asyiknya bikin teori

nggak harus jadi psikolog atau sosiolog dan serba log untuk membuat teori lho.kalo qta lagi jenuh,bikin teori yang mungkin emang agak ngasal (kedengarannya) bisa bikin otak agak stres fresh maksud gue. tapi jangan coba-coba bikin teori tanpa pengamatan yang mendalam ya, minimal in depth interview lah sama beberapa orang. dan teori itu jangan kamu gunakan buat orang lain dulu, minimal diterapin buat diri sendiri.kalau teori itu emang nantinya juga bisa untuk khalayak ramai, berarti TOP BGT dong.

teori itu bisa juga lahir karena kebiasaan, karena baca buku, karena ketemu orang lain, atau karena dibisiki alias denger pendapat orang lain. yee pee,jadi everyone can make grand theory sekalipun. mungkin konyol,tapi aku melakukannya kalau sedang suntuk dan ide itu muncul secara tiba-tiba.

for example (kaya pelajaran bhs inggris)
caution: sementara, ini hanya berlaku untuk diri jenkna.kalo ada yang sama, itu bukan karena kesengajaan, melainkan kebetulan belaka.

1.persahabatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak mungkin terjadi.pasti hubungan itu ternodai oleh rasa yang berkembang di luar koridor persahabatan. kemungkinan untuk saling jatuh cinta sangat besar atau peluang salah satunya menaruh rasa juga lebih besar lagi.ada semacam ketidakrelaan ketika sahabatnya itu menikah atau punya pacar.ketidakrelaan itu walau rasanya secuil, itu sudah noktah. dan kalau ditelusuri lebih jauh, ada apa dengan tidak rela? kalo dibikin judul film nggak asyik ya, AADTR..he he he

2.semua orang punya indra keenam. contohnya gampang. saat kita lagi baca buku atau apalah, suku kata yang lagi kita baca seringkali sama persis dengan yang dibicarakan orang lain pada detik yang sama. misalnya lagi baca novel sampai kata dengan eh ditelevisi anchornya juga bilang dengan,perhatiin deh. atau lagi nulis blog, sampai pada kata ini eh temen kita pada detik itu juga lagi ngomong ini

mau teori2 lebih ngaco?
tunggu asyiknya bikin teori chapter 2 ya? (abis dah malem sih mau bobo)

Jenkna Wake Up 2

April setahun yang lalu, tanggal 9, ternyata aku pernah terpuruk. entahlah aku lupa persoalannya. mungkin saat itu aku sedang sangat jenuh dengan pekerjaan. dan aku menuliskan sebuah keluh kesah beserta imunisasinya, yaitu wejangan2 dari kakak perempuanku, mbak rey. aku ingin mereviewnya lagi untuk meneguhkan hati bahwa bolehlah kita sakit hati pada takdir, tapi pada detik itu pula temukan penawarnya. jangan sengaja berlarut-larut. jangan mendramatisasi keadaan,jika memang rasa sakit itu terasa tidak menyenangkan. karena untuk beberapa orang rasa sakit itu menyenangkan….

JENKNA WAKE UP….
Putus Asa sedang menerjangku Rabbi….
Awal april yang muram, sungguh, tapi aku selalu membiarkannya tak menguap di udara terbuka, agar hanya aku dan Engkau yang tahu. Dan aku sering berbisik, Tuhan…ambil saja dari hatiku….karena ia tak bisa disembunyikan dari pengawasan-MU.

