Dhe Alya

dhe alya

Ups…dhe alya lagi nguap tuh. lucu banget…

aku kangen dhe alya, kangen emaknya juga si ntut eh tuti. paling nggak dhe alya dah mulai ngeliat sekarang. bisa aku gendong2. aku masih mahir kok. tapi klo kecetit gak tanggung, ntar diuber maknya pake golok tinggal puyeng gue. ohya, tuti itu sohib gue dari kecil. waktu kelas 4 SD dia kan tinggal kelas, jadi bareng ma gue, padahal sih dua tahun diatas gue (tuir ya?). kemana2 bareng, nyuri klandingan bareng,  lomba2 juga bareng. gak tahunya sekarang dia dah merid dan punya bebi. uh,,, senangnya…gue turut berbahagia buat dia.

sebelum dia dibawa pergi jauh ma mas rommy suaminya ke NTT, paling nggak gue masih bisa liat dia ampe lebaran besok (InsyaAlloh klo umur gue nyampe sono). Kadang gue pengen semua kenangan gak bergerak, tetap pada tempatnya. dan gue akan beli bingkai klo perlu untuk mencengkeramnya erat……erat…….I Love You Tuti…….

OSH! Karateka YOI!

Osh! karateka Yoi!

kata-kata itu masih sering berkunjung ke otakku tiba-tiba. aku kangeeen sekali. ucapan semangat saat harus sikap sempurna sebelum berlatih waza (teknik dasar). aku merasa seperti dai nipon yang item manis agak sipit dengan dogy (baju karate) yang kegedean.

kenapa aku mau aja di ajak neng icha masuk goju ryu shinbukan, salah satu aliran karate yang ada di dojo UNSOED selain bandung karate club. mungkin karena aku sudah menginginknnya bertahun-tahun sejak SMA. tapi selalu pupus, karena tak mengantongi ijin ortu.
kalo mengingat keringat yang mengucur deras setiap latihan, aku sangat terkesan. mukaku merah, segar sekali. rasa lengket dan bau apek seperti wangi jasmine saja. atau aku terlalu berlebihan?
ohya, aku sangat suka memukul sandsack, kata shempei muntohar pelatihku, mawashi geriku bagus saat menendangnya. beda saat ber-ashi barai, jelek sekali.
menurutku karate telah membawa nuansa jepang yang kental di udara dan aku menghirupnya. entahlah aku memang sangat menyukai budaya jepang, kecuali nenek moyangnya yang membuat pere indon jadi jugun ianfu (i hate it).
saking cintanya, aku rela menghapal gerakan2 sulit dengan bahasa aslinya. jadi pas ujian kenaikan tingkat, aku tidak kesulitan melakukan gerakan yang diperintahkan dengan bahasa jepang juga.
neko ashi dachi, shuto uchi tatanukite! misalnya, auw dalam hitungan detik aku harus berpikir bahwa, aku harus menekuk lutut kiriku dengan 5 ujun jari menjijit, kaki kanan juga menekuk dan menyangga berat badan tubuh, setelah itu membuat tangkisan dengan tangan terbuka dan pukulan tusukan dengan ujung2 kelima jari, aku sendiri tidak mampu menerjemahkannya dengan benar, tapi aku tahu gerakannya.
yang aku herankan, badan kecilku ini malah lebih berguna di kumite ketimbang kata. padahal aku menghindari bertarung. aku takut babak belur. pokoknya aku pengecut sekali. tapi shemapi malah menurunkan aku di kumite. aku seperti merasa ganda. kumite tak mahir, kata juga terlampau kaku karena tak terlatih. menyebalkan!!
tapi 4 tahun menekuni beladiri cukup membuat badanku terjaga. dan aku sebenarnya sedih berhenti (karena wisuda dan lulus). sayangnya sisa-sisa kekuatannya sering tak terkontrol, aku pernah memukul doddy (teman KKN) meski awalnya dia mengajakku bercanda, tapi serangannya membuat aku reflek memukul ulu hatinya. uh dia kesakitan.
trus icha juga pernah aku dorong hingga jatuh saat nangkring di tempat duduk di kost lama gara-gara meledekku (apa ya Aku lupa..), padahal aku merasa tenagaku setengah hati.
kadang aku senang tapi juga takut dengan apa yang telah aku kuasai ini. apa benar bisa melindungiku? atau membuatku tampak sombong? Ya Rabb….aku tidak mau jatuh dalam kesombongan karena yang berhak sombong hanyalah Engkau…
ingatanku masih panjang tentang karate….tapi aku mau mengakhirinya saja, aku lelah mengingatnya karena disana ada cinta yang tak tergapai…(ha ha ha icha pasti tau banget soal ini)

