Tentang Beranda Jiwa (6)

Beranda #10

selamat kepada hati yang mau mematahkan belenggu
selamat kepada pijar cahaya kecil yang memulai
selamat kepada kecenderungan yang hadir
aku padamu….

Sepenggal lagu milik group band pendatang baru Scroll Lock mengalun. Menyadarkan Sheila pada sebuah kecenderungan. Hatinya memang  tengah cenderung terhadap sesuatu. Bukan, maksudnya pada seseorang.

Dunia terasa lebih luas tapi menggelisahkan. Karena Tyo sedang tidak beredar. Sheila tidak melihat pesan singkat masuk ke ponselnya. Padahal Tyo tidak pernah absen dalam sehari. Kalau ketidakwarasan ditandai dengan gelisah akut, lemas, tidak bersemangat dan membayangkan hal-hal negatif , mungkin Sheila memang sudah tidak waras.

Kalau ini yang disebut rindu, Sheila sampai tidak tahan ingin mengambil paksa angan-angan tentang Tyo, dan mendekapnya.

“Kalau kamu belum dapat ide tulisan feature, coba ke Dukuh Panjer Desa Banioro Karangsambung ya. Kehidupan perajin batu mulia di sana, bagus banget kalau mau diangkat,”  Sheila mencoba mengembalikan alam pikirnya ke dunia nyata dengan memasukkan memori suara Kikan tadi pagi.

Desa Banioro masih satu jalur dengan lokasi longsor yang kemarin. Itu nyaris membuat Sheila berjingkrak senang. Sudah terbayang, akan duduk dalam boncengan Tyo. Mendengarnya mengoceh tanpa harus banyak menjawab. Toleransi Tyo padanya begitu besar. Tapi…. begitu tiba di pangkalan ojek, Sheila merasa ditipu harapan. Tyo tidak ada.

“Mas Tyo sudah dua hari nggak ngojek, Mbak. Mari sama saya saja, dijamin aman, nggak macam-macam,” seorang pria paruh baya seperti membaca pertanyaan-pertanyaan yang menyembul di kepalanya.

“Saya curiga, mas Tyo mungkin malah berhenti ngojek, mbak. Kemarin sih ngeluh capek, pulang ngajar belum sempat istirahat langsung ngojek. Mas Tyo jadi sering sakit,” kata Pak Warto, ojek pengganti Tyo yang Sheila sewa, saat perjalanan mereka sudah sampai.

Sheila tidak menanggapi. Tapi jantungnya terasa sakit. Denyutnya perih. Sheila menepuk-nepuk pipinya supaya tersadar. Persoalan Tyo tidak bisa merampas pekerjaan Sheila yang begitu penting hari ini. Ah Gila, ucapan Tyo berhasil menghipnotis Sheila, mulai bisa dipercaya!

Sheila berusaha keras tidak terpengaruh hatinya yang terus mengomel karena kangen. Oke. Sheila tidakmau mengelak lagi. Dia kangen Tyo. Kangen sekali.

“Mbak Sheila…mau saya tunjukkan batu black marmernya?” pertanyaan Pak Paimin selaku penggerak  Kelompok Pengrajin Batu  Mulia Karangsambung membuyarkan lamun Sheila. Sheila please konsentrasi! Ada bagian dari diri Sheila yang mengamuk.

“Jadi menurut sejarah, beberapa ribu tahun yang lalu, Karangsambung merupakan endapan air laut. Segala jenis batu-batu dasar laut terdapat di Karangsambung, sehingga pemusatan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang Geologi ditempatkan di Karangsambung. Ngomong-ngomong kita ini sebenarnya sedang berdiri di tanah yang dulunya dasar laut lho mbak,”Pak Paimin berkisah dengan bangga. Sheila makin tertarik. Sosok Tyo mulai menguap.

“Masyarakat sekitar Karangsambung sudah menggeluti kerajinan batu-batu sejak  lama. Bahkan, tahun 1990 saja telah mengekspor batu ke Korea. Kami membentuk kelompok perajin batu mulia Karangsambung, agar manajemennya berjalan lebih baik, dan lebih mudah mencari pangsa pasar,”

“Perajin menemui kendala apa saja pak? Lebih kepada modal atau alat?” tanya Sheila.

“Modal memang masih minim. Tapi kendala terbesar adalah bantuan alat dari pemerintah yang juga terbatas. Padahal, kami  membutuhkan sekali  alat-alat untuk membentuk batu  seperti grenda, pisau potong kramik dan trible untuk menghaluskan. Kami mengharapkan sekali  bantuan alat-alat dari pemerintah dan juga modal,” mimik muka Pak Paiman berubah serius.

Pria yang sudah sejak tahun 1978 menggeluti dunia batu itu mengatakan, selama ini, untuk mendapatkan alat dan dana operasional dilakukan dengan model berhutang pada orang atau PT yang memesan kerajinan batu. Ketika kontrak dan pesanan sudah terpenuhi, baru hitung-hitungan modal dan hutang. Meski untungnya terkesan besar, tapi  setelah dipotong hutang untuk modal, keuntunggannya jadi tidak  seberapa.

