anty rengkuh tanpa ia sadari.

“Dia masih menyimpan gelang pemberianmu ini dan menyuruhku menjaganya untukmu.”

Arya meraih gelang yang berada di ujung telunjuk Kinan. Dipandanginya gelang itu lama. Sejenak, memutar ulang kenangan tentang Anty yang berpendar lewat udara. Lalu digenggamkannya gelang itu ke tangan Kinan kembali.

“Untukmu Kin, simpanlah.”

“Thanks Ar. Oh ya, Anty sangat bahagia pernah mendengar kamu mengucapkan cinta, meski akhirnya kamu ralat dengan kepura-puraan. Dia tahu kamu kecewa, diapun sama sakitnya. Jadi, ikhlasin dia Ar, Ya?…Ehm.. Gerimis mulai turun, kita pulang yuk.”

Tanpa malu Kinan menggandeng tangan Arya. Seperti mengalirkan kekuatan bernada lembut disela-sela jarinya. Arya mengikuti langkah Kinan dengan lebih lapang. Rahasia Anty sudah terkuak. Sekarang yang tertinggal adalah menghadapi hari-hari depan dengan kenangan bersama Anty yang tak pernah mati. Selamat jalan Anty!

Ini cerpen yang aku buat pada 29 Maret 2007 (hemmm sudah lama juga yaaa…)

Petualangan Rasa Saat Bulan Puasa

wow what a great day!

hari ini beruntung banget, aku liputan di daerah agak pelosok. areal pesawahannya masih luas, dan penangkaran ikannya juga masih terjaga baik. adalah warung tengah sawah minaagro tech yang bernuansa alam pesawahan dan kolam pemancingan ikan. aku takjub sekaligus membayangkan betapa mahalnya harga makanan yang ditawarkan rumah makan semacam ini. setelah lihat daftar menu, emang mahallll, tapi terbayar lah dengan panorama dan masakan yang bakal diracik natinya.

eits, berhubung puasa. meski mupeng alias muka pengen banget, harus bisa tahan napsu. apakah muka ini sudah bisa dikatakan bisa menahan hawa napsu?

siapa yang gak ngiler dengan yang beginian!!!!

tapi alhamdulillah, masih bisa menahan diri untuk tidak mencolek apalagi mencicip. kalau sekedar gurame bakar dan ca kangkung, aku masih bisa tidak peduli. tapi, dengan kehadiran daun gendot, bayangan masa kecil langsung muncul. daun kesukaanku sepanjang masa atau bahkan seumur hidup itu, dipengaruhi pengalaman sejak kecil.supaya terkesan menarik ditelinga, ibu selalu bilang, ibu masak daun rumput lho? kenapa daun rumput? karena rumput kan kesannya punya tekstur yang krenyes2 kalo dimakan. demikian pula dengan daun yang satu ini.

Secara umum daun gendot ini dikenal dengan nama genjer (Limnocharis flava). Seperti lirik lagu “genjer-genjer” di tahun 60-an yang sempat di larang karena berhubungan dengan pemberontakan PKI kala itu. Genjer atau gendot banyak ditemukan di sawah-sawah. ia tumbuh di permukaan tanah yang menangdung banyak air.

Kata para ahli gendot ini kaya akan unsur gizi. Setiap 100 g genjer mengandung energi 39 kkal, protein 1.7 g, karbohidrat 7.7 g, kalsium 62 mg, fosfor 33 mg dan zat besi 2.1 mg. Sayuran ini juga kaya akan serat yang baik untuk menjaga saluran sistem pencernaan. Jika rajin mengkonsumsi sayuran ini, dipercaya kanker kolon dan sembelit akan jauh dari Anda.

daun gendot, buatku, istimewa dan tiada duanya soal rasa untuk jenis sayura oseng. tapi bagi yang tidak suka, mau dipaksa mendengarkan cerita hingga berbuih tentang gendot tidak akan pernah tertarik untuk mencicipi.

ohya warung tengah sawah ini, berawal dari keprihatinan penyuluh perikanan yang selalu gagal memberikan penyuluhan budi daya ikan ke desa-desa. setelah dibuat tambak ikan dan warung lesehan, justru malah banyak yang tertarik. jadi mereka bagi-bagi ilmu sambil berbisnis. ternyata malah menarik minat sampai mahasiswa datang belajar sekaligus makan2 tentu saja…

look ! recomended kan tempatnya.

kalo kamu mampir ke Banyumas, cari aja Jalan Raya Sumbang, dari lapangan sumbang belok ke kanan alias ke timur lurussss aja, nanti kanan jalan bakal langsung nemu yang namanya warung tengah sawah. mantapp banget alamnya!

karena nggak mungkin dimakan ditempat, jadi sama pemiliknya dibungkusin buat buka puasa. free tentu saja (kadang enak juga jadi wartawan khusus ekonomibisnis) hehe. setelah sampai di kantor, ternyata penyuka gendot bukan cuma aku, jadi terjadilah rebutan sampai tinggal tersisa piring. tandas-das. ca kangkungnya juga sip banget. gurameh bakarnya meski udah lama sejak dibakar sampai tiba di makan, ternyata masih crunchy…kepalanya aja ampe abis  aku kunyah2.  temen-temen malah ngelamotin durinya hemmm…

nikmatnya puasa adalah ketika berbuka

itu benar. mungkin kalau aku nekat makan tadi siang, nikmatnya tidak akan sedahsyat saat berbuka….semua akan indah pada waktunya.kalimat klasik memang, but that is true…

keep fighting for fasting. sayonara

FOTO-FOTO : by Dedy Afrengki