Periksa Mamae qta

MamografiDeteksi tumor Payudara dengan Mamografi
Nyeri pada payudara (bukan karena sindroma pre menstruasi) disertai keluarnya cairan yang tidak normal dari puting payudara, perlu diwaspasdai oleh kaum hawa. Apalagi bila ditemukan benjolan di daerah vital tersebut. Mayoritas wanita takut memeriksakan kesehatan payudaranya, padahal ancaman tumor atau kanker mammae (bahasa latin payudara) kadang datang tak terduga, baik dengan atau tanpa keluhan.
         Beberapa tahun belakangan ini, sempat marak dengan tren SADARI (periksa payudara sendiri) yakni dengan meraba bagian ketiak dan payudara dengan tangan (biasanya saat mandi), bila ditemukan benjolan di sekitar daerah tersebeut kemungkinan itu adalah tumor atau kanker. Namun untuk mengetahui keadaan payudara lebih lanjut, diperlukan pemeriksaan khusus, yakni dengan mamografi.
         Menurut Kholik Al Amin SSi, Fisikawan Medis dari RSMS, mamografi adalah suatu pemeriksan dengan menggunakan sinar x dosis rendah, dipakai untuk mendeteksi dini tumor payudara pada wanita. “Skrining mamografi biasanya direkomendasikan untuk setiap wanita diatas 40 tahun, ubagi usia produktif yakni dibawah 30 tahun sebaiknya menggunakan USG mmamae,” ujarnya.
         Meski kemungkinannya kecil, mamografi memang mempunyai efek samping yakni adanya radiasi sinar x. Namun keuntungan menggunakan mamografi lebih besar dibanding kekurangannya tersebut. “Dengan mamografi, lesi kanker yang sangat kecil (2mm) bisa diketahui secara dini, sehingga ramalan penyakit akan lebih baik dan penderita tidak perlu kehilangan payudara, hanya diperlukan operasi pengangkatan tumor saja,” tutur kholik.
         Energi yang dikeluarkan sinar x dari mamografi juga bisa disesuaikan dengan besar kecilnya payudara, sehingga daya tembusnya lebih maksimal. Sedangkan dengan USG yang menggunakan gelombang suara, frekuensinya tetap tidak bisa variatif, sehingga hasilnya kurang begitu jelas. “Teknis pemeriksaan mamografi sangat sederhana, alat tersebut akan menekan payudara pasien, proses ini Mungkin akan terasa agak kurang nyaman. Lalu proses pemotretanpun berlangsung sekitar sepuluh menit,” ungkapnya. Ditambahkan kholik, validitas hasil pemeriksaanya mencapai 80-90%.
         Dikatakan Kholik, pada waktu melakukan mamografi, pasien dilarang memakai deodorant atau talk pada ketiak, karena dapat mengaburkan hasil pemeriksaan. Serta jangan memakai perhiasan atau baju diatas pinggang, karena pasien akan mengenakan pakaian khusus yang telah disediakan. “Beritahu semua keluhan atau gejala yang dikeluhkan pada ahli yang melakukan mamografi, disini namanya radiografer, agar hasilnya bisa maksimal,” terangnya.
         Setelah dilakukan mamografi, akan dilakukan biopsi yakni pengambilan sedikit jaringan payudara untuk diperiksa di laboratorium anatomi patologi. “Terutama bagi yang saat pemeriksaan mamograf, hasilnya positif mengidap tumor atau kanker,” jelasnya.
         Jangka waktu pemeriksaan mamografi sebaiknya dilakukan dua tahun sekali yakni untuk usia 40-50 tahun, sedangkan usia 50 tahun ke atas cukup sekali dalam setahun. “Bila terlalu sering, efek radiasinya tentu tidak bagus bagi tubuh,” pungkasnya. (jenkna dari berbagai sumber-terbit di harian radar Banyumas 29 Desember 2007)

Saat Zee Datang dan Pergi

semua sudah direncanakan….

aku lupa bulan tepatnya, tapi zee berkoar-koar mo ke jogja, katanya sih dinas….
“Cari sesuatu yang bisa merangsangku mampir ke purwokerto,” bunyi sms zee.
“kagak ada. palingan music box dimoro. sama kepiting asem pedasnya griya boga andalan gue. take it or not. terserah lu deh!” gondok juga liat PWT gak ada yang bisa disambangin, aku membatin. =====>BAturraden? Noway!bosen!!!

Jumat (8/3) pagi pas lagi bobo’an, sms zee masuk lagi. “Bus ku udah mulai ninggalin stasiun giwangan. ntar klo udah nyampe aku kabarin lagi. jam berapa kamu free?”. Aha, jadi juga tu cowok ke purwokerto nengokin matenya ini (dulu sih lengkapnya soulmate, sekarang udah berubah jadi sulaiman kali ;)). tapi wartawan mana ada freenya. pagi-siang dilapangan, sore di kantor rapat redaksi trus ngejar deadline ampe malam (karena otakku lemot gak kaya yang laen, susah loadingnya). Tapi buat zee, aku jadi bersemangat nyelesein semua tugas dengan cepat. kira-kira, dia nyampe jam 3 ato 4 an lah. Jadi jam segitu, tugas kudu paripurna. Lets Go TO DO IT!

karena jumat hari libur nyepi, jadi bener2 sepi, wartawan cuma berapa biji, nggak berangkat semua. padahal kan wajib listing, kok pada mangkir seh. sepi bangettth! abis listing, aku ngetik cepet-cepet, cuma satu berita, sosialisasi UU no 25 tahun 2007 tentang penanaman modal, berita kriminalnya udah dicicil pas malem jumat. belom genep jam 5 aku dah kelar, tinggal nugguin zee. E dodo e..zee malah telepon klo ketemuannya diundur jam 7 malem, soalnya mesti nungguin cahyo (supir andalannya) pulang.
“mo dinner ato mo nonton pelem ayat-ayat cinta aja?” doi ngasih dua alternatif pilihan.

Dinner? mana ada tempat dinner keren disokaraja? di depan kantor cuma ada warung wedang hik bin nasi kucing yang cuma segede bola bekel kalo diremes pake tangan. ada sebelah sonoan dikit, nasi goreng, ayam bakar, tapi belum tentu seyummy daerah unsoed (hidup UNSOED!). di depan kantor ada hotel atrium sih, kan ada kafenya. tapi….ngebayangin berdiri di pintu hotel kok aku jadi ngerasa bukan cewek baek2 ya? trus alternatif kedua emang oke. tapi aku dah nonton AAC, lagian nonton pelem kan mesti diem gak bisa ngobrol sedangkan yang aku rindukan dari zee adalah obrolannya. obrolan kita, pertengkaran kita.

