if u know about freedom

Duhai pemuja cinta, apakah arti kebebasan dan kemerdekaan itu? sejatinya, ia adalah semu.meski meringkuk dalam sekat, cinta tetap lah bebas mengayun langkahnya…membentur teralis, menabrak udara. tidak ada dinding meski berdinding.cinta bahkan bisa memerdekakan diri meski hanya lewat tatapan
(jenkna, 13 des 2009, 5:44 pm)

hai, hai, hai,
don’t be seriously…

jeperetan jenkna sebenarnya humanis (meski kata fotografer sedikit mengganggu dibagian kaki si ibu yang berwarna biru). dia seorangg terdakwa kasus pencurian teralis besi yang diganjar delapan bulan penjara. setiap kali sidang, istrinya nggak pernah lepas menemani di sel transit. mereka seolah nggak peduli ada banyak pasang mata yang mencemooh melihat kemesraan yang begitu nyata.
meski romantis, jenkna yakin nggak ada yang mau mengalami perpisahan macam ini. bayangkan, orang yang dicintai adalah pelaku kejahatan, terbukti secara hukum, disingkirkan dari keluarga dan atau masyarakat, cinta sih tetap cinta tapi cinta yang bagaimana, pasti ada luka di hati…

if u know about freedom….sangat relatif….burung yang dilepaskan dari sangkar juga belum tentu merdeka karena dia bisa saja ditembak mati atau dimangsa predator atau apalah…

Jadi, bagi kamu yang masih berpikir, bahwa bapak, ibu, adik, kakak, ponakan, kakek, nenek, sahabat, kekasih bisa celaka, meninggal hanya ada di sinetron. Mereka bisa dipenjara hanya cuplikan di film-film. Mereka bisa menghilang diculik, dibunuh dikebiri hanya terjadi di surat kabar, mulailah terbangun….bahwa di alam nyata ini, penjara itu ada. sesuatu yang bisa mengkungkung dan tidak membebaskan engkau. berhati-hatilah menjaga diri dan keluarga…..

ini kebebasan yang lain…merdeka satu langkah sebelum meraih kemerdekaan yang sesungguhnya. yah, memenuhi harapan orangtua, juga melepas satu beban di hati….congratulation 4 mr hwo before…

Saat Hwo mendirikan rumah cahaya, ia ingin memerdekakan anak-anak dari keterbelakangan dan antisosial dengan buku-buku bermutu dan kehangatan.rumah itu bisa dikunjungi anak-anak tak bersepatu sekalipun. rumah yang bebas oleh kasta. dan aku sangat bangga pada pendiri-pendiri rumah itu.apalagi tanggal 22 desember ini rumah cahaya akan mengadakan lomba menulis surat untuk mama.great job! suatu saat, jenkna akan membahas apa itu rumah cahaya lebih lanjut.

gambaran mininya, klo kata mr hwo sih…ya taman bacaan, lokasinya ada di Sawangan, persisnya di depan Martabak Legit Sawangan, Samping SDN Kedungwuluh, Purwokerto. Selain konsep rumah baca annatinya akan dikembangkan menjadi tempat berkegiatan anak-anak pelajar

begitulah, ada banyak cara membuat orang lain atau diri kita merdeka atas atau dari sesuatu. melihat sepak terjang hwo dan kawan-kawannya, aku sendiri seperti tercerahkan bahwa hidup itu bukan hanya makan, tidur, bekerja mencari uang, tapi juga membangun sebuah kegunaan alias manfaat. hal yang belum bisa aku lakukan….
jadi hormatku pada perjuanganmu….aduh aku menyebutmu apa ya mr hwo…wkwkwkwkkw. ambil saja dari hatiku ini.bukankah banyak berkata-kata bisa mengurangi makna?

