Mengenalkan teman baru

po

KUNGFU PANDA film yang moralis ini emang menghibur hati. kadang kalo kepekaan kita lagi tertutup sama rasa minder,  kita emang perlu disadarkan sama orang lain soal kelebihan kita. Soal kelebihan makan sekalipun.

Tapi topiknya bukan si Po yang menggemaskan ini. Jenkna mau memperkenalkan teman baru. waktu pertama kali kenal,  yang jenkna lihat adalah kemontokan kesuburan badannya, he he he.  di alun-alun, di tenda jagung bakar yang sedikit remang, alhasil jenkna gak bisa melihatnya utuh bahkan sekarang jenkna benar-benar lupa wajahnya.

Meski tidak jelas, tapi perilakunya sangat jelas. dia teman yang baik, menyenangkan, dan senang menghabiskan pulsanya untuk menelponku (semoga aku tidak dikutuk ketika mengatakan ini).  Perkenalan pertama kami berawal dari dunia intercom, aku dan dia sama2 breakir dan anaknya anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) kebumen yang callsignnya JZ 11 bla bla.

baiklah ini dia…..img_0728

eh sengaja salah pasang. ini mah ID card wartawan gw. but, berhubung die belon ngirim foto jadi sementara aku sebut namanya saja, sesuai permintaan dia yang ingin narsis

FIAN SETIAWAN

cowok kelahiran 5 Mei 19…(kalo diteruskan dia pasti ngamuk) ini akan menjadi fans   temanku yang baru. buktinya, sebentar lagi mungkin konter hp milikny akan bangkrut karena terlalu sering memakai uang perusahaan untuk menelpon jenkna. terimakasih atas pemborosan yang tak terhingga ini.

Keluarga kami saling mengenal baik dan dia sendiri berharap bisa berjodoh denganku. ke ke ke ke. Cukup2 aku bisa dikalungin golok untuk mengatakan hal seberani ini.  

Yups, jenkna sudah memenuhi permintaan Fian untuk menampilkan namanya disini. THE END

Another Topic

Ohya, aku dikirimi sebuah email dari teman yang isinya menciutkan nyaliku yang sudah ciut mendnegar kata mati. Semoga keimanna kita bertambah setelah membaca ini.

Siapkah Kita Menghadapinya?

“Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar’ (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri).”

(QS. Al-Anfal {8} : 50).

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawamu!’ Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya”.

(Qs. Al- An’am : 93).

Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan. Bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Allah, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.

“Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang”. (H.R.. Ibnu Abu Dunya).

Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka’at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik kelangit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Allah Swt agar diperkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Allah Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.

“Assalamu’alaikum, yaa Nabi Allah”. Salam Malaikat Izrail,
“Wa’alaikum salam wa rahmatuLlah”. Jawab Nabi Idris a.s.


Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail. Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun ditolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya “menghadap”. Allah sampai keesokan harinya.

Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan “tamunya” itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.

“Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita”. pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).
“SubhanaLlah, (Maha Suci Allah)” kata Nabi Idris a.s.
“Kenapa ?” Malaikat Izrail pura-pura terkejut.
“Buah-buahan ini bukan milik kita”. Ungkap Nabi Idris a.s.

“Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan
makanan yang haram”.

Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s.

“Siapakah engkau sebenarnya ?”
“Aku Malaikat Izrail”. 

Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

“Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?” 
“Tidak. Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu”. 

Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.

“Aku punya keinginan kepadamu”. Tutur Nabi Idris a.s
“Apa itu ? katakanlah !”. 
“Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Allah SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah
rasa takutku kepadaNya dan meningkatkan amal ibadahku”. 
“Tanpa seizin Allah, aku tak dapat melakukannya”..

Pada saat itu pula Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Allah Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. Sesudah itu beliau wafat.

Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Allah SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Allah mengabulkan permohon-annya. Setelah dikabulkan Allah, Nabi Idris a.s. hidup kembali.

“Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?” Tanya Malaikat Izrail.
“Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti”.
“Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu”.
 

MasyaAllah, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu datang kepada kita ?

Siapkah kita untuk menghadapinya ?

adik berkata

selamat hari lahir mbak..

selamat hari lahir mbak..

Hari ini genap 34 tahun kakakku Tri Ary Eistianty lahir ke dunia.

dia kakak perempuan yang paling aku sayangi, oke, kecenderungan ini memang tidak baik, karena aku masih punya satu kaka perempuan lagi. Tapi karena terpisah sejak kecil, rasa sayangku sedikit berbeda.