Aku diem. gak ngejawab. cuma nunggu zee dateng. suka-suka dia deh!

malem merayap dan mulai menggerogoti lambungku. kriuk2. ya ampun, dede cacingnya laper berat. tahan-tahan, ntar klo dinner duluan gak bisa dinner tahap 2, kapasitas perut ku dikit banget. tapi tipsku buat yang laen, jangan sekali-kali nahan laper, bisa membuat otak kram dan males mikir. aku masih ngutak ngatik winamp sembari nunggu datengnya pangeran berkulit putih, berjenggot lebat, berpakaian katrok, aku dengerin lagu-lagunya benyamin S, paporit dah ah! dan detik terus merambat gak kerasa udeh jam 8 malem. tapi gak tahu kenapa aku ngerasa waktu gak berjalan lambat. serba biasa dan gak bikin bete. mungkin karena lagu benyamin, mungkin karena aku juga gak pengen cepet-cepet liat zee. the reason is…klo belum ada pertemuan, kita masih nyimpen harapan untuk bertemu, auranya menyenangkan. tapi klo udah ada pertemuan kita tinggal nunggu perpisahan, auranya menyedihkan.

E ujan gerimis aje…iken teri diasinin, eh jangan menangis aje yang pergi jangan dipikirin…….getu lagunya benyamin, asoyy. dan hpku berdering. feelingku bilang, ayo ngedongak ke arah luar pintu kaca transparan kantor! bener juga, zee dan rombongan antek-anteknya turun dari sepeda motor dan juga menjijitkan kakinya untuk melihat-lihat keberadaanku.

tuh kan setiap ngeliat zee bawaanya pengen marah dan ngambek, kok telat sih, ini dah subuh tau, laper tauk, yang keluar dari mulutku pasti omelan-omelan. ups, aku segera mengendalikan diri, bagaimanapun zee sudah menepati janjinya. uh…uh inikah zee-ku?
masih dengan penampilan lamanya, rambut acak adul, kumis dan jenggot yang tak terurus, baju sembarangan, dan sandal jepit. Calon HRD PLN Pusat kok begini yah? dia pernah nurut sekali pas aku mo wisuda. Zee rambutnya dipotong! potonglah dia. kumis jenggotnya dirapiin! dirapiinlah dia. bajunya yang bener yang match! berubahlah dia. aku cuma pengen zee rapih. Rasullulah kan rapih, jenggotnya rapih, rambutnya klimis, klo mo ngikutin sunnah zee gak boleh asal. cercaku.

zee mengenalkan teman-temannya, bayu dan cahyo (yang ini rasanya udah kenal lama, karena sering disebut2 zee dan namanya tercantum indah di skripsi zee). dan selanjutnya adalah acara bingung. aku gak bisa mutusin mau kemana? aku ngikut aja kemana zee membawaku pergi. sebelum pergi zee berbuat bodoh, dia mendorong pintu kantor yang harusnya ditarik. ah apa karena dia mantan student english forum jadi gak bisa ngebaca bahasa indon dengan benar? “dikantor gue gak begini pintunya,” zee ngeles. iya dijakarta adanya lift sama eskalator. semburku.

di jalan, aku malah kepisah sama zee, zee yang dibonceng bayu ke arah timur, aku yang dibonceng cahyo ke barat. pulsa ku habis cuma buat mengetahui keberadaan zee bolak-balik. “zee where are you?” aku mulai ngerasa waktu udah menelan sebagian keinginanku untuk lebih lama bersama zee. “ke memori garden!” zee nunjukin peta singkat. cahyo jadi mutung. “katanya mau ke moro, sekarang ke memori garden? yang bener yang mana?” celetuknya kesel.

akhirnya setelah kejar-kejaran kaya tom n jerry, kita ber4 bisa kumpul lagi di memori garden. tapi sisa-sisa kesel dah gak ada. kita ketawa2 aja (ya iyalah, mo makan besar dan mahal). “woii banyak remajanya, bisa sekalian liputan remaja neh,” aku ngiler kebayang duit yang bakal aku dapet per berita remaja yang aku bikin plus fotonya. “dasar wartawan, yang diinget liputan aja,” aku malah disorakin anak-anak itu. tapi gak, lupain liputan, aku mesti ngehormatin tamuku zee. kerjaan cancel dulu. pyuh…kita ngambil tempat duduk yang dirasa paling nyaman, lesehan dan diapit beberapa tempat lesehan lain yang dipenuhi anak-anak muda kasmaran. pelayannya langsung nongol ngasih menu. tadinya dia nugguin ampe kita selese nulis menu, tapi kita usir karena kita bakal memikirkan banyak menu untuk membuat zee miskin. aku pesen, jus apel, gurameh bakar (ini pesen bareng2), sambel. zee pesen es sarang burung, gurameh bakar, trus sup jamur. tapi gak jadi, aku bikin huru-hara…”tau gak zee, di PWT lagi musim keracunan lho, kemarin ada yang keracunan tahu trus keracunan jamur, lo gak takut?” zee ngernyit aneh. duh kasian, tanpa banyak omong zee langsung mencoret pesenannya. meskipun gue bilang becanda, zee ogah mesen lagi. tiba2 pesenan lain menyusul dengan cepat dari bayu dan cahyo, bandeng bakar, ceker, tempe penyet 4 ciri, jus alpokat, aku aja gak inget lagi saking lengkapnya.

