Mengumpulkan Cinta

angin berkesiur. anak rambut yang belum terlalu panjang ikut menari.sore yang indah. Taman yang sejuk. Dipta dan trapas.

Dipta : Menikah itu akan mengumpulkan kenangan masa lalu, tentang cinta…

Trapas : Bukankah menikah hanya untuk menata hidup bersama masa depan dan mengubur masa lalu?

Dipta : Bukan begitu maksudku, kawan. Saat kelak aku menikah, semua bagian dari masa laluku, akan duduk di kursi tamu, memandangiku, dengan perasaan mereka masing-masing..

Trapas : Apakah itu sebuah cita-cita? Kenapa terdengar bagai ambisi, obsesi atau semacamnya..?

Dipta : ah jangan terlalu dalam memandang sesuatu. bersenang-senanglah sedikit. Menikah itu akan menculik sebagian kehidupanmu atau bahkan seluruhnya. Sebelum dirimu benar-benar hilang dan menjadi seseorang yang baru, tengoklah masa lalu sekali lagi. Kumpulkan mereka dalam satu ruangan. sehingga kelak kau akan berlega hati, pernah menjalani itu semua. Memutar memorimu sekali lagi… melihat wajah-wajah mereka yang mungkin dulu pernah kau sentuh. Tapi takdir tidak membawamu ke mereka.. itu sangat ajaib… perasaan ajaib itu kawann… luar biasa..

Trapas : lagak-lagaknya, kau sakit jiwa. kalau memang tak siap kawin, puasalah dulu.. jangan jadi gila..

Dipta : Ya sudah, dengarkan saja, orang gila mau berbicara ini…

Trapas : Ya terserah kau sajalah…

Iklan

Antologi Cerpen (dibeli dibeli dibeli)

To the point

saya mau promosi buku nih 🙂

1.PERI-PERI BERSAYAP PELANGI

Dongeng sebelum tidur, sudah bukan tren lagi dibacakan pada anak-anak. Mungkin ibu-ibu mereka terlalu sibuk membaca mention di twitter atau membalas bbm, atau pasang status di FB hehe..padahal dongeng sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Terutama merangsang imajinasi mereka. Suatu saat, imajinasi itu bisa “meledak” menjadi sebuah bakat di bidang tulis-menulis.

Di tengah langkanya buku kumpulan dongeng, Peri-peri bersayap pelangi merupakan buku kumpulan cerita anak yang patut diapresiasi. Buku ini berisi 20 cerita anak. Ditulis 11 penulis yang memiliki kepedulian lebih terhadap dunia anak-anak. Saya sendiri sangat berterimakasih karena diajak menjadi salah satu penulis cerita anak di buku bercover unyu2 ini. Judul cerpen saya adalah pensil ajaib.

Terbitnya buku ini bertujuan mulia untuk membantu anak-anak yang kurang mampu. Setiap rupiah yang didapat dari keuntungan penjualanan buku ini adalah hadiah buku yang sama untuk anak-anak di beberapa rumah singgah, sekolah pasca bencana, rumah sakit anak dan taman baca anak di beberapa daerah terpencil.
REMEMBER :
“Setiap satu buku yang Anda beli adalah hadiah satu buku yang sama untuk anak-anak yang kurang mampu,”

PERI-PERI BERSAYAP PELANGI
Penulis : Pungky Prayitno, dkk
Tebal : 92 halaman
Harga : Rp 30.000
ISBN :978-602-99128-0-7
cara pemesanan:
email : peribersayappelangi@gmail.com
sms : 08562740285 (topan)
Peri-Peri Bersayap Pelangi
Lebih jelasnya bisa klik di link resminya disini

2. THE GREATES LOVE OF ALL (#Tribute To Whitney)

Komunitas Kampung Fiksi dan friends mengadakan proyek menulis #TributeToWhitney dimana cerita yang ditulis terinspirasi oleh lagu-lagu Whitney Houston. Hasil penjualan buku itu totally disumbangkan untuk taman bacaan Mahanani.

Banyaknya penulis yang ikut serta, membuat buku ini dibuat menjadi dua bagian, 1 dan 2. Di buku ini, Saya menyumbangkan satu cerpen yangtermuat dalam buku bagian 2. Judulnya Cinta yang Tersembunyi. Berkisah tentang seorang gadis yang mati-matian menahan perasaanya pada seorang pria karena dia divonis menderita kanker serviks akibat pergaulan bebas. Cinta itu dipendam si gadis hingga akhir hayatnya.
The Greatest Love of All dijual secara online dan bisa dipesan di nulisbuku caranya adalah :
1. Lakukan pemesanan lewat email ke nulisbuku : admin@nulisbuku.com

2. cantumkan : Judul buku                   : The Greatest Love of All
Penulis                          : Kampung Fiksi & Friends
Harga Buku                  : Rp. 50.000
Jumlah Yang Dipesan :
Nama Pemesan          :
Alamat Pemesan        :
No HP Pemesan         :
3. Tunggu reply dari nulisbuku,  nulisbuku akan memberi tahu jumlah uang yang harus dibayar berupa harga buku + ongkos kirim, dan ke rekening mana uang ditransfer.
4. Setelah selesai melakukan pembayaran, scan bukti bayar, dan email lagi ke nulisbuku.
5. Buku akan dikirim dalam kurun waktu 10 hari.
Info lengkapnya bisa klik di sini

tribute to whitney
3. BANYAK NAMA UNTUK SATU CINTA
Kampung Fiksi sebagai suatu komunitas penulis, mengajak para sahabatnya untuk ikut serta dalam event #cecintaan yang mereka adakan pada bulan Februari 2012 kemarin.