Tapi beberapa hari lalu, aku sedikit membaginya dengan mbak rey, kakak perempuan tersayangku. Karena dia seperti jiwaku yang lain yang tahu harus mencomot kata2 yang tepat untuk menegakkan kepalaku.
“Kamu minta ketabahan? minta kekuatan? mungkin justru bukan ketabahan dan kekuatan yang langsung diturunkan dari langit buat kamu. Tapi ujian yang lebih besar, dari situ kamu tidak sadar sedang mengalami ketabahan yang kamu mau.”
Lain hari, 7 April, aku didera putus asa lagi, mbak Rey malah membuatku menangis kata-kata sederhananya masih aku simpan di inbox SMS.
“Jangan putus asa. kita jangan fokus hasil akhir tapi pada proses. Kita mau jadi apa, mau mengalami apa sudah ada tulisannya. Allah gak akan tanya hasil akhir amal kita, tapi bagaimana proses kita beramal,”

dan bertahun-tahun yang lalu saat televisi banyak menyajikan program religi.disela2 tayangannya ada kata-kata mutiara yang sangat cepat tercatat diotakku.tanpa sempat aku menuliskannya di selembar kertas.
isinya:
1.Jika kamu sudah melakukan segala sesuatu hingga kamu merasa hampir putusa asa, sesunguhnya Allah SWT mengetahui betapa keras kamu telah mencoba.
2.Jika kamu merasa sedih karena sesuatu hingga harus menangis, sesungguhnya Allah SWT menghitung tiap tetesannya.
3.Jika kamu sudah melakukan semuanya hingga tak tahu harus berbuat apalagi, sesungguhnya Allah SWT mengetahui jawabannya.

yah…semoga bisa menjadi penyejuk bagi hati yang resah. Amin

Seberapa Malu?

maluuuuu

maluuuuu

malu itu……..muka bersemu merah, dada berdeup kencang, mata fokus ke bawah, dagu turun. pernah mengalaminya? pasti pernah. malu pada manusia, mungkin hampir setiap hari. tapi malu pada Rabb kita? seberapa sering?
**********
suatu hari, di semester akhir kuliah menjelang hengkang dari universitas. aku memanfaatkan wartel untuk menelepon seseorang. sembari menunggu kembalian receh yang memakan waktu cukup lama, aku melihat etalase sederhana di warung sekaligus wartel itu. di dalamnya ada sedikit alat tulis dan alat peraga dari kayu. etalasenya berdebu, jorok, terlihat memang tidak diminati, tidak laku.

aku membatin, alat peraga dari kayu cuma tiga buah. banyak debunya lagi. pasti stok lama yang nggak pernah dilirik orang. bener-bener nggak ada harapan. ya mana ada yang mau beli, orang gambarnya nggak menarik. Ngapain juga menjual sesuatu yang nggak bermutu begitu?

tapi, detik itu juga, mataku terbelalak, dua wanita berjilbab, yang dalam dugaanku adalah guru Tk ato SD (karena memakai baju PSH khas guru) tiba-tiba menunjuk benda yang kuhina tadi dan langsung membeli dua diantaranya tanpa berdiskusi panjang-panjang, tanpa perdebatan.

apa yang terjadi dengan perasaanku? aku terhenyak, aku yang sering menjauh dari-Nya tiba-tiba merasa disapa dengan begiu dekat. Tuhan sedang menjawab kalimat yang kubatin, saat itu juga tanpa jeda!!! its miracle. terlalu sederhana kalau aku bilang, tuh kan rejeki itu nggak bakalan ketuker. ini lebih dari segalanya. aku sampai tak mampu berpikir. hanya kembali membatin, aku baru saja berdialog dengan penciptaku tanpa formalitas (baca:doa, shalat). tapi saat santai begini…dan dialog singkat itu membuatku malu sampai menggigil dan nyaris menangis sepanjang jalan menuju kost.

kalau peristiwa ini disebut hiperbol atau kondisiku yang terlampau melankolis, kupikir tidak begitu.aku jarang bisa tertampar begini dalam.meski malu, aku menikmatinya. sungguh!

Ah semoga aku (ehm mungkin kita) sering dianugerahi rasa malu untuk sesuatu yang sejatinya memang benar. bukan karena aku tak punya blackberry bold atau laptop keluaran Apple terbaru. how about you?