semua makan dengan lahap kecuali aku. porsiku emang kecil. zee mukanya merah dan batuk2 dia kesedak es sarang burung. kasian, mo nolongin gimana? ditepuk2 jidatnya? pas aku cicipin ternyata emang manis banget, selain itu yegrak (baca:menyengat. aduh bahasa indon yang baiknya apa ya?) gak nyaman deh dikerongkongan. alhasil, zee malah nyerupitin jus apel ku. dan cahyo, wuih nambah ampe 3 kali, kalo gak ada dia mubasir kali nasinya. dari pesta makan-makan malam itu, yang gak abis tempe penyetnya. mubasir sih, tapi gak ada satupun yang rela menghabiskan.

disela-sela kekenyangan yang amat sangat, terutama cahyo, zee menyandarkan badannya di didinding bambu. daritadi zee cuma diolok2 cahyo dan bayu, padahal udah ngejajanin (he), dan tiba waktunya buat aku dan zee berbicara. maunya yang agak2 melow dan mendalam seperti biasa dari hati kehati layaknya soulmate kebanyakan (emang iya masih soulmate?). ehm…zee dan aku bahkan tak tahu harus mengungkapkan apa, mungkin karena ada bayu dan cahyo. satu-satunya hal yang aku ingat adalah zee memberiku sebuah kejutan. “lo bawa tas?” aku jawab “ho-oh” dalam pikiranku, zee males bwa tas jadi mo nitipin tasnya ke tas ranselku yang gede. dugaanku meleset berat. tiba-tiba dia ngeluarin 2 benda kotak. buku. satu buku tinggalan ku pas tes di trans tv satunya buku tentang cara bikin dan nerbitin novel punya dia. gak pake sampul pula. kesannya baru dari loakan. trus dia ngasih benda item2 berplastik. kresek! dari rabaanku sih baju. mukaku antara bete dan seneng. bete karena …….plis deh nggak bisa apa dibungkus kertas kado? sisi senengnya, i love black, aku belum punya kaos item, trus kalo diliat sekilas kayak semacam kaos dagadu jogja, dadung bandung atau joger bali. asyikkk! dengan basa-basi dan malu-malu aku bilang ke zee. ‘You give too much”. jawabnya “never mine”. acara makan mlam diakhiri dengan photo2.

semoga gaji zee masih cukup untuk pulang ke jakarta besok minggu, karena dia harus mengeluarkan uang nyaris 100 ribu untuk ngebayarin kita2 makan malam ini. pas aku nawarin patungan zee nolak. dia dengan sok gentlemenya menuju kasir sendiri tapi tetep dibuntuti kita-kita untuk mengintip habis berapa-nya. pas ngeliat nominalnya gede, bayu dan cahyo ngabur, aku tetap berada disamping zee. dan siap2 mengeluarkan dompet. Alhamdulillah cukup. acara selanjutnya, ke alun2.

aku pikir di alun-alun, aku dan zee bisa nyuri waktu ngobrol, eh ternyata gak jga. dia tambah jadi bulan-bulanan cahyo dan bayu. seneng juga sih, ngetawain kelucuan alamiah seorang zee di masa lalu. aku membiarkan mereka bernostalgia, sedang aku? cukup dengan mendampingi zee mendapat hina dina persahabatan dari cahyo dan bayu. ohya, zee bilang, seharian besok mau ikut kumpulan LKHS di almamaternya fak hukum. dan minggu pagi pulang. “kamu mau anter ke stasiun? “tanyanya. aku ngangguk2 tanpa arti dalam hati aku menggumam “yah kalau bisa sih….”. dan kumpul2 di alun2 kita akhiri dengan photo2. sebelum pisah karena zee mo istirahat di rumah cahyo dan aku pulang ke sokaraja dianter bayu, aku dan zee cuma bisa liat2an aja. gak tahu juga mesti ngapain, yang jelas rasa kehilangan itu mulai muncul. waktu emang gak bisa dilobi buat memperlambat garis edarnya.
tapi seperti biasa, zee mulai bertingkah ngeselin, dengan bilang “kayaknya kamu seneng banget malam ini?” dengan kata lain, “lo dah ketemu gue, lo seneng bangetttth kan?” dasar narsis.

Dikost, aku sms zee. “thanks zee, kaosnya bagus. pas banget di badan gue. once more, thanks 4 everything,” zee ngebales pendek. “me too. nice dream. thanks too,” dan akupun lelap dengan tangan masih memegang hp dan kaos zee.

sabtu (9/3), aku kembali tenggelam di dunia jurnalis. aku berangkat dengan kaos hadiah zee. hitam bertuliskan toraja, south sulawesi, indonesia. dengan penuh semangat, aku ke rumah sakit cari 3 berita. kata mbak vina perawat cempaka kaosku bagus. tiba-tiba hpku tereak. “indri, mau makan gratis gak? liputan bareng aku di kedai eksplore yuk?” mega, temen sekantor. kebetulan, bisa nebeng pake motor dia cari wanita. “ya meg.” aku melanjutkan petualangan nyari berita wanita. pertama ke salon virgo, ambil photo orang lagi direbonding. abis dari virgo aku dijemput mega liputan ke kedai eksplore. hp ku tereak lagi, “kapan free? klo bisa ke music box di moro, alone!” zee. ah…ternyata masih ada kesempatan ketemu. aku pikir paling2 besok minggu pas nganter dia ke stasiun. “ntar liputan dulu!” aku ngejawabnya bimbang. liputan belum selese. ntar keteteran lagi. “ya udah , pokoknya dahulukan pekerjaan,” kata zee akhirnya. tapi mau gak mau aku kepikiran, pasti zee berharap banget. soalnya biasanya klo dia dah ngomong kaya gitu, bererti dia pengen. untungnya mega mo bantu, meskipun waktunya mepet dah jam 2 an. tapi aku bisa dengan cepat ,melesat ke kireina berkat dibonceng mega. dikireina aku liputan body contour. “zee aku dah selese nih, u dimana?” aku mencari zee. “sorry, masih lunch dikarang lewas,” argghhh, aku bertanduk. aku dah buru2, dia masih on the way menuju moro. aku juga belum lunch, akhirnya aku makan bakso bareng mega.