Dari event ini terjaring 200 naskah dari para sahabat Kampung Fiksi. Selanjutnya, 200 naskah itu, disaring lagi menjadi 29 naskah ditambah 8 cerita dari komunitas kampung fiksi, kemudian dibukukan dalam bentuk buku antologi #Cecintaan yang berjudul : Banyak Nama Untuk Satu Cinta publish by leutikaprio. Alhamdulillah dua cerpenku lolos seleksi berjudul Betis Indah Sang Lelaki dan Devadasi.

Ini lho sedikit intipan cerpen-cerpen yang bisa membuat termehek-mehek itu 🙂
1. Betis Indah Sang Lelaki ~ Enno Indri
2. Aku dan Galang ~ Wahyu Antari
3. Cinta, Cerita dan Berita ~ April Tupai
4. Tiga Gelas O ~ Maria Ch
5. Including… You: Cinta Ungu Dungu di Cafe Daun ~ Sandra Palupi
6. Devadasi ~ Enno Indri
7. Nada dan Warna ~ Yunita Handayani
8. Coklat dari Rico ~ Shatikah Fianti
9. Pria Tak Sempurna ~ Andi Ukka
10. Banta ~ Haya Nufus
11. Trauma Cinta, Tragedi Hati ~ Citra Rizka
12. I Miss You ~ Ayu Insafi
13. Kirana ~ Sandra Olivia
14. Mencintaimu ~ Dian Mariani
15. Sister Morphin ~ Ayu Welirang
16. Suami ~ Arini Giska Safitri
17. Sebuah Awal ~ Suri Nathalia
18. Kamu Memang Luar Biasa ~ Lelly Dwi Ambarini
19. Cinta Tersembunyi ~ Nurul Fadilah
20. Hujan Senja Yang Berlalu ~ Rido Arbain
21. Cokelat dan Cinta ~ Odet Rahmawati
22. Ada Kamu dan Secangkir Caffe Latte ~ Ririn Tagalu
23. Di Depan Meja Kopi ~ Erlinda Sukmasari Wasito
24. Pauline ~ Nastiti Denny
25. Pulang ~ Surya Dewandari
26. Cokelat Untuk Cinta ~ Fanny YS
27. Jejak Yang Terhapuskan ~ Lina KS
28. Love Like Killer ~ Adeliany Azfar
29. Tidak Bergerak ~ Putri Widi Saraswati

Desain Cover : Granito Ibrahim
ISBN : 978-602-225-372-3
Terbit : April 2012
Tebal : 199 halaman
Harga : Rp. 42.100 (belum ongkir)

Untuk pemesanan bisa mampir ke sini

Banyak Nama untuk Satu Cinta_web

Bagi  yang ingin punya bacaan sekaligus beramal, dua buku di atas sangat direkomendasikan.

MATURNUWUN

^^Jenkna :*

CINTA YANG TERSEMBUNYI


Ada sebuah gelang berbahan batu jade berukuran setengah senti melingkar di pergelangan tangan Arya. Gelang itu adalah hasil dari pengorbanannya memecahkan celengan kodok. Arya menggigitnya. Keras. Entahlah tiruan atau asli, Arya buta soal perhiasan. Dia hanya iseng menitip pada Tono, sahabatnya yang seorang reporter televisi, membelikannya saat meliput berita di Singapura. Arya membaca sepintas di majalah, bahwa batu jade yang berwarna hijau bening sangat indah. Bahkan menjadi perhiasan bergengsi sejak jaman Dinasti Shang di Tiongkok. Arya sudah menyelidiki kalau Anty, gadis yang sedang menggetarkan kisi-kisi hatinya, sangat menyukai perhiasan dari batu alam. Demi kepuasan batin, Arya rela memberikan yang terbaik yang dia bisa untuk Anty di hari ulang tahun gadis itu.

“Untukmu An….happy b’day

Arya mengulurkan kadonya pada Anty dengan sedikit gemetar. Malam ini, Anty sangat cantik. Little black dress dengan paduan jaket berbahan velvet yang sederhana membelit tubuh semampainya secara anggun. Wow!

“Trims, buka sekarang ya?” Anty buru-buru merobek kertas kado yang susah payah Arya lipat-lipat seindah mungkin sebagai pembungkus.

Anty memandang kado itu dengan ekspresi datar. Arya pikir, Anty sedang terpana menyaksikan kado Arya yang mengagumkan.

“Anty sudah punya banyak. Di beli langsung dari Beijing. Tapi karena ini kado dari kamu, Anty nggak mungkin nolak, biar nanti Anty kasih ke Mbok Nah, kebetulan dia mau pulang kampung, bisa jadi cinderamata buat anaknya. Anty yakin kamu nggak bakal keberatan. Ehm..Anty baik ya Ar, masih mikirin orang-orang kecil seperti Mbok Nah.”

Kata-kata Anty meluncur deras, bak ribuan paku yang menghujam jantung Arya. Arya tertohok sekaligus geram setengah mati. Anty yang polos atau tinggi hati? Arya mendadak muak, menyaksikan kadonya hanya seharga Mbok Nah.

