Tentang Beranda Jiwa (27)

Beranda

Awan yang berarak saling mengejar menjadi pemandangan indah bagi Sheila dan Nando yang berada di bawahnya. Mereka yang tengah rebah di atas rumput, memandang langit sebagai hiburna istimewa bulan madu yang sederhana.  Kesibukanmereka mengelola kolam ikan dan baru saja melaunching buku kisah sukses Nando, membuat waktu tak pernah senggang untuk menikmati hirupan udara segar sekalipun. Baru hari ini, mereka lepas dari belenggu rutinitas. Untung saja, rutinitas itu mereka lakukan berdua. Pada atap yang sama, pencapaian yang sama, tak terpisahkan.

Angin mempermainkan rambut Sheila yang terurai. Membuat beberapa helai menutup wajah ovalnya. Nando seperti biasa, menyibakkan rambut itu dengan jemarinya.

“Buk, seks di alam terbuka enak kali ya..,” Nando nyengir.

“Ayah, pikirannya ke situ aja. Ini taman publik, jangan ngawur,”

“Abis ibuk menggemaskann…,” Nando membelai pipi Sheila yang mulai merona merah.

“Penjualan bukunya kira-kira bagaimana ya Yah,”

“Aku ndak berorientasi jualan kok buk. Cuma berbagi ilmu aja. Dibaca syukur, nggak ya kebangetan,”

“Ayah, kita sudah lama, nggak nengok ibu. Pasti dia kangen banget,”

“Simbokku memang sudah kangen. Feelingku juga mengatakan begitu.Tapi kan dia ndak bisa SMS atau telpon. Wong pegang HP aja grogi hehe..Minggu depan aja Buk, kita ke sana. Sekalian bawain ikan lele kesukaan dia. Dibikin balado,”

“Oke,”

“Buk, aku kok pengennya meluk kamu terus,” Nando merapat ke arah Sheila dan memeluknya.

“Kenapa? Padahal tulang semua lho, Yah,”

“Ya ndak tahu, wong kamu di depanku gini aja, rasanya aku tetep kangen,”

“Boleh kangen tapi jangan berlebihan. Orang yang kangennya berlebihan, bisa jadi resiko ngambek, marah, kecewa,”

“Wah pelajaran dari mana?”

“Dari pengalaman, Ayah,”

“Buk, sudah setengah tahun kita menikah. Kalau ada ganjalan, jangan disembunyikan ya. Jujur saja, Ayah kan ndak sempurna-sempurna amat,”

“Nggak ada keluhan. Ayah itu baik, sopan, ganteng, suka ngorok, tukang kentut,”

“Asyem, muji setinggi langit. Abis itu dibanting. Sakit to yo. Dasar CACAT!”

“Ayah! Kok ngomongnya begitu??”

“Calon Cantik hehe. Kamu cantik banget Buk, beneran. Wajar kalau aku kepengen ‘itu terus’ hehe”

“Itu apa, Yah,”

“Ituin kamu,”

“Ayah,” Sheila mencubit paha Nando. Nando pura-pura kesakitan.

***

Mobil yang dikemudikan Nando melaju dengan kecepatan sedang. Nando sangat bersemangat menuju kampung halamannya, bertemu ikan-ikannya yang mungkin sudah semakin gemuk. Nando terus bersenandung sepanjang jalan. Lagu yang dia persembahkan untuk Sheila. Judulnya Tak Terganti, yang pernah dipopulerkan Marcell Siahaan.

“Meski waku datang, dan berlalu sampai kau tiada bertahan, semua tak kan mampu mengubahku, hanya kau yang berada direlungku…,”

“Ciee,” Sheila menertawai suara Nando yang sumbang.

“Buk, pasti simbok senang iki, kedatangan tiga tamu agung. Aku, kamu, dan calon anak kita,”

Sheila mengelus perutnya yang belum terlalu buncit,  karena kehamilannya baru masuk 8 minggu. Ketika dinyatakan positif hamil dua hari lalu,  Sheila luar biasa senang. Ia sempat ketakutan karena tak kunjung hamil. Padahal, dia dan Nando ekstra kerja keras dalam bercinta.

“Ayah kok pelihara jambang sekarang?”

“Biar kebapakan. Sebentar lagi mau jadi bapak,”

“Ukurannya kan bukan jambang,”

“Wes to, manut ae.  Aku itu memang lagi pengen berjambang. Ndak tahu, pokoknya pengen aja, kaya ada dorongan dari dalam hati gitu,”

“Ayah ngidam kali,”

“Iya ya. Ibuk sih nggak minta apa-apa,”

“Nanti kalau ibu minta yang susah, ayah protes, nangis, ngambek,”

“Kalau sesuai kemmapuan ya ndak to Buk. emange mau minta opo?”

“Aku pengennya Aston Kutcher balikan lagi sama Madonna, bisa nggak mereka rujuk?,”

“Aku ndak kenal Buk, Sopo t? Tetangga kita kayaknya ndak ada yang kebule-bulean begitu,”

“Masa mahasiswa pasca sarjana nggak tahu Madonna,”

“oh Madonna, ratu pop dunia itu. Kalau itu mending aku mati ae. Mustahil bikin seleb dunia rujuk lagi,”

“Mota-mati, jelek banget ah omongan ayah,” Sheila protes.

“Ayah bercanda, Buk,” kata Nando sembarimengusap perut Sheila.

“Kalau laki-laki, aku pengen namanya ada marga Leksononya,”

“Marga apaan,”

“Itu kan nama turun temurun dari kakek,”

“Kalau perempuan?”

“Ada nama Sitinya,”

“Agak kampungan ya hehe,”

“Siti kan artinya tanah, dari tanah kembali ke tanah,”

“Ah Ayah mulai lagi, omongannya ngaco,”

Jalanan mulai padat merayap, karena jam pulang sekolah dan kantor tiba bersamaan. Sleman sudah di depan mata. Setengah jam lagi, mereka akan bertemu ibu Nando. Sebentar lagi, akan ada kejutan besar soal kehamilan Sehila. Sebentar lagi, mereka akan disambut kecipak air kolam yang bening dan ikan yang berloncatan.

Tiba-tiba, sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi memotong jalan  di depan mereka. Motor itu seharusnya berhenti karena lampu merah. jarak sudah terlalu dekat, sehingga Nando berpikir untuk membanting setir ke kanan yang agak longgar demi menghindari pengendara motor yang ugal-ugalan itu. Tapi, dari arah yang berlawanan muncul mobil pick up yang melaju dengan kecepatan tinggi. Dalam hitungan detik, yang dilakukannya adalah melindungi tubuh Sheila dengan memeluknya agar terhindar dari benturan atau pecahan kaca.

BRRRRAAAKKKKKKKKKKKKKK!

Gelap. dingin. sepi.

Perlahan semuanya memutih. Nyaman. Seperti terlelap dalam kantuk yang melenakan. Sheila merasa dirinya berjalan menyusuri awan yang lembut. Ada kilau air tang tertimpa sinar matahari. Air yang jernih. murni. seperti mengalir dari kolam terbening sepanjang masa.

Sheila terus berjalan menyururi danau yang seperti berisi air bertabur berlian, karena berkilau setiapcahaya matahari menyentuhnya. Sheila duduk di tepian. Mengambil segegnggam air yang sebagian lagi terjauh dari sela-sela jemarinya. Sheila meminum air itu sampai dahaganya hilang.

Dari kejauhan tampak sesosok bayangan yang dikenalnya. tapi Sheila mengenalnya samar-samar. Dia tidak tahu siapa dan mengapa bisa mengenal orang  itu tapi tidak bisa menjulukinya. Sosok itu berwajah teduh dna menyejukkan.

Ia mengulurkan tangannya pada Sheila. Meski ragu, Sheila tetap menyambut ulurannya.

“Berbahagialah,” hanya itu yang diucapkannya. Lalu, ia berbalik dan pergi, setelah melepaskan genggaman Sheila.

Dalam perjalanannya Sheila menemukan selimut merah yang hangat. Ia memasuki selimut itu dan tidur dengan nyaman. Lalu sosok itu muncul lagi dala mimpi Sheil ayang tengah tertidur lelap dan nyenyak. Ia membisikkan kata-kata yang tidak Sheila mengerti. Tapi Sheila tetap mendengarkan dendangannya. Karena itu yang membuatnya makin lelap.

Dia berkata : Dibawah selimut aku berlutut. Menghamba. Hampir di seperempat usia. Kehangatannya yang terpintal dari benang-benang halus merengkuh mataku kain rapat terpejam. Tak peduli pada detak, pada derit pada dentum, pada suara-suara yang kacau. Aku tetap melingkar padanya. Menggeliat sesaat untuk kemudian tenggelam lagi mengukir mimpi.

Malam yang menggempur, dingin yang terbalur, serpihan kantuk yang berkembang biak subur, menjadi serangkai yang berulangkali menyedotku pada kelalaian. Baru pagi itu aku menyentuh lembaran daun-daun, merasakan embun. Tapi tiba gelap, dan aku sudah terbenam dalam selimutku aku lupa pada Si Pengirim embun. Si Pencipta daun-daun. Semua karena selimut! Didalamnya aku terlanjur dibuai dengan sangat patut.

