kaligua

Membayangkan hamparan kebun teh nan hijau bergradasi dengan halimun saja sudah membuat hati bergetar. Tapi bagi saya, mendapatkan laporan pandangan mata yang indah seperti itu tentu sulit dilakukan di luar hari libur. Maka, ketika hari Minggu bisa dikompromi, bertepatan dengan datangnya tawaran menggiurkan melihat kebun teh dengan jarak yang bisa dijangkau, saya hanya bisa mengangguk senang dan bilang iya.
Menempuh perjalanan ke ketinggian 1200 -2050 m dpl menggunakan sepeda motor merupakan cara yang paling mudah. Sebab, sepeda motor bisa menyalip bus-bus pariwisata dan mobil-mobil pribadi atau carteran yang biasanya berarakan memadati jalan sempit menuju kaligua. Beberapa teman menyarankan agar tidak menggunakan motor bebek. Garis besar alasannya saya kurang paham, jalannya memang halus tapi menanjak tajam.
Sekedar informasi hasil googling di Oom Wiki (wikipedia). Aksesibilitas Lokasi wisata agro Kaligua terletak sekitar 10 kilometer dari arah kota Kecamatan Paguyangan, atau sekitar 15 kilometer dari Bumiayu. Jalur transportasi dapat ditempuh melalui jalur utara via Brebes atau Tegal-Bumiayu-Kaligua, Cirebon-Bumiayu-Kaligua, dan jalur selatan via Purwokerto-Paguyangan-Kaligua. Jalur tersebut dilewati jalan utama Tegal-Purwokerto, tepat masuk lewat pertigaan Kaligua, Kretek. Perjalanan mulai berkelok-kelok, dan naik-turun.
Saya sendiri tidak menyangka kalau perjalanan menuju wisata agro di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes tersebut terasa begitu jauh (Padahal tugas saya mudah, hanya menumpang alias nebeng boncengan). Syukurlah karena mendapat hiburan gratis berupa kelebatan cemara, pinus, udara basah, keramahan penduduk, serta kebun-kebun tomat dan kubis. Tapi rasa dingin yang mulai menusuk ke kulit mmebuat saya resah. Sudah terbalut jaket pun, dingin yang mungkin mencapai 4-12 C itu tetap bisa menggigilkan tubuh.
Berangkat ke kaligua dalam kondisi flue seharusnya bukan ide yang baik. Karena udara dingin semakin mempersempit rongga hidung. Solusinya, beli satu pak tissue di dekat pembelian tiket masuk. Dalam hati, ingin sekali membuat survei berapa persen orang yang tidak mengalami bersin dan pilek mendadak di tempat ini.
Sebelum berangkat, saya sudah begitu penasaran dengan Telaga Renjeng/Lele. Bukan tempatnya melainkan mitos yang berhembus tentang telaga itu. Saya mendengar, lele disana tidak boleh ditangkap atau dibawa pulang tanpa ijin. Namanya juga telaga keramat. Menurut penduduk sekitar, kenekadan mengambil ikan/lele di telaga itu bisa berbuah bencana. Lupakan mitos! Karena saya memang tidak akan ke tempat “wingit” itu melainkan ke gua jepang.