“Tapi ….aku ingin kamu memakainya An…”

Arya mencoba menawar. Wajahnya dibuat memelas.

“Ini kado Anty kan? Terserah Anty dong. Sorry, kulit Anty sensitif dengan gelang yang tidak jelas kadar keasliannya. Kalau infeksi atau terkena radang belum tentu bisa sembuh dengan obat-obat biasa berclotrimazole 0, 5 %. Anty harus ke dokter pribadi Anty di Jepang. Arya tahu sendiri Anty seorang model. Bahaya sekali kalau kulit Anty rusak, taruhannya masa depan! Sudahlah jangan berdebat Arya…Anty mau menyapa teman-teman yang lain dulu. Kamu bisa menikmati menu makanan di pesta ini semau kamu, ada yogurt dengan taburan raisin, crepe or waffle, ada beberapa makanan jepang dan Italia juga. Mungkin akan terasa aneh buat lidah kamu tapi kamu akan terbiasa. See you later..”

Arya melompong. Lambaian tangan Anty nampak seperti gada besar kepunyaan Hanoman yang bergerigi. Membuat Arya bergidik. Arya menggetok-getok kepalanya sendiri. Dia sedang menyesal, menyemaikan cinta untuk gadis sepongah Anty.

Tapi…dulu Anty sangat manis dan baik. Arya pertama kali mengenalnya di Aula Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, melewati Ospek dalam satu kelompok meski mereka berbeda jurusan. Arya jurusan Ilmu Politik sedang Anty jurusan Ilmu Komunikasi. Setelah semester 2, Arya mulai merasakan getar yang merambat halus disanubarinya. Anty bukan gadis biasa, dia sering menjuarai lomba debat bahasa Inggris antar Fakultas, lomba penulisan karya ilmiah, menjadi sekretaris BEM, dan terakhir menjadi model sebuah majalah khusus wanita yang karirnya terus menanjak. Bagi Arya itu menakjubkan!

Dan Arya tidak mampu lagi membendung gejolak, karena Anty tanpa sadar membuka peluang, dengan sering meminta Arya mengantar jemputnya kemanapun dia beraktivitas. Dua hari lalu, Arya melepaskan rasanya begitu saja saat menjemput Anty dari Studio Photo. Kata-katanya tidak sempat diatur dengan baik. karena Arya memang bukan laki-laki romantis. Pokoknya Arya hanya ingin maksud hatinya sampai. Tapi jawaban Anty bukannya ya atau tidak. Gadis itu menyuruh Arya menebak sendiri sambil berlalu begitu saja dari hadapan Arya. Wajahnya mendadak bengis. Benar-benar membingungkan.

Malam ini puncaknya, Arya merasa mendapat kartu jawaban, keangkuhan Anty menjadi ujung tombak arah hubungan mereka yang tidak mungkin. Memang tidak ada cinta untuk Arya.

“Bengong?” Seorang gadis berlesung pipit duduk menyebelahi Arya, tangannya memegang coke. “Aku Kinan. Aku paling nggak suka ngeliat orang bengong, diem, murung, dan menyendiri, seperti kurang kemenyan. Ups sorry, it’s a joke………’

Kinan tertawa. Arya hanya mengerjap tak mengerti

“Sepupuku, Anty, sudah membuatmu kecewa ya?”

Alis arya bertaut, dia terkejut dengan penyataan Kinan.

“Kamu sepupunya Anty?” Arya ketakutan, takut semua orang yang ada didekat Anty punya sifat sama jeleknya dengan Anty.

“Jangan jantungan begitu…aku relatif manis kok, tidak bertaring dan masih tersegel dengan baik…he..he..”

Mata jenaka Kinan meluruhkan sedikit pikiran negatif Arya.

“Sungguh? Tapi kalau kamu mau merendahkan orang lain atau memamerkan kekayaan lebih baik kamu pergi.”

So sensitive! Anty baru selesai melukaimu, ya? Terus terang aku memperhatikan kalian berdua sejak tadi. Muka kamu terlihat bodoh…ha..ha”

Kinan tertawa. Arya sedikit tersenyum. Hanya untuk menyenangkan hati Kinan.

“Anty melakukannya dengan tenang, polos, tanpa rasa bersalah, dan sengaja memilih kata-kata yang menyinggung. Kamu tidak menyesal mempunyai saudara aneh macam dia?” Arya mendengus.

“Hei, jangan begitu, aku sarankan jangan membencinya. Yang keluar dari mulutnya adalah kepribadiannya yang lain, kepribadian yang getas dan rapuh karena..ah..tak bisa kusebutkan! Pada prinsipnya Anty baik, kamu bisa buktikan itu. Asal…..jangan coba-coba bilang cinta padanya cukup bersahabat saja.”

Arya mengerling pandang. Apa yang dikatakan Kinan terdengar ganjil. Arya mulai tertarik dengan percakapan kebetulan ini.

“Terlanjur. Aku sudah mengungkapkannya dua hari lalu bahwa aku mencintainya. Apa itu salah?”

“Bodoh!” Kinan menghardik. “Maaf….Kamu tahu siapa yang akan disingkirkan Anty dari kehidupannya? Orang-orang seperti kamu!!..Orang-orang yang mencintainya lebih dari seorang sahabat.”

