Nafsu harus dilawan

nafsu harus dilawan
nafsu harus dilawan
happy fasting
 
Setiap puasa pasti teringat masa lalu yang bisanya cuma nimbun dosa aja. Misalnya kalau tarawih, suka buka-buka tirai (hijab) antara laki-laki dan perempuan, siapa tahu ada mr P yang ganteng, my first love ku itu. Kalau subuhan juga sama, abis lipet mukena, gak pake zikir langsung lari ke jalan raya, ngeliat matahari muncul dari awal semburatnya hingga kuning keemasannya yang menyengat. Bukan mengagumi matahari sebagai ciptaann-Nya tapi menuai harapan, akankah bertemu mr P yang tampan?
Tapi dengan bertambahnya umur tiba2 timbul kesadaran sendiri bahwa lebih baik melewatkan pagi di rumah usai jamaah subuh, lebih baik tidur lagi. Cuma, disaat menjelang tidurpun kadang, suara sayup-sayup tadarus masih menimbulkan desiran dihati, seolah2 hati ini yakin kalau itu suara mr P. Duh alimnya……….dia……..kalau saja……….hati sudah mulai berandai-andai lumutan.
Sedikit dewasa lagi, muncul mr P yang lain, disaat puasa. suaranya begitu indah dan pantas dijadikan tambatan hati. setiap malam sebelum tadarus pasti menyempatlkan diri untuk menyapanya. Bahkan berat rasanya melangkahkan kaki ke Masjid sebelum meninggalkan kalimat syahdu untuknya, “Malam mas……..” Bagaimana bisa dikatakan berpahala jika tidak ada getar pada-Nya hanya getar rutinitas yang sia-sia. sungguh ritual semata, sedangkan hati malah berzikir nama manusia. Astaghfirullah……Rabb yang Maha Pengampun, masihkan ada jalan pulang?
dewasa yang berikutnya, muncul mr N. Puasa jauh di negeri orang, membuat aku hidup agak semaunya. Tidak ada yang berubah soal puasa yang lancar, tapi tarawih dan tadarus seperti kembali ke titik nadirm buruk sekalli kualitas dan kuantitasnya. apalagi soal hati. Hati tidak bisa diajak kompromi untuk menempatkan Tuhan semesta alam di tempat teragung. Kadang-kadang saja…….
Yang sibuk kucari adalah, dimana mr N mencari menu buka? memakai koko warna apa saat dia tarawih? dimasjid mana? apa dia juga bertadarus? dan ketika lebaran tiba, aku melupakan semua pantangan puasa, menjabat erat tangannya untuk minta maaf, yang sebenarnya tidak perlu agresif begitu!!!
Lalu, dewasaku kini, memang tak muncul siapa2. tapi yang muncul adalah pekerjaan yang menyita waktu. Aku bersekutu dengan waktu, hingga sedikit mulai melupakan ramadanku. aku berpuasa tapi ibadah ku yang lain ternyata hampa. Masih keteteran. pantaskah aku kembali ke fitrah?
Iklan

One thought on “Nafsu harus dilawan

  1. Ping-balik: happy fasting | Jenkna’s Weblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s