Lunar dan Zenit

Lunar tidak pernah bisa berlama-lama merasa tidak terima, marah, atau kecewa pada Zenit. Saat Lunar murka, di detik yang sama, dia sejatinya sudah memafkaan. Bagi Lunar, kesalahan Zenit hanya biji apel kecil diantara daging buahnya yang ranum dan harum. Kesalahan itu sebenarnya cinta dalam wujud asing yang bukan untuk dihindari tapi diadaptasi
-Lunar Story-

Iklan

Gagal jadi Dukun

Mendengar kata dukun..udah kaya selebritis aja pamornya. Apalagi klo udah masuk tipi-tipi karena bisa nangkep hantu, nyembuhin kesurupan sama makan beling. Yah, dukun emang macem-macem bentuknya, dari dukun bayi, dukun kuda lumping ampe dukun buat sakit non medis alias guna-guna dan sebangsa sebenderanya.

Et dah kenapa jadi ngomongin dukun ya? Ini gara-gara bokap memaksa gw mendengar ceritanya di sore hari sebelum gw berangkat kerja. Padahal itu jam dinding udah nunjukin sore bangetttt.tapi berhubung ceritanya seru, ya gw duduk aja anteng di meja makan.

berawal dari percakapan ini:

Bokap : No (eno, panggilan gw), emang kena air keras orang bisa mati ya (dalam hati, tumben-tumbenan nih, gak bisa ditebak arah tujuan pertanyaannya. masa begitu bokap gak tahu, apa pura-pura gak tahu)

gw : hah, ya iyalah kecipratan aja melepuh, gemana sih.

Bokap : tapi dulu, bapak mandi pake air keras nggak papa tuh.

gw : ???? serius? (mulai terbaca, klo bokap mau agak-agak nyombong dikit pernah mengikuti SESUATU) hahahaha

Bokap : orang makan silet aja kaya kerupuk

gw : nah tu kan bener….ikut debus ni jangan-jangan (masih dalam hati)

Bokap : Makan beling juga bisa

gw : adudududududduuu stoppp, masa lalu yang mencurigakan

DAN KESIMPULANNYA ADALAH

Bokap gw hampir jadi dukun

whats muahhahahhaa gw sih mencibir2 nggak jelas gitu waktu mendengar kalimat tadi. tapi bokap gw menegaskan, itu bukan cita-cita atau ambisi, itu karena kemampuan yang dimiliki.

Tak ingin gw yang anak muda dan penuh logika ini, ngangkat2 alis sebelah tanda nggak respek mendnegar lata “DUKUN”, bokap segera menjelaskan apa yang dimaksud dia dukun dengan berstori ria.

Jadi, duluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu (eh udah panjang belum?) hehe

Begini, dulu, jaman gw belom ada, bokap gw itu ikut berguru di BANTEN. gilingan padi ya boooo. bokap gw gitu? masih nggak percaya gw…bokap gw beralasan, dia itu mempelajari ilmu Al Hikmah. Jadi, tidak bertentangan sama sekali dengan agama. Tanpa kemenyan, tanpa ritual yang menyesatkan dan tanpa melibatkan makhluk halus. semua murni dengan doa, dan hanya meminta pada sang Maha Pemberi Hidup.

Jadi dia dah biasa tuh udah dalam tahap praktek-praktek mandi air keras dan sederet praktek mengerikan lainnya. Sampe akhirnya dia tuh sanggup nyembuhin orang kesurupan. nah, singkat kata, dengan kemampuan yang dia miliki, dia tuh dah pantes jadi “DUKUN”, bisa nyembuhin orang gitu deh. Tapi karena syaratnya berat, bokap memilih tidak melanjutkan hobinya berguru di Banten.

Kata bokap, saat ada orang minta tolong, mau malem, mau siang bolong, mau subuh, harus mau. padahal dulu kan di hidup di Jakarta nggak serame sekarang, serem deh (eh sekarang juga makin serem yak).  Ketika menolong, keadaan juga harus bersih, baik dari hadas kecil maupun besar. harus wudhu. Nah, itu berat banget. Padahal, yang namanya orang kan kadang-kadang ada alangan dan kendala, nggak bisa selalu standby. itu yang bikin susah.