“Itu abnormal. Dia butuh psikiater” Arya meletup.

“Kamu kasar sekali. Pikirkan baik-baik, Anty selama ini pasti baik padamu, dia menyakitimu hanya setelah kamu mengungkapkan perasaan cinta kan? Jadi itu yang harus kamu pecahkan diluar koridor buruk sangka. Please,..okey?”

Kinan beranjak dari duduknya. Tapi saat memasuki langkah yang ke empat dia sempat berbalik badan.

“Namamu, Tuan?”

“Arya!”

Dan Kinanpun pergi dengan mengangguk-angguk.

Kalau ini sebuah adegan misterius, Arya sungguh tidak ingin berada di dalamnya. Arya ingin keluar saja. Pusing. Arya bergegas bangkit. Dia malas menyentuh apapun yang bisa ia lahap ke perutnya. Ia kehilangan selera. Maka, Arya memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum itu, dia membuat gebrakan yang tak dinyana oleh hatinya sendiri. Yaitu mendekati Anty  yang tengah memberikan potongan kue ulang tahunnya pada Kinan. Arya mengajak Anty ke sudut sebuah ruangan, Anty menyanggupi walau sedikit enggan.

“Anty…aku sadar..aku terbawa perasaan hanya karena kedekatan kita yang sesaat. Ternyata aku memang tidak mencintaimu. Perasaan sayang ini adalah persahabatan belaka. Aku kadang suka terburu-buru. Maaf kalau sempat menjadi beban. Aku pulang ya?”

Raut muka Anty berbinar seketika. Dia menggenggam erat tangan Arya.

“Thanks ya Ar. Aku tahu, kamu cuma salah mendefinisikan rasa.” Ucapan singkat Anty itu menggodok tubuh Arya hingga berpeluh. Arya bagai ranting tua yang patah hanya karena tiupan angin sepoi. Dusta membawanya menemukan senyum Anty yang dulu, senyum yang tidak merendahkanya lagi. Kenapa Anty? Kenapa! Arya berteriak pada malam pekat yang memeluknya pulang.

***

Satu bulan berselang. Arya sudah lebih kokoh menata hati. Meski tidak mudah berpura-pura biasa pada Anty. Arya cukup senang, Anty bisa digapainya lagi. Saat tidak sengaja bertemu di ruang bagian kemahasiswaan untuk mengurus surat penelitian, mereka tenggelam dalam senda gurau. Tapi..rasanya cinta itu masih melilit di sudut-sudut hati Arya, membelenggunya sampai tak bisa berlari kemanapun. Arya ingin memberi tahu Anty tentang itu tapi dia tidak mau mengubah Anty menjadi Rahwana jahat lagi.

“Arya, kamu yang terbaik. Kamu akan tersimpan di otak Anty sampai Anty mati.”

Arya gugup. Kata-kata Anty sebelum mereka berpisah di tempat parkir sepeda motor, karena Anty mengendarai mobil sendiri, menggetarkan tubuh Arya. Ah, kenapa kata-kata itu seperti harapan? Arya merasa mati langkah. Mendekat tidak bisa, menjauh apalagi. Hal ini terus berlanjut sampai…

Berita duka itu datang. Arya terkapar jiwanya. Sembilu telah menusuknya ribuan kali saat menemukan Anty tiba-tiba terbenam dalam sebuah gundukan tanah merah basah yang sunyi. Tanpa lambaian tangan, tanpa kata pisah. Padahal, paling tidak Arya ingin melihat detik-detik terakhirnya, saat ada jarum infus yang menusuk di pembuluh darahnya, atau saat ada dokter dan perawat dengan cekatan menempelkan alat pacu ke jantungnya agar tidak berhenti berdetak. Ternyata, tidak ada seorangpun yang menghubungi Arya saat Anty sekarat. Bahkan Kinan yang sekarang menjadi teman dekatnya, membisu.

“Sorry Ar, Anty melarangku keras. Dan kamu berhak kok marah…”

Kinan menepuk bahu Arya sembari menyodorkan tissue. Meski berkacamata hitam. Airmata Arya tampak menggenang dengan jelas. Arya mengelus makam Anty, pilu. Isaknya belum usai.

“Dia begitu sehat, tidak pernah pucat, apalagi mengeluh…seminggu yang lalu kami masih bercanda di tempat parkir..sebenarnya dia kenapa?”

“Kanker mulut rahim, Ar. Anty berpesan agar aku menceritakannya sama kamu sepeninggal dia. Semasa SMU, Anty tinggal di L.A. Gaya hidup  di sana membuatnya lepas kendali. Orang tuanya juga kurang pengawasan karena sering bolak-balik Indonesia-Amrik. Anty sempat melakoni pergaulan bebas. Bergonta-ganti pasangan. Karena dia juga butuh pasokan morphin dari pacar-pacarnya. Dia kecanduan. Dia terjebak lingkaran setan yang dia ciptakan sendiri. Tapi sejak pulang ke Indonesia, dia sungguh-sungguh bertaubat dan mau menjalani rehabilitasi. Tapi saat itu juga dia divonis terkena kanker mulut rahim stadium tiga. Dia pasrah, tidak mau menjalani pengobatan lebih lanjut dan menganggap itu semua teguran Tuhan bagi masa lalunya dan pelajaran bagi kami yang masih hidup. Makanya, dia tidak mau ada seorangpun mencintai dia karena dia sudah menggadaikan kehormatannya, dulu. Dia tidak ingin orang yang mencintainya itu menderita melihatnya mati. Meski…sebenarnya dia juga mencintaimu Ar…dalam diam dan sembunyi.”