“Bagaimanapun kami bersyukur masih ada pesanan. Sekarang kami sedang ada kontrak dengan dua CV. Ada 23 jenis permintaan batu untuk dijadikan alat peraga ke sekolah-sekolah,” Saat mengatakan itu, Pak Paimin menunjuk beberapa onggok batu sembari menyebut satu per satu namanya. Ada Breksi, Konglomerat, Supantin, Dasit, Deorit, Sabak, Asbes, Tufa, Serpih S, Paradotit, Kismika, Ganes, Marmer dan..Sheila tidak bisa menghapal separuhnya. Tapi dia berhasil mencatat semua nama batu yang disebutkan.

“Bagi orang yang bukan pecinta kerajinan batu, seperti saya pak, tidak akan tertarik membeli bahkan memesan. Perajin juga tidak mungkin hanya mengandalkan pecinta suiseki (batu alam), untuk mendongkrak penghasilan mereka. Kenapa mereka begitu setia pada profesi ini, pak?”

“Secara emosional, kami sudah kadung cinta dengan batu alam. Namanya cinta itu ya Klik dan Klop mbak, susah dijabarkan. Mau seneng, mau susah, namanya sudah cocok ya dilakoni. Kaya botol ketemu tutup.  Pecinta suiseki memang tidak banyak, tapi  kalau lagi mujur, satu batu bisa dihargai milyaran lho mbak. Seperti yang baru ditemukan kawan saya beberapa hari yang lalu, Belum ada satu minggu. Batu giok punya dia yang beratnya 2 kwintal ditawar Rp 3 milyar, luar biasa kan?”

***

Saat matahari berkemas di sore hari, Sheila seperti dipapah kalbunya menuju pinggir jendela, menikmati hujan. Sekawanan air menggeser debu yang menempel pada jendela, perlahan-lahan. Seperti tak pernah selesai tumpang tindih dalam berbasah basah. Terus terang, Sheila menyukai peristiwa semacam ini. Namun, tidak pada kecamuk hati yang membersamai kedatangan hujan..

Tyo masih raib. Sheila sudah menimang-nimang handphone sedari tadi. Tapi tak berani mengetik satu hurufpun untuk memberi pesan singkat pada Tyo. Kau tidak akan pernah tahu sampai kau mencari tahu! Sheila membisiki diri sendiri.

Tangan gadis itu agak gemetar saat memencet tuts keypad. Sesaat berhenti. Tidak diteruskan. Tapi Sheila ingin mencoba. Walau sekali. Sekali saja..

“Tyo nggak ngojek lagi?” Sheila memandangi kalimatnya sebelum di send. Cukup standar. Tidak lebay. Tidak menunjukkan kerinduan. Apalagi perasaan cinta. Cukup aman untuk dikirim. dan Send.

“Jeng…”hampir pada detik yang sama, SMSnya ternyata bertabrakan dengan Tyo. Sheila memekik. Ada debar aneh merambatinya.

Sheila masih memegangi dada bagian kirinya. Takut jantungnya jatuh. Ini sensasi yang baru pertama kalinya dirasakan. Tapi tunggu, mungkin Tyo salah kirim. Ada tulisan Jeng disitu, bukan mbak.

“Jeng?” Sheila mengirim SMS kedua, cepat.

“Biar lebih akrab. SMS kok barengan? Kebetulan atau jodoh?”

“Kaya ibu-ibu arisan,”

“hehehe…aku mau ganti provider seluler, Jeng. Kayanya ada paket menggiurkan untuk bisa telpon gratis selama satu minggu,”

“Kenapa?”

“Biar bisa telpon kamu lah,”

Sheila makin berdebar-debar tak karuan.

“Kenapa nggak ngojek lagi?” Sheila mengalihkan pembicaraan.

“Capek. Dua hari ini aku sakit,”

“Masih sakit??” Sheila mendadak cemas.

“Masih,”

“Udah ke dokter?”

“Udah”

“Kata dokter apa?”

“Suruh ganti hati,”

“Kamu kena sirosis?” Sheila panik.

“Bukan, itu hatinya udah penuh sesak sama kamu,”

“Maksudnya apa?

“Aduh kalau cewek lain pasti udah bilang so sweeet. Nggak pernah nonton acara TV ngegombal ya?”

“Apa?”

“)(^%&^$&^$*&*(&(*_**^**&^%&^$,” Tyo mengirim beberapa simbol. Tanda kesal.

***

1032

 

Iklan

6 thoughts on “Tentang Beranda Jiwa (6)

  1. A: Neng, bapaknya tukang ojek ya?
    N: Lah, kok tau bang?
    A: Soalnya kemarin abang ngojek sama babehnya neng..
    N: naon???

    wkwkwkwkwkkkkk 😀 heheheeeeeee slama Mbak Jenkna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s