Abangku hargie part 2

kupikir SHC (strog heart contact) ku hanya berlaku pada soulmate2 ku saja, ternyata tidak. SHC juga berlaku pada abangku sendiri.

entah karena aku mengobrolkannya semalaman di abngku hargie part 1, mungkin secara alamiah dia merasakan rinduku padanya. pagi-pagi sekali…setelah blog itu sendiri tertidur, abangku menelpon. “Dhe, lagi apa? Sehat? jam berapa berangkat kerja? Kapan pulang ke rumah lagi?” hanya itu yang tercantum diotakku. 4 pertanyaan singkat yang gagap kujawab. aku berusaha membanyol tapi sia-sia, dan abangku pun mengakhirinya dalam hitungan 10 menit.

aku melambung, melenting ke atap-atap kost dengan amat bahagia.  begitulah dia, kadang saat sangkaanku padanya teramat buruk, dia justru menggamitku dengan suaranya bahwa dia peduli. tapi saat sangkaanku membaik, dia menjauh begitu saja.

ufff perjalanan ini terasa panjang kutempuh untuk benar-benar mendapatkan abangku. Kalau harapku pupus di 26 tahunku itu kabar buruk, sangat buruk, aku akan mencobanya lagi, sungguh! meski aku didamparkan pada kedalaman benci yang tak berujung dihatinya, aku akan menghiba pada Rabbku untuk menggantikan kebencian itu dengan kasih sayang. Rabbku tak pernah berpaling, bahkan saat aku lupa meraba urat leherku untuk mengingat-Nya. Dia sangat dekat, dekat sekali.

Sekali lagi, hormatku pada seluruh abang yanga da dimuka bumi ini. dan biarlah  julukanku adalah adik yang mendamba, pengakuan.

bila tak tergapai pagi ini, aku akan menyimpannya untuk esok, bila esok terlewati, aku akan menggumuhnya pada yang akan datang. harapanku terlalu tinggi, tapi cukup bijak kalaui hanya untuk mendapatkan abangku sendiri.

bang hargie, aku menuliskan ini berkali-kali di lembar catatn yang berbeda, andai kau mau membaca yang tercecer-cecer itu, kau akan memahami aku.

                                                                                                                  YOURS

                                                                                                               Agustina Indri

Abangku Hargie part 1

kenapa sulit membagi waktu untuk sekedar menuliskan rasaku di badanmu dee…

sepertinya lelah menarikku ke lubangnya dan meneggelamkanku sebisanya.

tapi malam ini kusempatkan dee…meski tidak lama

Hormatku pada seluruh abang di muka bumi ini yang mencintai adik-adiknya…yang melebarkan tangannya untuk selalu  merengkuh dan melindungi si adik. Bila aku meraung dan berteriak pada alam sebagai orang yang kurang beruntung, pahamilah itu hanya sisi manusiawiku yang sejenak saja, disisi lain aku sangat bersyukur.

Abangku hargie, kami diikat darah yang sama. Usiaku 6 tahun sesudahnya. aku hanya menjalani takdir sebagai bungsu, dan kelahiranku tidak kumaksudkan untuk merebut kebahagiaan abangku sendiri. tapi, abangku cemburu, keagungannya beralih padaku, sanjungan yang biasa menghujaninya menderas padaku. abangku menolakku, katanya suatu hari aku bukan adiknya, dia memilih adik-adik lain yang tak sedarah dengannya dan memamerkannya didepanku. “Hei ini adikku…”lirikan sinisnya nyaris membunuhku!

Bertahun-tahun airmataku tumpah karena diabaikan, padahal cintaku padanya terus tumbuh bagai seorang kekasih. Aku memulainya dari kecil, mengadu padanya saat dicaci maki teman, mengadu padanya saat sedih namun aku dihempasnya seperti debu. Aku tidak mendapat pembelaannya sama sekali. aku justru disalahkan. aku kembali meradang, Tuhan…abangku ini duh….