Bergulirnya hari kian menipuku dengan kenikmatan selembar selimut. Warnanya yang merah darah membelitku hingga lupa arah. Meski suara ibu selalu melengking, namun hanya sampai di daun pintu. Tercegat. Tak pernah kuhiraukan…

Telah hilang rasa malu meski tengah diawasi, tak mengingat meski dianugerahi nikmat, apalagi berhitung ungkapan syukur yang pernah terucap. Terus saja aku tenggelam tanpa rasa hormat dan pengagungan pada-NYA. Haruskah sampai nafasku enggan hadir kembali…?

Lalu tak ada suara, hingga Sheila terbangun….

“Kakak,” Endita menangis sesenggukan memegangi tangan Sheila.

“Sheil,” Riana dengan mata sembab terus memandangi Sheila nyaris tak berkedip.

“Sayang….,” seorang laki-laki membelai rambutnya.

Sheila merasa tidak senang dipegang oleh lelaki yang tida dikenalnya.

“Si si apa?”

“Kakak nggak kenal dia? kakak menggumamkan nama dia terus waktu nggak sadar. Ini Mas Tyo,”

Sheila menggeleng lemah.

“tapi kakak kenal aku kan, kenal kak riana juga?”

Sheila mengangguk.

“Jangan-jangan Sheila amnesia, separuh ingatannya hilang,” Riana memekik.

 

 

 

 

 

 

Tentang BEranda JIwa (26)

Berannda #30

“Hai ma, ingatkah waktu itu aku berkata? Kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna ha…ha…ha.. Wah aku memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini,” sepenggal puisi milik rendra berjudul Hai Ma meluncur penuh makna dari mulut seorang laki-laki di pentas.

Disaat kebanyakan resepsi pernikahan disuguhi musik modern, namun khusus pernikahan Sheila dan Nando, justru kalimat puitis dan drama teaterlah yang digelar.

Diiringi  hujan yang tak lagi gerimis tapi kian gemuruh deras mengguyur halaman rumah Sheila. Aktor teater CIPTA, sedang asyik masyuk ber-rendra ria.  Suasana semakin magis, saat sekeliling nyaris gelap gulita, hanya beberapa pendar lilin yang terpancar dari beberapa meja tamu.

Setiap pentas seni  memang identik dengan suasana remang, tapi ini sungguh tidak disengaja. Karena tiba-tiba saja listrik padam. Memang disediakan mesin genset. Tapi Sheila dan Nando membiarkannya. Mereka bertahan dalam remang yang romantis.
Malam itu, Nando mungkin menjadi orang yang paling berbahagia. Cita-citanya untuk mengenalkan seni dan sastra yang kian jauh dari kehidupan masyarakat nampaknya akan segera terwujud.  Nando ingin, Kampung Kandipolo, Desa Brebah, Kabupaten Sleman, tempat kelahiran Nandoan jadi desa budaya, lebih menghargai  seniman jalanan.
Persembahan demi persembahan terus  datang dari teman-teman Nando yang kebanyakan seniman. Karena listrik tak kunjung menyala, panitia  menggelar pentas dengan bantuan dua petromax besar di sekeliling panggung mini yang mereka buat.

Nando yang penikmat puisi namun mengaku tidak bisa membaca puisi dengan baik, tampak senang saat satu-satu rekannya dari ITB bertubi-tubi memberinya hadiah puisi ciptaan mereka sendiri yang bertemakan cinta dan sosial.

Ada pula yang membacakan puisi milik Darmanto Jasman berjudul Istri untuknya. Isi dari puisi tersebut bertujuan untuk mengingatkan pada pasangan pengantin, bahwa istri adalah segala-galanya. “Dia adalah sigaraning nyawa,”  alias separuh nyawa.
Tak cuma dimanjakan dengan hampir 40 buah puisi dari bermacam-macam komunitas sastra dan seni, tiba giliran Nando maju ke pentas untuk berteater. Bersama dua orang rekannya, Nando yang sudah mencopot pakaian pengantinnya menyajikan teater bertema kehidupan dengan membawakan lagu macapat dari mijil hingga pucung. Mijil menceritakan tentang awal mula manusia tercipta, sedangkan pucung menceritakan saat manusia mati dan dibungkus kain kafan menjadi pocong.
Yang tak disangka-sangka, antusiasme masyarakat setempat, ternyata sangat tinggi. mereka saling berdesakan untuk menonton aksi treatikal dan puisi di rumah Nando. Mereka juga tak pelit-pelit memberikan tepuk tangan sebagai penghargaan.

“Piye, apik ora?” Nando menghampiri istri tercintanya.

“Ya, nuansanya beda aja. Aku suka,”

“Abis ini selesai, kita langsung ke kamar aja ya hehe,” Nando mengedipkan sebelah matanya.

“Ya ke kamar lah, masa tidur di teras,”

“Bukan tidur, kalau tidur ya tidak terjadi apa-apa. Justru kalau sama-sama melek, baru bisa terjadi apa-apa, yo yo yo,” Nando semakin genit. Senyumnya makin manis. Sheila merasa antara tergoda dan geli.

“Pasti setiap laki-laki, akan mengatakan ini, walaupun hanya di dalam hati. Ya semoga, kamu tidak menyesal memilih aku. Dan, rumah tangga kita, bisa awet sampai maut memisahkan,” Nando memgang jemari Sheila.

“Amin..,”

“Wah udah pengen banget ya Kak?” Endita tiba-tiba datang membawa baki kosong

“Opo to dit? Kok bawa-bawa baki kosong,” Nando heran dengan tingkah adik iparnya.

“Mau ngumpulin makanan, laper,” kata Endita sembari mencomot beberapa roti, lemper, dan kue ku.

“Biarin mas, namanya juga ibu hamil,”

“Wah, kamu kalau hamil, makannya mungkin bisa banyak ya. Yo wes, ayo ndang aku hamili,” Nando semakin gatel. Sheila mencium pipi Nando saking gemasnya.

Inilah gerbang yang dirindukan Sheila selama ini. Penopang sejatinya telah datang. Lelaki yang mencintainya, hadir dalam kerapuhan maupun ketegaran. Bersama-sama menghidupkan waktu, bukan menghabiskan waktu. Sheila bahkan sampai lupa tidak memberi kabar maupun surat undangan pada Tyo maupun Ratri. Mungkin tepatnya bukan lupa, tapi sengaja melupakan.

***

Kamar pengantin berbau melati. Aromanya yang mistis membuat Sheila dan Nando sangat bergairah. Sheila memakai lingerie tipis berbahan semi sutra berwarna merah muda. Aroma melati berbaur dengan parfum Paris Hilton heiress women yang tertinggal di tubuh Sheila, menggoda syaraf-syaraf  di tubuh Nando semakin kuat bekerja.

“Sheila, kamu cantik,” Nando mendekati wajah Sheila. Nafasnya mulai tak beraturan.

Sheila tersenyum. Dia membuka tali pengikat rambutnya yang di ekor kuda sehingga tergerai. Rambut Sheila yang telah diuapi rempah-rempah wangi, jatuh ke bahunya yang mulus. Nando menyibakkannya. Lalu mengelusnya, perlahan, helai demi helai, dan menciuminya.

Jemari Sheila merangsek naik ke baju tidur Nando. Dia membuka kancingnya satu persatu dan melempar baju itu ke pinggir tempat tidur. Jemari lentiknya menelusuri dada Nando yang mulus tanpa bulu. Nando menggelinjang. Tangannya juga bergerak melucuti lingerie Sheila.

“Kita mau ngapain?” Sheila tertawa, mengganggu hasrat birahi yang sudah terbangun.

“Sayang, jahil amat sih! Ya kita mau bikin anak dong,”

“Oh ya ya. Aku pikir mau main timpuk bantal,”

Nando yang merasa dikerjai Sheila. Menarik kepala Sheila makin dekat ke wajahnya. Dikecupnya lembut bibir bawah Sheila yang merah alami. Kecupan itu berbalas lebih garang. Sheila melumat bibir Nando. Mengulum lidah suaminya dengan nafas memburu.

Nando semakin terpancing. Nando memainkan bibir Sheila dengan gerakan dinamis. Atas bawah. Hingga akhirnya, mereka bergumul di bawah selimut. Sementara di luar jendela kamar pengantin, langit dilukis bebintang.

***

Pagi menggeliat.  Mengantarkan hawa dingin yang menusuk. Sleman tampaknya sedang setia berkabut. Sheila masih berada di atas pelukan Nando. Meski sudah sama-sama terbangun, Sheila enggan beranjak dari kehangatan yang diciptakan suaminya. Saat mata mereka bertemu, Nando dan Sheila sama-sama tersenyum.

“Ada yang perlu didiskusikan ndak?” Nando menyentil hidung Sheila.

“Apaan?”

“Ya, hubungan suami istri itu harus saling memuaskan. Kalau salah satunya ndak puas, yo kasihan to. Kita ndak boleh egois,”

“Semalam…enak banget!” Sheila nyaris memekik.

“Hehehe…Bener, kamu ndak bohong? Bukan orgasme palsu kan?”

“Nggak, kalau aku nggak puas, aku pasti terus terang,”

“Kalau aku, semalam kurang puas je,”

Sheila kaget. Dia bangun dari tengkurapnya dan duduk di sebelah Nando. Sheila mendadak merasa sedih, tak bisa melayani suaminya dengan baik.

“Maaf..tapi kenapa?”

Nando ikut duduk. Tangannya menyentuh dagu Sheila.

