Finally, i got a way

hi dear diary…
what is d topic that i wanna tell ya?
sesuatu yang diluar dugaan banget. Ketika aku hampir pasrah, ternyata jalan itu terbentang tiba-tiba di hadapanku. My best friend, Avis, mendadak telpon dan mengabari kalau salah seorang temannya sedang membuat antologi cerpen. Dia langsung menodong cerpenku untuk dikirim ke email plus biodata. oh God! that makes me happy…semoga ini memang sebuah jalan. yah setelah beberapa edisi terbit di koran sendiri, sebaiknya juga dibukukan. meskipun hanya satu atau dua saja.

Aku masih menunggu kabar dari Avis kelanjutan antologi itu. apa akan diterbitkan secara nasional atau sekedar lokal atau hanya kalangan terbatas. wait n see….
ohya satu lagi yang bikin aku interest di akhir bulan Januari. Besok Gajian ho ho ho (pasti potongan banyak karena empat hari mondok di RS plus seminggu istirahat di rumah).
eh bukan itu, tapi deg-degan nunggu hari minggu..semoga nggak ada musibah atau cobaan lagi. Minggu di bulan desember aku sakit tipes, padahal jadwalnya ketemu “dia”. minggu berikutnya gantian dia yang kena tipes. minggu berikutnya lagi, dia masih pemulihan, berikutnya lagi eh tipesnya kambuh hehehe..Subhanallah…

Jadi, apa yang akan terjadi besok benar2 tetap rahasia Illahi. Takdir, tidak ada yang bisa memajukan atau memundurkan. Ya terjadi begitu saja….
Kok jadi kangen dia yaaaa 🙂
(Sampai nanti waktu bersahabat dengan kita ya sayaaaaaaanggg…)

Ade sayang Mas

saat mencintai seseorang, aku memilihnya  secara sadar. tak peduli, resikonya sangat berat. menghadapi perbedaan curam. aku yang membawa misi pernikahan, dia yang terlalu muda bahkan sekedar menyentuh gerbangnya.

tapi aku melaju saja. menentang arus. aku yang pecinta terus terang ini, bahkan sembunyi di balik topeng pura-pura ku sendiri. bahwa aku tidak bisa mencintai dia secara terbuka sudah sangat menyakitkan. tapi aku menurut kehendaknya. aku setuju kalau keadaanya lebih rumit. sementara aku begitu gampang. tapi setujukah dia, bahwa aku juga sebenarnya sulit, hanya tidak kutampakkan. aku benci ketika salah saru diantara kami merasa PALING. paling terbebani, paling menderita, paling tersudut dan paling yang lain. aku merasa KAMI lebih pantas, karena bukan pribadi, ini soal keadaan.

malam ini, aku bahkan ingin berlari memeluknya dan mengatakan aku sangat mencintainya. tapi ketika dia mulai goyah karena keadaannya, aku pun lemah. kami adalah magnet, saling menarik untuk mendekat dengan kekuatan cinta, tap juga mudah terpental jika kami menjinkannya saling bersinggungan arah.

 

Rumah Kopi Obamb

Petualangan Adrenalin Lidah di Rumah Kopi Obamb
Seruput Kopinya Serasa di Langit

Pecinta kopi, calon penikmat kopi, atau bahkan yang tak minat kopi bisa datang ke rumah makan yang satu ini. Layaknya di beranda rumah sendiri, menjadi poin plus Rumah Kopi yang berada di Jalan Brigjen Encung (ruko purwa kencana) tersebut. Ngopi sekaligus nongkrong, wuih…nikmat tiada duanya.

INDRI AGUSTINA, PURWOKERTO

Jangan terkecoh hanya karena nama. Meski tajuknya rumah kopi, namun menu di tempat ini padat berisi. Menu angkringan yang ada di tenda-tenda pinggir jalan, dinaikkan “kelas”nya di Rumah Kopi Obamb. Namun, soal harga tetap kaki lima.
“Kopi racikan Rumah Kopi Obamb tentu beda. Kopinya lebih kental. Penyajiannya pun spesial,” kata Bambang Pramudya, sang pemilik Rumah Kopi Obamb.
Bagaimana tidak spesial? Kopi tersebut tak sekedar disajikan di dalam cangkir. Namun bersama teko khusus seperti yang terdapat di negeri asalnya. Salah stau kopi istimewa andalan pria yang akrab di sapa Om Bam tersebut adalah Moka Pot. Moka Pot disajikan dengan alat penuang kopi model Italia. Karena kentalnya, kopi ini terasa pahit jika dinikmati tanpa gula. Maka, Bambang selalu menyediakan gula putih dan palem di setiap meja jamuan.
“Kopi Vietnam drip rasa dan alat penyajiannya beda lagi. Begitu juga dengan strawberry coffee. Bayangkan minum kopi rasa strawberry. Lidah kita ditantang untuk merasakan sensasi yang berbeda,”jelasnya.
Selain kopi, snack spesial di Rumah Kopi Obamb yang cocok sebagai lauk dan dimakan bersama nasi soup galantin adalah pia-pia. Makanan khas solo ini terbuat dari tepung kedelai berisi jamur kuping dan udang. Meski dari luar tampak seperti perkedel, namun pia-pia rasanya lebih “kalem”. Tak seasin perkedel.
Jika hujan atau cuaca dingin tiba, bagi yang tak suka kopi, bisa menikmati wedang kacang. Menu ini juga masih jarang ditemui. Rasanya begitu hangat di tenggorokan. Meski sederhana karena hanya berisi kacang tanah putih dan potongan roti tawar, namun rasa gurih manisnya meresap sampai ke dalam.
“Menu unik lain di sini adalah keren bowl dan black soup. Keren sebenarnya singkatan dari ketan duren dan black soup adalah rawon,” kata Bambang.
Harga yang ditawarkan rumah makan yang buka setiap pukul 10.00 sampai pukul 24.00 tersebut murah-meriah yaitu mulai dari Rp 2500 sampai Rp 10 ribu. Tak hanya menunya yang nikmat, suasananya pun menghanyutkan. Dua minggu sekali, khususnya malam Jumat, pengunjung di hibur dengan alunan musik akuistik secara live.(*)

dimuat di Radar Banyumas, Rabu (19/1)

Tentang Rindu…

*kangen itu terbuat dari apa sih? kalo adonan ajaibnya ada yang bisa kucuri lalu ku buang pasti sudah kulakukan supaya rasanya tidak legit menggigit seperti ini….hufff.

*Sejatinya memangkas rindu atau menenggelamkannya dalam benaman paling dasar dari palung di dalam palung hanyalah sia-sia belaka…ia adalah pecahan gabus yang mengapung..berserakan…dan nyata…

*ada masanya rindu membuatmu buta. membuat kau ingin mengambil dia dari angan-anganmu dan memeluknya 😉

*itulah rindu yang tak terbantahkan oleh masa kelam, masa suram, masa lalu yang haru biru. dia begitu independen, begitu bebas.tak mau diatur untuk sembunyi atau tiarap sekalipun…

cantik