mega ninggalin aku sendirian di moro, soalnya dia mesti nguber waktu ke kantor. aku berjalan loyo ke arah musik box. gila, ini dah jam berapa, aku gak mau telat. tapi zee……kenapa aku mesti mendahulukan zee. kayak gak bakal ketemu lagi aja. perang batin terus berlangsung. aku buru2 beli 6 koin dan mulai milih lagu. “Sorry ndrew, lo pilih lagu aja dulu, kta masih diparkiran,” zee seperti tau apa yng lagi aku lakuin. Kita? berarti zee sama cahyo atau bayu, bagus! aku bisa minta anter ke kantor. asas manfaat.

saat zee nongol, aku bahkan belum nemu lagu yang cocok. saking takut karena telat ngantor, ak sampe masukin kode yang salah. niatnya lagu you light up my life 23157, malah lagu sailong 2315, lagu daerah mana tauk, sia2 2500 perak gue…….cahyo milih lagu jenuh, aku tetep You light up my life, lagu andalan, pas juga klo ditujukan buat zee. zee kayaknya seneng banget, berlebihan malah. stay cool zee! gue teriak! zee nyanyiin lagu sempurna andra n the backbone. pilihan lagu yang bagus, tapi karena yang nyanyi zee, jadi hancur. ya maap tapi sesayang2nya aku sama zee, aku gak bisa bilang kalau suaranya bagus.

kegelisahan ku berakhir.tiba saatnya berpisah. “demi kamu zee rela kok naik angkot, biar kamu dianter cahyo,” kata zee pas ngelepas aku naek motor cahyo. ya iyalah. ehm……tapi….kenapa berat melangkah pergi? zee kenapa nggak ikut aja? aku sedih. zee memang harus nemuin almamater kebangganya. ” jangan pulang malem2, zee” kata cahyo kayak kake2. zee cuma manggut2. dagh zee….aku berdadah, hatiku mendidih.
sampe kantor, aku gak konsen. cuma ngetik 2 berita. 3 berita kriminal masih kesimpen di note book. diketik besok. tiba2, aku malah jadi kepikiran irsa. bagaimanapun zee sahabatnya juga, semalam aku makan enak sama zee, tadi juga senang2 sama zee, irsa gimana dan dimana? aku jadi kepengen ketemu irsa. tapi aku dah nggak mungkn ngejar angkot. dah malem. mas yudri yang pulang dari tegal juga gak bisa anter karena lagi ngumpul sama temen2. “icha sori, aku pengen ke kostmu tapi gak bisa.,” kali ini irsa maklum. tapi pas dia nanya soal zee dan aku jawab jujur bahwa kemaren malam aku dinner sama dia, ke music box juga, irsa langsung teriak kenceng banget dikupingku. “HEi, kalian kencan!!!!!??? aku gak diajak?” aku diem. “icha ini bukan kencan, orang perginya rame2 kok,” aku ngeyel. irsa kekeuh nuduh aku kencan.

keajaiban terjadi. mas yudri mau anter ke kostan irsa, karena temen2nya dah pulang. maka bertemulah aku dnegan soulmateku yang lain, irsa. sebelumnya untuk meredakan amarahnya aku belikan es krim (malem2?). sayangnya, pas aku nunjukkin kaos pemberian zee, dia manyun lagi “KOk cuma indri yang dikasih kaos, kok icha cuma dikasih gantungan kunci,” katanya lucu. apa yang harus kujawab alam? mungkin zee kicer gak bisa bedain mana kaos mana gantungan kunci, jadi ketuker, kaosnya masih di pedagangnya.
aku akhirnya nginep di rumah irsa. ya memenag itu tujuanku. sebelum bobo, aku keingetan zee. dia besok pulang ke jakarta. aku bahkan gak memberinya apa2. cuma selembar koran rubrik remaja yang ada photonya disitu. aku pernah masukin dia di salah satu tema sebagai responden. apa aku bisa mengantarnya besok?

pagi, aku bangun pagi banget. abis shalat subuh ngeliarin titik bikin novel. pas telpon zee, dia baru bangun. aku jadi agak nyante. zee aja belom ngapa2in, paling berangkatnya ntar2an. aku malah ngobrol sono-sini ampe agak siang. sms zee masuk, dia nyangkain aku dah rapi dan siap2 mau berangkat. “sorry zee baru berangkat ke terminal bus (gak jadi pake kereta, tiket abis), paling busnya berangkat jam 8nan,” what? aku belom mandi, belom naik angkotnya, ini dah jam setengah 8. irsa sendiri juga pengen ikut nganter, dia bahkan rela memangkas mandi 2 jamnya dengan sikat gigi doank.

dibangku depan kamar titik. aku dah rapi banget. irsa lagi sikat gigi sebentar. SMS zee kembali masuk, “Sorry, busnya dah berangkat, ohya aku ninggalin satu kaos lagi buat irsa ditempatnya cahyo. thax ya. indrew see u whenever,” seet, dudukku tak lagi tegak, tapi melemah. gak tahu kenapa mataku berkaca2. kayaknya zee masih bisa dikejar dalam bayangan, tapi kenyataannya gak. pas irsa nongol dari kamar mandi, aku langsung nyerocos. “Busnya dah berangkat, dan …….dia ninggalin kaos juga buat kamu,” irsa langsung trenyuh….ternyata zee peduli juga sama dia.

