beranda 5

mata riana terbuka.pupilnya bergerak ke samping lalu memutar. saat melihat sosok sheila berdiri tak jauh dari tempatnya berbaring, otot wajahnya mendadak kaku. tapi hanya satu menit. setelah itu riana tampak tenang kembali.
“aku pikir kau langsung memaki,” sheila tersenyum. mendekati kepala riana. dan mengelusnya.
“aku harus minta penjelasan dulu sebelum membunuhmu sheil. apa kau mencium bibirku waktu aku pingsan?”riana mendelik
“yah..”sheila mengangguk pelan
“lalu…”
“ehmmm aku muntah,”sheila tertawa menggoda. Tapi matanya jujur.
“jadi…”
“bukan karena kamu sahabatku. tapi aku merasa, aku memiliki detil tubuh, aroma, kelembutan yang sama dengan perempuan manapun. kalau aku mencicipinya rasanya ya hambar. ternyata aku nggak berbakat,” sheila berkata tegas
“syukurlah…. setelah ini mau berpetualang apa lagi? mau cari cinta yang seperti apa?”
sheila hanya memandang riana. kosong.

****

beranda 4

“corporate indentity PT Leksana Nugraha sudah beres, sheil,? Pak Hans minta warna logonya diedit, birunya bright banget”kata riana usai meeting singkat dengan dirut perusahaan mereka.
“hem..,”jawab sheila malas.
riana bergegas menggamit lengan sheila. memaksanya berdiri dan berjalan terseok mengikuti langkah cepat riana ke arah toilet wanita.
“sheil, kamu masih training di sini. kacau kerjaanmu, kacau pula nasibmu. Plis..apa berburu makna cinta sangat penting, sampai ngantorpun kamu males hah?”
“hem ku itu artinya beres ri,”sheila membela diri
“tapi kamu nggak konsen selama meeting. pak hans butuh masukan untuk packaging produk juga. Kamu nggak liat tadi, tatapan seorang yang merasa diabaikan oleh si penguap kaya kamu,”riana agak berteriak.
“aku sedang kacau. aku malu. aku seperti mengemis phone seks pada gema. tapi yang terjadi, aku sendiri yang tidak tahan melakukan itu!” sheila balas berteriak.
“kenapa tidak bisa? kamu kan yang menginginkannya?”riana menyelidik
“entahlah mungkin karena aku sempat menyebut nama Tuhan. dan DIA menyadarkanku,”
“sheil, aku bersalah telah mengenalkan gema padamu. kasihan dia, mencintaimu seperti kesetiaan anjing pada tuannya. dan kau tuan yang buruk sangat buruk,”
“ri..apa tawaranmu masih berlaku?”
“apalagi ini, tawaran yang mana,?” riana mulai menangkap hal aneh.
“apakah aku mau mencoba jadi lesbian?”
“sinting..”
“pras hanya bisa menarik simpatiku sedikit, gema yang nyaris sempurna pun tumbang. jangan-jangan orientasiku keperempuan ri? yah mungkin saja,”sheila mencengkeram telapak tangan riana.
“kamuu mau appa, nyebut lagi sheil,…”
“cium aku ri..aku ingin mencoba mencari arah hasratku yang sebenarnya,”
“kau tertarik padaku sheil, secara seksual???”riana gemetaran.
“belum, tapi aku ingin mencobanya, bolehkah? bantu aku ri..
riana merasa kunang-kunang menari ribut di kepalanya. segalanya jadi gelap dan….tak ada yang diingatnya lagi

