nobar film

“ini hari libur, ini hari minggu gunakan waktu untuk dirimu sendiri, jangan bekerja terus!”

kata-kata hwo di SMS sering masuk dan merusak diotakku. tapi juga sering membuatku jengkel, karena aku merasa dia tidak memahamiku. aku penguasa waktuku sendiri, jadi biarkan aku yang memutuskan. tapi lama-lama, aku memang lelah. kenapa waktuku berlalu begitu saja di depan komputer, memberi komentar-komentar tidak penting di fb, atau menonton beberapa cuplikan video di youtube yang melelahkan mataku. ehm, sialan ternyata dia benar.
Syukur deh, aku mulai menatanya sekarang. kadang aku membiarkan waktu senggangku bersama anak-anak di rumah cahaya. belum terllau sering, tapi aku mencobanya. melihat antusiasme mereka begitu menggairahkanku, menolong petugas rumcay mendaftar pinjaman dan pengembalian buku juga membuatku bermakna. ternyata aku memang lebih hidup.
lalu aku mulai menonton film lagi di bioskop. ini tentang waktu menonton film yang sudah lama kutinggalkan setelah icha pergi dengan laptopnya. padahal hampir tiap bulan aku menggunakan kartu rental videoku. uangku sudah terkuras banyak dulu. di kamar kostku yang luas, berselimut, mendekap guling atau menarik-narik rambut icha, berbekal cemilan, akupun menoton dan terlelap atau malah terjaga sepanjang malam.
sekarang..setiap ada film baru..aku melewatkannya, karena tentu saja aku butuh orang yang mengajak, sementara orang itu tak pernah mengulurkan tanganya lagi. aku akan merasa seperti kayu diam jika mengandalkan diriku sendiri nongkrong di kursi bioskop didampingi popcorn oh itu sangat tidak mengasyikan. aku butuh teman berdiskusi. aku juga tidak marah jika temanku menguraikan jalan ceritanya ketika filmnya sedang berlangsung (karena film itu diangkat dari novel). aku rasa aku hanya ingin temanku berhenti bicara jika adegannya adalah berciuman atau menangis, karena aku mungkin akan terlau berkonsentrasi dan meresapi hahahha.
tapi aku sedikit kaget dengan kebiasaan (buruk) Hwo saat menoton film.ku pikir cowok yang lebih doyan buku pluralisme dibanding novel meg cabott ini dan baru tahu komik kungfu komang ketika usianya sudah 25 tahun, memang mahluk yang aneh ehm baiklah unik. betapa menggelikannya melihat dia berteriak-teriak ketika adegan menegangkan (new moon, edward-Bella).aku hanya berpikir jika ada penjahat di belakangmu dan dia melihatnya dia hanya bisa berteriak itu…itu… sambil menunjuk pucat dan kau tak ditolongnya. kemudian,well, akulah sang superwoman itu haahahha yang lebih jago berkelahi. tapi saat kuungkapkan keberatanku dengan suaranya yang berisik sampai membuatku dan avis malu dan berpura-pura tidak mengenalnya, hwo mengancam akan mencoretku dari daftar nobarnya,uhhhh jahat banget.tapi aku berdoa pada Tuhan agar aku bisa ditabahkan begitu juga avis, melakukan prmohonan yang sama.aku hanya takut suaranya yang lumayan keras mengganggu penonton di sekitar kami. aku hanya malas melihat komplain.
minggu ini, kami sedang merencanakan nobar lagi. tapi belum menemukan waktunya. avis merencanakan jumat.tapi aku merengek agar jadwal itu dirubah. jumat sore aku masih rapat redaksi. kalau ditinggalkan, gajiku terancam dipotong. dan aku memilih gajiku daripada menonton dibioskop bukan. avis masih berbaik hati untuk mempertimbangkannya lagi, dan semoga hwo juga setuju kalau dia memang bersimpati. sembari menunggu keputusan avis, aku bilang padanya bahwa aku sedang mempersiapkan papan kecil dari karton bertuliskan kalimat, dilarang berisik, dan akan kutujukan buat hwo.hahhaha avis sepertinya langsung menyalamiku senang. tapi itu hanya hayalanku saja. tentu aku tidak mau membuat permusuhan hihihi
jadi, yah…ini memang catatan kacau tentang rencana menonton film sang pemimpi yang telat banget masuk purwokerto. semoga avis dan aku lebih bisa sabar dan hwo juga tidak egois dengan mengatakan aku memang begini, klo nggak mau aku berisik ya udah nggak usah nonton sama aku lagi.hiiiii, freak banget! satu sifat jelek dibalik sejuta sifat manisnya…okewlah semua orang memiliki sisi gelap kan? dont disturb it
!