Arya terperangah. Sesuatu hal yang nyaris diluar jangkauan pikiran Arya. Ternyata dibalik kecerdasan Anty, kecantikannya, dia punya kekelaman masa lalu yang tak terjamah. Dan ternyata…cinta Arya sebenarnya telah Anty rengkuh tanpa ia sadari.

“Dia masih menyimpan gelang pemberianmu ini dan menyuruhku menjaganya untukmu.”

Arya meraih gelang yang berada di ujung telunjuk Kinan. Dipandanginya gelang itu lama. Sejenak, memutar ulang kenangan tentang Anty yang berpendar lewat udara. Lalu digenggamkannya gelang itu ke tangan Kinan kembali.

“Untukmu Kin, simpanlah.”

“Thanks Ar. Oh ya, Anty sangat bahagia pernah mendengar kamu mengucapkan cinta, meski akhirnya kamu ralat dengan kepura-puraan. Dia tahu kamu kecewa, diapun sama sakitnya. Jadi, ikhlasin dia Ar, Ya?…Ehm.. Gerimis mulai turun, kita pulang yuk.”

Tanpa malu Kinan menggandeng tangan Arya. Seperti mengalirkan kekuatan bernada lembut disela-sela jarinya. Arya mengikuti langkah Kinan dengan lebih lapang. Rahasia Anty sudah terkuak. Sekarang yang tertinggal adalah menghadapi hari-hari depan dengan kenangan bersama Anty yang tak pernah mati. Selamat jalan Anty!

Ini cerpen yang aku buat pada 29 Maret 2007 (hemmm sudah lama juga yaaa…)

beranda 2

10 tahun. bunga dari pras pasti sudah jadi pupuk atau bahkan zat penyuburnya sudah habis. sheila juga hanya berkabung sebentar. soal cinta, sheila hanya terketuk setengah senti, bukan sesuatu yang mendalam. sheila bisa berjalan tegak selang dua hari setelah pras beralih dunia. perasaan kehilangan yang sangat singkat buat sheila. seperti yang dia bilang, patung es. cair seujung kuku lalu membeku lagi. sampai…riana mengenalkannya pada gemawan setyadji, seorang eksekutif muda dari perusahaan properti yang memiliki penginapan dan hotel berbintang. gemawan masih terlihat ranum, 34 tahun, dan mapan.
“aku menikmati setiap detil perbincangan dengannya. aku suka parfumnya yang maskulin. aku tertawan suaranya. tapi aku tidak pernah terangsang untuk mau dicium, disentuh,” kata sheila di sepenggal senja, di sebuah kedai kopi, di depan riana.
“anakku sudah satu sheil, dan kamu masih terus mencari cinta itu apa?? bentuknya, rasanya, aromanya, sensasinya?? ckckckckckck,” riana menggeleng-geleng.
“aku sering membaca novel. sepasang kekasih yang romantis, saling memandang. kemudian ada getaran halus merambat pelan di dalam hati mereka masing-masing. aku ingin merasakan itu. tapi aku cuma merasakan suka saja..desir-desir itu ngggaak addaa,” sheila sengaja menekan kata nggak ada untuk menegaskan kejujuran.
“kalau nanti dia melamarmu, terimalah. kamu bakal tahu apa itu cinta kalau dia jadi suamimu,”riana bangkit dari duduknya. dia mulai bosan berceloteh dan ingin pulang ke rumah.
“cinta bukan cuma seks kan ri…? kamu pikir setelah bersetubuh, kita pasti jatuh cinta apa?”sheila mengernyit.
“cinta itu harus disalurkan bukan cuma ke adikmu, orangtuamu. kamu mau nyoba jadi lesbian apa?” riana nyeplos begitu asal karena jengkel.
muka sheila merah padam. tentu kata-kata yang menyakitkan dari seorang sahabat. tapi riana mungkin bermaksud baik. jadi, sheila masih toleran terhadapnya.

****
Gema mengendurkan sedikit tali pengekang dasi. lalu mendekati sheila yang membenamkan kuku-kukunya ke keyboard laptop sejak setengah jam lalu. gema menyibak rambut sheila secara halus. lalu meniup leher sheila sangat lembut. sheila berhenti bekerja. dadanya berdegup, tapi degup ketakutan bukan keindahan rasa.
“Ge, hentikan!”
“ini memang caraku menghentikanmu, cantik,”
sheila tertegun. dia sudah hilang konsentasi.
“sheila, jadi istriku, mau?”
“kamu meloncati beberapa tahapan. kita baru kenal, belum jadi teman, sahabat, pacar, dan tiba2 menikah. how dare you?” sheila tersenyum sinis.
“ya ampun, sudah satu tahun, statusku baru kenalanmu?” gema menahan emosi.
“aku akan menemukan cara, agar kamu mau,” ujar Gema. setelah itu, dia meninggalkan sheila yang terdiam di sudut kedai kopi yang biasa dia kunjungi bersama riana.

