Mata Ini Harta Saya

Ini bukan postingan serius. justru akan mengalir singkat. Saya takut lapak saya berdebu, karena belakangan jarang saya sambangi. Sebenarnya nelangsa tidak memenuhi target sendiri untuk (setidaknya) menulis di blog sehari sekali. Jadi, salam sapa saya bagi Anda semua.

Ketertarikan saya sedang beralih. Padahal saya sudah mendonlot banyak link lomba menulis dan punya niat mengikutinya. Niat yang sepertinya sungguh-sungguh. Tapi di tengah jalan, saya menemui “sesuatu” yang membelokkan arah tujuan saya, yaitu merintis usaha flanel. Sayangnya,  kalau sudah fokus terhadap satu hal, saya sering lupa dengan hal lain.

Andai mata saya sekuat bionic woman, mungkin 24 jam akan saya maksimalkan untuk apa saja. Tapi saya cepat sekali mengalami kelelahan. Kalau dipaksakan, saya takut harta saya yang berharga ini akan marah. Kalau sudah ngambek, dia akan mengirim sinyal ke otak agar memperintahkan perut saya bereaksi mual. Efeknya semakin panjang dengan kondisi kepala berat dan pusing yang berlebihan.

jam 16.00 sampai 23.00, saya duduk di depan kompie, untuk mengedit berita wartawan. Paginya harus melembur pesanan flanel. an mencukup2kan waktu antara pukul 13.00 sampai 15.00 untuk tidur siang. Itu sebagai hadiah terbaik bagi mata saya.

Karena belum begitu profesional, hanya otodidak mencontoh di internet, saya membutuhkan waktu agak lama untuk mengerjakan sebuah produk.Tapi Alhamdulillah, meski baru sedikit sudah ada pesanan yang mengalir mulai dari bros, tempat tisu, tas, bando, dan pernak pernik lainnya..

example :

Gambar

Gambar

Gambar

Jadi begitulah. Saya harus pandai-pandai mengatur agar mata saya bekerja dengan senang hati. Semoga diapun berbaik hati agar aktivitas menulis, menjahit dan mengedit berita bisa berjalan dengan seksama…Aamiin.

NB : ada yang mau order xixixixi ujung-ujungnyee

SALAM HANGAT

JENKNA

Mutiara Terpendam

Dua tahun sudah berlalu, tapi saya tidak bisa melupakan pemuda ini. Mungkin sekarang dia sudah lebih menakjubkan lagi. Jarak membuat saya kehilangan kontak. Tapi kekaguman saya tidak pernah hilang. Dia yang menyadarkan saya. Cobaan itu adalah sebaik-baiknya pengukur kekuatan kita untuk maju, bertahan atau menyerah.

Ini obrolan saya dengan dia sekitar dua tahun lalu

amar

amar

Muhammad Ammar, Penderita Asperger Syndrome (autis)
Luncurkan Kamus Tiga Bahasa, Bercita-cita Jadi Pengusaha

Dunia tidaklah tamat meski seorang anak telah divonis menderita autis. Masyarakat harus mulai mengubah pardigma, bukan lagi menggali sisi kekurangan mereka melainkan potensi luar biasanya. Apa yang dikaryakan Muhammad Ammar (16) melalui kamus bahasa buatannya merupakan bukti bahwa ciptaan Tuhan tak satupun yang sia-sia.

