Hanimun

20150125_062305

Assalamualaikum

“Hanimun kemana aja?”

Itu kalimat tanya yang bakal sering terdengar pasca menikah. Apakah kewajiban? hehehe. Ehm, kan untuk menciptakan romantisme, kan biar jadi pengalaman yang dikenang seumur hidup, kan biar cepet dapet momongan. Yah, gitu alasan-alasan si penanya. Baiklah demi mengikuti harapan khalayak ramai haha, sayapun hanimun.. bukan ke Bali, ke Lombok, Karimun Jawa, Thailand, tapi.. di kota sendiri yaitu Kebumen. Nginepnya? Di rumah sendiri :p

Itu juga bawa sepupu dan ponakan. Lah kan harus foto-foto, biar kaya temen-temen juga, ada buktinya kalau udah hanimun. Biar nggak usah konferensi pers lagi. hahaha. Berkat hanimun-hanimunan itu saya baru nyadar, ternyata yang bikin indah selain tempat yang dikunjungi adalah trik kamera, gimana biar kelihatan indah dan bikin orang penasaran “itu dimana?” padahal yaa itu tempat yang sering banget dikunjungi, bukan wilayah asing yang eksklusif 😀

Pantai Setrojenar alias pantai bocor dan alun-alun Kebumen jadi tempat tujuan kami. Cuma main-main ombak sama icip-icip kuliner udah hepi kok. Biaya parkir cuma 5000 kalau pake mobil. Di alun-alun parkir motor cuma 1000. Nah biar fotonya mantap, kita pakai kamera smartphone aja kok, samsung galaxy duos 19082. Tinggal pinter-pinter deh nyari view yang pas.

 

So, bukan kemananya ya yang jadi titik poin, tapi hepinya dooong :p

Salam Cinta

JENKNA^^

Iklan

Selamat Datang di Hutan Belantara Kehidupan

10916384_10204280248019988_5435925897304660924_o

Assalamualaikum Wr Wb

Finally, wordpress bisa normal kembali dan upload foto, setelah sekian lama selalu bertuliskan GALAT (yang entah apa artinya).

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Minggu, 28 Desember 2014, saya sah menjadi seorang istri. Akad nikah berlangsung pukul 08.15 menit di kediaman saya di Tanjungsari, Buluspesantren, Kebumen. Berlanjut dengan acara resepsi Pukul 10.00 WIB, pada hari dan tempat yang sama.

Menggambarkan bagaimana perasaan saya, sangat tidak mudah. Secara standar, pastinya campur aduk antara bahagia, terharu, khawatir, takut. Kenapa harus ada perasaan negatif di hari yang kata orang sangat sakral tersebut? Jujur, tidak dapat dipungkiri, membaca buku nikah, membuat saya merinding, begitu besar tanggungjawab suami terhadap saya. Sebaliknya, ketaatan saya sebagai istri kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-NYA. Tidak mudah, tapi toh, kenapa orang kebanyakan memilih menikah jika itu tidak mudah? Saya yakin itu karena semua secara alamiah bisa menjalani, walau tidak mudah, tapi BISA dijalani.

Seorang teman berkata, pesta pernikahan hanya beberapa jam saja, sedangkan pernikahan itu sendiri akan berlangsung lama. Ketika pesta usai, ada kehidupan hutan belantara yang menanti, jadi selamat datang. Kenapa hutan belantara? Ya, karena banyak hal yang absurd, tidak jelas, kabur, gelap, penuh tantangan, ketika sudah masuk ke hutan itu. Apakah kita akan tersesat, menemukan cahaya untuk mencari jalan keluar, atau menyerah diam di tempat? Sebelum menikah, bahkan kakak ipar saya berkali-kali mengingatkan agar jangan terlalu berpikir “sinetron” atau “novel” dimana kebahagiaan ideal itu digambarkan. Pikirkan pahitnya, pahitnya dan pahitnya. Dari kepahitan itu, jika sudah terlewati, baru akan sangat terasa manisnya.

Kyai yang didaulat mengisi pengajian usai akad nikah berpesan, enam bulan pernikahan, bersiaplah dengan kejutan-kejutan manis. Konflik akan mulai bermunculan, banyak sandungan batu di depan sana. Semarah-marahnya, sesengit-sengitnya pertengkaran suami istri, jangan sampai terlontar kata bercerai, jika tidak ingin ada penyesalan nantinya. begitu pesan beliau.

Bismillah, inilah dunia saya saat ini. Gerbang kedewasaan yang saya idam-idamkan dengan resiko di dalamnya. Semoga pernikahan sakinah, mawadah, warohmah, yang didoakan handai taulan, sahabat sekalian bukan hanya doa-doa yang habis ditelan, tapi menggema terus menerus di lubuk hati kami. Aamin ya Rabb..

Salam Cinta

JENKNA

10911431_10204280093736131_8108875609767202126_o