Hhhhh gak ada antar mengantar, aku membiarkan zee pergi tanpa memberinya apa2….padahal dia udah bikin aku sama irsa seneng banget dengan kaos2 lucunya. tapi diluar semua itu, ada banyak kata yang belum bisa aku hadirkan di depan zee, zee mungkin juga begitu.

setelah zee pergi
aku mesti menata kenangan yang tercecer
di kursi kayu kantor
di moro
di terminal (yang tak terjamah)
aku kembali pada rutinitas jurnalistik
zee kembali pada pekerjaannya di PLN
aku dan zee kembali pada batas
bahkan tak ada sapa malam ini…..

Tak Bisakah Kubawa Dia Kembali?

Nomer asing masuk, spertinya XL, kuangkat ragu,

“Indri…ini ummu Ayash”. Ayash yang saat didalam perut begitu hiperaktif dan setelah keluar tambah hiperaktif. Aku ayahnya waktu itu, karena bundanya ayash jauh dari suaminya, jadi urusan periksa ke bidan aku yang antar. saat itu aku merasa dewasa sekali.

hei2 bukan itu yang mau aku bahas. ini tentang apa yang indah katakan ditelpon semalam. tentang Luk, kepala suku pasukanku pas ospek, temen sejurusan kami, sahabatku mungkin, aku ragu mengatakannya dia sahabatku.

“Indri, dia udah berubah, dia sekarang tergabung dalam LSM yang menaungi para waria. Yusa aja nggak ngenalin mukanya lagi. Kata bunga juga…dia cantik…ndri….,” indah mengatakannya sangat jelas. ehm…aku tergugu hanya istighfar dalam hati.

aku tidak akan kaget, bahkan dalam selipan doaku yang memohonnya untuk tidak berubah, kadangkala secara mendadak aku menduganya memang akan berubah. dia pernah mengatakannya saat seminar nasional yang dihadiri dede utomo pendiri GAYa Nusantara sekitar 6 tahun yang lalu. “eno (panggilan sayangku), nomor kamu jangan diganti ya? suatu saat aku pasti menghubungimu dengan dua kemungkinan. Aku sebagai luk atau aku yang tanpa alat kelamin laki-laki, sebisa mungkin aku ingin menjalani operasi besar, memang butuh uang yang banyak, tapi aku akan mencarinya bagaimanapun caranya,” bila saat itu hanya sebuah adegan film yang belum diedit aku akan menyetopnya “cut!” dan tak akan kulanjukan drama omong kosong itu. tapi thats real, aku sedang berdiri di mayapada.

Setelah itu aku menjadi sahabat yang tidka baik, tak lagi menemaninya mencari hidup, membuangnya di sudut-sudut kampus, aku tidak melihatnya seperti manusia, aku melihatnya sperti bola api, aku hangus bila menyentuhnya. tapi kejahatanku mulai berakhir saat menjelang lulus, saat aku makin tahu bahwa dia tak lagi dapat disembuhkan. dia makin jauh berlari dari laki-laki, dia adalah hawa yang lembut dan gemulai. tubuhnya kian halus dari hari kehari, bajunya ketat, pipinya merona merah, rambut rebonding, kuku hasil meni pedi dan bulu mata yang dilentikkan. aku saja kalah cantik. tapi dia masih menjadi laki-laki sampai wisuda.

“beri aku solusi diluar nama tuhan dan agama!” tantangnya keras bila aku masih mendebatnya. bunga sahabatku yang lain bahkan pernah menamparnya karena kesal. dia semakin berani. “Eno, aku kan perempuan, jadi liat kamu tanpa jilbab kan gak papa?” ucapnya polos tanpa dosa. “Dimataku, Tuhan, selamanya kamu laki-laki!!” balasku sengit. dan dia diam. aku sangat marah saat itu, karena dia hampir saja melihatku tanpa hijab. keterlaluan sekali.

aku diwisuda lebih dulu sebelum luk.  dan setelah itu aku hilang komunikasi, sms atau telepon mandeg. aku atau dia yang mulai menjauh, entahlah. Luk akhirnya diwisuda juga, lama setelah aku. aku melihatnya sebentar, tanpa bisa menyapa. tampaknya dia terburu-buru keluar gedung karena gerah berpakaian laki-laki. bukankah dia berniat memakai konde saat wisuda, tapi karena rini mengancam tidak akan mengenalnya lagi, Luk sepertinya pikir-pikir. Hmm untung masih ada rini, sahabat yang lain yang cukup bisa mendiktenya.

disuatu pagi aku berteriak histeris, melihat Luk ada di berita SCTV, disana dia sangat cantik, tapi aku masih mengenali kalau itu luk. sayang cuma 3 menit, aku kehilangan gambarnya lagi. sepertinya dia sedang ikut memprakarsai deklarasi waria agar dipersamakan haknya dengan jenis kelamin yang lain. eksistensinya harus diakui, mau tak mau. ugh aku shock dalam sehari itu.

dan, semalam, aku bertambah yakin saat indah bilang “Ndri, Luk kemarin nengok anaknya bunga, kata bunga, luk pokoknya cewek banget deh. cuma katanya sih belom ganti alat kelamin,” cerocos indah. aku mengerjap, menerawang tahun-tahun lalu. saat masih bersama luk yang memang sudah mengadu-adu dan putus harapan akan jatidirinya.