“Siapa to yang bisa puas, kalau rasanya seenak itu. Pengennya nambah lagi,” Nando mengedipkan dua matanya bergantian. Sheila memukul lengan Nando karena sebal.

“Buk,”

“Kamu manggil aku apa?”

“Ibu  tapi karena aku medok ya jadinya ibuk,”

“Berasa tua nih, nggak ada panggilan lain?”

“Ra po po, kita kan memang sudah tua. 1o tahun lagi,umurku 40 tahun. 10 tahun itu cepet lho buk, itu juga kalau nyampe 10 tahun,”

“Jangan ngomong begitu ah,”

“Buk, aku mencintaimu,”

“Iya, trus aku manggil apa?”

“Ayah saja,”

“Ayah, aku juga mencintaimu,”

“Buk, lagi yuk,”

“Ayah nggak capek,”

“Wah ngece. Gara-gara aku tiap hari makan ikan, tubuhku jadi kuat dan sehat,” Nando mengangkat kedua tangannya. Bertingkah seperti binaragawan.

“Mau pakai gaya apa?” Sheila bertanya.

“Monyet melempar buah, opo opo wes dadi!”

“Itu kan jurusnya wiro sableng, ayah,”

Nando tidak menyahut. Tangannya bergerak menyusuri rambut Sheila.

“Aku belum sikat gigi, Yah,”

“Sama..biarlah sama-sama bau pete, yang penting cinta,”

Bibir mereka kembali bertaut. Sheila mengusap-usap punggung Nando yang hangat. Nando membalas menelusuri leher Sheila hingga ke dadanya. Di kamar itu, kembali lahir berbagai desahan, lenguhan yang tak ada habisnya.

1107

Tentang Beranda Jiwa (25)

Beranda #29

Menjalani hubungan dengan Nando, sangat santai. Tidak terlalu banyak yang Sheila pikirkan. Nando memang siap menikah, secara finansial dan mental dia sudah memenuhi. Seperti yang pernah dikatakan Tyo, ketika kesempatan mencintai itu datang, hanya kita yang bisa memutuskan akan terus bersamanya atau tidak, sebagai pilihan. Bagi Sheila, Nando sudah menjadi anugerah terbaik, yang dikirmkan Tuhan untuknya saat ini.

“Sebelum kita nikah, permintaanku ndak macem-macem kok, kamu gemukin badan sedikit lagi ya, biar bajunya ndak kaya orang-orangan sawah nanti,”

Nando sangat sadar, kalau tubuh calon istrinya kurang ideal. Terlalu kurus. Sheila sudah bilang berkali-kali, kurusnya adalah bakat. Itu sudah genetik. Jadi mau makan sebanyak apaapun, makanan seolah-olah tidak terserap menjadi daging.

“Sekarang, ayo kita puterin Jakarta. Wisata kuliner tiap hari, paling ndak naik 5 kilo ya,”

“Jangan berlebihan, nanti kalau makanananya nggak sehat trus aku sakit. Malah repot,”

“Wes to, manut ae. Jangan pipinya aja yang digemukin,” Nando mencubit pipi Sheila yang tembem.

***

Petualangan Kuliner Pertama.

Sheila dan Nando mencoba menu laksa betawi yang sudah dimodifikasi sana-sini resepnya. Jika kebanyakan laksa menggunakan daging sapi atau kikil, laksa yang satu ini mengunakan suwiran ayam. Laksa sendiri sebenarnya merupakan kuliner peranakan antara China, Malaysia dan sedikit Indonesia. Kuahnya yang gurih dari santan kental semakin segar dengan cipratan jeruk nipis.

Laksa lebih sedap disantap saat siang hari. Menu makan siang yang satu ini dijamin membawa kesegaran saat cuaca panas menyerang. Sheila dan Nando seperti sudah tak sabar untuk mencicipi laksa lezat siang ini,

“hemm kuahnya kental gurih. Santannya pasti kuenthell iki. Suwiran ayam, bihun, dan tauge, cocok juga ya dimakan sama santan,”kata Nando sambil melahap laksa di mangkuknya.

Sheila membubuhi sambal laksa ke mangkok Nando. Karena Sheila tahu sambal bakal menjadi penyedap yang luar biasa. Sebab, kesegaran laksa selain pada perasan jeruk nipis, juga ada disambalnya. Sambal laksa bisanya berwarna merah menyala dari rebusan cabai merah. Namun, karena direbus, rasa pedasnya agak tipis. Sehingga jika ingin mendapat sensasi pedas yang lebih, sebaiknya sambal ditambahkan dalam jumlah yang banyak. Baru,
segarnya terasa.
“Tambahkan emping sebagai teman laksa. Rasa emping yang berpadu dengan kuah laksa. Sangat pas di lidah, ehm maknyusss,” kata Tyo menirukan gaya pembawa acara kuliner di TV.

Petualangan Kuliner Kedua

Mencicipi kentalnya Espresso hingga indahnya Capuccino Latte Art. Jauh berbeda dengan Sheila, Nando adalah pecinta kopi. Berteduh sambil meneguk secangkir kecil Espresso ditemani musik jazz sambil memandang guyuran air hujan dibalik jendela, kata Nando, merupakan suasana yang hangat dan nikmat.

Saat nongkrong di salah satu profesional coffee shop yang  menyediakan espresso dan sweet blend drink  dengan kualitas  terbaik dan harga yang terjangkau, Nando  menernagkan soal kopi pada Sheila

“Walaupun kamu ndak suka kopi. Besok kalau sudah jadi istriku. Harus bisa bikin kopi, ” pinta Nando.

“Kan bisa bikin sendiri,”

“Ya dibuatkan istri tercinta pasti rasanya lebih dahsyat to,”

“Ya deh nanti dari metik biji kopi, sampe nggiling jadi bubuk, aku kerjain semua,” canda Sheila

“Aku mau ngomong serius ini. Kalau sampai pada kopi. Aku bisa serius lho, jangan macem-macem,” Nando menampakkan mimik serius, padahal wajahnya tetap lucu.

“Jadi kopi itu ada gradenya, ada yang kualitas satu ada juga yang kualitas dua. Keduanya beda rasa, penyajian dan teknik pembuatan, jadi nggak asal. Kalau espresso itu, rasnaya pahit dan hambar. Bagi pecinta kopi, meski pahit, Espresso lah yang paling nikmat. Tapi kalau yang tidak terbiasa bisa memilih kopi jenis lain yang rasanya lebih mudah diterima lidah,”

Sheila mengangguk-angguk

“Kalau mau meneguk kopi sekaligus menikmati seni, konsumen bisa memilih capuccino latte art. Kopi jenis ini dibuat cantik dengan tekni menghias pemukaan kopi. Bentuknya macam-macam ada yang seperti pohon cemara, rangkaian kerucut, gambar hati, bentuk boneka dan masih banyak lagi,”

Nando lalu mengajak Sheila ke bagian peracikan kopi di cafe itu. Di sana, Sheila melihat koki sedang memgenag blender khusus untuk menciptakan kopi sesuai selera konsumen. Bentuk dapur yang mirip open bar, membuat penonton bisa melihat kopi yang disajikan. Jadi  murni kopi bukan sachetan. Konsumen juga bisa melihat jaminan higienitasnya.

“Nando, aku laper. Tapi aku nggak mau minum kopi,”

“Kaper yo makanto nduk-nduk, modok minum kopi. Aku pesenin singkong goreng tabur keju ya,”

“Nggak mau, nggak nendang di perut,”

“Macaroni schootel kalao gitu. Aku tambahin spicy chicken, singkong goreng, mendoan, otak-otak, nugget, sosis, sama nasi goreng. Biar cepet gemuk,”

“Gila, mana muat,”

“Ya kan ada aku. Nanti, kamu kan bakal jadi ibu. Ibu itu jadi tempat sampahnya anak-anak kalau makan mereka ndak habis. Sekarang aku yang jadi ibumu, kalo ndak habis, wes biar aku yang makan,”


Petualangan Kuliner Ketiga.

Masakan Jepang. Ternyata Sheila dna Nando punya kecintaan yang sama pada beberapa jenis masakan jepang.  Salah satunya Takoyaki.

Sheila memeolototi lima bola-bola kecil berwarna kecoklatan berdiameter 3-5 cm yang dibuat dari adonan tepung terigu berisi potongan gurita, tersaji dengan toping Katsuobushi. Katsuobushi adalah makanan awetan berbahan baku ikan cakalang (katsuo).  diserut menjadi seperti serutan kayu. Taburan keju yang tertimbun dibawah Katsuoboshi menempel pada saus spesial takoyaki dan kecap Jepang yang menggoda mata.

Masih banyak menu japanese food di outlet ini yang bikin penasaran. Tapi Sheila lebih tertarik pada takoyaki yang cantik.
“Pantes bentuknya bisa bulet begini. Takoyaki dimasak di atas wajan khusus dengan bulatan-bulatan cekung yang berfungsi sebagai loyang sewaktu menggoreng takoyaki,” gumam Sheila.

Meski berupa cemilan, tapi makanan ini cukup mengenyangkan. Pilihan isinya pun bisa macam-macam yaitu gurita, udang, ayam, kepiting, sosis dan bakso. Topingnya bisa berupa keju dan cakalang.