Gaya bicaranya santai namun berbobot. Sesekali lelucon segar meluncur dari bibirnya. Lalu, pada detik yang lain, ucapannya menggebu-gebu penuh letupan emosi. Itulah Ammar yang menyandang gelar autis sejak umur delapan tahun. Hebatnya, kesulitan konsentrasi yang dialaminya, nyaris tak terlihat sepanjang wawancara dengan Radarmas, Jumat (8/1).
“Ini karena aku lagi sadar, ngomongnya bagus, nyambung. Tapi kalau kebanyakan diledek atau dijahili teman trus banyak masalah aku suka ngeblank. Kira-kira sampai satu jam aku baru bisa konsentrasi lagi,”tuturnya jenaka, sampai-sampai membuat ustad Misbakh dan ustad Teguh sang pendamping, tersenyum simpul mendengarnya.
Ammar mengaku, sudah merasa berbeda sejak kelas 6 SD. Ammar bertanya-tanya sendiri kenapa ia sulit berkonsentrasi terhadap sesuatu dan melafalkan kata-kata dengan cadel. Semua lebih terang ketika Syifa, ibu Ammar memberitahu penyakitnya. Amar bahkan sempat pesimis bisa melalui jenjang pendidikan dari SD hingga SMA. Namun yang dikhawatirkan Ammar ternyata tidak pernah terjadi.
“Ada pikiran bisa nggak sekolah? Jangan-jangan nggak bisa kuliah. Nanti depresi, frustasi. Tapi nggak lah orang yang sungguh-sungguh pasti akan berhasil, ya kan? “kata pengidola klub Manchester United (MU).
Autis tampaknya tak melulu jadi momok jika melihat kerja keras dan kesabaran Ammar berusaha hidup di dunia yang berbeda dengan dunia ciptaannya sendiri. Untuk itu, Ammar berusaha keras menyelesaikan program atau proyek untuk menunjang bakat kebahasaan yang dimiliknya. Siswa kelas 2 SMA Al Irsyad Purwokerto ini, telah berhasil menelurkan sebuah karya yakni kamus bergambar untuk anak yang diberi judul Kamusku yang Pertama. Kamus tiga bahasa (indonesia-Arab-Inggris) tersebut dicetak Januari 2010 oleh Penerbit Jabal Bandung.
“Bener-bener fresh from the oven. Bukunya sudah bisa didapatkan di gramedia, mungkin cetakannya sekitar 150 eksemplar. Aku juga dapat royalti,” ucap putra pasangan Syifa dan Syarief ini.
Ammar berkisah, perlu waktu sekitar satu tahun untuk menyusun kamus tersebut. Ammar juga tidak sendiri karena dia dibantu oleh tukang desain gambar, editor bahasa Inggris dan editor bahasa Arab. Karena segmennya untuk kaum muslim, Ammar mengaku tak sembarangan memilih desain gambar yaitu jauh dari pornografi dan erotisme. Ammar menggunakan jasa desain gambar karena membenci pembajakan jika hanya menjiplak foto. Ammar memuji bukunya sebagai buku yang memiliki keunggulan ekstra yakni bisa diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, bahkan ahli bahasa.
“Kesulitannya waktu menerbitkan, bagaimana memasarkannya. Ketika aku harus presentasi karyaku di depan penerbit, aku juga khawatir. Tapi anggap saja ini seperti berdagang dan kebetulan aku suka berdagang,” terang pemuda yang setia naik sepeda listrik karena takut merusak lingkungan.
Ya, selain cerdas di bidang bahasa, Ammar menuruni bakat orangtuanya berbisnis. Sedari kecil, Ammar sudah pandai berjualan es, nugget, dan parfum. Saat ini Ammar menekuni penjualan pulsa tronik dan tentu saja kamus kebanggaannya itu. Kelak, jika Ammar berhasil menjadi pengusaha. Ammar berjanji, akan menjadi pengusaha yang membumi dan sederhana.
“Aku suka bisnis supaya nggak terus-terusan minta orangtua.Uang hasil penjualan kamus juga aku tabung. Kasihan, Ummi sudah tua. Lagian aku nggak suka jadi peminta-minta,” celoteh bungsu dari dua bersaudara.
Debut perdana Ammar menerbitkan kamus, sepertinya akan disusul dengan karya-karya fantastis lainnya. Ammar yang mengaku masih mudah tersinggung dan sakit hati ini, berniat membuat buku-buku pengetahuan tentang sejarah, tokoh, dan pengetahuan mengenai keislaman lainnya. Ammar menegaskan, auitis bukanlah kecacatan sehingga apapun pasti bisa diwujudkan. Tekad Ammar ini tentu tak lepas dari dukungan orangtuanya yang tak kenal lelah membentuk pribadi Ammar agar bisa diterima dimasyarakat, bukan sebagai spesial needs tapi sebagai Ammar dengan mutiara terpendamnya. (*)