“eno, aku terperangkap. tubuhku saja yang laki-laki, tapi jiwaku tidak,”

“kamu bisa berubah luk,”

“nggak, aku ingin terjun saja dari genting di bapendik itu!” tunjuknya ke gedung bapendik.

“kamu pikir, bunuh diri gak sakit, ya kalo mati, kalo nggak langsung mati?” kataku menakut-nakuti.

“Tapi sungguh, aku 60 :40 no, 60 perempuan, 40 laki-laki, aku berharap ini mimpi dan saat aku tidur itulah dunia yang nyata, aku tidak kuat,” keukeuhnya.

“Nggak, inget dosa,” klasik jawabku.

hanya itu yang masih samar-samar aku ingat. obrolan pertama yang membuka pikiranku bahwa luk memang beda. dia seperti aku yang menyukai laki-laki dan ingin hidup bersama kaumnya itu dengan cinta sepasang kekasih.

Tuhan, aku kalah

aku menyerah

tapi tak bisakah kubawa dia kembali??

Ngeband bareng argha

kulonuwun
punika dongeng ingkang sampun dangu sanget, mbok menawi wonten hikmah ingkang saged diwaos…….(Moga-moga guru bahasa jawa gw gak ngejer2 kuping caplang gw buat dijewer karena toto kromonya ancur lebur begini).