Selain Takoyaki, menu ditempat ini yang kata Nando banyak difavoritakan pengunjung adalah Onigiri. Onigiri berupa nasi yang dipadatkan sewaktu masih hangat sehingga berbentuk segi tiga. Di tengah-tengah nasi terdapat olahan daging ayam atau sapi dan di atasnya dihias dengan lembaran rumput laut yang dikeringkan (nori).
“Nasinya melekat satu dengan yang lain sehingga mudah dibentuk dan cukup mengenyangkan juga. Hemm..nikmat, aplagi dimakan pake tangan,” setelah memasukan satu buah onigiri ke dalam mulutnya, Nando mengelapkan tangannya ke rambut sheila. Konyol.
Nando lagi-lagi seperti kalap memesan banyak menu. Teriyaki, beef teriyaki, onion rings, dan nasi goreng ala thai. Karena Shiela tak mampu menghabiskan, akhirnya makanan itu dibungkus untuk oleh-oleh Endita.

Petualangan Kuliner Keempat.

Iga kambing bakar.  Aroma wangi dan nikmatnya iga kambing bakar ternyata sangat menggoda selera kuliner. Paduan aroma rempah yang khas kemudian dibakar diatas perapian dari arang menjadikan rempah semakin meresap hingga ke dalam.
“Iga bakar dimana-mana pakai sapi. Tapi ini beda.  Ukurannya super besar lagi,” Nando mengunyah sembari ngobrol.

‘Tampilannya menggiurkan rasanya juga enak banget. Mau dong, ke sini lagi, kapan-kapan,” Sheila juga ikut menikmati.
Sayuran rebus yang masih fresh yakni buncis, wortel dan jagung muda yang ada di sekeliling  iga kambing bakar yang sudah mengalami proses perebusan lebih dulu dan di lumuri saus kental berwarna cokelat muda. Di sampingnya ada sambal kecap yang menggugah selera pedas. Taburan bawang goreng di permukaan iga semakin menerbitkan air liur untuk segera mencicipnya.
“Mencampur saus yang meleleh di atas iga dengan sambal kecap akan terjadi perpaduan unik di lidah,” Nando kembali berperan bak presenter acara kuliner. Sheila teratwa terbahak-bahak melihat tingkahny ayang memang mirip betul dengan para presenter itu.
“Begitu garpu dan sendok menyentuh iga, wow ternyata begitu empuk. Proses pematangan yang sempurna. Ketika sampai di mulut, tektur dagingnya terasa lembut,” Sheila menirukan gaya Nando.

“Wah kamu jauh lebih bagus, dan lebih cantik,” Nando memuji Sheila.

“Ya iyalah, kalau kamu cantik, aku nggak mau sama kamu haha,”

Petualagan kuliner demi kuliner terus berlanjut. Tapi, Sheila tak kunjung terlihat naik bobot badannya. Setelah ditimbang, naiknya hanya dua kilo. Nando akhirnya pasrah.

1209

Tentang Beranda Jiwa (24)

Beranda #28

Pertemuan komunitas penulis lepas dalam acara workshop Menulis itu Sehat, ternyata membawa dampak jangka panjang untuk Sheila. Ia yang sejak kecil tidak pernah mempunyai tokoh idola, akhirnya menjadi pembaca setia tulisan-tulisan Nando Leksono.

Setelah bertemu langsung, dengan pria yang memang bernama lahir Nando Leksono. Sheila punya pandangan lain tentang lelaki itu. Selain pandai menulis, dia pebisnis muda yang sukses dari budidaya ikan air tawar. Menurut Sheila jauh sekali  gelar sarjana teknik industrinya dengan ternak ikan air tawar. Tapi bagi Nando, dia beruntung karena pekerjaannya tak jauh-jauh dari jurusannya di Manajemen Industri yang di dalamnya mempelajari manajemen keuangan, manajemen kualitas, manajemen inovasi,  manajemen sumber daya manusia, manajemen pemasaran, manajemen keputusan, dan ekonomi teknik.

“Dulu yo aku malu, kalo ditanya teman-teman. Kerjo opo kowe? Ah cuma mbibiti ikan. Lha wong sarjana teknik industri kok di empang? Cuma tak pikir-pikir ya, hidup itu kan hidup kita, kalau kita seneng ya kita sendiri yang merasakannya, kalau susah ya kita sendiri yang susah. Pokok’e orang lain cuma bisa ngomong, kalau kita kelaparan apa mereka mau nyumbang beras. Ndak To?”

Nando kalau berbicara selalu bersemangat. Dia memang memancarkan energi positif. Membuat orang di sekelilingnya ikut bersemangat. Dialek medok Khas Yogya juga tidak bisa dihilangkan. Sheila, lagi-lagi harus dipertemukan dengan orang yang ada kaitannya dengan kota itu. Tapi Sheila sekarang sudah tidak mau menengok ke belakang lagi.

Sebagai warga baik Kabupaten Sleman, Nando mengakunya seperti itu. Ia mengembangkan bisnis yang dirintis kakeknya untuk memneuhi kebutuhan ikan air tawar di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Bahkan beberapa sudah didistribusikan ke Jakarta. Sleman yang memiliki gunung merapi ini memang salah satu sentranya budidaya air tawar di provinsi Yogyakarta. Kata Nando, 37 persen total perikanan budidaya provinsi ini berasal dari Kabupaten Sleman.

Usaha budidaya kolam merupakan favorit para pembudidaya di Kabupaten Sleman. Ikan yang dibudidayakan antara lain ikan mas, nila, lele, gurame, tawes dan bawal. Selain kolam,  ada juga yang melakukan usaha budidaya menggunakan teknik budidaya karamba dan budidaya sawah/minapadi.

“Trus kok malunya bisa hilang diobati apa Nan?”

“Woo panjang ceritane. Ada kejadian yang membuatku, tersadar kalau rejeki itu nggak bakal ketuker. Tenan iku. Wes malah mau tak bikin buku, rahasia sukses Nando Leksono membudidayakan ikan air tawar. Konsepnya mau tak bikin nggak terlalu serius, kaya cerita humor aja, tapi isinya soal budidaya ikan, terserah nanti penerbit mau menempatkannya di rak buku ilmu pengetahuan alam, budidaya ikan, apa kumpulan cerita humor hahaha.. Nanti beli ya bukunya.haha,” Nando tertawa ngakak. Untung Workshop sudah berakhir. Jadi rasa penasaran Sheila bisa terpuaskan karena hanya mengobrol berdua dengan Nando.

“Ya udah ceritain, kenapa kamu bisa bangkit dari rasa malu,”

“Aku bisa menghilangkan rasa malu jualan ikan, justru karena masih punya rasa malu,”

“Maksudnya,”

“Aku malu sama Gusti Alloh,”

“Oh begitu…,”

“Malu itu……..muka bersemu merah, dada berdeup kencang, mata fokus ke bawah, dagu turun. Pernah mengalaminya ndak? Pasti pernah. Malu pada manusia, mungkin hampir setiap hari. Tapi malu pada Tuhan kita? seberapa sering?” Nando bertanya, seolah pada dirinya sendiri.

“Suatu hari, di semester akhir kuliah, waktu aku mulai dipaksa bapak untuk ngurusi kolam ikan kami yang kecil, aku mmapir ke warnet untukbrowsing soal budidaya ikan nila. Di warnet itu ternyata juga jualan mainan anak-anak dan alat tulis menulis jug aperalatan kantor. aku melihat ada etalase sederhana di warnet itu. Di dalamnya alat peraga dari kayu buat anak-anak SD atau TK begitu,” nando mengawali kisahnya.

“Etalasenya berdebu, jorok. Pokok’e tak jamin ndak diminati, ndak bakal  laku. Wong tampangnya sudah jelek begitu. Mbatinku, alat peraga dari kayu cuma tiga buah. Banyak debunya lagi. Pasti stok lama yang nggak pernah dilirik orang. Ya mana ada yang mau beli, orang gambarnya juga ndak menarik. Ngopo yo, njual barang yang ndak bermutu begitu? Tapi, pada detik itu juga, mataku terbelalak, dua wanita berjilbab, yang kalau dari cara berpakaiannya itu, kayannya sih  seorang guru tiba-tiba menunjuk benda yang kuhina tadi dan langsung membeli dua diantaranya tanpa berdiskusi panjang-panjang, tanpa perdebatan,tanpa nawar,” mimik Nando berubah serius.

“Wuaduh..Apa yang terjadi dengan perasaanku? Aku terhenyak, aku yang sering menjauh dari-Nya tiba-tiba merasa disapa dengan begitu dekat. Tuhan sedang menjawab kalimat yang kubatin, saat itu juga tanpa jeda!!! its miracle. Terlalu sederhana kalau aku bilang, tuh kan rejeki itu ndakbakalan ketuker. Ini lebih dari itu. Aku sampai ndak mampu mikir. Hanya kembali membatin, aku baru saja berdialog dengan penciptaku tanpa formalitas, maksudku doa dn shalat. shalat). Tapi saat kondisi begitu santai. Kalau peristiwa ini disebut hiperbola atau aku terlampau melankolis, kupikir tidak begitu. Aku jarang bisa tertampar begini dalam. Meski malu, aku menikmatinya. Sungguh! Dialog singkat itu membuatku malu sampai menggigil dan nyaris menangis sepanjang jalan menuju kost,” Nando menutup kisahnya.