Semoga kita bisa mengambil banyak manfaat dari si tampan ini. Doa saya untuknya..Aamiin.. 🙂

Diam atau Bicara

diam11

Diam adalah ketika kau merindukan seseorang begitu dalam, sampai sulit untuk menguraikannya dengan kalimat, karena yang terdengar nantinya suaramu sendiri yg bergetar kelebihan emosi.

Diam adalah suatu jarak yang kau buat untuk menilai kadar kemampuanmu bertoleransi terhadap keadaan sedih karena merasa diabaikan.

Diam juga merupakan tanda setuju sekaligus tidak setuju terhadap reaksi orang lain, namun terlalu sungkan untuk mendebatnya.

Diam kadang dijadikan tempat persembunyian dari rasa marah yang bersarang di dadamu, tapi masih bisa kau atasi karena itu hanya amarah dangkal yang disebabkan tidak terpenuhinya harapan. Jika diammu sering ditemani airmata karena berpikir menjadi orang yg paling menderita, meski di belahan dunia lain ada yang lebih menderita, itu adalah diam dengan latar belakang terlalu cinta kepada dunia.

Diam sebagai sarana menjaga lidah dari ucapan keliru sehingga menimbulkan peristiwa kehilangan sangat berbeda dengan diammu karena bosan dan ingin mengakhiri segalanya. Dimana letak perbedaan sikap batinnya? Hanya kejujuran hatimu yang bicara.

Diam merupakan bentuk purba dari kecewa. Itu yang paling klasik dan sederhana.

Diam ibarat saluran TV yang bisa bening untuk meredakan suasana perselisihan, tapi juga bisa bersemut bahkan no signal yang justru memperparah kesalahpahaman.

Diam untuk dirimu sendiri mungkin menenangkan hatimu, tapi sangat meresahkan orang lain.

Bicara, memberikan penjelasan, akan menyamankan orang lain sekaligus hatimu. Namun, bicara tanpa makna justru merusak keduanya, perasanmu dan perasaannya. Jadi, kadangkala diam adalah aplikasi bicara dari ke hati. Secara magis menembus langsung ke pemahamanmu tentang kenapa dia begini begitu.

Diam bagai diksi yang dipakai secara tepat dalam menyampaikan keinginan. Meski yang sering terjadi, diam hanya menyumbang kekhawatiran yang repetitif dan lama dalam benak seseorang. Betapa sulitnya, mengurai labirin isi kepala seseorang yang diam. Bukan masanya lagi diam itu emas atau bicara itu berlian.

Setelah berpanjang-panjang, ini tak lebih dari kegagalan berkomunikasi yg sering menyerang manusia. Ini efek kronis dari mandulnya sifat mengalah.

Diamlah jika kau pikir itu membawa kebaikan atau bicaralah jika itu jauh lebih membawa kemanfaatan.

**saya lebih suka diem kalau marah. soalnya tahu diri, sekali ngomong bisa nyakitin orang tujuh turunan hehehe…

**diposting karena lagi bad mood bangetttttttt sama sesuatuhh

**untung si abang mau jungkir balik bikin saya ketawa lagi..

Keep Spiritttt!!

JENKNA

Si Tulang Bengkok

skoliosis

Mungkin ini tulisan terpanjang saya di awal Januari….

Saya pernah memposting tulisan ini sekitar dua tahun lalu. Komentar yang masuk, rata-rata menunjukkan betapa masih asingnya pengetahuan tentang skoliosis dan masih “malu-malunya” penderita skoliosis alias skolioser unjuk diri. Saya mencopas untuk menanggapi beberapa penderita yang merasa sendirian menghadapi ujian hidup tersebut. Padahal di luar sana, banyak sekali penderita yang akhirnya membentuk komunitas untuk meringankan penderitaan bagi teman senasib.