Iklan

4 my beloved Mita too

Kisah Paramita Nilamsari, Penderita Skoliosis (2-habis)
Terbitkan Buku Berdamai dengan Skoliosis, Rintis MSI Jateng

Once scoliosis, forever scoliosis. Sekali divonis skoli selamanya adalah skolioser. Kalaupun dilakukan operasi, itu tidak bisa membuat normal, hanya mencegah derajat kemiringannya lebih parah. Kenyataan itu justru melecut Paramita Nilamsari (22) untuk menentang badai. Dua proyek besarnya adalah mebuat buku dan merintis forum Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) cabang Jateng.

INDRI AGUSTINA, Purwokerto

Mita terbiasa menumpahkan segenap suka dukanya hidup bersama skoli dan titan sebutan mesra Mita untuk mengakrabi skoliosis yang disandangnya dan skrup titanium yang bersarang ditubuhnya melalui diary elektronik berupa blog. Media itu pula yang mempertemukan Mita dengan teman senasib, Septi Hanum, Skolioser asal Jawa Timur.
“Berawal dari saling komen di blog, kirim email, chatting, telepon sampai SMS-an akhirnya kami menemukan banyak skolioser yang sebenarnya membutuhkan tempat berbagi,” terang gadis berhidung bangir ini.
Mita dan Septi yang belum pernah bertatap muka sekalipun akhirnya mulai bergerilya mencari responden yang mau berbagi kisah. Konsep tersebut sempat direspect oleh skolioser namun saat ingin ditindak lanjuti, mereka menghilang tanpa jejak. Meski banyak cerita para penderita skoli yang inspiratif tapi Mita tidak bisa memaksa mereka untuk terbuka, karena masalah skoli termasuk masalah sensitif bahkan masih dilabeli aib.
Pesimistis yang sempat menyerang Mita untungnya bisa teredam oleh kesediaan 10 skolioser bersedia menjadi responden. Mita sengaja mencari penderita dengan kuunikan pengalaman hidup yang berbeda.
“Aku dan Mbak Septi membuat naskah bukunya bareng tapi masih lewat internet, karena belum bisa ketemu muka. Kita juga cari percetakan sendiri, dan ngurus ISBN (internasional standar book number) sendiri,” ungkapnya.
Di dukung forum Masyarakat Skoliosis Indonesia cabang Jawa Timur tepatnya di Surabaya dimana Septi tinggal. Buku berjudul berdamai dengan skoliosis pun berhasil di launching bertepatan dengan launchingnya MSI Jatim. Mita berharap, buku ini bisa memberikan jawaban apa yang harus diperbuat jika diri kita atau orang lain yang ada di sekitar kita divonis menderita skoliosis sehingga mereka bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri skolioser.
Tidak hanya bagi mereka yang bersentuhan langsung dengan kehidupan skolioser, tapi buku ini juga ditujukan untuk masyarakat luas agar lebih mengetahui tentang skoliosis dan mencegah agar dirinya tidak terkena skoliosis karena tanpa disadari, sebenarnya siapapun bisa terkena skoliosis jika tidak menjaga sikap tubuhnya.
“Cetaknya memang terbatas sekitar 500 sampai 750 eksemplar dan baru dipormosikan lewat internet dan belum masuk ke toko-toko buku,”tuturnya.
Terkait soal MSI, Mita sudah menjadi anggota MSI pusat sejak awal 2008. Bagi Mita, wadah ini bersifat sosial yang menyediakan informasi yang benar dan jelas mengenai skolisosis, menggalang dana untuk membantu para penderita skoliosis yang mengalami kesulitan ekonomi, biro konsultasi, juga sebagai acara silaturahmi untuk mempererat rasa kekeluargaaan anggota MSI.
“Karena aku tinggal di Purwokerto dan tahu di kota ini ada ahli spine atau gangguan tulang belakang yaitu dr Iman Solichin SpOT SPINE, makanya aku mulai melobi MSI pusat agar di sini dibentuk MSI Jateng dan Rumah Sakit Orthopaedi Purwokerto (RSOP) sebagai support partnernya sekaligus basecamp,”kata dia.
Mita menambahkan, Januari ini MSI Jateng sudah dibentuk dan tinggal mempersiapkan Rencana Kerja serta pencarian dana. Mita optimis, jika sekarang skolioser masih malu-malu menampakkan diri, suatu saat mereka juga bisa membuka diri pada masyarakat. Mita melanjutkan, memang butuh proses yang panjang untuk sampai pada tahap seperti yang mita rasakan sekarang, yaitu menerima keadaan sepenuhnya.
“Aku selalu menyemangati diri sendiri dengan berkata aku tidak malu dengan skoliosis tapi aku bangga. Karena disaat yang lain bertulang belakang lurus, tulang belakangku bengkok. Dan itu unik,” ucapnya diiringi derai tawa yang renyah.(habis)