“Wah ikut merinding Nan,”

“Apik to kisahku? Pokoknya nanti beli bukunya ya haha,” Nando terus membanyol.

***

Tiap pagi, sesudah meminum kopi dan menghabiskan beberapa batang rokok kesukaannya, Nando beranjak menuju ke kolam ikannya untuk menaburkan pakan ikan. Nando mengatakan, ada keasyikan yang tak ternilai ketika menaburkan makanan ikan tersebut. Perasaan itu, bahkan tak bisa dibayar dengan apapun. Ketika Nando menaburkan makanan ikan, di situ ikan langsung menggerumut, meloncat-loncat. Itulah komunikasi Nando dengan ikan piaraannya.

Hingga saat ini, Nando memiliki 10 kolam ikan. Itupun belum termasuk petakan kolam yang kecil-kecil. Kolamnya memang jauh dari akses jalan raya karena berada di daerah perbukitan. Namun jangan salah, bisnis Nando sangat berkembang. Nando sehari-harinya dibantu 10 karyawan untuk mengurusi kolam ikan itu. Hebatnya, Nando tidak pernah belajar budidaya ikan dari buku. Ia murni belajar secara otodidak dari kakeknya.

Nando mengaku, bisnis ikan air tawar miliknya sudah berjalan sejak 20 tahun lalu.  Awalny amilik sang kakek. Tapi usahanya smepat macet karena sering gagal panen dan kurang modal. Nando sendiri  memliki dua macam budidaya ikan, satu untuk pembibitan dan satu lagi untuk konsumsi. Jenis ikan yang dipiara Nando beragam macamnya, yakni ikan nila, ikan tawes, ikan gurameh, ikan emas, ikan koi, ikan lele, dan ikan patin.

Kata Nando, kalau untuk pembibitan tidak terbatas jumlahnya, karena sekali menetaskan saja sampai puluhan ribu yang menetas dan jadi ikan. Idealnya bibit ikan yang siap dijual adalah yang sebesar atau selebar bungkus korek api. Namun kalau pemintaan lagi tinggi dan barang lagi sulit belum sebesar bungkus korek api sudah diambil atau dipesan.

Pembudidaya ikan air tawar yang lain justru banyak yang mengambil bibit maupun ikan siap konsumsi dari kolam ikan Nando. Biasanya, itu terjadi karena mereka kehabisan stok atau mengalami gagal panen 

 Soal keuntungan, diakui Nando memang tidak pasti nominalnya. Tapi, tanpa malu ia menyebutkan,  sering mendapatkan keuntungan Rp 50 juta per bulan. Dengan keuntungan tersebut, ia mampu membeli mobil dan armada untuk mengantarkan pesanan.
Sukses tak membuat Nando pelit berbagi rahasia keberhasilan bisnis yang dibangunnya dari nol tersebut. Menurutnya, biaya produksi ikan air tawar cukup rendah. Karena air sebagai kebutuhan utama ternak ikan mengalir secara non stop tanpa harus memperhitungkan biaya pembayaran listrik.

Air yang Nando gunakan budidaya ikan adalah air dari gunung yang dialirkan dengan menggunakan peralon. Ia pernah mendapat bantuan dari luar negeri MSC Kanada sehingga bisa membuat aliran air dengan sistim grafitasi.

Yang membuat Nando senang, bukan dia saja yang bisa menikmati air itu. Tapi seluruh warga dapat menikmati untuk persediaan air bersih  juga untuk mengaliri persawahan.

“Wah tulisanmu apik yo Sheil, koyo wartawan. Ini beneran buat aku Sheil,”

“Lho katanya, kamu pengen kisahmu ditulis, tuh aku bantuin,”

“Yo yo maturnuwun. Kok iso yo, ceritaku yang mbulet-mublet gitu, jadi tulisan seperti ini,”

“Kamu itu terlalu merendah. Tulisan kamu juga bagus kok,”

“Ya tapi kalau yang begini, aku ndak bisa. Menceritakan diriku sendiri paling nggak bisa aku,”

“Trus bagaimana bisa menulis buku rahasia kesuksesan Nando,” Sheila menertawai Nando.

“Wes, gini aja. Aku yang cerita, kamu yang nulis. Soalnya kalau aku yang nulis, persoalan yang agak serius, isinya malah guyon tok,”

“Lho katanya mau dibikin semi humor,”

“Wah, ndak jadi, mending kamu aja yang nulis. Kita kerjasama aja ya. Yah siapa tahu, dibalik proyek ada prospek, ”

“Apa nih maksudnya,”

“Ya kamu single, aku single, kan bisa jadi double to?”

“Kamu suka sama aku? Terus terang aja,” Sheila menskak match Nando dengan santai.

“Yo kalau kamu mau to,”

Pertemuan itu adalah pertemuan ketiga mereka, sebelum Nando pulang ke Sleman. Sheila, 29 tahun. Nando, 30 tahun. Keduanya, sepakat bekerjasama menulis buku kisah sukses Nando. Dan, cinta menggebu-gebu menjadi tidak penting lagi, kecocokan membuat Sheila akhirnya menerima pinangan Nando. Secepat itu? Ya..Sheila tidak mau terlalu banyak membuang waktu untuk cinta tak berujung lagi.

1362

Tentang Beranda Jiwa (23)

Beranda #27

rekaan atau nyata?

nama itu membekas bertahun-tahun

berselumur dari putih, bercak tak karuan, hingga putih lagi

aku mendekapnya dalam maya

bila kupanggil tak kudapatkan gaungnya

bila kujamah tak kudapatkan bentuknya

seperti membentur ketiadaan

namun mewujud di hati

siapa yang sedang kubicarakan ini?

yang dalam serpihan debupun tak terangkut lagi

dia telah mengkerut, mengecil, dan nyaris tiada

tapi aku masih mengejarnya

aku merindukannya

meski rekaan atau nyata……..??????

Sheila tidak pernah jauh dari laptopnya sekarang. Ia mengikuti saran ratih, psikolog yang pernah dikenalnya sebagai motivator, untuk terus menulis segala perasaan yang berkecamuk di hatinya sebagai terapi. Sheila tidak mengurung diri di kamar, dia tetap menjalani sebanyak mungkin aktivitas setelah kembali ke Jakarta. Tapi jika tiba saatnya bercinta dengan laptop, Sheila terus menggerakkan jemarinya. Sampai rasa yang dianggapnya mengganjal keluar.

Sheila bahkan secara khusus mulai mengikuti kelas menulis online yang di adakan komunitas penulis lepas. Tulisan yang bagus, biasanya dipajang di blog admin. Peserta bebas mengkomentari tulisan tersebut.  Tak jarang, tulisan itu juga dibahas ditwitter dan facebook peserta. Sheila menambah pundi-pundi pertemanan di dunia maya sekarang.

Sheila masih memelototi laptop yang cahayanya berpendar. Matanya mulai sakit karena menatap cahaya itu terlalu lama. Matanya sudah sangat kering akibat iritasi. Tapi tangannya terus bergerak meneliti sebuah tulisan yang jadi headline hari itu. Sebuah tulisan berjudul Lunar dan Bagas. Kisahnya hampir mirip dengan kisah Sheila dan Tyo yang saling mencintai namun akhirnya berpisah. Penulisnya bernama Nando Laksono. Entah nama pena atau asli.

Lunar dan Bagas

Di sebuah tepian sungai yang didalam arusnya ada pusaran tipis bekas lompatan katak, lunar berkaca. bayangan cantiknya bergoyang dan tercabik dahan mungil yang tiba-tiba saja menghujam air. bersamaan dengan itu, paru-parunya seperti terisi pasir, seperti mencoba mengambil oksigen namun dihadang oleh isi lautan.

yah, lunar di tempa jejarum sakit karena bagas.kehidupan lunar tidak ditangan bagas,tapi kebahagiaan lunar serasa hanya bagas yang bisa memberikannya.pandangan sempit itu ternyata memporakprandakan lunar sendiri. gadis berperangai sedikit galak itu merasa bagas terperangkap dalam tujuh buah surat yang dikirim ke pangkuan lunar saat keduanya masih menganggur. hingga jarak ratusan kilometer seperti langkah kaki pendek seorang kurcaci. bagas nyata-nyata mengangkat sumpah yang diamini lunar bahwa bagas akan selalu ada untuk lunar, bagas ingin kelak lunar ada dipenglihatannya yang terakhir saat menutup mata.bagas dengan gelimang kasih sayang menyuapi lunar dengan kisah-kisah misterius yang bahkan tak semua orang bisa merabanya.tapi lunar dipersilahkan menggenggam dunia bagas dengan mudah oleh siempunya sendiri, hampir tidak ada detail yang menelikung di belakang lunar. siapa bagas, ibarat ketukan detak jantungnyapun lunar bisa membauinya. tapi kertas-kertas itu terasa hambar kini.kalimat bagas ternyata hanya celotehan biasa saat waktunya begitu senggang sehingga hanya lunar yang tertangkap dikesepiannya. saat itu arah pandang mata dan telinganya masih dipenuhi lunar karena hanya lunar yang bersedia mendengarkan ratapannya sebagai anak, kakak, adik, sahabat yang tersisih.