Berikut kisahnya (tulisan saya ini pernah dimuat di Harian Pagi Radar Banyumas (Jawa Pos Group) beberapa tahun silam..

Kisah Paramitha Nilamsari, Penderita Skoliosis (1)
Dua Bulan Didera Stres dan Kerap Dijauhi Teman

Tanpa bermaksud profokativ, tapi memang tak mudah menemukan manusia-manusia yang secara tulus peduli dengan penderita skoliosis. Skolioser tegas-tegas menolak belas kasihan namun tetap minta dipahami. Kelainan tulang belakang membuat mereka mudah sakit dan lelah. Namun sayangnya sering disalah artikan menjadi si manja yang minta diistimewakan.

JENKNA, Purwokerto

Skoliosis adalah kelainan atau gangguan pada tulang belakang yang melengkung atau membengkok kearah kanan atau kiri yang terlihat seperti huruf “S” atau “C”. Kelainan ini salah satunya bisa disebabkan karena kesalahan sikap duduk.               

             Tak banyak Skolioser yang mau membuka diri ke publik. Perasaan malu, minder, ketakutan tak punya masa depan lebih banyak menggelayuti mereka ketimbang memupuk harapan. Namun, Paramitha Nilamsari (22) mahasiswa semester 7 Teknik Elektro Unsoed yang divonis menderita Skoliosis sejak kelas 2 SMP ini, seperti sedang mendobrak dinding ketakutannya sendiri.
        

           “Memerlukan proses yang panjang sebelum aku bisa open seperti ini. Aku juga mengalami masa-masa sulit seperti nggak mau ketemu orang, di sekolah juga isinya cuma nagis terus. Pokoknya psikosimatis deh. Rasanya aku pasti nggak mungkin selamat. Aku pasti mati,” terangnya sendu.
         

           Saat vonis awal sebenarnya kemiringan tulang belakang Mita baru 20 derajat. Namun, Mita mengaku bandel untuk mengikuti terapi seperti berenang dan fisioterapi. Padahal terapi itu bisa menghambat derajat kemiringan tulangnya. Setelah kelas 3 SMA, kemiringannya ternyata sudah 45 derajat. Angka yang tak bisa ditolerir lagi untuk tidak melakukan operasi pemasangan screw.

         “Tadinya aku nggak mau dioperasi. Tapi aku itung-itungan sama dokter untuk melihat keparahan yang akan terjadi jika aku nggak operasi. Usia 17 tahun kemiringannya dah 45 derajat, padahal pertahun nambah 3 derajat. Sepuluh tahun berikutnya nambah berapa lagi? Nanti tulangku bisa mendesak jantung atau paru,” ucapnya.

          Atas saran dr Iman Solichin SP OT SPINE, Mita melakukan operasi di Jakarta dimana kedua orangtua dan keluarga besarnya tinggal. Mita tak akan pernah melupakan tanggal 27 September 2006 sebagai hari operasi besarnya dimulai. Hari itu Mita berjuang dari rasa sakit, demi impian dan demi masa depannya.

         Setelah menjalani enam jam pertaruhan di meja operasi dan rasa sakit melakukan treatment, hari kedua pasca operasi Mita sudah bisa memiringkan badan. Hari ketiga bisa duduk dan hari kelima sudah bisa berjalan. Mita bersukur tidak lumpuh seperti artikel-artikel yang pernah ia baca tentang skoliosis. Sisa kemiringan tulang belakangnya pun tinggal 7 derajat.

           “Tapi operasiku juga nggak lepas dari masalah. Karena ternyata ada semaca, rotasi di tulangku. Atau biasa disebut lordosis (tulang belakang yang melengkung atau membengkok ke arah depan). Jadi ada pendarahan dan harus disedot,” ucapnya.