4 my beloved Mita

Kisah Paramitha Nilamsari, Penderita Skoliosis (1)
Dua Bulan Didera Stres dan Kerap Dijauhi Teman

Tanpa bermaksud profokativ, tapi memang tak mudah menemukan manusia-manusia yang secara tulus peduli dengan penderita skoliosis. Skolioser tegas-tegas menolak belas kasihan namun tetap minta dipahami. Kelainan tulang belakang membuat mereka mudah sakit dan lelah. Namun sayangnya sering disalah artikan menjadi si manja yang minta diistimewakan.

INDRI AGUSTINA, Purwokerto

Skoliosis adalah kelainan atau gangguan pada tulang belakang yang melengkung atau membengkok kearah kanan atau kiri yang terlihat seperti huruf “S” atau “C”. Kelainan ini salah satunya bisa disebabkan karena kesalahan sikap duduk.
Tak banyak Skolioser yang mau membuka diri ke publik. Perasaan malu, minder, ketakutan tak punya masa depan lebih banyak menggelayuti mereka ketimbang memupuk harapan. Namun, Paramitha Nilamsari (22) mahasiswa semester 7 Teknik Elektro Unsoed yang divonis menderita Skoliosis sejak kelas 2 SMP ini, seperti sedang mendobrak dinding ketakutannya sendiri.
“Memerlukan proses yang panjang sebelum aku bisa open seperti ini. Aku juga mengalami masa-masa sulit seperti nggak mau ketemu orang, di sekolah juga isinya cuma nagis terus. Pokoknya psikosimatis deh. Rasanya aku pasti nggak mungkin selamat. Aku pasti mati,” terangnya sendu.
Saat vonis awal sebenarnya kemiringan tulang belakang Mita baru 20 derajat. Namun, Mita mengaku bandel untuk mengikuti terapi seperti berenang dan fisioterapi. Padahal terapi itu bisa menghambat derajat kemiringan tulangnya. Setelah kelas 3 SMA, kemiringannya ternyata sudah 45 derajat. Angka yang tak bisa ditolerir lagi untuk tidak melakukan operasi pemasangan screw.
“Tadinya aku nggak mau dioperasi. Tapi aku itung-itungan sama dokter untuk melihat keparahan yang akan terjadi jika aku nggak operasi. Usia 17 tahun kemiringannya dah 45 derajat, padahal pertahun nambah 3 derajat. Sepuluh tahun berikutnya nambah berapa lagi? Nanti tulangku bisa mendesak jantung atau paru,” ucapnya.
Atas saran dr Iman Solichin SP OT SPINE, Mita melakukan operasi di Jakarta dimana kedua orangtua dan keluarga besarnya tinggal. Mita tak akan pernah melupakan tanggal 27 September 2006 sebagai hari operasi besarnya dimulai. Hari itu Mita berjuang dari rasa sakit, demi impian dan demi masa depannya.