mom and kids…
merupakan tema selanjutnya…
Ini adalah alifia dan sahabatku agustinah titin.ia sempat dilarang hamil karena penyakit yang diderita, bahkan divonis sulit memperoleh buah hati. Tapi bagi pemuja Sang Maha Cinta, doanya memang menakjubkan. gadis kecil itu pun lahir, tumbuh besar dan merasakan limpahan kasih sayang dari keluarga intinya. Titin, begitu ia karab disapa, memiliki kebebasan mencurahkan kodrat keibuannya pada Alifia…sementara di tempat lain ada ibu yang akhirnya hanya bisa melihat anaknya di kotak ajaib, tak mau lepas dari gandengan ayahnya, mungkin juga memilih agama yang dianut ayahnya, membelokkan cita-cita demi sang ayah..apalagi?

melihat berita selebriti akhir-akhir ini, begitu menjengahkan. jadi lebih baik tidak usah ditonton.ini soal, kebebasan memeluk (mikro) dan melindungi (makro) seorang anak. Perceraian tidak baik-baik yang melanda kalangan selebriti memunculkan penjara dalam layar televisi yang begitu besar. ibu kehilangan hak asuh, ayah tak boleh menyentuh anak kandung, ibu dan ayah sama-sama terpenjara dalam egoisme gengsi.

Iklan

Resepsi

Resepsi Pernikahan Unik Ala Anggota Teater Tubuh

“Hai ma, ingatkah waktu itu aku berkata? kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna ha…ha…ha.. Wah aku memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini,” sepenggal puisi milik rendra berjudul Hai Ma meluncur penuh makna dari mulut Tejo. Disaat kebanyakan resepsi pernikahan disuguhi orgen tunggal, namun untuk yang satu ini, justru kalimat puitis dan drama teaterlah yang digelar.

Indri Agustina, Purwokerto

Hujan tak lagi gerimis tapi kian gemuruh mengguyur pemukiman padat penduduk di jalan Turmudi RT2 RW 1 SOkaraja Lor, Senin malam (7/4) lalu. Tepatnya di rumah mungil bertembok papan milik Ashar Bachtiar, seorang aktor teater tubuh, tengah digelar resepsi pernikahan yang sederhana. Saat Radarmas menyambagi tempat tersebut, keadaan sekeliling nyaris gelap gulita, hanya beberapa pendar lilin yang terpancar dari beberapa meja tamu.
“Setiap pentas seni biasanya memang identik dengan suasana remang, tapi ini sungguh tidak disengaja, ini darurat karena tempat kita mati lampu,” ujar Ashar sedikit terkekeh.
Malam itu, Ashar mungkin menjadi orang yang paling berbahagia, cita-citanya untuk mengenalkan seni dan sastra yang kian jauh dari kehidupan masyarakat nampaknya akan segera terwujud. “Sokaraja sebenarnya merupakan desa budaya, banyak seniman jalanan, yang lahir ditempat ini misalnya komunitas senthir, atau komunitas tanpa nama, tapi saat ini eksistensi mereka mulai terkikis. Momen pernikahan saya rasanya tepat untuk dijadikan pagelaran seni” terangnya.
Teater tubuh sendiri menurut Ashar masih harus berjuang untuk bertahan hidup. Teater yang berdiri sejak tahun 80-an ini, harusnya menjadi contoh bagi teater lain agar tidak tergilas oleh perkembangan jaman. “Ini teater freelance atau non kampus terbesar di Purwokerto, di dalamnya terdapat berbagai komunitas, ada pengamen jalanan, mahasiswa, guru, siswa, petani, apa saja bisa masuk. Namun karena kurangnya koordinasi dan banyak faktor lainnya, kadang kita masih kesulitan menggelar pentas seni semacam ini,” bebernya.
Di tengah obrolan yang hangat dengan koran ini, Ashar masih menampakan wajah kurang sumringah. Dia seperti berharap padamnya listrik tak berlangsung lebih lama lagi, ia seolah tak sabar ingin melihat persembahan kejutan dari rekan-rekannya. Namun, karena tak kunjung menyala, panitia terpaksa tetap menggelar pentas dengan bantuan dua petromax besar di sekeliling panggung mini yang mereka buat.
Ashar yang penikmat puisi namun mengaku tidak bisa membaca puisi dengan baik, tampak senang saat satu-satu rekannya dari Unwiku, dari komunitas hujan tak kunjung padam, dan beberapa komutias kecil teater SMA bertubi-tubi memberinya hadiah puisi ciptaan mereka sendiri yang bertemakan cinta dan sosial. Selain itu pimpinan teater tubuh, Bambang Wadoro, berkenan pula membacakan puisi milik Darmanto Jasman berjudul Istri untuknya.
Menurut Tejo, rekan Ashar yang juga membawakan puisi tersebut untuk kedua kalinya, isi dari puisi tersebut tujuannya untuk mengingatkan pada pasangan pengantin, bahwa istri adalah segala-galanya. “Dia adalah sigaran nyawa,” kata Tejo mengutip pusi itu.
Selain dimanjakan dengan hampir 40 buah puisi dari bermacam-macam komunitas sastra dan seni, tiba giliran Ashar maju ke pentas untuk berteater. Bersama dua orang rekannya, Ashar menyajikan teater bertema kehidupan dengan membawakan lagu macapat dari mijil hingga pucung. Mijil menceritakan tentang awal mula manusia tercipta, sedangkan pucung menceritakan saat manusia mati dan dibungkus kain kafan menjadi pocong.
Yang tak disangka-sangka, antusiasme masyarakat setempat, ternyata sangat tinggi. mereka saling berdesakan untuk menonton aksi treatikal dan puisi di rumah Ashar. Mereka juga tak pelit-pelit memberikan tepuk tangan sebagai penghargaan.
Keberhasilan pementasan ini tentunya sangat melegakan Ashar, meskipun akhirnya lampu menyala juga saat detik-detik pementasan akan berakhir yakni pukul 12 malam, Ashar tak merasa kecewa. “Saya puas dan senang, meskipun tak disaksikan oleh calon istri yang sedang di pingit,” tandas pria yang bekerja difarmasi yang akan melangsungkan akadnya Rabu (10/4) besok itu.(*)