           Musibah yang dialami Mita tak sampai disitu. Dalam perjalanan pulang ke Purwokerto untuk melanjutkan kuliahnya yang tertunda, kereta yang dinaiki MIta anjlog dan menurut Mita peristiwa itu cukup mempengaruhi kondisi tulangnya. Meski punggungnya terasa sakit, Mita tetap nekad kuliah hingga akhirnya sang ayah menyuruh Mita agar mengambil cuti untuk check up.
         

           Bulan April 2007, dr Luthfi yang menangani Mita mengatakan jika ada dua skrup dari 16 skrup yang ditanam ditubuhnya bergeser sehingga harus diangkat. Agustus 2007, Mita lagi-lagi masuk kamar operasi untuk mengangkat 2 skrup berbahan titanium yang sudah miring itu.  “Berkali-kali OP tetap saja aku gemeteran. Bayangin aja, satu skrup panjangnya 5 cm. Dan seumur hidup si titan ini akan bersarang ditubuhku selamanya,” kata Mita seraya tertawa.
         

          Namun, sakit fisik yang dirasakan Mita tak sesakit perasaan kehilangan teman-teman yang menjauhinya ketika tahu Mita skolioser. Mita sering dipandang sinis karena dinilai menggunakan cara-cara yang tak wajar mampu lulus ujian SMA meskipun ia tak pernah belajar karena sakit. Ia kerap jadi bahan gosip karena sering mendapatkan dispensasi dari kampus. Bahkan di cap manja, sok cari perhatian, dan anak emas kerap disandangnya.
         

          “Dari jauh aku tampak normal seperti tidak menderita apa-apa. Tapi sebenarnya aku mudah lelah dan perlu dukungan. Kadang aku ingin semua yang ada didekatku itu tulus,” tandasnya.

***

Kisah Paramita Nilamsari, Penderita Skoliosis (2-habis)
Terbitkan Buku Berdamai dengan Skoliosis, Rintis MSI Jateng

Once scoliosis, forever scoliosis. Sekali divonis skoli selamanya adalah skolioser. Kalaupun dilakukan operasi, itu tidak bisa membuat normal, hanya mencegah derajat kemiringannya lebih parah. Kenyataan itu justru melecut Paramita Nilamsari (22) untuk menentang badai. Dua proyek besarnya adalah mebuat buku dan merintis forum Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) cabang Jateng.