syahdan, setelah bagas bekerja, dunia lunar menjadi lain.disaat lunar masih terjebak dengan keterampilan bagas mengolah kata dan gambar dalam surat-suratnya yang telah lapuk, lunar tidak menyadari bahwa bagas sudah keluar, menyelinap lewat setapak yang tak kasat mata. lunar terus ternina bobo hingga pada akhirnya bagas mengejutkannya. “Hei aku sudah berada di luar lingkaranmu lunar!”

angin hanya mengibaskan sejuk ke permukaan helai rambut lunar saja, tidak ke kulit kepalanya yang terasa mendidih.lunar merasa dibohongi. meski sebenarnya kebodohan didekap lunar sendiri.lunar terlalu takut beranjak dari kesemuan yang dibentangkan bagas.karena lunar masih meyakini kedigdayaan surat bagas yang begitu sempurna untuknya.yah, mungkin bagas,sahabatnya, itu memang untuknya melebihi pamor pertemanan yang agung….meski apakah lunar menasbihkannya sebagai cinta, lunarpun tampak pongah untuk mengiyakan.

titik nadir lunar menggejala.bagas melebarkan jarak langkah kurcaci menjadi ayunan raksasa, betapa jauh tak terjangkau.lunar masih belum mengerti apa yang terbenam diotak bagas hingga melepas lunar yang “katanya” diberi gelar soulmate. sebenarnya lunar tak perlu menggugat. bagas adalah manusia nyata bukan lempengan surat absurd dengan kata-kata manis seorang pengangguran. dunianya sudah ditentukan. dan lunar tak perlu dimintai pertimbangan…

airmata lunar dikucurkan lewat jemarinya.seerat lunar mendekap wajah, sekuat itu bayangan bagas bersengketa dengan surat-suratnya.
air asin dari sudut mata lunar lebih kepada malu.pengorbanan lunar menembus malam yang pekat dingin demi menyenangkan bagas saat berkunjung ke kota lunar ternyata tipuan optik.bagas tak pernah serius hendak benar-benar meraih lunar, dia hanya bermain-main.dan yang diraihnya sekarang adalah orang di luar lunar. yang tak perlu disisipi surat-surat,yang tak perlu mengintimi masa lalu bagas yang pahit dan miris.

lewat damar yang berayun, lunar kembali memegangi wajahnya yang terpantul di air sungai.

kisah ini belum berakhir….

***

story goes…
senja sudah nyaris jatuh, tapi lunar masih asyik membentuk tangannya serupa ceruk, memunguti air. berkali-kali, yang direoknya itu jatuh kembali ke induk melewati sela-sela jemari. lunar tersadar, dia hanya mendapatkan sisa basah bukan air yang sempurna. dan begitulah hidupnya, mendapat malu tak berkesudahan sedang yang membuatnya malu tak menengok lagi.

Lunar sangat malu jika mengingat ini! ia pernah menyerahkan telapak tangannya digenggam bagas saat menyeberangi jalan raya, pernah diketuk ujung kepalanya alih-alih tanda sayang, pernah mendekatkan bahu dan pelipis dalam jepretan kamera, pernah disuapi dan menyuapkan sepotong tart, pernah melingkarkan lengannya ke pinggang bagas di stasiun kereta, pernah mengabadikan bunga plastik hadiah bagas di vas ruang tamu, pernah dan pernah menyentuh pipi bagas menghapus airmata laki-laki itu saat tertimpa sedih.

lunar ingin sekali menyalahkan zenit dan oscar, dua orang terdekatnya yang sok heroik, yang menghiperbolakan cerita-cerita isapan jempol bahwa bagas seolah-olah sudah menjelma menjadi pecinta lunar. kata zenit, bagas dan lunar merupakan labirin yang saling berdekapan.meski rumit namun saling mencintai.ucap oscar, bagas dan lunar merupakan sepasang kail dengan umpan,tak berfungsi jika berdiri sendiri.Zenit membumbui bahwa bagas sudah menghamba pada lunar sejak lama, hanya dikekang malu hingga tak ada sepatah kata mengudara dari mulutnya tentang cinta. oscar lebih-lebih, dia memaksa lunar untuk percaya bahwa bagas adalah senyawanya. Oscar mengumpulkan begitu banyak bukti. apalagi kalu bukan tujuh surat ajaib bagas, dan perhatian-perhatian bagas yang katanya selalu tertuju pada lunar. bagaimanapun lunar menepis nepis rasa yang awalnya kosong melompong, pada akhirnya lunar tetap kena gendam.ia terhipnotis dan mulai mengiyakan soal derajat rasa yang mungkin harus diubah.sahabat menjadi kekasih.

zenit dan oscar mana mau bertanggungjawab, jika kisah lunar terbakar oleh angan.toh lebih nyala angan dibanding fana.dalam angan menggebu-gebu dalam fana dingin dan gelap. bagas tidak bermain dalam lakon yang diceritakan zenit dan oscar. saat lunar berlari menyongsong bagas, pria itu tiba-tiba melangkah mundur. pola lakunya berubah,tak ada kegiatan saling menopang lagi.bulan demi bulan, bagas yang biasanya tak tahan bertukar sapa dalam hitungan hari menghilang. lunar seperti dihempas, ia tahu diri untuk segera melepas ketertarikannya terhadap bagas yang muncul tiba-tiba.menggantinya dengan rasa yang sederhana lagi seperti dulu.tapi lunar terlanjut terjebak,dan tak ada jalan pulang.ia sudah terbuai dengan rasa yang baru saja diciptakannya dan ia masih menyimpan harap sesuai wejangan dua cecunguk terdekatnya itu. hingga ….

bagas datang dalam tenang yang dihimpun.tanpa rasa bersalah, ia memukulkan gada besar dikepala lunar.bagas telah berlabuh.pada mahluk semacam lunar tapi bukan lunar.oh, tentu melegakan karena ia tidak tertambat pada oscar yang laki-laki.tapi…lunar tak urung kecewa.lunar pikir, ia masih bisa menyematkan rasa yang baru digubahnya itu pada bagas.ternyata terlambat.bagas sudah punya morfem lain untuk menopangnya.telinga lunar mendengar sendiri suara bagas yang begitu bahagia memperkenalkan separuh jiwanya pada lunar.mungkin karena dimabuk cinta, bagas mendadak pikun dan merasa telah bertahun-tahun yang lalu membicarakan tentang kecenderungan hatinya pada wanita itu dengan lunar.padahal ini kali pertama lunar mendengarnya.bagas bahkan terlalu amnesia untuk berpikir bahwa ia sudah meninggalkan lunar terlalu lama, tidak ada pertukaran cerita lagi.mana mungkin lunar tahu?

yang dilakukan lunar hanyalah menangis.bukan menangisi bagas yang telah menentukan pilihan hidup.tapi menangisi dirinya yang rapuh.rapuh termakan hasutan oscar dan zenit sehingga rasa yang tak seharusnya itu hadir.tapi kebodohan pasti diciptakan untuk melahirkan kepandaian yang baru.supaya lunar tidak terjebak lagi.

sungai tenang…dalam pelukan malam.senja yang sekedar mampir sudah musnah.lunar kembali pada dirinya,bukan kenangannya yang tadi.nyaris tak ada lagi sakit yang tersembunyi.setelah surat-surat bagas menyatu dengan air,begitu pula dengan kaos hitam pemberiannya yang menghilang dibawa arus (sengaja dihanyutkan), juga novel tentang lunar dan bagas yang tak pernah berhasil terbit ikut terkubur dalam air yang mengalir itu,lunar merasa puas.mungkin sadis melupakan bagas dengan cara seperti itu.tapi jika lunar bahagia dengan melakukannya apakah harus diberangus oleh orang-orang yang tak mengerti perasaannya.bahkan oscar dan zenit tak bisa mencegahnya untuk itu.

sungai lebih dari tenang.lunar mendapatkan damai.diseberang,sebenarnya ada sosok laki-laki lain yang menunggu.ranum dipersiapkan sang Maha untuk Lunar.sangkaan lunar bahwa bagas adalah penawan yang satu adalah salah.dia tersenyum, mengulurkan tangan.aih, lunar mendekap harap lagi. Kali ini, dia memilih nyata ketimbang mimpi yang tampak nyata.

Biar sejarah mencatat

Sheila terhanyut. Membayangkan perasan Lunar. Seolah menjadi Lunar. Sheila sangat tahu perasaan macam apa yang menyelubungi Lunar.

“Kisah nyatakah? Keren, dalem, sangat meresapi,” Tulis Sheila dalam kolom komentar.

1406

Tentang Beranda Jiwa (22)

Beranda #26

Surat pengunduran diri Sheila, disambut heboh di HPK. Mas Wawan, tidak menyangka Shiela benar-benar memutuskan berhenti. Padahal, meskipun belakangan sering ijin, tapi pekerjaan Sheila selalu bagus. Bukan cuma secara redaksional, dari segi kedekatan dengan narasumber, isi berita, dan ketepatan deadline.

Kinan, bahkan sudah sangat pasrah dengan keputusan itu. Dia tidak bisa marah dan memaksakan diri untuk tidak kecewa. HPK kehilangan tambang emas. Mungkin tiga tahun merupakan waktu yang singkat untuk menyebut Sheila soerang repoter brilian. Tapi nyatanya seperti itu.

“Terimakasih ya Ki. Kamu yang mengangkatku dari lumpur. Bisa tinggal di kota ini, mendapat pekerjaan baru. Tapi aku malah megecewakan kamu,”

“Kalau aku bilang kecewa pun, kamu tidak akan menjilat ludah lagi kan? Kamu tetap berhenti kan?”