Tulisan ini usianya sudah setahun lebih..awal-awal jenkna jadi wartawan.tapi entah kenapa begitu membekas di jiwa. mungkin karena new comer tapi sudah harus menembus malam pekat dingin dengan hujan yang terus jatuh. Ditambah, kesasar karena hanya mengandalkan alamat seadaanya.namun, yang paling melekat di hati adalah pernikahan mas Ashar yang unik. Siapapun ingin momen sekali seumur hidup (some people wish like that) tersebut berbeda. entah di dalam air, diatas balon udara, atau dipuncak gunung….mungkin keunikan itu bisa mengembalikan jiwa-jiwa yang gersang ketika perkawinan mulai menginjak tahun pertama, dan dopamin dalam otak yang memendarkan cinta sudah berkurang separuh, sepertiga atau semuanya.

bulan desember, setelah musim haji, lazimnya adalah musim hajatan. beberapa karib telah melangsungkan walimah nan indah itu. congrat 4 them! Semoga menjadi keluarga samara.

be unique! coz u are different…

Renyai pun Jadi Lazuardi

tulisan ini masih hangat karena baru dikorankan dua hari yang lalu.
semoga menjadi inspirasi bagi kita semua..

Perjuangan Gautama, Penderita TBC Tulang (1)
Dua Bulan Lumpuh, Rutin Suntik Hingga 60 Hari

“Jika ada pisau di dekat saya, mungkin akan saya gunakan untuk bunuh diri,”kata-kata itu pernah terlontar dari mulut Gautama (28) sebagai klimaks dari rasa depresinya berjuang melawan TBC tulang beberapa bulan silam. Namun kini, Gogo -begitu ia akarab disapa- justru berhasil berjuang melawan rasa sakit fisik dan psikologisnya sendiri, bahkan menjadi motivator bagi rekan senasib. Bagaimana kisahnya?