JENKNA, Purwokerto

Mita terbiasa menumpahkan segenap suka dukanya hidup bersama skoli dan titan sebutan mesra Mita untuk mengakrabi skoliosis yang disandangnya dan skrup titanium yang bersarang ditubuhnya melalui diary elektronik berupa blog. Media itu pula yang mempertemukan Mita dengan teman senasib, Septi Hanum, Skolioser asal Jawa Timur.
            “Berawal dari saling komen di blog, kirim email, chatting, telepon sampai SMS-an akhirnya kami menemukan banyak skolioser yang sebenarnya membutuhkan tempat berbagi,” terang gadis berhidung bangir ini.
            Mita dan Septi yang belum pernah bertatap muka sekalipun akhirnya mulai bergerilya mencari responden yang mau berbagi kisah. Konsep tersebut sempat direspect oleh skolioser namun saat ingin ditindak lanjuti, mereka menghilang tanpa jejak. Meski banyak cerita para penderita skoli yang inspiratif tapi Mita tidak bisa memaksa mereka untuk terbuka, karena masalah skoli termasuk masalah sensitif bahkan masih dilabeli aib.
            Pesimistis yang sempat menyerang Mita untungnya bisa teredam oleh kesediaan 10 skolioser bersedia menjadi responden. Mita sengaja mencari penderita dengan kuunikan pengalaman hidup yang berbeda.
           “Aku dan Mbak Septi membuat naskah bukunya bareng tapi masih lewat internet, karena belum bisa ketemu muka. Kita juga cari percetakan sendiri, dan ngurus ISBN (internasional standar book number) sendiri,” ungkapnya.
            Di dukung forum Masyarakat Skoliosis Indonesia cabang Jawa Timur tepatnya di Surabaya dimana Septi tinggal. Buku berjudul berdamai dengan skoliosis pun berhasil di launching bertepatan dengan launchingnya MSI Jatim. Mita berharap, buku ini bisa memberikan jawaban apa yang harus diperbuat jika diri kita atau orang lain yang ada di sekitar kita divonis menderita skoliosis sehingga mereka bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri skolioser.
          Tidak hanya bagi mereka yang bersentuhan langsung dengan kehidupan skolioser, tapi buku ini juga ditujukan untuk masyarakat luas agar lebih mengetahui tentang skoliosis dan mencegah agar dirinya tidak terkena skoliosis karena tanpa disadari, sebenarnya siapapun bisa terkena skoliosis jika tidak menjaga sikap tubuhnya.
           “Cetaknya memang terbatas sekitar 500 sampai 750 eksemplar dan baru dipormosikan lewat internet dan belum masuk ke toko-toko buku,”tuturnya.
          Terkait soal MSI, Mita sudah menjadi anggota MSI pusat sejak awal 2008. Bagi Mita, wadah ini bersifat sosial yang menyediakan informasi yang benar dan jelas mengenai skolisosis, menggalang dana untuk membantu para penderita skoliosis yang mengalami kesulitan ekonomi, biro konsultasi, juga sebagai acara silaturahmi untuk mempererat rasa kekeluargaaan anggota MSI.
          “Karena aku tinggal di Purwokerto dan tahu di kota ini ada ahli spine atau gangguan tulang belakang yaitu dr Iman Solichin SpOT SPINE, makanya aku mulai melobi MSI pusat agar di sini dibentuk MSI Jateng dan Rumah Sakit Orthopaedi Purwokerto (RSOP) sebagai support partnernya sekaligus basecamp,”kata dia.
           Mita menambahkan, Januari ini MSI Jateng sudah dibentuk dan tinggal mempersiapkan Rencana Kerja serta pencarian dana. Mita optimis, jika sekarang skolioser masih malu-malu menampakkan diri, suatu saat mereka juga bisa membuka diri pada masyarakat. Mita melanjutkan, memang butuh proses yang panjang untuk sampai pada tahap seperti yang mita rasakan sekarang, yaitu menerima keadaan sepenuhnya.
          “Aku selalu menyemangati diri sendiri dengan berkata aku tidak malu dengan skoliosis tapi aku bangga. Karena disaat yang lain bertulang belakang lurus, tulang belakangku bengkok. Dan itu unik,” ucapnya diiringi derai tawa yang renyah. (habis)

Bagi teman-teman yang mengalami atau memiliki saudara, rekan, kekasih, apapun itu, yang mengalami skoliosis, adalah sangat hina bila sampai mengabaikan mereka. Dukung dan beri informasi tepat. Bagi yang ingin memperoleh informasi lebih lengkap bisa mengunjungi situs ini :
http://www.msindonesia.org/forums/masyarakat-skoliosis-indonesia

Terompet Pencabut (nyawa) Keperawanan

Dengkul Kopong

Wait..judulnya kok kaya film-film ‘bau” porno Indonesia yang lagi booming ahahaha..cuma nggak pake dedemit kaya pocong, hantu, kunti dsb.

Tulisan ini bisa dimaknai sebagai bentuk keprihatinan sekaligus untuk memacu para skeptis mania (orang yang punya rasa ingin tahu yang besar) supaya melakukan penelitian lebih lanjut sekaligus menemukan solusi pencegahannya.

Tulisan ini bermula dari obrolan ringan saya dengan si abang. Kata dia, malam tahun baru adalah malam hilangnya keperawanan. sudah menjadi rahasia umum jika perayaan pergantian tahun, tempat-tempat lokalisasi penuh. Begitu juga hotel-hotel dari kelas melati sampai melata hahaha. Yang punya pacar  akan meminta pacarnya merayakan momen tersebut dengan pelampiasan nafsu.