“Aku juga tidak terlalu suka hidup di Jakarta. Tapi rumahku harus dirawat. Endita sudah menikah sekarang. Dia ingin segera menempati rumah barunya. Aku nggak boeh egois Ki. Papa juga meninggalkan usaha yang sampai saat ini masih jalan, tapi stagnan. Aku mau banget waktu kamu menawarkan bisnis di sini. Tapi, ternyata prioritasku lain sekarang,”

“Kalau kamu nggak putus sama Tyo. Mungkin langkah seperti ini nggak kamu ambil,”

“Ki, ngantuk banget hoaaaaeemmmmm, aku tidur duluan ya,”

Sheila tak menanggapi perkataan terakhir Kinan. Ia pura-pura menguap lagu pergi tidur. Seperti biasa, rumah kontrakannya dibiarkan kosong. Berandanya dibiarkan semakin dingin dan berdebu. Sementara, Sheila mencari kehangatan di rumah Kinan.

***

Daun pohon sengon berguguran seperti salju. Daunnya yang mungil kecoklatan terus terbang merendah, mengikuti tiupan angin. Beberapa helainya, bertengger di rambut Sheila. Sementara yang lain mengotori sepatunya. Kemarau sepertinya akan sangat panjang tahun ini. Seperti Sheila yang mungkin akan lama tak menjenjakkan bumi Kebumen lagi.

“Mbak..,”

“Ratri,”

“Mbak serius mau kembali ke Jakarta,”

“Iya, “

“Mbok nunggu ketemu Mas Tyo dulu, Mbak. Apa perlu aku antar ke Yogya? Sayang sekali, kemarin Mas Tyo pulang sebentar, cuma ngambil surat-surat, trus balik lagi,”

“Memangnya nggak ada yang bisa disuruh?”

“Siapa lagi? Ibu mana mau? Setelah pulang dari Yogya, Ibu sibuk ngurusi pesanan dan jahitan. Bapak orangnya nggak bisa megambil keputusan tanpa persetujuan ibu. Di rumah ini, Ibu yang berkuasa penuh,”

“Mungkin memang belum saatnya ketemu. Ehm..Ratri, siapa yang merawat Mas Tyo di sana?”

“Kurang tahu. Kata ibu sih, ada saudara jauh kami. Namanya Mbak Hanun, dia perawat. Baru saja diangkat jadi PNS kemarin,”

“Ibu berarti tahu betul apa kebutuhan Mas Tyo. Dia menempatkan Masmu ditempat yang tepat. Yang merawat orangnya kompeten,”

“Aku malah jadi malu mbak. Masa anak sendiri di rawat orang lain, orangtua kaya lepas tangan,”

“Tapi sepertinya itu yang terbaik buat Mas Tyo,”

“Mbak, nggak kenapa-kenapa kan? Setelah cerita soal Mbak Hanun, perasaanku jadi nggak enak,”

“Memang kenapa? Kamu takut aku cemburu? Aku udah nggak boleh cemburu lagi Ratri. Kami sekarang cuma berteman,”

“Ah mas Tyo nya aja yang minderan. Gara-gara nggak pede, malah melepas orang baik kaya mbak. Ujung-ujungnya dia tersiksa sendiri. Kalau malam-malam dia itu suka mengigau lho mbak, bilangnya De..ade..jangan tinggalin Mas ya..gitu..Kalau aku intip diam-diam, Mas Tyo juga sering ngelamun, sambil lihat fotonya Mbak Sheila di HP,”

“Dua orang yang saling mencintai, tapi tetap berpisah. Itu namanya apa? Ya belum berjodoh. Cinta ya cinta, jodoh ya jodoh…beda Ratri,”

“Sebelum ada tarub dan janur kuning berkibar, lalu ijab kabul terucap, jodoh masih terbuka mbak,”

Sheila terdiam. Tapi Batinnya mengamini ucapan Ratri.

“Sampaikan salamku saja ya, kalau mas Tyo Pulang. Semoga dia cepat sembuh,”

“Aduh Mbak Sheila….jangan pergi,” Ratri menubruk badan Sheila. Memeluknya erat. Tangisnya menyayat hati. Sheila berusaha tegar walau matanya juga basah. Dia melihat sekeliling rumah Tyo yang masih setia dengan cat warna merah mudanya sebagai salam perpisahan. Sungguh, terlalu banyak orang yang mulai dicintai Sheila di rumah ini. Termasuk ibu sekalipun.

***

Secarik kertas. Tepatnya sobekan kertas. Entah bagaimana cara Ratri mengambilnya dari buku catatan Tyo yang seadanya. Tyo selalu mengaku tak bisa menulis. Apalagi menulis sesuatu yang berbau sastra. Tapi, kata Ratri, tulisan Tyo untuk yang satu ini sangat indah. Dia tak sengaja iku t membacanya karena Tyo menyelipkan kertas itu di bawah bantalnya.

“Waktu Mas Tyo ke Yogya, baru aku ambil. Sepertinya Mas Tyo nggak sadar. Aku cuma membantu Mas Tyo menyampaikan perasaannya sama Mbak,”

Sheila menggenggam kertas itu. Rasanya panas. Kasihan Tyo, Sheila ternyata tak ingin membacanya, karena takut merasa sakit atau bahagia. Sheila hanya menyimpannya pada selipan kopernya. Dan, setelah itu, berusaha melupakan.

Dear Sheila

Ijinkan aku ucap sapa di awal jumpa kita. Harapku saat ini, keadaanmu adalah yang terbaik. Apapun nantinya kesanmu karena goresan ini. Seburuk-buruknya kesan tidak akan mengubah segala rasa yang tersimpan dalam sanubari ini padamu. Ada banyak kata yang hendak kuhadirkan dalam dekap dua tanganmu, Namun akan sampaikah ribuan kata itu padamu?

Dear..

Setiap denta waktu dilamun sunyi, mengantarku segera luncurkan kata dan merangkai kalimat tentangmu serta mengungkapkan kata yang begitu gemuruh agar lapang dada ini, melepas beban yang menghimpit. Meski tak mampu juga menguraikannya dengan sempurna.

Pertama kau hadir, membawa pesona yang tak lekang oleh terpuruknya bimbangku padamu. Lewat kerlingmu, senyum hangatmu, juga sapa jenakamu, sempat membersitkan tanya dalam benakku. Adakah penantian itu untukku? Adakah rasa sepi itu karenaku? Adakah hatimu diliputi berjuta asa yang terpendam bagiku? Ah betapa, aku selalu ingin menjadi sosok yang paling berarti dan dihargai jika bersamamu. Tak kupungkiri, sikap yang kau tawarkan melambungkanku pada angan muluk yang tak berkesudahan.Apalagi harapan itu nampak kau bentang lebar-lebar di hadapanku. Menarik diri ini agar mau berjuang memasukinya.

Dear..

Lambat laun ada yang menjalar pelan memenuhi ruang kosong dalam jiwaku. Menempatkanku pada keadaan yang tak kumengerti. Entah apa nama atau judulnya. Yang kutahu, ada sisi indah dalam hidupku yang membuncah. Membuatku menjadi berarti hanya dengan sebuah kehadiranmu. Rasa ini, tertimbun dan dengan segera mengokohkan akarnya tanpa aku sanggup menafikkannya. Karena itu benar-benar di luar nalarku. Di sisi lain, bayangmu tak kunjung lepas, padahal sedikit banyak, aku telah berusaha melupakan masa lalu. Namun, sungguh kamu terkecuali. Seandainya kamu tahu, jauh di lubuk hatiku, seolah ada suatu gema yang melarangku mengotori kesetiaan rasa ini padamu. Kenapa keseriusan itu hanya padamu?

Kekasihku yang jauh…

Saat sepi sendiri, seandainya ada yang membuatku merasakan panasnya rindu, kamulah orangnya. Pun saat angan kita melambung jauh, merasa ada yang hilang dari kenangan masa lalu, yang terkadang membuat sakit, perih dan kecewa, kamu juga orangnya.Membiaskan masa depanku tentang segala harapan untuk merenda hari menikmati anugerah-Nya, itu adalah kamu. Dan, bila aku merasa kehilangan percaya diri, terpuruk dalam ketidakberdayaan, terpojok pada keadaan dan disaat semua tak lagi hadirkan getaran, tak suakakan aliran rindu, tak lagi punya arti, kamulah yag akan mengubahnya.

Inikah wujud cinta yang tersohor agung itu? Yang tidak bisa diraba hanya bisa diselami dengan mata hati. Sungguhkah aku telah menjatuhkan piihan hanya pada engkau?

Segala perkataa apapu asal keluar dari bibirmu, semua terasa lain, seolah sebuah janji yang harus terpatri dan terjaga bagi setiap bongkahannya.

Ketahuilah Sayang..

Walau samar dan tak kentara, meski lirih dan sendu, senandung rindu untukmu belum lelah kudendangkan. Suaranya yang sayup, mungkin tak terjamah olehmu. Mungkin dengan teriring doaku, akan mampu meraba getar rasa di hatimu.

Sayang,

Jika kamu bertanya apa itu cinta? Tanyalah pada hatimu. Maka ia akan menjawab. Cinta itu seluas hatimu memandang dunia ini hingga kau merasakan limpahan kasih sayang semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Sebagaimana aku menyayangimu tanpa sesuatu yang nisbi.