Setelah menjalani enam jam pertaruhan di meja operasi dan rasa sakit melakukan treatment, hari kedua pasca operasi Mita sudah bisa memiringkan badan. Hari ketiga bisa duduk dan hari kelima sudah bisa berjalan. Mita bersukur tidak lumpuh seperti artikel-artikel yang pernah ia baca tentang skoliosis. Sisa kemiringan tulang belakangnya pun tinggal 7 derajat.
“Tapi operasiku juga nggak lepas dari masalah. Karena ternyata ada semaca, rotasi di tulangku. Atau biasa disebut lordosis (tulang belakang yang melengkung atau membengkok ke arah depan). Jadi ada pendarahan dan harus disedot,” ucapnya.
Musibah yang dialami Mita tak sampai disitu. Dalam perjalanan pulang ke Purwokerto untuk melanjutkan kuliahnya yang tertunda, kereta yang dinaiki MIta anjlog dan menurut Mita peristiwa itu cukup mempengaruhi kondisi tulangnya. Meski punggungnya terasa sakit, Mita tetap nekad kuliah hingga akhirnya sang ayah menyuruh Mita agar mengambil cuti untuk check up.
Bulan April 2007, dr Luthfi yang menangani Mita mengatakan jika ada dua skrup dari 16 skrup yang ditanam ditubuhnya bergeser sehingga harus diangkat. Agustus 2007, Mita lagi-lagi masuk kamar operasi untuk mengangkat 2 skrup berbahan titanium yang sudah miring itu.
“Berkali-kali OP tetap saja aku gemeteran. Bayangin aja, satu skrup panjangnya 5 cm. Dan seumur hidup si titan ini akan bersarang ditubuhku selamanya,” kata Mita seraya tertawa.
Namun, sakit fisik yang dirasakan Mita tak sesakit perasaan kehilangan teman-teman yang menjauhinya ketika tahu Mita skolioser. Mita sering dipandang sinis karena dinilai menggunakan cara-cara yang tak wajar mampu lulus ujian SMA meskipun ia tak pernah belajar karena sakit. Ia kerap jadi bahan gosip karena sering mendapatkan dispensasi dari kampus. Bahkan di cap manja, sok cari perhatian, dan anak emas kerap disandangnya.
“Dari jauh aku tampak normal seperti tidak menderita apa-apa. Tapi sebenarnya aku mudah lelah dan perlu dukungan. Kadang aku ingin semua yang ada didekatku itu tulus,” tandasnya. (bersambung)

Like This

Dunia tidaklah tamat meski seorang anak telah divonis menderita autis. Masyarakat harus mulai mengubah pardigma, bukan lagi menggali sisi kekurangan mereka melainkan potensi luar biasanya. Apa yang dikaryakan Muhammad Ammar (16) melalui kamus bahasa buatannya merupakan bukti bahwa ciptaan Tuhan tak satupun yang sia-sia.