beranda 3

angin bertiup ke arah beranda. dimana sheila duduk dan mengangkat secangkir capuccino latte artnya. ada hiasan gambar pohon cemara di atas kopi dan seketika buyar ketika sheila menyeruputnya habis. macaroni schootel di sisi kanannya malah dingin tak tersentuh. sheila memjamkan mata menikmati kesiur angin yang sesekali lewat agak kencang menerpa wajahnya yang terlihat sedang kecewa.
amarah sheila lahir akibat persekongkolan Gema dan riana yang melibatkan dokter, tepatnya seksolog dalam kehidupan sheila. sheila yang merasa normal, tidak terima dianggap memiliki kelainan pada otak. mencintai suara gema hingga ingin mengajaknya melakukan phone seks hanya sebuah variasi bentuk hubungan seksual. dimana letak kelirunya?
“Phone seks memang aman, tidak akan menularkan penyakit seksual. Tapi kalau lebih disukai ketimbang hubungan langsung, itu yang akan menjadi kelainan dan berdampak buruk terhadap diri secara kejiwaan, ” dokter yang sengaja sheila lupakan namanya tampak pandai bersilat lidah. sheila ingin mendebat, tapi dokter itu terus saja nyerocos seperti kamus berjalan. menumpahkan banyak ilmu kanuragan soal seks.
apa salahnya menunjukkan ekspresi suara rintihan kenikmatan, teriakan, dan ucapan yang ekspresif ditelpon? aku kan hanya berfantasi, berhayal? seperti menghayalkan punya perahu, kapal feri, pesawat. sheila membatin. ah taik semuanya! sheila semakin panas. mungkin langsung kesambet darah tinggi.
“sheil…”suara gema timbul tenggelam diantara deru mobil yang lalu lalang.
sheila terbelalak melihat gema sudah berdiri di luar pagar rumahnya. gema lalu berlari cepat menuju sheila.
“sheil…aku belum berubah, masih berharap bisa menikah denganmu. vonis dokter itu sampah,” gema mendekati sheila dan berlutut di dekat kursi sheila. tangan gema meremas kuat jari sheila.
“kalau perlu nanti malam, kita mencobanya ya. okey sheil,”ge bergerak semakin maju. wajahnya sangat dekat dengan wajah sheila. sheila beringsut mundur.
“lepas…”sheila menampik jari gema yang terus bertaut di jemarinya. setelah bebas, sheila berdiri. siap-siap meninggalkan gema yang masih bersimpuh.
“marahku beralasan sheil. Aku..aku.. juga pelaku phone seks dulu. dan betapa merusaknya itu. aku perkosa diriku sendiri secara virtual,”suara gema bergetar. lirih sekali dia berucap. cenderung meratap.
“tapi aku rela ke habitat itu lagi, selama kamu ingin,”suara gema menggantung.
sheila mendorong bahu gema hingga lelaki kekar itu terjerembab jatuh di lantai.
“pergi ge! aku nggak butuh siapapun di dunia ini!” sheila berteriak nyaring sebelum akhirnya masuk ke rumah sambil membanting pintu.

****
pukul 12 malam. mata sheila sulit terpejam. telah berbuat kasar pada gema menyisakan sedikit penyesalan. bukan karena kasihan pada gema. tapi karena sheila tidak akan pernah menikmati suara bariton gema lagi. gema pasti sudah merasa terusir. apa guna bertahan. sheila membolak balik badan. meremas ujung gulingnya. mendesah-desah sendiri karena disesaki rasa antara benci dan rindu.
handphone sheila bergetar, diiringi ringtone berlagu. mata sheila mengerjap. dua kali, tiga kali. gema menelponnya!? sheila gugup. hingga panggilan ketiga, sheila baru berani memencet tombol yes.
“sayang…”gema berucap merdu
bulu kuduk sheila meremang. langsung terlukis wajah gema yang tampan. dadanya yang berbulu halus. rahangnya yang kokoh. serta wangi tubuhnya yang menggiurkan.
“jangan sedih lagi, sini aku peluk,”gema semakin menggairahkan.
nafas sheila mulai memburu. ah…hatinya terasa sejuk.
gema perlahan mengeluarkan suara rintihan, memanggil sheila dengan nada mendesah. sheila tak tahan lagi. sheila mulai mengecup-ecup ujung earphonenya dengan nafsu membuncah. lantas dibalas gema dengan kecupan yang tak kalah garang.
“bayangkan, aku mulai melepas lingeriemu dari atas. mencium bahumu…,”gema sengaja menghembuskan nafas penuh birahi.
sheila ingin menjerit karena sangat senang. ada yang melayang. sheila membayangkan ruhnya terbang ke langit. lepas semua beban hidup.
“Ya Tuhan…”sheila menggigit bibir bawahnya. mengerang sedikit. dan…menangis. air mata tumpah begitu saja. oh iu bukan karena bahagia. tapi karena rasa aneh yang menjalari sanubarinya. sebuah rasa berdosa, rasa yang mungkin pernah gema katakan, karena sheila seperti sedang melacurkan diri, meski hanya fantasi.
“sayang..are u okey,”gema panik. isakan sheila terdengar bertambah parah.
“sssttttt sayang…lebih baik kita menikah sebelum melakukan ini. supaya tidak ada rasa bersalah atau semacamnya..apa kamu sedang mengalami perasaan itu sheil…,”
Klik
gema tak ditanggapi. sheila menutup telhone tanpa pamit.