Dewasa, aku mulai berpikir untuk melupakan punya seorang abang, toh abangku masih sisa satu, dia sayang dan memanjakanku. tapi hati yang entah disebelah mana berteriak bohong, aku tetap berpikir bagaiamana bisa membuatnya takluk. aku tetap kesulitan, abangku bukan milikku jiwanya milik Tuhanku, Allah yang Maha Pembolak-balik hati hambanya.

pelan namun pasti aku mulai dianggapnya. meski caranya mencintaiku mungkin menyakitkan. Dia menunjukkan kasih sayangnya masih dalam diam. hanya barang-barang peninggalannya yang dia onggokan begitu saja diatas tempat tidur tanpa kata-kata. atau hanya dalam bahasa pendek “Itu celana buat kamu, dicoba,”  “ini jam, makenya begini,” “Tuh jaket,” atau sejumlah barang muncul dikamarku tanpa prolog darinya. ketika hendak kutanyakan buat siapa, dia sudah kembali ke jakarta, bekerja. dia tetap tak kumengerti, bahkan hingga kini aku masih berpikir buruk, mungkinkah aku ada dihatinya? atau barang-barang itu sudah cukup mewakili bahwa rasa sayangnya juga tumbuh bersama barang-barang yang ia lungsurkan padaku. dia bukan sedang menghinaku kan?

lalu beberapa tahun belakangan ini, hubunganku dengannya tak menentu, pasang dan surut, tapi aku mulai meresapinya sebagai abang. dia cukup perhatian saat menjelang akhir kuliah, dia cukup simpati saat aku belum juga mendapatkan pekerjaan, dia melayaniku dengan baik saat menumpang sebentar dikostnya. aku tidak akan lupa adegan ini seumur hidupku. ABANGKU MEMBELIKAN ROTI BAKAR KEJU, bahkan mungkin dia sendiri tidak tahu aku sangat menyukai makanan itu. aku juga tidak akan pernah melupakan kata-kata lembutnya. “Adek mau rujak?” apa aku telah menghantam gendang telingaku sendiri hingga tuli dan salah mendengar pertanyaannya, tapi dia mulai sering memanggilku dek, tidak hanya saat disurat tidak hanya saat dia butuh. dan peristiwa yang paling aku kagumi seumur hidupku adalah saat dia menyelamatkanku dari peristiwa menyedihkan di rengasdengklok. waktu itu aku bermasalah, aku tidak kuat menanggungnya, dan tanpa pikir panjang aku meminta bantuan bang hargie, hal yang belum pernah aku lakukan padanya “memohon”, entah keberanian dari mana, yang jelas aku mengirimkan sms panjang untuknya, aku tahu dia sangat sensitif, bila tidak suka tidak akan menggubris bahkan bisa emosional sekali.

“Bang, aku gak bisa menceritakan apa masalahnya, pokoknya jemput aku dalam waktu dekat ini, plis,”aku mengemis di sms.

abangku datang! dia datang dengan muka lelah karena pekerjaan, tapi ada keikhlasan disana ada tanggungjawab dimatanya. ini tipuan optik atau bukan, pokoknya abangku menjemputku, membawaku ke tempat yang lebih aman untuk hatiku.

buatku ini perjuangan sepenggal galah ini belum cukup. aku ingin abangku lebih menyayangiku. aku bahkan belum bisa memeluk leher atau badannya dengan lama. waktu lebaran, aku meminta ijin untuk mecium pipinya, dia tidak mau. aku pernah memaksanya sekali, aku tahu dia enggan, tapi aku berhasil merasakan kasarnya bulu rambut disepanjang dagu dan pipinya. sekali dan tidak pernah lagi. kini aku harus puas dengan punggung tangannya yang bersih. aku menciumnya dengan hikmat dan ta’zhim. Rabbi…jalan mana lagi yang harus aku tempuh untuk meraih abangku?

 

Jenkna…Wake Up

Putus Asa sedang menerjangku Rabbi….
Awal april yang muram, sungguh, tapi aku selalu membiarkannya tak menguap di udara terbuka, agar hanya aku dan Engkau yang tahu. Dan aku sering berbisik, Tuhan…ambil saja dari hatiku….karena ia tak bisa disembunyikan dari pengawasan-MU.

Tapi beberapa hari lalu, aku sedikit membaginya dengan mbak rey, kakak perempuan tersayangku. Karena dia seperti jiwaku yang lain yang tahu harus mencomot kata2 yang tepat untuk menegakkan kepalaku.
“Kamu minta ketabahan? minta kekuatan? mungkin justru bukan ketabahan dan kekuatan yang langsung diturunkan dari langit buat kamu. Tapi ujian yang lebih besar, dari situ kamu tidak sadar sedang mengalami ketabahan yang kamu mau.” yah aku setuju mbak.

Lain hari, 7 April, aku didera putus asa lagi, mbak Rey malah membuatku menangis kata-kata sederhananya masih aku simpan di inbox SMS.
“Jangan putus asa. kita jangan fokus hasil akhir tapi pada proses. Kita mau jadi apa, mau mengalami apa sudah ada tulisannya. Allah gak akan tanya hasil akhir amal kita, tapi bagaimana proses kita beramal,” deg, iya aku setuju lagi mbak.

Thanks sister, I love u