Suatu pagi, pas gue baru aja pulih dari sakit. Tiba-tiba si oda nelepon, “ndri aku mo minta tolong, aku harap kamu mau dan emang wajib mau!” aduh ngancem nyawa banget gak sih kalimatnya (gue aja yang berlebihan). “emang ada apaan?” kata gue sambil berharap dapet kepiting asem pedas diwarungnya secara gratis karena gue mo nolongin. “ini adekku mau ikut lomba a mild, vokalisnya gak ada, jadi sementara kamu jadi vokalisnya dulu ya? buat sekedar ngirim sampel CD ke jakarta aja,” kata oda mantep banget. gubrakk! gue langsung banting hp. gak dink, langsung terperanjat maksudnya. “eh entar dulu, serius nih, gue dah lupa sama yang namanya nyanyi, jangan gue deh!” gue memelas. “skfjdlhfjlwyfruhfhvkjhfkls…..”berbagai perkataan, pernyataan, perdebatan, dilontarkan oda. entah karena banyak hutang budi, entah karena masih kebayang kepiting asem pedas, gue akhirnya bilang mau. “ya udah deh, tapi sampel aja ya, gak keterusan ampe jadi band papan penggilesan lho…,” gue nyerah pada oda, lagian oda ngiming-imingi gue mo cariin jodoh buat gue yang emang dah kepengen merit (he he..) apalagi temen-temennya oda high quality semua, kerjaan oke, ibadah oke, bejenggot oke, makan jengkol nggak oke la yauw.
next,
hari pertemuan tiba, gue dikenalin oda ama adik iparnya yang sipit, putih dan pirang (andai emas beneran, sayang cuma warna rambut,, jadi gak bisa digadein buat nambah-nambah biaya angkot hiks). “arif…” dia ngenalin diri. gue ber ho-oh aja. aduh gue yang udah bangkotan mesti tandem ama cowok brondong begitu? kesannya gue nenek-nenek yang lagi dituntun belajar nyanyi ama cucunya.
tu cowok langsung pegang gitar sambil nyodorin 3 buah lembar kertas bertuliskan lirik lagu ciptaanya. “kok argha? namamu arif apa argha? ” biar sok akrab gue pura-pura nanya yang gak penting. “Itu panggilan guru di SMA mbak,” dia malu-malu, matanya tambah sipit. lucuuuuu banget. “Trus nama bandnya?” gue masih nanya gak jelas. “aglonema…” dia nunjuk nama yang tertera dikertas lagu. “katanya aliran rock n roll kok namanya lebih cocok buat rock dut ya,” dalem hati gue mendesis-desis.
3 lagu mulai gue hapalin, kalau gak salah inget judulnya kaulah yang terbaik, cinta diujung jalan, dan wanita penghuni surga. gue udah ngebatin jauh-jauh hari, klo syairnya bakal abg banget dan kurang puitis buat gue yang terbiasa berbicara seperti ini:
“Kepak sayap malam membalur dalam tetes embun yang jenuh…” (hoek2) dan harus berganti dengan bahasa arif yang “kuteringat waktu itu, saat kita masih bersama, memeluk indah tubuhmu bagai bintang menemani malam………” ica ama temen-temen gue yang lain aja geli n merinding dengernya. terlampau bocah bahasanya. padahal nadanya lumayan oke.
sumpah gue hampir putus asa, susah banget ngapalin lagunya. dari pagi ampe siang bolong, kagak nyantol2 diotak. apalagi yang wanita penghuni surga, rock abis, nadanya tinggi, gue kaya kecekek, urat leher gue nonjol semua. teknik nyanyi gue aja dah gak bener, harusnya napas dihimpun dari perut di dorong sperti orang yang sedang tidur, pelan teratur. suara tinggi harus seolah-olah didengungkan dikepala bukan didengkul eh dileher. ah….klo inget pas SMA sih kayaknya teorinya gampang banget tapi sekarang jadi hal sulit buat dilakuin.
“rif..sori ya suara gue gak sebagus dulu, pokoknya lo bakal kecewa. si oda tuh salah milihin orang,” gue berusaha bijak dan nyadar ama kemampuan gue yang gak kaya dulu lagi.
“gak gitu, mbak indri tu merendah aja, aku yakin apapun yang dipilih abinya pasti yang terbaik. dia gak mungkin merekomendasikan orang yang gak bagus,” titin, kakanya arif, istrinya oda, malah provokasi.
“TERSERAH LU PADE,” gue sewot dalem lambung. soalnya gue laper belom makan. dan berharap titin segera menawari gue makan.
“ya udah istirahat dulu, rif, mba indri biar makan siang dulu,” akhirnya titin ngertiin cacing gue juga. “cing kita makan cing,” kata gue bloon.
ampe malem gue baru bisa separo jalan dengan lagu-lagu itu. arif sih kayaknya ngerti banget kesulitan gue yang udah banyak pikiran semenjak jadi wartawan. dia gak nuntut gue untuk langsung bisa. “mba indri, kapan-kapan kita latihan distudio ya? bareng anak-anak bandku yang lain, mba indri kapan bisanya? ” arif nyoba nawar waktu ke gue. secara, gue itu wartawan yang waktunya kabhi khudisini kabhi kudisana alias sak karepku itu, gue cuma bisa janjiin minggu. pas latihan pertama, dan kenalan sama drumer, rhytm dan bass (gue lupa nama2 mereka) gue shock. mereka dingin. gue dicuekin. pas ngeband sekedar ngiringin gue aja. udahannya mereka cuek lagi. kata arif, itu bukan karena mereka sombong, tapi mereka malu.
“mereka emang gitu klo sama orang baru mbak, malu, minder apalagi sama mbak,” suara arif bikin gue agak ademan dikit.
“besok latihan lagi ya mbak, bisanya kapan?” wah gue mikir2 lagi. “minggu, Insya Allah,” kata gue ragu. itupun setelah gue liputan pilkada yang waktu itu rame banget mo pencoblosan.
setelah gue berdarah-darah capeknya karena abis liputan pilkada, gue akhirnya bisa juga ngumpul untuk yang kedua kalinya buat ngeband. udah kemaleman, keujanan, belon makan, uhh.
mungkin karena keterlambatan gue, trus juga kondisi gue yang super capek, bikin latihannya gak sebagus latihan pertama. arif keliatan bete, gue takut itu karena suara gue suka gak nyampe dan fals. eh apesnya lagi, pas pulang motornya bocor. walking beauty deh rame2. “ciele lagi sms pacarnya ya? ” biasanya abg tuh seneng digodain begituan, maksud gue biar akrab ama yang pegang rhytemnya, eh dia bukannya jawab malah ngabur. apa sebegitunya orang malu?
akhirnya diruangan makan, gue nunggu arif pulang dari nambal ban. gue nungguin bareng uut, pacar arif. padahal jam udah nunjukin jam 24.00. “rif, lo pasti kecewa ma gue. ” gue langsung nuduh arif pas muka imutnya nongol di pintu. “gak mbak, gue kecewa ma anak2,” katanya, gue selusuri mukanya, mastiin dia gak boong. “mereka gak dewasa! gak punya idealisme bermusik. anak sd juga bisa ngegebuk drum begitu. kita kan udah mastiin aliran musik kita, tapi sukanya masih bunglon. njiplak sana-njiplak sini, persis banget,” arif malah emosi. “katanya mereka dah maksimal jadi gak bisa diperbaiki lagi,” arif nyerah. “jadi hasil latihan kita yang ancur-ancuran tadi yang mau lo kirimin ke jakarta ikutan a mild?” tanya gue merinding. arif ngangguk. mampus gue.
besok dan besoknya lagi, emang gak ada aglonema lagi. arif dah terlanjur nyerah dan gak bisa ngegiring temen-temennya buat latihan ulang sesuai idealisme yang dia bangun. padahal gue serius mo bantuin arif, karena tiba2 gue ngerasa gue punya adik laki2 yang gue sayang banget, trus ngewujudin impian dia jadi grup band yang solid, karena ini kesempatan terakhir yang diberikan kakanya. klo arif gagal dalam bermusik kali ini, dia harus mau terjun ke bisnis keluarga, jadi pengusaha home industry. dan gue tahu gimana rasanya punya cita2 yang gak kesampaian.
“suara gue jelek kali, gue gak maksimal, jadi lo gagal deh,” gue berkali2 ngungkapin penyesalan gue di depan arif.
“nggak mbak, nggak gitu!” arif geleng-geleng
“kata arif, suara mbak indri dah bagus banget, masalahnya ditemen2 bandnya aja,mereka gak serius,” bisik titin.
entah apa yang dirasakan arif sampai detik ini, gue sendiri gak berharap banyak soal sampel CD yang dikirim. moga2 arif masih punya kesempatan lain yang bikin dia maju dalma bermusik dan gakusah ngajak gue lagi. klo waktu gue banyak sih gue mau bantu. tapi buat napas aja engap gimana bisa bantu?
ini pengalaman berharga buat gue, klo ternyata dunia band itu unik dan asing. gue jadi ngerti kenap aperseteruan itu suka jadi bumbu2 di band. oh ya begini-ini.
“Da, lo masih tetep mo cariin gue jodoh kan,” tanya gue ke oda
“ho-oh,mau yang kayak apa ada pokoknya,” kata oda yakin.
pyuhhh gue pikir oda ngambek juga, hee. tapi gara-gara nggak ngeband lagi, gue juga gak digratisin makan lagi di sono……nasib