Terus, ada pantangan yang bisa bikin ilmu itu ilang sama sekali yaittu melakukan apa yang dikenal sebagai MO LIMO

*MAIN (judi, penjudi)
* MADON (prostitusi, baik laki-laki & perempuan)
* MALING (mencuri, rasuah, dll)
* MADAT (candu, dadah, ubat-ubatan)
* MABOK (minuman keras, mabuk)

Oke, gw sih yakin bokap gw, Insya Allah nggak praktek Mo Limo. Tapi kenapa ya, setelah setelah hijrah ke kebumen, ilmunya gak pernah dipake lagi. Kata bokap, ilmu itu pasti masih ada. karena amalannya juga masih inget. cuma tidak mungkin bisa seperti dulu, yang kebal senjata dan sebagainya.

Bokap : kalau mau bertindak ekstrem nggak boleh ragu-ragu. dalam sugesti kita klo makan silet ya anggap aja kerupuk, kalau digolok ya anggap aja digelitikin. Tapi klo sampe ragu (mamang -jawa), nggak bakal berhasil.

Gw : berarti bisa bikin orang yang mau jahat sama kita mental dong kaya yang ditipi2 itu.

Bokap : bisa.

Gw : coba praktekin.

Bokap : harus marah dulu.

gw : jadi bisa nggak

bokap : hehehehhe (ketawa ngeles). kalau kita sampai sombong, riya, ilmunya nggak bakal manjur lagii…(ini ngeles atau…hahhaha)

perbincangan merembet-merembet ampe ke mahluk halus segala. Bokap bilang, dlu ada orang kesurupan, dia tuh nggak bisa silat sama sekali. tapi begitu kesurupan, silat CIMANDE nya mahir banget. Nah, nggak ada yang bsa ngalahin tuh orang saking gesitnya. Nah, bokap gw katanya sih berhasil menjinakkan orang itu.

Apa untungnya sih, ikut begituan? Gw bukannya apa-apa. cuma klo ngeliat fenomena sekarang, banyak yang ikut begituan trus meregang nyawa karena prosedur yang tidak benar. Digolok, tangannya putus beneran, minum air keras, melepuh beneran, dilindes mobil modyar beneran, ihhh….ngapain sih ambil resiko?  idup itu lurus-lurus aja kenapa sih. gw aja yang ikut karate berharap cuma berantem di pertandingan, nggak di dunia nyata. gw bertanya-tanya dalam hati.

Bokap : dulu, bapak pernah mau dibacok sama orang mabok. tetangga rumah. bapak ngumpet gitu. Sebenarnya dah pegang samurai sih, tapi orangnya trus pergi. Nah, dari rasa takut itu, bapak nanya ke guru, kalau ada orang nyolot begitu kita mesti gimana. Kata sang guru, hadapi aja, jangan takut. Bukannya mau sombong, tapi kita kan sudah punya dasar ilmu buat bela diri.

Gw : trus? orangnya datang lagi?

Bokap : akhirnya timbul keberanian. Ya udah, pas ketemu, ternyata orangnya nggak apa apa, udah biasa lagi. nggak nyolot lagi.pokoknya jadi segen gitu.

Gw : karena takut sama bapak?

Bokap : nggak tahu juga, mungkin karena tahu bapak dan teman-teman berguru di Banten hehe…

Gw : yeeee…

Jadi apa yang tersisa dari bokap gw sekarang? setelah lama nggak nuntut ilmu di BANTEN..kata bokap sih, dikit-dikit tetep masih mengamalkan doa-doa yang dia pelajari. Setidaknya, itu yang membuat ia selalu “terjaga”.

Bokap : Yang harus diingat, meminta sesuatu harus pada Sang Pencipta. Hidup mati kita udah ditentukan. Jadi, kalau sudah pasrah begitu, kalau mau pergi kemana-mana ya tenang aja. Nggak perlu merasa was-was. Kan kita sudah ada yang menjaga…

Gw : manggut-manggut. wah coba beneran jadi dukun, kaya raya kitaaaa

Bokap : hus,,,, nggak boleh komersil. menolong harus ikhlas,klo kaya gitu, nggak boleh minta bayaran

Gw : untung gagal jadi dukun….bisa miskin kita hahhahaha

-Sore yang indah, berbagi cerita dengan yang terkasih-

^^ v salam…

BERKACA-KACA

This is Lunar Story again. Lunar is you, me, us, or another people. every person must experience it.

mata lunar berembun. begitu tebalnya hingga layar komputer di depannya tak terbaca. pekerjaannya terhenti. bukan hanya karena matanya yang memberat, tapi hati dan fikirnya yang tak mampu menahan sedih.

Lunar memutar otaknya terlalu keras. bertanya pada angin yang kebetulan lewat, pada cicak yang berkejaran di sampingnya, pada benda-benda yang tak bermulut dan berlogika. Begini, kenapa dua orang yang saling mencintai cenderung mudah menyakiti? Anehnya untuk persoalan yang sangat sepele?