Setelah memarkir sepeda motor dan merohok kocek Rp 2000 (yang ternyata biaya parkirnya tidak disatukan dengan tiket masuk), saya harus menempuh jarak sekitar 250 meter sebelum menikmati sensasi menelusuri lorong gua Jepang. Tanpa pemanasan plus kurang olahraga, membuat nafas terasa berat. Pegal di daerah betis dan pinggang juga mulai terasa ketika jalan yang. Saya membatin, kalau teman saya yang ingin diet alami bisa fitness manual di sini.
Gua buatan penjajah dari negeri Matahari ini konon dijadikan tempat persembunyian para petinggi tentara Jepang. Berada di bawah bukit kebun teh, gua ini memiliki panjang lorong 800 mtr-an, namun untuk keamanan hanya sekitar 300-an meter yang boleh dijelajahi. Kalau hari Minggu neon di dalam lorong gua akan dinyalakan. Tapi, saat saya menyusuri gua yang lembab dengan tetes-tetes air dari beberapa bagian atapnya itu, lampu sempat dimatikan lima menit. Lalu terdengar teriakan-teriakan ABG. Mungkin para anggota pramuka yang sedang camping. Di samping saya, pemandu dengan sigap menyalakan lampu senternya sehingga mengurangi rasa takut saya terhadap gelap. Pemandu juga memberi banyak penjelasan tentang sejarah dan fungsi ruang-ruang di gua jepang. Ada ruang tawanan, ruang sidang, ruang senjata, ruang penyiksaan, bahkan ruang prostitusi sang jugun ianfu (langsung terbayang Tuning di novel ca bau kan). Ruang berisi sarang kalelawar tidak kami sentuh karena jalurnya memang licin dan parah. Saya sarankan, jangan masuk ke gua jepang tanpa pemandu. Pasalnya, petunjuk arah di dalam gua banyak yang rusak dan hilang. Salah-salah bisa tersesat. Jangan gusar, karena secara tidak langsung pemandu meminta imbalan (seikhlas dan pantasnya).
Waktu yang singkat (karena saya sudah di tunggu di Bumiayu untuk makan siang), membuat saya gagal mengunjungi areal wisata lain seperti TeP Walk, Pembibitan Teh, Panen Teh, Pabrik Pengolahan teh, Jasa Layanan teh, Petilasan Van De Jong (Mbah Joko), Turbin Kuno, Teluk Bening, Goa Barat, Telaga Ranjeng dan sebagainya. Saya yang ngiler dengan kebun strawberry terpaksa gigit jari karena belum menemukannya.
Sebelum kembali untuk makan siang, saya mencukup-cukupkan waktu memandang kabut yang terus saja bergulir menyentuh pucuk-pucuk teh Kaligua warisan pemerintahan kolonial Belanda tersebut. Saya tidak menyangka kalau saat saya berdiri di sana saya sebenarnya tengah berada di lereng barat gunung Slamet (3432 m dpl). Dari tempat saya menjejakkan kaki, saya bisa mengagumi keindahan puncak gunung Slamet dari dekat, yaitu puncak Sakub.
Saya berharap bisa kembali ke sana….someday over the rainbow…:)


Adventure of jenkna. Beberapa informasi diambil dari Wikipedia.
Spesial thanks to my partner, JICCO MALMSTEEN.

Melukis Malam

aku sedang mengingat-ingat bagaimana aku bisa terjatuh pada kegelapan dengan sangat mudah. melukisnya dengan keindahan yang membabi buta.padahal aku awam. rupanya, kegelapan datang disaat yang begitu tepat. yaitu, ketika aku tak kuat menanggung silau. dia meneduhkanku pada situasi sempurna.

dus, aku yang peka tak ingin berlama2 dalam gelap. dan mulai mencari cahaya. aku menguak tirai demi tirai demi mendapatkan berkas terang yang utuh. aku memarkir semua logika yang kupunya untuk bertanya pada banyak pakar kegelapan. dan kutemukan…sesuatu yang menggejala buruk. bahwa kegelapan (yang dalam imajinasiku bernyawa) sengaja menggenggamku dengan sebuah alasan. menghancurkan keceriaanku.

sebagai umpan balik, aku tetap melukisnya dengan lebih rupawan. semoga dia tidak pernah terjaga sehingga keaktrisanku melakonkan semua peran yang dia inginkan tiada cacat. dalam sudut pandangnya, aku sudah didekap ke dalam muramnya. nyatanya dari sisiku, sudah ku temukan benderang yang tak bakal disangkanya.

aku akan segera lepas dari gelap…
sssttt tapi dia tidak tahu….