***
dua minggu gema raib. sheila mulai resah. entahlah, seperti ketika pras pergi, semua jadi terasa lain. tidak seimbang lagi. Sheila yang sudah melebur bersenyawa sebgaia patung es, agak mencair. dia memencet nomor hp gema. sheila tadinya tak berharap banyak, gema mau berbicara lagi dengannya. tapi baru dua nada panggil, gema sudah berbicara di seberang.
“ge…”
“hai sheil,”
“aku…ingin..”
“ssttt…diamlah. aku juga kangen, walaupun kamu nggak,”
“ge, kenapa suaramu begitu indah. apa karena kita lama tak bertemu?”
“karena aku ganteng hahahha…orang ganteng pasti suaranya bagus,”
“oh i see…” sheila seperti tersengat listrik. dia mulai mengerti sesuatu hal yang mungkin aneh.
“kenapa sheil?”
“aku sepertinya jatuh cinta. oh begini rasanya? aku merinding ge..”
gema nyaris mengigit jari jemarinya lantaran bergairah.
“e kkita kita ketemu ya sekarang. aku akan ke rumahmu sheil. kebetulan aku cuti tiga hari,”gema bersemangat betul
“ge…wait..ini bukan seperti yang kamu pikir. aku tidak merasakan apapun ketika kita bertemu. tapi kalau mendegar suaramu saja, sepertinya lain. aku berimajinasi, aku terangsang…aku jatuh cinta dengan suaramu,”sheila blak-blakan, mengeluarkan isi hati tanpa beban.
gema melorot dari duduknya. diam. hening. hanya detik jarum jam yang berjalan teratur.
“ge…aku mau jadi istrimu, tapi ditelepon. kita bercinta lewat suara. bisa kan? aku pernah baca artikel soal phone sex, ehm..kita coba ya,”sheila berkata nyaris memekik tanpa dosa. gema meradang.
“aku kepala eksekutif keuangan dua perusahaan besar dan aku ingin jadi kepala keluarga sheil..bukan pelacur lewat telepon,”gema geram.
“tapi kita tetap menikah ge. cuma…tidak tinggal seatap. kamu boleh bercinta dengan wanita lain. aku tidak peduli diduakan. aku cuma pinjam suaramu, aku mencintai suaramu,”sheila masih ngotot.
“kamu sakit jiwa…”klik.gema mematikan telepon genggamnya.
****
masih nyambung hayooo hayooo gimana yaaa cerita selanjutnyaa 😛

Ternyata Ada Dua

malam ini, gw dapet tugas bikin cerpen buat radar junior. ini kali kedua gue dapat tugas yang sebenarnya super berat. masalahnya gw biasa nulis cerpen bergenre remaja-dewasa bertema cinta, kehidupan dan semacamya. sementara cerpen anak membutuhkan keahlian khusus. gw harus jadi anak-anak juga. dengan pola pikir mereka. juga bahasa mereka. dan terus terang klo menurut gw sih, belum berhasil seperti cerpen2 anak yang pernah gw baca.

Selama proses pembuatan cerpen. gw ditemani seorang guru muda. mr J he he. tapi sayang, meski biasa bergaul anak-anak. dia pun tak bisa menemukan ide yang tepat. huh,profesi guru memang tidak menjamin hehe. sepanang membuat cerpen, mr J hanya sibuk memberi dukungan. jangan lupa makan ya, sayang. pulang jangan kemalaman, nanti masuk angin. mau dipijitin nggak? bla bla bla…dan dia ngantuk duluan sebelum sempat menina bobokanku…yo wes…

Inilah hasil olah pikir ku dalam dua jam. menulis sambil digangguin mr J yang usillll…

Ternyata Ada Dua

Pagi ini, suasana hati Yuka terasa lain. Campuran antara berdebar dan rasa penasaran. Sebab, wali kelasnya akan memperkenalkan murid baru, pindahan
dari kota Semarang. Wah, seperti apa ya teman baru Yuka itu?
15 menit berlalu dari bel pertama masuk. Yang ditunggu-tunggu Yuka dan teman-teman sekelasnya pun datang juga. Bu Sukarti, wali kelas lima masuk ke dalam kelas bersama seseorang. Parasnya cantik. Badannya cukup tinggi jika dibandingkan anak-anak usia 10 tahun lainnya. Rambut sebahunya di kuncir ekor kuda. Tidak banyak aksesoris yang menempel di tubuh gadis itu. Tidak ada pita, jepit rambut, gelang, atau jam tangan. Hmmm, penampilan yang sederhana namun
tetap cantik. Yuka membatin.
“Anak-anak, seperti yang sudah ibu sampaikan kemarin, sekolah kita kedatangan murid baru. Karena pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Jadi, ibu persilahkan Rahma memperkenalkan diri. Ayo, nak,” Bu Sukarti menepuk lembut bahu anak itu sambil berbisik lirih.
“Assalamualaikum. Teman-teman, salam kenal. Nama saya Rahma Nur Setiyani. Biasa dipanggil Ama. Usia saya 10 tahun. Sebelumnya, saya bersekolah di SD Pelangi Semarang….” Rahma terlihat sangat lancar dan percaya diri ketika berbicara di depan kelas. Yuka diam-diam merasa kagum. Sementara itu, susana kelas SD Mentari Jakarta mulai gaduh karena banyak yang antusias mengajukan pertanyaan.
Usai acara perkenalan, Bu Sukarti menyuruh Rahma duduk di sebelah Tiur. Kebetulan jumlah murid dikelas lima berjumlah ganjil. Tiur sendiri duduk tepat di belakang Yuka.
“Hai, aku Yuka,” Yuka melambaikan tangannya pada Rahma, tak lama setelah Rahma duduk.
“Rahma, panggil saja Ama,” Ama membalas sapaan Yuka dengan tersenyum sambil mengeluarkan buku tulis dan bolpoin dari dalam tasnya. Yuka senang sekali, melihat Ama begitu ramah dan murah senyum.