Jadi begitu terompet berbunyi, keperawanan hilang satu-persatu. Menguaplah harga diri kedua pasangan dimabuk asmara tanpa jalinan legal formal institusional religiusitas itu halahhhh opooooooooo ikiii haha

Kata-kata si abang memang ada benarnya. Salah satu wartawanku sempat meliput salah satu minimarket dan menemukan fakta ini :

Tahun Baru, Penjualan Kondom Meningkat

GOMBONG-Detik-detik pergantian tahun 2012 ke 2013, beberapa apotek dan minimarket di Kota Gombong mengalami peningkatan omzet. Terutama terhadap penjualan alat kontrasepsi jenis kondom.
    Entah ada hubungannya atau tidak, tapi peningkatan penjualan itu diakui beberapa apotek dan minimarket, kondom laris manis di akhir tahun. Bahkan, pembelinya pun didominasi kaum remaja ketimbang orang dewasa.
    Salah satu pegawai minimarket di Kota Gombong yang namanya tidak bersedia dikorankan mengaku, jelang tahun baru ini kondom yang dijualnya lebih banyak dibeli oleh remaja. Menurutnya, jika di hari-hari biasa, biasanya hanya dua sampai tiga strip (1 strip isi 3 bungkus) sedangkan jelang tahun baru ini mencapai 10 hingga 20 strip. “Satu strip harganya Rp 5.000, pembelinya banyak dari remaja,” ucapnya.
    Dia menuturkan, para remaja ini biasanya jika ingin membeli tidak memperlihatkan jelas wajahnya, karena helm dan scrabnya tidak dilepas. (ori) (KEBUMEN EKSPRES, RABU LEGI 2 JANUARI 2013)

Nah lho, itu baru Gombong. Sebuah kecamatan dari puluhan kecamatan yang ada di Kebumen. Tak heran ada sebuah joke dalam sebuah karikatur, dimana seorang bocah lelaki terlihat sedang berdoa khusuk . dalam doanya dia berkata “Tuhan, sisakan perawan untukku”

Terlepas bahwa kenapa mesti perawan, kenapa bukan keperjakaan? Yang patut digaris bawahi adalah semakin mudanya seseorang menyerahkan harga dirinya yang paling tinggi. Padahal setelah itu, ketika mereka terjebak sebuah tanggung jawab mereka terlalu muda dan tak matang menghadapinya. Jadilah penjara penuh oleh pelaku kriminal, jadilah bangsal orang gila penuh orang-orang yang terhimpit tekanan hidup. Dampaknya sangat panjang bagi para peletak sejarah di masa depan. Tapi apakah peletak masa depan itu juga berpikir seperti kita para orang tua ya gw udah tua kali haha)

Bagi saya yang bergelimang dosa ini, tentu tidak berani omong dari sisi agamis. Tapi sebagian orang pasti sudah tahu batasan dan larangannya. Kalau saya dari dulu hanya berpikir simpel, saya sekolah baik-baik, sampai perguruan tinggi aja cari kerja susah payah. Belum tentu juga bisa membahagiakan orang tua. Kalau saya sampai hancur di awal-awal, akan sangat sulit mendaki tangga yang lebih tinggi lagi. Saya paling takut dicap jadi orang tidak berguna dan hanya bisa meminta-minta. Saya pikir kalau harga diri di awal sudah hilang, akan sangat sulit mengembangkan kemampuan secara bebas dan merdeka. Karena dibelenggu masa lalu, dikejar dosa sekaligus ratapan orang tua. Duh sedihnya, Ihiks

Hidup itu hanya memiliki dua hal. Peluang dan pilihan. Jadi harus bijak menyikapinya. Kalau masih bisa diperbaiki syukur, kalau rusak bisa juga rusak selamanya. Keblangsak mah istilahnya hehe..

Salam Cinta

JENKNA