Jangan sekarang Jenk…

Judulnya seperti mencegah, yes thats right.

dalam keadaan ingin menyerah, aku wajib mencegah jiwa manja, cengeng, kerdilku biar tetap bertahan.  kalau ingin berbalik arah, plis jangan sekarang jenk…tunggu sampai hatimu bulat bukan berupa kepingan seperti sekarang. Karena untuk memulai sesuatu yang baru kamu harus mengumpulan ceceran itu dulu, baru melangkah lagi. jadi pastikan utuh ya.

another topics…

meski samar aku selalu mencamkan kata-kata M anis matta, penulis kolom ayah di majalah Ummi tentang marah. marah itu sesungguhnya bisa dikelola. sungguh! kalau kita mau kita bisa mencegat kata-kata marah hanya sampai di kerongkongan dan mengubahnya menjadi senyuman. bahkan, kita bisa belajar memeluk disaat ingin memukul. Aku pernah mencobanya pada zee, dan berhasil, sedikit……yah paling tidak aku mempraktekannya.

maka aku bertanya pada manusia-manusia pemarah!!!! bisakah ia belajar dari seorang anis matta? bagi yang anti kritik, bisakah ia meneladani anis matta? jawabannya pasti bisa, cuma rasa sombong yang terlanjur melekat akan mengubah mau menjadi enggan.

menyampaikan peringatan bagi si pembuat salah dnegan kata-kata merendahkan dan dnegan nada kecaman, tidak akan mengubah seseorang itu menjadi lebih baik tapi menekannya pada kedalaman kebodohan. Perhatikan kata berikut:

“Kamu nggak bener!” dengan “saran saya kamu melakukan ini saja, saya pikir itu lebih baik buat kamu,”

BEDA TOH! apa karena kurang efektif, terlalu bertele-tele lantas membuat mulut malas mengucapkannya. aku pikir tidak. sulit, memang iya. tapi patut dicoba.

waktu zee bikin salah, aku ingin menggodognya dalam kuali. menamparnya saat bertemu, memakinya. Tapi, aku tidak melakukannnya, aku menggali lubang lebih dalam di palung hati supaya bisa menampung maaf demi maaf buat zee. hasilnya, zee berubah bukan karena aku, tapi dia menemukan dirinya sendiri karena di beri kesempatan kedua olehku. kesempatan untuk menemukan dirinya…

tapi buat si pemarah tidak ada yang lebih pantas buatnya kecuali mati dalam kebencian yang diciptakannya sendiri, serta dibenci mahluk di bumi yang pernah dianiaya oleh mulut jahatnya.

Horor bin Honor

sebelum menulis pengalaman super berat ini, aku memastikan disamping kanan dan kiri t4 aku duduk ada orang, kalau ngga, suara segede uang receh bakal bikin aku ngibrit keluar ruangan (ingat lebih serem dibanding scary movie)

Klo gak salah inget, tahun 2002, tanggal lupa, bulan lupa, di SMU N 2 pemalang.

Aku, beberapa teman seangkatan dan para semphai (pelatih) juga sensei (guru) dari dojo Unsoed, nebeng nginep si SMU N 2 pemalang karena kejuaraan karate se Jawa Tengah plus piala bupati pemalang berlangsung ampe dua hari. AKu sendiri dah turun di kata, tinggal giliran kaka2 perguruan  yang belom pada fight di kumite.

Aku yang gak biasa mandi malem, terpaksa nenteng anduk dan antek2nya demi menjaga harga diri (bilang aja lagi naksir semphai…….biar gak keliatan jorky). Sumpah ngantri kaya lagi nugguin jirigen minyak tanah, padahal kamar mandi ada 3/4 buah (klo gak kicer mata gua). Waktu itu aku sama irsa, dan darsiti orang tertomboy di gojuryu karate-do shinbukan (haiii…dar…katanya sekarang pindah ke BKC, gak popo, yang penting kamu bahagia). Tiba-tiba pas banget ada dua yang kosong, ujung sama ujung, irsa diujung kiri, aku diunjung kanan. Payah! gak bisa ngintip bohainya irsa (hai sa, kuping lo berair gak digosipin, klo iya berarti lo congekan hee).

Biasa, sejelek-jeleknya kamar mandi, tetep aja ada airnya (ya iyalah). Maksudnya, tetep aja aku sing a song gitu, secara suaraku kan agak mirip beyonce (gabungan beybek sama once, ih garink). Gak tahu kenapa, hati kecil membatin klo nyanyi dikamar mandi gak baik buat kesehatan eh bukan maksudnya bakal mengundang sesuatu yang magic atau mistic karena kamar mandi sekolah dimana-mana storynya mang horor. Dingin dan jarang disentuh manusia bukannya tempat yang nyaman buat yang mbaurekso2? hihi