***
Sebulan berlalu. Ama dan Yuka semakin akrab saja. Apalagi, Ama senang melucu. Dia punya banyak cerita konyol yang membuat teman-teman sekelasnya tertawa. Yang berbeda adalah hobi Ama yang sedikit ekstrem yaitu beladiri. Sementara Yuka lebih suka bermusik.
Selasa ini, merupakan hari pertama Yuka mengikuti les piano di luar sekolah. Wajar jika Yuka sedikit grogi. Tapi rasa grogi Yuka berkurang ketika tiba-tiba melihat Ama juga hadir di ruang les.
“Am, akhirnya kamu ambil les piano juga?” Yuka bertanya keheranan.
Tapi Ama diam saja. Tersenyum pun tidak. Wah,jangan-jangan Ama tersinggung dengan pertanyaan Yuka. Sayang, les segera dimulai. Jadi Yuka tidak sempat berbincang banyak. Saat pulang, Ama juga tidak berpamitan dengan Yuka.
Pada les piano di minggu berikutnya, Ama tetap jadi sosok pendiam.Padahal, Yuka tidak henti-hentinya mengajak Ama mengobrol. Yuka juga memuji penampilan Ama yang lebih cantik. Setiap datang les, rambut Ama yang lurus selalu terurai rapi. Tak ketinggalan bando atau jepit rambut warna warni. Tapi Ama terlihat enggan bergaul. Ama lebih suka menyendiri, membaca buku-buku musik.
Namun, jika bertemu di sekolah. Ama berubah riang seperti biasa. Herannya lagi, Ama dengan senang hati membantu Yuka menyelesaikan tugas membuat mading meski Ama tidak termasuk tim mading kelas.
“Am, kamu nggak sakit kan,” Yuka menempelkan punggung tangannya ke dahi Yuka.
“Aku sehat kok,” Ama menepis tangan Yuka.
“Tapi kalau ketemu di tempat les. Kamu sedikit ehmm maaf ya…sombong,”ujar Yuka terus terang.
“Les? Kapan kita pernah les bareng?Udah ah. Jangan ngaco. PR kita masih banyak nih,”kata Ama serius. Yuka cuma bisa diam dan bertanya-tanya dalam hati
Teka-teki sifat Ama yang mudah berubah,lama-lama membuat Yuka sebal. Terakhir, Ama bahkan tidak mau diajak mengobrol sama sekali ketika di tempat les. Hubungan Yuka dan Ama yang tadinya akrab, kini mulai merenggang juga saat di sekolah.

***
Kalau tidak dipaksa mama, mungkin Yuka tidak berangkat les di minggu ketiga bulan ini. Yuka bukannya tidak suka main piano, tapi dia malas bertemu Ama yang aneh. Sayang, sebentar lagi akan ada pertunjukan penting. Mau tidak mau, Yuka harus berlatih.
“Oh, Yuka ternyata les di tempat ini juga?” suara Ama tiba-tiba mengejutkan Yuka. Yuka yang sedang asyik memencet tuts piano langsung menoleh ke belakang.
“Eh lihat adikku nggak. Adikku les disini lho. Ini dompetnya ketinggalan, jadi aku antar ke sini,” cerocos Ama sebelum Yuka sempat membuka mulutnya.
Tak lama kemudian, seseorang yang sangat mirip dengan Ama berlari menghampiri Yuka dan Ama. Wow, Yuka sampai tak sadar kalau mulutnya dari tadi menganga. Ama ada dua, eh maksud Yuka, punya saudara kembar. Nyaris sulit dibedakan. Mereka cuma berbeda penampilan. Ama cenderung tomboy dibanding adiknya.
“Ini Rahmi adikku. Panggilannya Ami. Maaf, aku lupa cerita ya sama Yuka. Habis kami sempat pisah lama. Dia baru pulang dari Australia ikut Papa yang tugas di sana. Bahasa Indonesianya juga belum begitu lancar. Sementara masih ikut home schoolling di rumah, “terang Ama panjang lebar.
Yuka hanya bisa menganggguk-angguk kecil. Malu juga rasanya sudah menuduh Ama aneh. Harusnya Yuka lebih sering bertanya dan mencari tahu pada Ama sebelum mengira yang macam-macam.
“Sekarang tahu kan, kenapa Ami dan Ama berbeda? Coba kalau aku nggak ke sini. Kayaknya Yuka bakal penasaran sampe mati ya hahahaa,” ledek Ama sambil tertawa. Yuka juga tertawa geli dengan kejadian unik yang dialaminya sekarang. Sedangkan Ami, ikut tersenyum bersama mereka.

oya kalau ini cerpenku yang terdahulu waktu bulan ramadhan. aku lebih suka yang ini…mungkin karena lebih mengena di hati