INDRI AGUSTINA, Purwokerto

Gogo, di usianya yang masih produktif sebenarnya punya masa depan cemerlang. Tahun 2006, Sulung dari tiga bersaudara ini sudah bekerja di Direktorat Peternakan yang berada di bawah naungan Departemen Pertanian Jakarta. Ketika sedang mereguk bahagia bisa mencari penghasilan sendiri, Gogo terserang batuk sekitar bulan Juli hingga Agustus 2008. Tak hanya batuk, awal bulan September, jalannya mulai terpincang-pincang karena kaki kirinya terasa lemah.
“Saya masih bisa naik motor. Memang sempat jatuh, tapi saya pikir hanya kecetit jadi saya memutuskan pergi ke tukang urut. Apalagi hasil Rontgen juga nihil, tak menunjukan apa-apa,” kata Gogo.
Tiga bulan berkutat dengan tukang urut, ternyata tak membuat kondisi kaki Gogo sembuh. Ditambah punggungnya mulai sakit. Gogo pun melakukan rontgen ulang di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta. Hasilnya mencengangkan, ia divonis menderita TBC tulang. Dokter juga mengharuskan Gogo menjalani operasi, suatu tindakan yang awalnya hanya Gogo lihat di film-film atau sinetron.
“Nggak terbayang betapa downnya saya. Saya akhirnya mencari second opinion ke RS Orthopaedi Purwokerto (RSOP) sekitar bulan Desember 2008. Diagnosanya sama dan saya harus dioperasi. Hasil Rontgen saya juga dibawa ke RS di Tasikmalaya sebagai third opinion. Apa mau dikata, saya memang harus dioperasi,”kisahnya pilu.
7 Januari 2009, menjadi hari yang bersejarah untuk Gogo, karena akhirnya ia bersedia menjalani operasi di RSOP. Ia ditangani langsung oleh dr Iman Solichin SP, OT. SPINE. Pasca operasi, Gogo semakin shock karena kaki yang awalnya masih bisa dipakai untuk berjalan justru tak bisa digerakkan. Padahal selama kurang lebih 60 hari, ia diinjeksi dikedua pantatnya. Minum obatpun rutin dilakukan, tak kurang dari delapan butir obat setiap pagi harus ia telan.
Kelumpuhan sungguh menjadi pukulan besar yang membuat Gogo berubah dari periang menjadi pemarah. Apalagi kalau melihat orangtua yang sudah renta masih dengan gagah berjalan, sementara dirinya yang masih muda bergantung pada kursi roda.
“Dua bulan cuma diatas tempat tidur, lalu di kursi roda. Siapa yang nggak depresi? Saya nggak mau minum, nggak mau makan, nggak mau beribadah. Dikasih sarung buat salat aja rasanya panas dalam hati,” ujarnya terkekeh.
Berat badan Gogo praktis turun sekitar delapan kilo. Saat mulai mau makan, Gogo hanya mau mengkonsumsi bubur sumsum selama empat bulan. Jangan sampai ia melihat nasi, karena bisa-bisa pria kelahiran Banjarnegara itu muntah ditempat. Gogo juga mulai dirasuki pikiran-pikiran buruk misalnya merasa operasi itu gagal dan akan lumpuh selamanya. Lalu bagaimana, Gogo bisa melewati masa kritisnya tersebut?
“Adik membawakan artikel yang ia print dari internet juga brosur tentang TBC tulang. Saat membaca tulisan itu, saya tertegun karena penderita TBC tulang memang wajar mengalami masa-masa sulit setelah operasi seperti nafsu makan yang berkurang. Ditambah mendengar lagu-lagu religius milik Opick, perlahan saya mau bangkit,” terangnya.
Di poliklinik fisioterapi RSOP, Gogo memulai latihannya untuk memperkuat kembali otot-otot tubuhnya sekaligus memperbaiki pola berjalan. Tubuhnya yang terasa kaku kian lama mulai melentur. Demikian pula dengan kakinya yang selalu gemetaran tanpa terkontrol perlahan mulai mereda. Kakinya yang baal, kini 80 persen sudah mulai terasa.
“Trauma pernah lumpuh, kadang-kadang masih mengganggu pikiran Gogo. Dia jadi kurang pede berjalan tanpa walker, karena takut jatuh lalu pennya lepas dan sebagainya. Tapi itu wajar, masih dalam proses pemulihan,” tambah Peni Kurniawati, fisioterapis yang setia mendampingi Gogo selama proses penyembuhan.(bersambug)

………………………………………………………………..

