<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jenkna's Weblog</title>
	<atom:link href="http://jenkna.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jenkna.wordpress.com</link>
	<description>little enno big her soul</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 11:09:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jenkna.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jenkna's Weblog</title>
		<link>http://jenkna.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jenkna.wordpress.com/osd.xml" title="Jenkna&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jenkna.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tentang Beranda Jiwa (22)</title>
		<link>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/30/tentang-beranda-jiwa-22/</link>
		<comments>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/30/tentang-beranda-jiwa-22/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 10:34:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jenkna</dc:creator>
				<category><![CDATA[J 50 K]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>
		<category><![CDATA[kampung fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jenkna.wordpress.com/?p=855</guid>
		<description><![CDATA[Beranda #26 Surat pengunduran diri Sheila, disambut heboh di HPK. Mas Wawan, tidak menyangka Shiela benar-benar memutuskan berhenti. Padahal, meskipun belakangan sering ijin, tapi pekerjaan Sheila selalu bagus. Bukan cuma secara redaksional, dari segi kedekatan dengan narasumber, isi berita, dan ketepatan deadline. Kinan, bahkan sudah sangat pasrah dengan keputusan itu. Dia tidak bisa marah dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=855&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beranda #26</p>
<p>Surat pengunduran diri Sheila, disambut heboh di HPK. Mas Wawan, tidak menyangka Shiela benar-benar memutuskan berhenti. Padahal, meskipun belakangan sering ijin, tapi pekerjaan Sheila selalu bagus. Bukan cuma secara redaksional, dari segi kedekatan dengan narasumber, isi berita, dan ketepatan deadline.</p>
<p>Kinan, bahkan sudah sangat pasrah dengan keputusan itu. Dia tidak bisa marah dan memaksakan diri untuk tidak kecewa. HPK kehilangan tambang emas. Mungkin tiga tahun merupakan waktu yang singkat untuk menyebut Sheila soerang repoter brilian. Tapi nyatanya seperti itu.</p>
<p>“Terimakasih ya Ki. Kamu yang mengangkatku dari lumpur. Bisa tinggal di kota ini, mendapat pekerjaan baru. Tapi aku malah megecewakan kamu,”</p>
<p>“Kalau aku bilang kecewa pun, kamu tidak akan menjilat ludah lagi kan? Kamu tetap berhenti kan?”</p>
<p>“Aku juga tidak terlalu suka hidup di Jakarta. Tapi rumahku harus dirawat. Endita sudah menikah sekarang. Dia ingin segera menempati rumah barunya. Aku nggak boeh egois Ki. Papa juga meninggalkan usaha yang sampai saat ini masih jalan, tapi stagnan. Aku mau banget waktu kamu menawarkan bisnis di sini. Tapi, ternyata prioritasku lain sekarang,”</p>
<p>“Kalau kamu nggak putus sama Tyo. Mungkin langkah seperti ini nggak kamu ambil,”</p>
<p>“Ki, ngantuk banget hoaaaaeemmmmm, aku tidur duluan ya,”</p>
<p>Sheila tak menanggapi perkataan terakhir Kinan. Ia pura-pura menguap lagu pergi tidur. Seperti biasa, rumah kontrakannya dibiarkan kosong. Berandanya dibiarkan semakin dingin dan berdebu. Sementara, Sheila mencari kehangatan di rumah Kinan.</p>
<p>***</p>
<p>Daun pohon sengon berguguran seperti salju. Daunnya yang mungil kecoklatan terus terbang merendah, mengikuti tiupan angin. Beberapa helainya, bertengger di rambut Sheila. Sementara yang lain mengotori sepatunya. Kemarau sepertinya akan sangat panjang tahun ini. Seperti Sheila yang mungkin akan lama tak menjenjakkan bumi Kebumen lagi.</p>
<p>“Mbak..,”</p>
<p>“Ratri,”</p>
<p>“Mbak serius mau kembali ke Jakarta,”</p>
<p>“Iya, “</p>
<p>“Mbok nunggu ketemu Mas Tyo dulu, Mbak. Apa perlu aku antar ke Yogya? Sayang sekali, kemarin Mas Tyo pulang sebentar, cuma ngambil surat-surat, trus balik lagi,”</p>
<p>“Memangnya nggak ada yang bisa disuruh?”</p>
<p>“Siapa lagi? Ibu mana mau? Setelah pulang dari Yogya, Ibu sibuk ngurusi pesanan dan jahitan. Bapak orangnya nggak bisa megambil keputusan tanpa persetujuan ibu. Di rumah ini, Ibu yang berkuasa penuh,”</p>