Nah!!!Saat mengguyur badan sembari mengeluarkan suara vibrasi yang mengalun sesuai pitch control dengan pengaturan nafas lewat perut dengan tempo alegato (halah kepanjangan!), tiba-tiba punggungku dilempar benda. Klutak, kena tulang kali. No!! aku mulai panik. I’ve to calm down, umurku dah diatas 20 jadi gak bole cemen. Rasa yang seharusnya ada tuh marah bukan takut, karena sapa tau ada yang pengen bintitan dengan sukses pake cara ngintip orang mandi. SO, aku mencari lubang-lubang angin yang sekiranya bisa disalahgunakan untuk pornoaksi. GAK ADA! klo pake logic, memang antara kamar mandi satu dan yang lain, cuma dipisahin tembok, sedangkan temboknya gak nyampe atap, jadi mungkin banget buat ngintip tetangga sendiri, but, kamar mandi samping aku kosong blong. irsa kan diujung. lagian arah benda yang ternyata uang logam 100 perak itu dari belakang bukan dari samping depan. Pintu kamar mandi juga langsung bablas nyatu ma tembokl gak nyisain lubang apapun. aku kena heart attack ringan, uh uh.

Its over? no!, masih ada to be continuenya. Punggungku dilempar lagi dengan benda yang sama, dalam hitungan detik setelah aku menghela nafas demi menenangkan diri. lagi2 koin 100 perak. Ya Allah, aku mulai nyebut. dan mulai berprasangka buruk sama irsa.

jenkna: sa lo jangan becanda deh!

irsa : (kayaknya sih lagi gosok2 badan) becanda apaan, orang gue kagak ngapa-ngapain! (logat bekasinya keluar)

jenkna :lo gak ngelempar koin ke gue kan?

irsa: (mulai gemeteran takut), eh yang bener lo…

Kya! irsa aja bengong apalagi aku. aku menghentikan mandi dan membuka pintu kamar mandi (heboh donk..), dengan muka pucat (mungkin) aku nyembulin kepala nyari darsiti, aku punya tugas suci buat dia, jagain aku dengan ke-tomboy-annya.

jenkna: Darsiti…mo minta tolong niyy

darsiti: (polos, berasa lebih muda jadi naruh hormat sama aku, padahal jago karate, kena tendangannya bisa nungging, hiks) ya mbak

jenkna: pintu kamar mandinya, gak aku kunci, tolong pegangin dari luar ampe aku kelar mandi, 5 menit sekali aku panggil kamu, kamu harus nyahut ya?

darsiti: (polos) iya mbak

pfyuhh, darsiti emang berguna. tapi yang terjadi adalah sepuluh detik sekali aku manggil darsiti bukan 5 menit sekali. dan cewek berperawakan cowok itu selalu kalem menjawab, ya mbak…sip banget.

meski menakutkan uang tetep uang gals. pas selese mandi, aku  mungut tuh koin sebagai bukti bahwa aku telah dilecehkan oleh mahluk tak tredeteksi yang absurd banget.  dan itung-itung honor juga buat nambah-nambah celengan. aku gak sabar pengen cerita di depan teman-teman dan para tetua perguruan bahwa ada kejadian yang menimpa salah satu murid terbaik (muke lo jauh) dojo unsoed ini.

abis mandi, irsa lebih pucet dari aku. dia yang biasa mandi 2 jam, berhasil menyamai rekor mandi cibang cibungku.

irsa: gila lo, bikin gue takut aja. tau gak gara-gara lo ngomong dilempar, gue tuh ngeliatan ke bak melulu takutnya ada bayangan apa gitu.

jenkna : ya maap, mo nyalahin darsiti kan gak mungkin. kena bogemnya anfal gue (percakapan ini bohong belaka)

beberapa jam setelahnya, semphai, kohei, aku dan teman2 yang lain ngumpul ngoterin gerobak nasi goreng. pelan2 aku mulai membuka aib, soalnya i need help, really. sayangnya yang aku ajak sharing tuh mas timy widyatmoko, semphei yang aneh.

jenkna:mas nih ya, aku tuh baru ngalamin peristiwa serem. masa aku dilempar koin pas lagi  mandi

mas timy: ada yang ngintipin kamu kali. hayoo.

anak2: GErrrrr (kurangajar)

jenkna: tapi gak ada lubang sama sekali kok

mas timy: coba mana koinnya, sini aku yang pegang

jenkna: (dengan senang hati, daripada beban hidup pegang duit gaib) boleh juga…

eniwei…pagi2nya aku heboh karena mas timmy mengungkapkan sebuah fakta. fakta yang bikin aku tambah terpuruk karena kayaknya “human” yang lebih berperan jahat disini, not the invisible hands.

Mas Timy: eh tau gak, uangnya berubah lho.

jennka: (polos, langsung membenarkan tahayul bhw benda dari mahluk halus akan berubah bentuk cepat ato lambat) yang bener mas, jadi apa? (membayangkan jadi daun, seperti film2 susanna)

mas timy: (tanpa dosa), Rokok….

jenkna: ???? Kok bisa maksudnya

mas timy: iya udah gue pake, buat beli sebatang rokok

jenkna: gubrakk krompyangg deziggg

 

Trus…..ini kejadian apa donk…….orang ato siapa si yang nglempar gue, any answer?