Tentang Beranda Jiwa (8)

Beranda #12

Sheila memandang langit seolah tanpa matahari, bulan, bintang,  juga tidak berbenturan pandang dengan gumpalan awan mendung. Sheila menikmati langit dengan pikiran kosong tanpa penilaian, karena bukan pada matanya, tapi hati Sheila yang sedang bergerak-gerak atau mungkin  jantungnya yang melompat-lompat.
Sudah lama aroma bunga itu tidak hadir. Hitungan jemari Sheila menunjuk jumlah tahunan dimana ia tidak pernah merasa seperti ini. Tampak ada harapan baru yang membimbing tangan untuk mencapainya. Meskipun Sheila mesti berjuang lagi? yah, tidak ada salahnnya Sheila mencoba lagi.
Bagi orang-orang yang terbiasa diliputi perasaan begini, mungkin Sheila termasuk terlambat atau terlalu membesar-besarkan suasana hatinya.
Tapi Sheila sangat menyukai perasaan yang semacam ini, hangat sekali.
“Tanganku sudah lelah mencari kait untuk melengkungkan jemarinya. Kalau itu benar kamu, bolehkan aku meminjamnya? Untuk mengaitkan kelingkingku? Aku tak berani lebih, cuma kelingking saja,”
Sheila masih tertanam di dalam selimutnya. Tapi otaknya tidak berhenti berputar. Dia sudah yakin kalau cinta yang dia cari sudah terhampar di hadapannya. Tanpa Sheila harus terlalu banyak meminta. Dia datang seperti angin yang tidak tahu kapan akan berhembus. Dan kapan akan berhembus lagi.
Sheila kali ini tidak ingin membantah. Sheila takut dia akan terperangkap menjadi perempuan tanpa cinta seperti yang pernah dikatakan Riana.
Sheila terlalu sedikit memiliki pengalaman jatuh cinta. Dia sendiri masih menebak-nebak perasaan Tyo. Apalagi dari beberapa penggalan kisah yang dibeberkan Tyo saat di Kaligua, teman wanitanya cukup banyak. Tyo bahkan pernah mengalami trauma mendalam karena ditelikung sahabatnya. Saat dia sedang mempersiapkan pernikahan, ternyata kekasihnya tidak sabar menunggu lalu berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
“Aku hancur Sheil. Empat bulan tertatih-tatih mencoba bangkit. Tapi hatiku terlanjur gosong, apa bisa hati gosong kembali lagi jadi putih bersih. Sudah dicuci pun, pasti masih ada arangnya. Tapi itulah cara Tuhan menyayangiku, dia tunjukkan dengan cara yang sebenarnya sangat halus. Aku diberi ganti, kebahagiaan yang bertubu-tubi. Mendapat pekerjaan, memiliki pendamping baru yang pengertian, boleh kuliah sama ibu, keajaiban itu terjadi setelah aku jatuh dalam kubangan lumpur,” kata Tyo waktu itu.
Tyo pernah terluka begitu dalam. Belum lama ini, hubungan Tyo dengan kekasihnya juga kandas. Apa Tyo sudah siap memulai hubungan? Sheila menggeleng. Takut rasa cintanya hanya membentur dinding dan mental lagi padanya.
Ini yang disebut cinta platonis. Cinta antar teman, ataukah pada kekasih alias cinta eros yang penuh nafsu, kecemburuan dan otoritas? Sheila punya dorongan untuk memiliki, bukan ingin merasakan rasa itu sendirian. Sheila sangat yakin dengan teorinya, kalau hubungan persahabatan antara dua orang yang berlawanan jenis, tidak akan pernah murni hanya hubungan saling menjaga tapi tidak ingin terikat cinta. Suatu saat, pasti salah satu diantaranya punya ketertarikan lebih, baik secara fisik maupun seksual.
Cinta platonis tidak khawatir kehilangan. Tapi Sheila begitu takut kehilangan Tyo. Cinta platonis tidak ingin mengusai. Tapi Sheila ingin memiliki Tyo untuknya.
Sheila kembali membayangkan Tyo. Serta perubahan perangainya.
Dari mbak menjadi jeng. Dari saya menjadi aku. Dari berjarak, lalu berani menyentuh. Dari dua meter jadi hitungan senti.
Ponsel Sheila bernyanyi. Masih lagu Kantoi milik Zee Avi. Sheila keluar dari selimutnya dan duduk. Tyo. Jam 12 malam begini?
“Sheil..” panggilan Tyo sudah berubah lagi. Lebih intim di teliga Sheila.