Baju Lebaran Hana

Nama adikku, Hana. Usianya baru lima tahun. Tapi, Subhanallah jalan berpikirnya lebih dewasa dibanding umurnya. Mungkin karena kami anak yatim jadi terbiasa mandiri. Ayah meninggal tiga tahun lalu karena sakit. Sekarang di rumah mungil ini tinggal tersisa ibu, Hana dan aku. Hidup kami sangat sederhana. Ibu cuma pedagang kecil di pasar ikan. Tapi kami bersyukur masih bisa makan dan sekolah.
Akhir-akhir ini, aku risau memikirkan Hana. Mungkin karena lebaran semakin dekat. Apalagi kalau bukan tradisi memakai baju baru? Sejak ayah meninggal, tak ada lagi jatah baju baru untukku dan Hana. Kata ibu, baju-bajuku yang dulu juga masih layak dipakai. Kalau ada sedikit sisa uang, ibu menabungnya untuk keperluan sekolah. Anehnya, Hana tidak pernah protes. Tapi aku yang sebal. Aku tidak terima kalau Hana mulai diejek teman-teman TKnya gara-gara tak membeli baju baru.
“Namanya juga anak kecil. Masa omongan anak kecil dipikirin, Hilwa?”tanya ibu setiap aku berkeluh kesah.
Tapi melihat Hana yang rajin berpuasa, shalat dan mengaji, rasanya tak tega kalau tidak memberinya hadiah spesial di hari lebaran. Pikiran itu membuatku bertekad melakukan sesuatu. Oh ya, meskipun usiaku masih 11 tahun, aku pasti bisa membelikan Hana baju baru. Tapi kalau mengandalkan celengan kodokku, rasanya tidak mungkin cukup. Jadi, sepuluh hari menjelang Idul Fitri, aku benar-benar memeras otak untuk mengumpulkan uang.
Suatu sore, aku melihat Hana sedang asyik bermain masak-masakan dengan dua orang temannya di halaman rumah kami. Tiba-tiba obrolan masak memasak mereka beralih ke soal baju lebaran. Huh, ingin rasanya menghentikan percakapan mereka. Kasihan Hana.
“Eh bajumu warna apa? Aku biru dong. Ada pita sama rendanya, bagus deh” bisik Uki, teman Hana yang berbadan ceking.
“Bajuku warnanya merah. Ada kalung bonekanya lho..”balas Vita.
Sementara Uki dan Vita saling memamerkan baju mereka, Hana diam. Hana seperti tidak terganggu dengan ucapan kedua temannya. Tangannya masih asyik merajang daun mangkokan dengan pisau dapur.
“Hana bajunya kayak apa? Ada rendanya? Ada pitanya? Ada kalung bonekanya?” desak Uki dan Vita bergantian. Namun, Hana cuma menggeleng sambil tersenyum. Uki dan Vita sepertinya penasaran sehingga terus melontarkan pertanyaan itu berulang-ulang.
“Pakai baju lebaran kemarin aja. Kan masih bagus,” ucap Hana santai.
Tak tahan melihat itu, aku bergegas mengayuh sepeda miniku pergi ke rumah seorang teman. Hampir seminggu ini aku mencari uang dengan cara mengerjakan PR teman-teman. Kalau selama ini gratis, sekarang aku minta bayaran. Kebetulan, teman-temanku sebagian besar anak orang kaya yang uang sakunya besar. Aku sendiri memang jago matematika dan IPA. Dua mata pelajaran yang banyak dibenci mereka. Selain mengerjakan PR teman, aku juga ikut bantu-bantu membuat topi dari anyaman pandan kering di rumah tetanggaku, bu Rusminah. Pokoknya aku melakukan apa saja supaya mendapat upah.
Sayang, uang yang kukumpulkan dengan susah payah itu hilang bersama dompet kecil yang ku taruh disaku celana panjangku. Ya, hilang ditengah perjalanan saat menuju ke pasar tradisional untuk mencari baju lebaran Hana. Ternyata saku celanaku robek tanpa kusadari. Meski sudah kucari bolak-balik sepanjang perjalanan, tapi tetap tidak ditemukan.
Aku pun pulang ke rumah dengan tubuh yang lemas dan banjir air mata. Melihatku menangis, ibu jadi penasaran. Akhirnya aku menceritakan kegiatanku kabur dari rumah setiap sore untuk mencari uang tambahan. Meski terkejut, ibu tidak marah. Tak disangka-sangka ibu menyodorkan dua bungkusan kado berwarna kuning gading.
“Ini ada kiriman paket dari Budhe Ayu buat Hilwa dan Hana. Isinya baju lebaran. Budhe bilang baru tahun ini ada rejeki untuk membelikan kalian baju. Hilwa boleh senang, tapi juga harus ingat satu hal. Hilwa harus lebih baik dan solehah, ya?” pesan ibu.
Aku mengangguk sambil menyeka air mata. Aku masih tak percaya kalau Hana akhirnya punya baju baru. Dan aku juga. Pada saat yang bersamaan Hana masuk ke dalam kamar dan langsung memelukku. Hana bilang, dia kangen padaku karena sudah lama tidak mengajaknya main bersama. Hana bahkan tidak begitu memperdulikan bungkusan kado berisi baju lebaran dari budhe Ayu. Ah, Hana memang adikku yang baik. Aku justru belajar sabar darinya dan makin sayang padanya. (*)