INDRI AGUSTINA, Purwokerto

Gaya bicaranya santai namun berbobot. Sesekali lelucon segar meluncur dari bibirnya. Lalu, pada detik yang lain, ucapannya menggebu-gebu penuh letupan emosi. Itulah Ammar yang menyandang gelar autis sejak umur delapan tahun. Hebatnya, kesulitan konsentrasi yang dialaminya, nyaris tak terlihat sepanjang wawancara dengan Radarmas, Jumat (8/1).
“Ini karena aku lagi sadar, ngomongnya bagus, nyambung. Tapi kalau kebanyakan diledek atau dijahili teman trus banyak masalah aku suka ngeblank. Kira-kira sampai satu jam aku baru bisa konsentrasi lagi,”tuturnya jenaka, sampai-sampai membuat ustad Misbakh dan ustad Teguh sang pendamping, tersenyum simpul mendengarnya.
Ammar mengaku, sudah merasa berbeda sejak kelas 6 SD. Ammar bertanya-tanya sendiri kenapa ia sulit berkonsentrasi terhadap sesuatu dan melafalkan kata-kata dengan cadel. Semua lebih terang ketika Syifa, ibu Ammar memberitahu penyakitnya. Amar bahkan sempat pesimis bisa melalui jenjang pendidikan dari SD hingga SMA. Namun yang dikhawatirkan Ammar ternyata tidak pernah terjadi.
“Ada pikiran bisa nggak sekolah? Jangan-jangan nggak bisa kuliah. Nanti depresi, frustasi. Tapi nggak lah orang yang sungguh-sungguh pasti akan berhasil, ya kan? “kata pengidola klub Manchester United (MU).
Autis tampaknya tak melulu jadi momok jika melihat kerja keras dan kesabaran Ammar berusaha hidup di dunia yang berbeda dengan dunia ciptaannya sendiri. Untuk itu, Ammar berusaha keras menyelesaikan program atau proyek untuk menunjang bakat kebahasaan yang dimiliknya. Siswa kelas 2 SMA Al Irsyad Purwokerto ini, telah berhasil menelurkan sebuah karya yakni kamus bergambar untuk anak yang diberi judul Kamusku yang Pertama. Kamus tiga bahasa (indonesia-Arab-Inggris) tersebut dicetak Januari 2010 oleh Penerbit Jabal Bandung.
“Bener-bener fresh from the oven. Bukunya sudah bisa didapatkan di gramedia, mungkin cetakannya sekitar 150 eksemplar. Aku juga dapat royalti,” ucap putra pasangan Syifa dan Syarief ini.
Ammar berkisah, perlu waktu sekitar satu tahun untuk menyusun kamus tersebut. Ammar juga tidak sendiri karena dia dibantu oleh tukang desain gambar, editor bahasa Inggris dan editor bahasa Arab. Karena segmennya untuk kaum muslim, Ammar mengaku tak sembarangan memilih desain gambar yaitu jauh dari pornografi dan erotisme. Ammar menggunakan jasa desain gambar karena membenci pembajakan jika hanya menjiplak foto. Ammar memuji bukunya sebagai buku yang memiliki keunggulan ekstra yakni bisa diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, bahkan ahli bahasa.
“Kesulitannya waktu menerbitkan, bagaimana memasarkannya. Ketika aku harus presentasi karyaku di depan penerbit, aku juga khawatir. Tapi anggap saja ini seperti berdagang dan kebetulan aku suka berdagang,” terang pemuda yang setia naik sepeda listrik karena takut merusak lingkungan.
Ya, selain cerdas di bidang bahasa, Ammar menuruni bakat orangtuanya berbisnis. Sedari kecil, Ammar sudah pandai berjualan es, nugget, dan parfum. Saat ini Ammar menekuni penjualan pulasa tronik dan tentu saja kamus kebanggaannya itu. Kelak, jika Ammar berhasil menjadi pengusaha. Ammar berjanji, akan menjadi pengusaha yang membumi dan sederhana.
“Aku suka bisnis supaya nggak terus-terusan minta orangtua.Uang hasil penjualan kamus juga aku tabung. Kasihan, Ummi sudah tua. Lagian aku nggak suka jadi peminta-minta,” celoteh bungsu dari dua bersaudara.
Debut perdana Ammar menerbitkan kamus, sepertinya akan disusul dengan karya-karya fantastis lainnya. Ammar yang mengaku masih mudah tersinggung dan sakit hati ini, berniat membuat buku-buku pengetahuan tentang sejarah, tokoh, dan pengetahuan mengenai keislaman lainnya. Ammar menegaskan, auitis bukanlah kecacatan sehingga apapun pasti bisa diwujudkan. Tekad Ammar ini tentu tak lepas dari dukungan orangtuanya yang tak kenal lelah membentuk pribadi Ammar agar bisa diterima dimasyarakat, bukan sebagai spesial needs tapi sebagai Ammar dengan mutiara terpendamnya. (*)