Tips : Memenangkan Rasa Bahagia Saat Diuji (2)

Assalamualaikum ^^

Masih tentang pengalaman merawat suami yang terkena DBD sehingga harus berlebaran di Rumah Sakit. Bagaimana mengubah suasana nelangsa menjadi bahagia beneran, bukan sekedar pura-pura bahagia? Klise sebenernya. Banyakin bersyukur daripada mengeluh. Dibandingkan pasien yang lain yang harus dipasangi selang di alat vitalnya, atau bayi mungil yang kena muntaber, suami saya lebih beruntung, sudah bisa jalan-jalan sambil bawa-bawa infus.Boleh makan-minum enak. 🙂

Yang perlu dikelola adalah rasa bosan. Yang sakit, pasti merasa bosan, terbaring lemah di tempat tidur. Yang menunggui si sakit, seperti saya, lebih luar biasa bosan. Saat suami tidur, saya sendirian. Tidak ada yang bisa diajak mengobrol. Kebetulan rumah sakit tempat suami dirawat sepi pasien. Kalau tidak salah hanya ada 6 pasien sehari jelang lebaran, tiga di lantai bawah, tiga di lantai atas hehe… jaraknya juga jauh.

Terus biar tetep hepi ngapain?

1. Anggap honeymoon

Rumah sakit itu anggep aja hotel yang bau obat. Syukur-syukur, ada sudut-sudut rumah sakit yang viewnya pemandangan alam indaah. Buat yang long distance relationship kaya saya, momen berduaan dengan suami itu berhargaaa banget. Jadi apapun keadaanya, asal berdua ya usahakan berkualitas. Honeymoon kan identik dengan pacaran, klo orang sakit emang masih bisa? hehehehe. Ya dibisa-bisain, jadi manusia kreatif, inisiatif, aktif gitu. Waktu malam takbiran saya sama suami duduk di koridor rumah sakit yang ngadep ke jendela, ngelliatin kembang api sambil genggaman tangan. hehehehehe. Alhamdulillah beberapa saudara juga njenguk, jadi malah ngobrol seru. Paginya makan opor berdua, dan ngemil kacang telor.

11745442_927258310671295_1751009158130400046_n

Ini view dari jendela kamar suami saya dirawat, indah banget kan.

2. Cari kegiatan yang asyik

Kami memanfaatkan jaringan internet untuk browsing, lalu asyik “berdebat” soal nama bayi, hehehe, seru juga loh, nggak kerasa udah melewati hari. Nggak kerasa tangan lagi diinfus wkwkwk

Nama Bayi Perempuan

3. Tertawakan keadaan

Sepait apapun kondisinya, dibawa senyum aja. Anggap guyon. Termasuk kalau kamar rawatnya dihuni mahluk dunia lain hehehe. Suami saya ngajak saya lebih santai menghadapinya. Kalau pintu kamar buka tutup sendiri, ngga ada angin gak ada ujan, dia langsung natap saya sambil senyum-senyum. Saya tahu itu tatapan ngeledek, karena hati saya mengkeret. Dan abis itu, pasti langsung lompat naik ke tempat tidurnya dan narik selimutnya.

Di sisi lain, saya bersyukur, suami termasuk orang yang supel, jadi yang nengokin banyak. Lebaran di rumah sakit malah kaya open house. Sampe gelar tiker nampung orang-orang yang besuk. Makanan ala-ala lebaran juga lengkap. Beli air mineral satu dus ampe kurang hehehe..  ya lucu aja, kalau di rumah mungkin nggak bakal bisa open house kayak gini..

4. Salurkan kasih sayang

Ehem ehemm, ini khusus buat suami istri aja yaa.. 😀

Harus sabaaarr ngadepin orang sakit yang cenderung sensitif dan gampang ngambek. Alihkan rasa kesal jadi sayang. Orang sakit secara psikis juga butuh mood bagus untuk cepet sembuh. Sedikit stres aja bisa bikin kondisinya drop. Kalau kesel, lebih baik diem. Turuti aja apa maunya, selama tidak membahayakan kesehatan. Saya setengah sadar kadang matanya masih rapet disuruh mijit punggungnya kalau dia lagi nggak bisa tidur. Atau mendorong tiang infusnya kalau dia pengen jalan-jalan. Jangan pikirin “duhhh capek nihhh” tapi pikirin, bakal lebih capek lagi kalau si dia nggak sembuh-sembuh. Jadi, fokusssssssss sama kesembuhannya aja.

Kalau dia udah tidur, tatap deh wajahnya dalam-dalam. Rasanya, pengen gantiin posisinya ya hehehe.. saya suka elus-elus rambutnya, cium keningnya atau menggenggam tanganya saat dia udah tidur. Ya nggak tahu ngefek atau enggak, saya berharap bisa menyalurkan energi positif (baca: kasih sayang) saya saat itu. Jangan lupa berdoa. Karena nggak bakal ada kesembuhan, melainkan atas kehendak-NYA.

11224631_928146553915804_430336986687592348_n

5. Jadi perawat

Kalau ada perawat sungguhan, istri bisa berperan jadi perawat gadungan. xixixixi. Kapan lagi bisa jadi SATPAM buat suami. Nggak harus galak, cukup dengan tatapan tajam aja. Yah, daripada mengeluh, lebih baik, sibukkan diri merawat suami.  Setiap suami terbangun, saya selalu menawarkan minum atau makan. Untungnya dia sadar diri, kalau pasien DBD harus minum air putih ‘gila-gilaan’. Pokoknya tiap dia buka mata, saya pasti nawarin sesuatu. Termasuk mau dilap apa enggak, karena belum memungkinkan untuk mandi. Orang sakit minum obat pasti keringatnya nggak enak banget, jadi harus rajin dilap, digantiin bajunya, jangan lupa pakein deodorant hahaha. Saya menikmati banget momen-momen itu.

11755276_927219134008546_7634809769050727345_n

Momen sebelum menyeduh angkak. Kata suami, pahit sih enggak, tapi kaya minum rendaman air tanah. errrrrr

Sebenarnya masih banyak tips-tips menciptakan nuansa bahagia saat kondisi sengsara. Tapi cukup lima aja. Sisanya bisa dikreasikan menurut kebutuhan masing-masing. Semoga bermanfaat yaa.

Salam Cinta

JENKNA

Iklan

4 thoughts on “Tips : Memenangkan Rasa Bahagia Saat Diuji (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s