Perjuangan Gautama, Penderita TBC Tulang (2-Habis)
Waspadai Batuk, Demam dan Penurunan Berat Badan Drastis

Berbulan-bulan bertarung melawan bakteri mikobakterium tuberkulosa, menjadi pengalaman berharga bagi Gautama (28). Bayangkan, bakteri itu telah menggerogoti tulang belakangnya secara membabi buta hingga sempat membuat warga Jalan Overste Isdiman itu lumpuh. Bisa berjalan lagi, merupakan keajaiban besar buatnya.

INDRI AGUSTINA, Purwokerto

Gogo sudah tak sabar lagi melihat Jakarta, tempatnya mencari nafkah. Ia optimis awal tahun sudah bisa menginjakkan kaki lagi di kota metropolitan dan siap bekerja. Di sisi lain, ia sebenarnya tak tega meningalkan dua orang temannya yang divonis TBC tulang dan masih perluh dimotivasi untuk berobat.
“Mereka sangat membutuhkan sharing pengalaman. Mereka bukannya takut berobat tapi sedang mengumpulkan uang. Kalau sampai operasi biayanya memang tidak sedikit,” kata Gogo mencoba maklum.
Gogo pun mewanti-wanti agar tidak menyepelekan gejala batuk. Gogo sendiri pernah cuek dan hanya mngkonsumsi obat batuk warung untuk meredakannya. Tapi kuman Tb membandel, meski tak masuk ke paru-parunya namun ternyata malah menyerang organ motoriknya.
Kasus TBC tulang yang dialami Gogo mungkin jarang terdengar karena kalah pamor dengan HIV/AIDS dan kanker darah. Padahal TBC tulang merupakan permasalahan genting yang menjadi target penyelesaian oleh WHO dan Departemen Kesehatan setelah HIV/AIDS dan Angka Kematian Bayi. Diindonesia sendiri Kasus TBC Tulang tergolong tinggi.
Menurut dr Rosa Indiarto dari RS Orthopaedi Purwokerto, kasus TBC tulang di RS tersebut menduduki peringkat ketigas setelah kecelakaan dan penyakit degeneratif. Penularannya tergolong cepat dan bisa melalui udara, darah, juga peralatan makanan. Rosa, menjelaskan, jika mengalami gejala-gejala seperti berat badan turun drastis, demam lama/berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria atau infeksi saluran nafas akut), dapat disertai keringat malam, pembesaran kelenjar getah bening yang biasanya di daerah leher, ketiak dan lipatan paha (inguinal), dan batuk lama lebih dari 30 hari, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
“Uji TBC disebut tes Mantoux yakni tes pada kulit. Selain itu juga memeriksa dahak pagi hari untuk diuji lab,” jelasnya.
Jika memang terdeteksi, lanjut Rosa, ada yang cukup dengan pengobatan oral namun ada juga yang harus menjalani operasi untuk membersihkan kuman-kuman yang ada ditulang. Obat itu sendiri harus dikonsumsi secara teratur dalam jangka lama atau berkisar satu tahun. Di sinilah kedisiplinan pasien sangat dituntut. Seringkali, pengobatan yang lama menimbulkan kebosanan sang pasien. Jika hal itu terjadi, kuman tersebut menjadi kebal terhadap antibiotika.
“Diharapkan, keluarga penderita juga ikut memeriksakan diri, karena kuman cepat menyebar lewat udara. Penderita sebaiknya mengunakan masker, menjaga ventilasi, dan memakan makanan bergizi,” tandasnya. (habis)