Mba ary seorang guru SD di sebuah desa terpencil, Telaga. daerah pegunungan. dia sendiri pesimis bisa pindah karena tidak ada guru yang mau menggantikan posisi dia dan suaminya di sana. sementara suaminya adalah satu-satunya harapan ayahnya yang seorang kyai cukup ternama di kebumen untuk mengganti sang  ayah memangku masjid. kalau suaminya pindah dulu, siapa yang mengantar mbak ary dan anak-anak ke sekolah? naik ojeg setiap hari, tidak aman dan tidak efisien biaya. kalau mbak ary yang pindah dulu, suaminya juga repot mengurus dua rumah tangga  yang berjauhan. belum ada keputusan final hingga saat ini, mereka masih bertahan di gunung, dengan fasilitas yang seadanya  (ada kulkas, parabola, TV, komputer, PS, mesin cuci) yeah meski gunung, alat2 listrik tidak terhambat masuk ke desa. kata mbak ary, anak-anaknya wajib difasilitasi karena metode pembelajaran diparasi jauh tertinggal dengan pendidikan di kota. harus ada semacam home schooling buat kedua anaknya jika tidak ingin tertinggal peradaban. jadi walau dua ponakanku tiap hari bergaul dengan belalang atau sapi,  setidaknya mereka bisa ngetik di MS word dan buka Adobe Photoshop.

di luar kisah mbak ary…

aku juga punya kakak yang dulu sempat aku benci meski sebenarnya sangat aku sayangi. aku tidak yakin hubungan kami sudah sempurna sekarang, hanya sedang dalam tahap taaruf. aneh ya aku pedekate dnegan kakaku sendiri? tidak ada terlambat kawan. siapapun yang punya bad relationship dengan saudara sedarahnya. silahkan baca perjuanganku ini.

kenapa sulit membagi waktu untuk sekedar menuliskan rasaku di badanmu dee…

sepertinya lelah menarikku ke lubangnya dan meneggelamkanku sebisanya.

tapi malam ini kusempatkan dee…meski tidak lama

Hormatku pada seluruh abang di muka bumi ini yang mencintai adik-adiknya…yang melebarkan tangannya untuk selalu  merengkuh dan melindungi si adik. Bila aku meraung dan berteriak pada alam sebagai orang yang kurang beruntung, pahamilah itu hanya sisi manusiawiku yang sejenak saja, disisi lain aku sangat bersyukur.

Abangku hargie, kami diikat darah yang sama. Usiaku 6 tahun sesudahnya. aku hanya menjalani takdir sebagai bungsu, dan kelahiranku tidak kumaksudkan untuk merebut kebahagiaan abangku sendiri. tapi, abangku cemburu, keagungannya beralih padaku, sanjungan yang biasa menghujaninya menderas padaku. abangku menolakku, katanya suatu hari aku bukan adiknya, dia memilih adik-adik lain yang tak sedarah dengannya dan memamerkannya didepanku. “Hei ini adikku…”lirikan sinisnya nyaris membunuhku!

Bertahun-tahun airmataku tumpah karena diabaikan, padahal cintaku padanya terus tumbuh bagai seorang kekasih. Aku memulainya dari kecil, mengadu padanya saat dicaci maki teman, mengadu padanya saat sedih namun aku dihempasnya seperti debu. Aku tidak mendapat pembelaannya sama sekali. aku justru disalahkan. aku kembali meradang, Tuhan…abangku ini duh….

Dewasa, aku mulai berpikir untuk melupakan punya seorang abang, toh abangku masih sisa satu, dia sayang dan memanjakanku. tapi hati yang entah disebelah mana berteriak bohong, aku tetap berpikir bagaiamana bisa membuatnya takluk. aku tetap kesulitan, abangku bukan milikku jiwanya milik Tuhanku, Allah yang Maha Pembolak-balik hati hambanya.

pelan namun pasti aku mulai dianggapnya. meski caranya mencintaiku mungkin menyakitkan. Dia menunjukkan kasih sayangnya masih dalam diam. hanya barang-barang peninggalannya yang dia onggokan begitu saja diatas tempat tidur tanpa kata-kata. atau hanya dalam bahasa pendek “Itu celana buat kamu, dicoba,”  “ini jam, makenya begini,” “Tuh jaket,” atau sejumlah barang muncul dikamarku tanpa prolog darinya. ketika hendak kutanyakan buat siapa, dia sudah kembali ke jakarta, bekerja. dia tetap tak kumengerti, bahkan hingga kini aku masih berpikir buruk, mungkinkah aku ada dihatinya? atau barang-barang itu sudah cukup mewakili bahwa rasa sayangnya juga tumbuh bersama barang-barang yang ia lungsurkan padaku. dia bukan sedang menghinaku kan?