 Yours

Hanantyo Wicaksono

1187

Tentang Beranda Jiwa (21)

Beranda #25

Yogyakarta.

Teriknya di bawah sinar matahari langsung, membuat dahaga menjadi. Sheila dan teman-teman barunya dari berbagai media cetak dan elektronik se- Jawa, buru-buru menyambar es kelapa muda, es campur, es kopyor, es serut , es krim, dan semua yang bernama es, saat acara makan siang.

Setelah keliling beberapa  Base Transceiver Station (BTS) dan mendengarkan presentasi dari Sales Area Manager operator seluler, rombongan diajak ke Malioboro dan pasar Beringharjo. Sorenya, setelah sempat mampir ke Taman Budaya Yogyakarta, mereka menuju hotel untuk istirahat. Saat itulah, Sheila mulai berpikir untuk ‘kabur’ dari hotel. 2 atau 3 jam. Sheila sudah gemetaran saat memegang kertas bertuliskan alamat saudara Tyo di Bantul. Hasratnya bertemu Tyo sangat besar.

Tentu Sheila harus kabur dengan biaya sendiri, di luar uang saku yang diberikan vendor seluler. Tapi Sheila sedang berpikir, haruskah minta ijin atau pergi begitu saja. Sangat riskan, karena Sheila berada di tempat itu atas nama kantor. Sheila merasa dilematis. Dia merenung dan bolak-balik antara kamar mandi dan kamar tidur di dalam hotel.

“Mbak, kalau keluar sebentar boleh nggak?” Sheila akhirnya menemui salah satu panitia gathering, Mbak Aini.

“Tadi beberapa orang juga pergi jalan-jalan. Nggak papa sih, tapi jangan lewat jam 10 ya. Besok pagi-pagi sekali kan agenda kita juga banyak,”

“Iya mbak. Cuma sebentar. Kebetulan ada saudara dekat-dekat sini. Sebelum jam 10 pasti udah balik ke hotel,” janji Sheila.

Sheila sudah berada di luar hotel sekarang. Tapi dia yang buta denah di Yogya, bingung harus mencari alamat saudara Tyo dengan menggunakan kendaraan jenis apa? Delman, becak, ojek, taksi? Sheila menimban-nimbang hingga akhirnya memilih naik taksi. Dia pasrah jika argometernya disulap si sopir jadi tak manusiawi.

“Sitimulyo, Piyungan, Bantul pak,”

“Baik, Mbak.”

Sheila merasa telah bersikap bodoh, ternyata lokasinya sangat jauh dari hotel tempatnya menginap. Sheila menatap keluar jendela taksi yang membawanya. Langit bertabur bintang, seperti kepalanya yang tiba-tiba pening karena bertindak terlalu nekad. Semoga usahanya tidak sia-sia. Kalaupun tidak bertemu langsung dengan Tyo, paling tidak, Sheila ingin melihat dari jauh wajah Tyo yang sekarang.

Sheila memegang kertas pemberian Ratri yang sudah lusuh. Ia membiarkan sopir taksi menunggu dil uar dnegan argo yang terus berjalan. ia mematut-matut diri di cermin jendela pintu taksi. Lalu memperhatikan RT RW yang tertera dalam kertas itu. Setelah bertanya sana-sini, Sheila sampai pada rumah yang dia tuju.

“Cari siapa ya Mbak?’

“Betul ini rumahnya Bu Sari?”

“Iya betul,”

“Saya, temannya Mas Tyo. Kalau tidak salah Mas Tyo tinggal di sini?”

“Iya setelah operasi beberapa hari, memang tinggal di sini. Tapi sudah di bawa pulang lagi ke Kebumen. Keluarga Bu Sri sama keluarganya Mas Tyo semua sudah ke Kebumen. Saya cuma ditugasi menjaga rumah ini,”

Sheila hampir terhuyung, tapi dengan cepat dia berpegangan pada gagang pintu.

“Mari masuk dulu, Mbak. Nggak baik berdiri di depan pintu,”

“Di luar saja, bu. Cuacanya gerah.  Udaranya lebih segar di luar,”

“Kalau begitu silahkan duduk,”

“Mas Tyo bagaimana keadaannya,”

“Saya kurang paham, Mbak. Saya kan cuma tetangga, bukan pemilik rumah. Cuma setahu saya, ya begitu, kurang sehat, sakit-sakitan. Nggak pernah keluar rumah,”

‘Dia masih pakai kursi roda, Bu?”

“Masih. Tapi sedikit-sedikit sudah bisa jalan,”

“Siapa yang merawat dia sepulang dari rumah sakit,”

“Oh kebetulan, sepupu jauhnya perawat, jadi masih keluarga sendiri,”

“Masih muda?”

“Banget. Dengar-dengar, sih mau dijodohkan sekalian sama Mas Tyo. Ups walah saya keceplosan ini. Wes-wes…jangan diteruskan Mbak. Saya ini kalau sudah ngomong susah direm,”

“Mereka pasti serasi ya bu?”

“Iya Mas Tyonya ganteng, Mbak Hanunnya cantik,”

“Oh namanya Hanun…,”

“Iya. Lha mbak ini sebenarnya siapa to?”

“Saya teman lamanya Tyo, Amara,” Sheila sengaja mengambil nama belakangnya.

“Oh..bukan orang Yogya ya Mbak,”

“Iya saya dari Jakarta sedang liburan. Bu, terimakasih ya sudah menemani saya. Maaf  lho mengganggu, saya permisi dulu,”

“Iya Mbak Amara, monggo..,”

Taksi melaju dengan kecepatan sedang, menembus jantung kota Yogya yang belum terlalu malam. Sheila meringkuk di bangku belakang dengan genangan air mata. Pertanyaan yang berkecamuk harus dia jawabi sendiri.

Kenapa dia harus merasa cemburu?

Kenapa Tyo harus dijodohkan?

Apakah Tyo sudah memberitahu ibunya kalau hubungan mereka berakhir?

Atau ibunya memang tidak pernah perduli dengan kehadiran Sheila?

Siapa Hanun itu?

Apa kelebihan gadis itu?

Kenapa Tyo tidak pernah pegang ponselnya lagi?

Kenapa saat Sheila ke Yogya justru Tyo kembali ke Kebumen?

Apakah ini artinya sudah tamat?

TAMAT. Kata itu berputar terus. Lalu Mencabik-cabik. Meninggalkan luka yang semoga tidak permanen.

***

Tari Klasik dari Keraton Pakualaman yang berlangsung di Pura Pakualaman tak lagi menjadi impian Sheila untuk menonton. Dia ingin segera melompat ke terminal Giwangan atau bandara Adi Sutjipto untuk meninggalkan Yogya secepatnya. Tapi Sheila masih terjerat di Jalan Sultan Agung, Kecamatan Pakualaman, Kota Yogyakarta. Mengamati gemulai tarian dengan musik gamelan yang semakin menyayat hatinya.

Jadwal pulang ke Kebumen masih beberapa jam lagi. Tapi hati Sheila sungguh sudah melepuh. raganya sulit berpijak di bumi lagi. Berdamai dengan diri sendiri sangat sulit. Oh rapuhnya diri ini mengabaikan hal yang sesungguhnya. kenapa harus terhanyut dan terhanyut lagi oleh perasaan yang dianggap Sheila sebenarnya bodoh.

Mengapa cinta terus saja menguntit seperti

Sepeti embun yang tak pernah mau pergi dari pucuk daun ketika pagi?

Sheila pikir, dirinya  sudah berhenti

Berhenti menjadi kepingan yang sudah tertata rapi. Ternyata dia tetap sebagai kepingan yang tercecer.

***

“Ki, aku mau berhenti aja. Aku mau balik ke Jakarta,”

“Sheila!! Sadar nggak sih, kamu? Bagaimana mungkin keputusan besar ini kamu buat tiba-tiba,”

“Menurutku, Kebumen sudah penuh sesak dan menyakitkan. Aku udah nggak tahan,” suara Sheila terdengar depresi.

“Ini bukan kamu Sheil. Kamu nggak serapuh ini. Masa kamu kalah cuma karena laki-laki. This isn’t true!”

“Ini bukan soal kalah atau menang. Ini soal luka yang hilangnya harus total. Dan aku nggak bisa total di sini,”

“Sheila, yakinlah kamu itu kuat,”

“Aku akan mengajukan surat pengunduran diri secepatnya. Aku mau balik ke Jakarta, ”

“Sheila jangan berpikir ketika sedang emosi. Berpeikirlah ketika sudah tenang. Aku nggak bisa melepas kamu untuk hal sepele kaya gini. Gila apa, Sheila yang wonder women kalah karena urusan laki-laki,”

“Ini sama sekali bukan soal kalah menang. Aku kan sudah bilang. Ini menyangkut masa depanku juga!”

“Aku tahu, jadi wartawan gajinya emang nggak gede. Tapi potensi kamu bisa keluar di sini. Kamu akan berhasil meskipun bukan sebagai wartawan,”

“Keputusanku tetap,” Sheila keras hati.

“Sheila..,” Kinan melembut. Sheila dipeluknya.

“Pokoknya aku berhentii Ki,” Sheila berusaha berontak dari pelukan Kinan. Tapi semua sia-sia, Sheila terlampau lemah. Bahkan untuk sekedar batuk.

1032