“What’s up?” Sheila gugup.
“Waslap kali ah, ngomong pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Nggak tahu ya, nenek moyang kita waktu masih jadi pemuda pakai acara sumpah-sumpah segala, untuk meyakinkan bahwa mereka itu berbahasa satu, bahasa Indonesia,”
“Ngomong apaan sih?”
“Ngelindur nih, tapi ngelindurnya kok pengen nelpon kamu ya?”
“Gombal!”
“Daripada jadi gembel, nggak mungkin bisa deketin kamu,”
“Jadi ceritanya lagi PDKT?”
“Ya, itu juga kalau boleh….,”
Kalau boleh? Tyo meracau tidak jelas. Ah Tyo tidak mempertegas maunya.  Sheila jadi kesal.
“Aku nggak meladeni orang iseng deh kalau malam-malam begini! ” Sheila mendengus.
“Aku ini Tyo bukan gorengan pisang,”
“Orang iseng kok jadi gorengan pisang. Mau kamu apaaaaa??”
Tyo batuk-batuk. Sepertinya, sedang mengatasi rasa gugup.
“Sheil, apa yang kamu rasakan sekarang?” notasi Tyo mendadak serius.
“Tentang?”
“Tentang aku?”
“Kamu baik, perhatian, lucu,”
“Bukan itu,”
“Lalu?”
“Apa merasakan rasa sayang yang berlebih, kenyamanan yang belum pernah didapatkan sebelumnya?”
Sheila diam. Kalau menjawab ya. Lalu Tyo menertawainya bagaimana? Tapi ini kesempatannya berbaikan dengan CINTA.
“Sheil, diajak ngomong malah bertapa?”
“Ya..”kata-kata Sheila menggantung.
“Ya apa?”
“Ya itu….seperti katamu”
“Aku merasakan hal yang sama,” suara Tyo makin lembut.
“Bukan sebagai teman, sahabat?” tanya Sheila.
“Bukan ini lain,”
“Perasaan seperti apa,”
“Jangan digambarkan, nanti malah hilang maknanya. Yang jelas sangat hangat,”
“Apa yang harus kita lakukan?” Sheila mengeluarkan pertanyaan yang belakangan dianggapnya bodoh.
“Biarkan berjalan, mengalir,”
“Tapi Tyo, kenapa aku? Diantara sekian banyak perempuan yang dekat denganmu..”
“Saat kamu bertemu dengan orang yang menurutmu tepat, dalam peristiwa dan tempat yang juga tepat, itu namanya kesempatan. Tapi ketika kamu memutuskan apakah akan mencintai orang tersebut bahkan dengan segala kekurangannya, itu bukan kesempatan, itu pilihan. Kenapa dikatakan pilihan? Karena kita memilih bersama orang itu apapun yang terjadi, walau ada yang lebih menarik, pandai dan kaya. Sheila, perasaan cinta, tertarik, simpati, datang sebagai kesempatan, tapi kita memutuskan akan bersamanya atau tidak, itu pilihan. Nasib membuat kita bertemu, itulah kesempatan, tapi untuk mencintai dan tetap nersamamu adalah pilihan,” Tyo mengeluarkan kata-kata yang mudah dicerna oleh Sheila. Membuat hati gadis itu seperti dipompa menjadi lebih besar.
“Tyo…,” Sheila bingung mau berkata apa. Jadi, Tyo sedang menyatakan cinta? Berarti mereka akan menjalin hubungan yang dinamakan pacaran?
“Sudah, biarkan mengalir, tak perlu dipaksakan berkembang cepat atau diperlambat, nikmati saja, Sheil…”
Tidak ada tiga kata yang katanya ajaib itu. I LOVE YOU. Tidak ada. Tidak ada deklarasi, tidak ada peresmian, hanya deru nafas dua manusia yang seirama.
“Sheil, aku ngantuk. Tapi biarin hapenya nyala ya? Pengen ditemenin tidur. Kamu tidur juga gih, udah jam 2 pagi nih. Besok kerja kan?”
“He-em,”
“Miss you..”
“Hah apa?” telinga Sheila malah jadi sakit mendengar kata itu.
“Miss you Sheila Amarasasti…,”
“Miss you too…,” tenggorokan Sheila terasa gatal saat mengucapkannya. Tapi hatinya makin mengembang saja.
***
949
Iklan

6 thoughts on “Tentang Beranda Jiwa (8)

  1. lagi pacaran emang romantis jeng, klo udah nikah beda lagi. sayangnya dikomunikasikan dengan cara berbeda xixixixi, aku juga ngri sama Tyo wkwkwk

  2. ah nggak jaman pake I love u, nanti aja klo udah pacarannya agak lama tuh mulai deh ada i love u nya haha..masih banyak kejutan..tungguin yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s