<p>“Mungkin memang belum saatnya ketemu. Ehm..Ratri, siapa yang merawat Mas Tyo di sana?”</p>
<p>“Kurang tahu. Kata ibu sih, ada saudara jauh kami. Namanya Mbak Hanun, dia perawat. Baru saja diangkat jadi PNS kemarin,”</p>
<p>“Ibu berarti tahu betul apa kebutuhan Mas Tyo. Dia menempatkan Masmu ditempat yang tepat. Yang merawat orangnya kompeten,”</p>
<p>“Aku malah jadi malu mbak. Masa anak sendiri di rawat orang lain, orangtua kaya lepas tangan,”</p>
<p>“Tapi sepertinya itu yang terbaik buat Mas Tyo,”</p>
<p>“Mbak, nggak kenapa-kenapa kan? Setelah cerita soal Mbak Hanun, perasaanku jadi nggak enak,”</p>
<p>“Memang kenapa? Kamu takut aku cemburu? Aku udah nggak boleh cemburu lagi Ratri. Kami sekarang cuma berteman,”</p>
<p>“Ah mas Tyo nya aja yang minderan. Gara-gara nggak pede, malah melepas orang baik kaya mbak. Ujung-ujungnya dia tersiksa sendiri. Kalau malam-malam dia itu suka mengigau lho mbak, bilangnya De..ade..jangan tinggalin Mas ya..gitu..Kalau aku intip diam-diam, Mas Tyo juga sering ngelamun, sambil lihat fotonya Mbak Sheila di HP,”</p>
<p>“Dua orang yang saling mencintai, tapi tetap berpisah. Itu namanya apa? Ya belum berjodoh. Cinta ya cinta, jodoh ya jodoh&#8230;beda Ratri,”</p>
<p>“Sebelum ada tarub dan janur kuning berkibar, lalu ijab kabul terucap, jodoh masih terbuka mbak,”</p>
<p>Sheila terdiam. Tapi Batinnya mengamini ucapan Ratri.</p>
<p>“Sampaikan salamku saja ya, kalau mas Tyo Pulang. Semoga dia cepat sembuh,”</p>
<p>“Aduh Mbak Sheila&#8230;.jangan pergi,” Ratri menubruk badan Sheila. Memeluknya erat. Tangisnya menyayat hati. Sheila berusaha tegar walau matanya juga basah. Dia melihat sekeliling rumah Tyo yang masih setia dengan cat warna merah mudanya sebagai salam perpisahan. Sungguh, terlalu banyak orang yang mulai dicintai Sheila di rumah ini. Termasuk ibu sekalipun.</p>
<p>***</p>
<p>Secarik kertas. Tepatnya sobekan kertas. Entah bagaimana cara Ratri mengambilnya dari buku catatan Tyo yang seadanya. Tyo selalu mengaku tak bisa menulis. Apalagi menulis sesuatu yang berbau sastra. Tapi, kata Ratri, tulisan Tyo untuk yang satu ini sangat indah. Dia tak sengaja iku t membacanya karena Tyo menyelipkan kertas itu di bawah bantalnya.</p>
<p>&#8220;Waktu Mas Tyo ke Yogya, baru aku ambil. Sepertinya Mas Tyo nggak sadar. Aku cuma membantu Mas Tyo menyampaikan perasaannya sama Mbak,&#8221;</p>
<p>Sheila menggenggam kertas itu. Rasanya panas. Kasihan Tyo, Sheila ternyata tak ingin membacanya, karena takut merasa sakit atau bahagia. Sheila hanya menyimpannya pada selipan kopernya. Dan, setelah itu, berusaha melupakan.</p>
<p><em>Dear Sheila</em></p>
<p><em>Ijinkan aku ucap sapa di awal jumpa kita. Harapku saat ini, keadaanmu adalah yang terbaik. Apapun nantinya kesanmu karena goresan ini. Seburuk-buruknya kesan tidak akan mengubah segala rasa yang tersimpan dalam sanubari ini padamu. Ada banyak kata yang hendak kuhadirkan dalam dekap dua tanganmu, Namun akan sampaikah ribuan kata itu padamu?</em></p>
<p><em>Dear..</em></p>
<p><em>Setiap denta waktu dilamun sunyi, mengantarku segera luncurkan kata dan merangkai kalimat tentangmu serta mengungkapkan kata yang begitu gemuruh agar lapang dada ini, melepas beban yang menghimpit. Meski tak mampu juga menguraikannya dengan sempurna.</em></p>
<p><em>Pertama kau hadir, membawa pesona yang tak lekang oleh terpuruknya bimbangku padamu. Lewat kerlingmu, senyum hangatmu, juga sapa jenakamu, sempat membersitkan tanya dalam benakku. Adakah penantian itu untukku? Adakah rasa sepi itu karenaku? Adakah hatimu diliputi berjuta asa yang terpendam bagiku? Ah betapa, aku selalu ingin menjadi sosok yang paling berarti dan dihargai jika bersamamu. Tak kupungkiri, sikap yang kau tawarkan melambungkanku pada angan muluk yang tak berkesudahan.Apalagi harapan itu nampak kau bentang lebar-lebar di hadapanku. Menarik diri ini agar mau berjuang memasukinya.</em></p>
<p><em>Dear..</em></p>