beranda 2

10 tahun. bunga dari pras pasti sudah jadi pupuk atau bahkan zat penyuburnya sudah habis. sheila juga hanya berkabung sebentar. soal cinta, sheila hanya terketuk setengah senti, bukan sesuatu yang mendalam. sheila bisa berjalan tegak selang dua hari setelah pras beralih dunia. perasaan kehilangan yang sangat singkat buat sheila. seperti yang dia bilang, patung es. cair seujung kuku lalu membeku lagi. sampai…riana mengenalkannya pada gemawan setyadji, seorang eksekutif muda dari perusahaan properti yang memiliki penginapan dan hotel berbintang. gemawan masih terlihat ranum, 34 tahun, dan mapan.
“aku menikmati setiap detil perbincangan dengannya. aku suka parfumnya yang maskulin. aku tertawan suaranya. tapi aku tidak pernah terangsang untuk mau dicium, disentuh,” kata sheila di sepenggal senja, di sebuah kedai kopi, di depan riana.
“anakku sudah satu sheil, dan kamu masih terus mencari cinta itu apa?? bentuknya, rasanya, aromanya, sensasinya?? ckckckckckck,” riana menggeleng-geleng.
“aku sering membaca novel. sepasang kekasih yang romantis, saling memandang. kemudian ada getaran halus merambat pelan di dalam hati mereka masing-masing. aku ingin merasakan itu. tapi aku cuma merasakan suka saja..desir-desir itu ngggaak addaa,” sheila sengaja menekan kata nggak ada untuk menegaskan kejujuran.
“kalau nanti dia melamarmu, terimalah. kamu bakal tahu apa itu cinta kalau dia jadi suamimu,”riana bangkit dari duduknya. dia mulai bosan berceloteh dan ingin pulang ke rumah.
“cinta bukan cuma seks kan ri…? kamu pikir setelah bersetubuh, kita pasti jatuh cinta apa?”sheila mengernyit.
“cinta itu harus disalurkan bukan cuma ke adikmu, orangtuamu. kamu mau nyoba jadi lesbian apa?” riana nyeplos begitu asal karena jengkel.
muka sheila merah padam. tentu kata-kata yang menyakitkan dari seorang sahabat. tapi riana mungkin bermaksud baik. jadi, sheila masih toleran terhadapnya.

****
Gema mengendurkan sedikit tali pengekang dasi. lalu mendekati sheila yang membenamkan kuku-kukunya ke keyboard laptop sejak setengah jam lalu. gema menyibak rambut sheila secara halus. lalu meniup leher sheila sangat lembut. sheila berhenti bekerja. dadanya berdegup, tapi degup ketakutan bukan keindahan rasa.
“Ge, hentikan!”
“ini memang caraku menghentikanmu, cantik,”
sheila tertegun. dia sudah hilang konsentasi.
“sheila, jadi istriku, mau?”
“kamu meloncati beberapa tahapan. kita baru kenal, belum jadi teman, sahabat, pacar, dan tiba2 menikah. how dare you?” sheila tersenyum sinis.
“ya ampun, sudah satu tahun, statusku baru kenalanmu?” gema menahan emosi.
“aku akan menemukan cara, agar kamu mau,” ujar Gema. setelah itu, dia meninggalkan sheila yang terdiam di sudut kedai kopi yang biasa dia kunjungi bersama riana.

***
dua minggu gema raib. sheila mulai resah. entahlah, seperti ketika pras pergi, semua jadi terasa lain. tidak seimbang lagi. Sheila yang sudah melebur bersenyawa sebgaia patung es, agak mencair. dia memencet nomor hp gema. sheila tadinya tak berharap banyak, gema mau berbicara lagi dengannya. tapi baru dua nada panggil, gema sudah berbicara di seberang.
“ge…”
“hai sheil,”
“aku…ingin..”
“ssttt…diamlah. aku juga kangen, walaupun kamu nggak,”
“ge, kenapa suaramu begitu indah. apa karena kita lama tak bertemu?”
“karena aku ganteng hahahha…orang ganteng pasti suaranya bagus,”
“oh i see…” sheila seperti tersengat listrik. dia mulai mengerti sesuatu hal yang mungkin aneh.
“kenapa sheil?”
“aku sepertinya jatuh cinta. oh begini rasanya? aku merinding ge..”
gema nyaris mengigit jari jemarinya lantaran bergairah.
“e kkita kita ketemu ya sekarang. aku akan ke rumahmu sheil. kebetulan aku cuti tiga hari,”gema bersemangat betul
“ge…wait..ini bukan seperti yang kamu pikir. aku tidak merasakan apapun ketika kita bertemu. tapi kalau mendegar suaramu saja, sepertinya lain. aku berimajinasi, aku terangsang…aku jatuh cinta dengan suaramu,”sheila blak-blakan, mengeluarkan isi hati tanpa beban.
gema melorot dari duduknya. diam. hening. hanya detik jarum jam yang berjalan teratur.
“ge…aku mau jadi istrimu, tapi ditelepon. kita bercinta lewat suara. bisa kan? aku pernah baca artikel soal phone sex, ehm..kita coba ya,”sheila berkata nyaris memekik tanpa dosa. gema meradang.
“aku kepala eksekutif keuangan dua perusahaan besar dan aku ingin jadi kepala keluarga sheil..bukan pelacur lewat telepon,”gema geram.
“tapi kita tetap menikah ge. cuma…tidak tinggal seatap. kamu boleh bercinta dengan wanita lain. aku tidak peduli diduakan. aku cuma pinjam suaramu, aku mencintai suaramu,”sheila masih ngotot.
“kamu sakit jiwa…”klik.gema mematikan telepon genggamnya.
****
masih nyambung hayooo hayooo gimana yaaa cerita selanjutnyaa 😛