lalu beberapa tahun belakangan ini, hubunganku dengannya tak menentu, pasang dan surut, tapi aku mulai meresapinya sebagai abang. dia cukup perhatian saat menjelang akhir kuliah, dia cukup simpati saat aku belum juga mendapatkan pekerjaan, dia melayaniku dengan baik saat menumpang sebentar dikostnya. aku tidak akan lupa adegan ini seumur hidupku. ABANGKU MEMBELIKAN ROTI BAKAR KEJU, bahkan mungkin dia sendiri tidak tahu aku sangat menyukai makanan itu. aku juga tidak akan pernah melupakan kata-kata lembutnya. “Adek mau rujak?” apa aku telah menghantam gendang telingaku sendiri hingga tuli dan salah mendengar pertanyaannya, tapi dia mulai sering memanggilku dek, tidak hanya saat disurat tidak hanya saat dia butuh. dan peristiwa yang paling aku kagumi seumur hidupku adalah saat dia menyelamatkanku dari peristiwa menyedihkan di rengasdengklok. waktu itu aku bermasalah, aku tidak kuat menanggungnya, dan tanpa pikir panjang aku meminta bantuan bang hargie, hal yang belum pernah aku lakukan padanya “memohon”, entah keberanian dari mana, yang jelas aku mengirimkan sms panjang untuknya, aku tahu dia sangat sensitif, bila tidak suka tidak akan menggubris bahkan bisa emosional sekali.

“Bang, aku gak bisa menceritakan apa masalahnya, pokoknya jemput aku dalam waktu dekat ini, plis,”aku mengemis di sms.

abangku datang! dia datang dengan muka lelah karena pekerjaan, tapi ada keikhlasan disana ada tanggungjawab dimatanya. ini tipuan optik atau bukan, pokoknya abangku menjemputku, membawaku ke tempat yang lebih aman untuk hatiku.

buatku ini perjuangan sepenggal galah ini belum cukup. aku ingin abangku lebih menyayangiku. aku bahkan belum bisa memeluk leher atau badannya dengan lama. waktu lebaran, aku meminta ijin untuk mecium pipinya, dia tidak mau. aku pernah memaksanya sekali, aku tahu dia enggan, tapi aku berhasil merasakan kasarnya bulu rambut disepanjang dagu dan pipinya. sekali dan tidak pernah lagi. kini aku harus puas dengan punggung tangannya yang bersih. aku menciumnya dengan hikmat dan ta’zhim. Rabbi…jalan mana lagi yang harus aku tempuh untuk meraih abangku?

PR, Lagi?

1. THE AGE OF NEXT BIRTHDAY
tapi muka 17 loh
tapi muka 17 loh

 2.THE PLACE I WOULD LIKE TO VISIT

        mekah4         

3. MY FAVOURITE PLACE

tempat-fave

4. MY FAVOURITE FOOD

sayur-asem

makanan-fave

6. CITY I WAS BORN

condet tempo dulu

7. NICKNAME I HAD

lindri

8. COLLEGE MAJOR

sociology

9. BAD HABIT

marah

10. HOBBY

karate

11. MY WISH LIST

menikah-wish-list

jadi-penulis

12. THE THING THAT I LIKE IN ALL OCCASION

cinta

tabah

life-must-goon

Ini dari sebuah milis:

Masih ada yang berani bilang hidup ini berat??

Silahkan bercermin pada Mr Pheng..

Setelah itu ucapkan sekali lagi..

 

Something to inspire us that LIFE MUST GOES ON
 

See a sort of inexplicable enthusiasm, firm confidence and indomitable tenacity in his face?! Marvelous?! For people who make themselves in distress because of futile, frivolous and trivial reasons? Let’s see him and l earn myriad lessons from him?!

Miracle Man Walks Again  Monday, July 9, 2007
He survived against all the odds; now Peng Shu Lin has astounded doctors by learning to walk again.

When his body ! was cut in two by a lorry in 1995, it was little short of a medical miracle that he lived. It took a team of more than 20 doctors to save his life. Skin was grafted from his head to seal his torso? But the legless Mr Peng was left only 78cm (2ft 6in) tall.

Bedridden for years, doctors in Chin a had little hope that he would ever be able to live anything like a normal life again. But recently, he began exercising his arms, building up the strength to carry out everyday chores such as washing his face and brushing his teeth.

Doctors at the Chin a Rehabilitation Research Centre in Beijing found out about Mr Peng’s plight late last year and devised a plan to get him up walking again. They came up with an ingenious way to allow him to walk on his own, creating a sophisticated egg cup-like casing to hold his body with two bionic legs attached to it.

He has been taking his first steps around the centre with the aid of his specially adapted legs and a resized walking frame. Mr Peng, who has to learn how to walk again, is said to be delighted with the device. What a Self Confidence! Great!

Neither keeping this mail in cold storage… nor deleting it… but circulate it…

Buat kamu yang cepet ngambek dalam ngejalanin hidup dan selalu nuntut kesempurnaan. Kayaknya kisah hidup mr pheng patut diteladani.