<p><em>Lambat laun ada yang menjalar pelan memenuhi ruang kosong dalam jiwaku. Menempatkanku pada keadaan yang tak kumengerti. Entah apa nama atau judulnya. Yang kutahu, ada sisi indah dalam hidupku yang membuncah. Membuatku menjadi berarti hanya dengan sebuah kehadiranmu. Rasa ini, tertimbun dan dengan segera mengokohkan akarnya tanpa aku sanggup menafikkannya. Karena itu benar-benar di luar nalarku. Di sisi lain, bayangmu tak kunjung lepas, padahal sedikit banyak, aku telah berusaha melupakan masa lalu. Namun, sungguh kamu terkecuali. Seandainya kamu tahu, jauh di lubuk hatiku, seolah ada suatu gema yang melarangku mengotori kesetiaan rasa ini padamu. Kenapa keseriusan itu hanya padamu?</em></p>
<p><em>Kekasihku yang jauh&#8230;</em></p>
<p><em>Saat sepi sendiri, seandainya ada yang membuatku merasakan panasnya rindu, kamulah orangnya. Pun saat angan kita melambung jauh, merasa ada yang hilang dari kenangan masa lalu, yang terkadang membuat sakit, perih dan kecewa, kamu juga orangnya.Membiaskan masa depanku tentang segala harapan untuk merenda hari menikmati anugerah-Nya, itu adalah kamu. Dan, bila aku merasa kehilangan percaya diri, terpuruk dalam ketidakberdayaan, terpojok pada keadaan dan disaat semua tak lagi hadirkan getaran, tak suakakan aliran rindu, tak lagi punya arti, kamulah yag akan mengubahnya.</em></p>
<p><em>Inikah wujud cinta yang tersohor agung itu? Yang tidak bisa diraba hanya bisa diselami dengan mata hati. Sungguhkah aku telah menjatuhkan piihan hanya pada engkau?</em></p>
<p><em>Segala perkataa apapu asal keluar dari bibirmu, semua terasa lain, seolah sebuah janji yang harus terpatri dan terjaga bagi setiap bongkahannya.</em></p>
<p><em>Ketahuilah Sayang..</em></p>
<p><em>Walau samar dan tak kentara, meski lirih dan sendu, senandung rindu untukmu belum lelah kudendangkan. Suaranya yang sayup, mungkin tak terjamah olehmu. Mungkin dengan teriring doaku, akan mampu meraba getar rasa di hatimu.</em></p>
<p><em>Sayang,</em></p>
<p><em>Jika kamu bertanya apa itu cinta? Tanyalah pada hatimu. Maka ia akan menjawab. Cinta itu seluas hatimu memandang dunia ini hingga kau merasakan limpahan kasih sayang semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Sebagaimana aku menyayangimu tanpa sesuatu yang nisbi.</em></p>
<p><em> Yours </em></p>
<p><em>Hanantyo Wicaksono</em></p>
<p><em>1187<br />
</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://jenkna.wordpress.com/category/j-50-k/'>J 50 K</a> Tagged: <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/j50k/'>J50K</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/kampung-fiksi/'>kampung fiksi</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/novel/'>novel</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jenkna.wordpress.com/855/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jenkna.wordpress.com/855/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jenkna.wordpress.com/855/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jenkna.wordpress.com/855/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jenkna.wordpress.com/855/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jenkna.wordpress.com/855/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jenkna.wordpress.com/855/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jenkna.wordpress.com/855/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jenkna.wordpress.com/855/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jenkna.wordpress.com/855/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jenkna.wordpress.com/855/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jenkna.wordpress.com/855/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jenkna.wordpress.com/855/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jenkna.wordpress.com/855/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=855&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/30/tentang-beranda-jiwa-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa413196383db908af161bb87edd7a58?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">jenkna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Beranda Jiwa (21)</title>
		<link>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/29/tentang-beranda-jiwa-21/</link>
		<comments>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/29/tentang-beranda-jiwa-21/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 17:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jenkna</dc:creator>
				<category><![CDATA[J 50 K]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>