Ada yang bilang karena rindu yang menggebu. Terutama bagi pasangan jarak jauh. Ada yang bilang karena rasa nyaman. Seseorang akan melampiaskan segala emosi pada pasangannya ketika berada dalam tekanan. Ada yang bilang juga karena sengaja berkonflik untuk menguatkan cinta.

Tapi, secara hati, bagi Lunar, pertengkaran sangat melelahkan hati. Apalagi jika sumbunya adalah persoalan seujung kuku, seperti kau lupa menawari kawanmu makan, kau abai ketika seseorang sedang berbicara di depanmu, kau mengantuk saat seseorang membutuhkanmu, kau memotong pembicaraan, kau membandingkan dirimu dengan dirinya.

Lunar seringkali memimpikan persoalan yang lebih besarlah yang membuatnya bertengkar. Seperti ditinggalkan secara tiba-tiba, tidak kunjung ada komitemen pernikahan, perselingkuhan, pemukulan, pelecehan seksual dan yang lebih besar lagi. Meski setelah dipikir ulang, itu harus diharamkan terjadi.

Masalh kecil, tidak besar tapi berdampak besar…karena sebenarnya sikaplah yang sedang diuji, kesabaranlah yang sedang memainkan perannya. Apakah karena tanda seru, ucapan singkat, ucapan ketus di SMS dan ujung telepon, membuat Lunar memutuskan hubungan? Atau menganggap itu hanya debu, sekali lagi di ujung kuku.

Lunar masih berkaca-kaca. Memang ditahan agar tidak menetes. Ada kata yang selalu dikenangnya, mencintai itu kesempatan, tapi mau atau tidak sehidup semati bersama orang yang kta cintai adalah pilihan. Lunar telah diberi kesempatan dalam mencintai, diberi pilihan untuk berhenti atau melanjutkan. Karena hidup tidak pernah sempurna, pilihan nasib ada pada kedewasaannya memilih.

Lunar mengerjap, berusaha fokus pada layar komputernya lagi. Dia menurunkan derajat panas dalam tubuhnya. Mendinginkan hatinya sendiri. Bahwa, air mata bukan penyelesaian masalah, tapi mengurangi beban masalah. jadi, bagi yang mencintai, ada waktu-waktu terntentu untuk merasa tersakiti. Jika kadarnya sudah melebihi kemampuanmu…mundurlah, karena hidup tidak dihitung berdasarkan kekhawatiran, kecemasan, dan penderitaan, hidup dihitung berdasarkan kebahagiaan yang tidak merusak kerja hati dan jantungmu…

Silahkan berkaca-kaca, pecahkan kaca itu juga boleh. Setelah itu gugat semua yang menyakitimu sampai selesai, secara halus maupun tegas. setelah ditemukan jawabannya, pilihlah jalan..bertahan atau selesai.

^^ V

Agree with Lunar or not, its up to you..keep spirit n smile..

Hawa dan Hawa Panas

Semakin malam, hatiku seperti larut dalam genangan air di sebuah cawan. larut setelah diaduk…basah bukan darah tapi air. Tentu bukan pada tempatnya, karena hati adalah daging yang berdarah bukan air. Juga bukan pada tempatnya, seperti paru-paru yang tenggelam oleh cairan.

Kenapa aku tiba-tiba menyinggung sebuah tempat? Karena ada beberapa kaum hawa yang tidak bisa menempatkan diri pada situasi kecemburuan yang dialami wanita lain. Sengaja membesarkan api. Dia tidak peduli pada siapa yang terbakar? Dia yang menyediakan alat panggangnya tapi tidak gosong di atasnya.

Lalu kenapa melakukannya? Salah satunya, karena tidak bisa menerima rasa malu dan merasakan kekalahan, bahwa pilihan sang lelaki tidak padanya. Tapi dia merengkuh ambisinya untuk bertahan pada si lelaki. Menggodanya sampai puas, Menceburkan diri sendiri dalam kobaran api (yang dia harapkan memang berkobar). Dan hanya bisa mati, jika dia mati (sebenar-benarnya mati, memiliki obsesi lain atau mati rasa)…

Wahai yang bermain-main dengan hati…

Sudahi saja membuat masa depan tertarik ke belakang. Berhenti sengaja membuat kaummu cemburu dengan cara-cara terbelakang. Buatlah kecemburuan dengan pengetahuan dan kecerdasan.

^^ v