		<category><![CDATA[kampung fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jenkna.wordpress.com/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[Beranda #25 Yogyakarta. Teriknya di bawah sinar matahari langsung, membuat dahaga menjadi. Sheila dan teman-teman barunya dari berbagai media cetak dan elektronik se- Jawa, buru-buru menyambar es kelapa muda, es campur, es kopyor, es serut , es krim, dan semua yang bernama es, saat acara makan siang. Setelah keliling beberapa  Base Transceiver Station (BTS) dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=849&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beranda #25</p>
<p>Yogyakarta.</p>
<p>Teriknya di bawah sinar matahari langsung, membuat dahaga menjadi. Sheila dan teman-teman barunya dari berbagai media cetak dan elektronik se- Jawa, buru-buru menyambar es kelapa muda, es campur, es kopyor, es serut , es krim, dan semua yang bernama es, saat acara makan siang.</p>
<p>Setelah keliling beberapa  Base Transceiver Station (BTS) dan mendengarkan presentasi dari <em>Sales Area Manage</em>r operator seluler, rombongan diajak ke Malioboro dan pasar Beringharjo. Sorenya, setelah sempat mampir ke Taman Budaya Yogyakarta, mereka menuju hotel untuk istirahat. Saat itulah, Sheila mulai berpikir untuk ‘kabur’ dari hotel. 2 atau 3 jam. Sheila sudah gemetaran saat memegang kertas bertuliskan alamat saudara Tyo di Bantul. Hasratnya bertemu Tyo sangat besar.</p>
<p>Tentu Sheila harus kabur dengan biaya sendiri, di luar uang saku yang diberikan vendor seluler. Tapi Sheila sedang berpikir, haruskah minta ijin atau pergi begitu saja. Sangat riskan, karena Sheila berada di tempat itu atas nama kantor. Sheila merasa dilematis. Dia merenung dan bolak-balik antara kamar mandi dan kamar tidur di dalam hotel.</p>
<p>“Mbak, kalau keluar sebentar boleh nggak?” Sheila akhirnya menemui salah satu panitia gathering, Mbak Aini.</p>
<p>“Tadi beberapa orang juga pergi jalan-jalan. Nggak papa sih, tapi jangan lewat jam 10 ya. Besok pagi-pagi sekali kan agenda kita juga banyak,”</p>
<p>“Iya mbak. Cuma sebentar. Kebetulan ada saudara dekat-dekat sini. Sebelum jam 10 pasti udah balik ke hotel,” janji Sheila.</p>
<p>Sheila sudah berada di luar hotel sekarang. Tapi dia yang buta denah di Yogya, bingung harus mencari alamat saudara Tyo dengan menggunakan kendaraan jenis apa? Delman, becak, ojek, taksi? Sheila menimban-nimbang hingga akhirnya memilih naik taksi. Dia pasrah jika argometernya disulap si sopir jadi tak manusiawi.</p>
<p>“Sitimulyo, Piyungan, Bantul pak,”</p>
<p>“Baik, Mbak.”</p>
<p>Sheila merasa telah bersikap bodoh, ternyata lokasinya sangat jauh dari hotel tempatnya menginap. Sheila menatap keluar jendela taksi yang membawanya. Langit bertabur bintang, seperti kepalanya yang tiba-tiba pening karena bertindak terlalu nekad. Semoga usahanya tidak sia-sia. Kalaupun tidak bertemu langsung dengan Tyo, paling tidak, Sheila ingin melihat dari jauh wajah Tyo yang sekarang.</p>
<p>Sheila memegang kertas pemberian Ratri yang sudah lusuh. Ia membiarkan sopir taksi menunggu dil uar dnegan argo yang terus berjalan. ia mematut-matut diri di cermin jendela pintu taksi. Lalu memperhatikan RT RW yang tertera dalam kertas itu. Setelah bertanya sana-sini, Sheila sampai pada rumah yang dia tuju.</p>
<p>&#8220;Cari siapa ya Mbak?&#8217;</p>
<p>&#8220;Betul ini rumahnya Bu Sari?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya betul,&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya, temannya Mas Tyo. Kalau tidak salah Mas Tyo tinggal di sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya setelah operasi beberapa hari, memang tinggal di sini. Tapi sudah di bawa pulang lagi ke Kebumen. Keluarga Bu Sri sama keluarganya Mas Tyo semua sudah ke Kebumen. Saya cuma ditugasi menjaga rumah ini,&#8221;</p>
<p>Sheila hampir terhuyung, tapi dengan cepat dia berpegangan pada gagang pintu.</p>
<p>&#8220;Mari masuk dulu, Mbak. Nggak baik berdiri di depan pintu,&#8221;</p>
<p>&#8220;Di luar saja, bu. Cuacanya gerah.  Udaranya lebih segar di luar,&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu silahkan duduk,&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas Tyo bagaimana keadaannya,&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya kurang paham, Mbak. Saya kan cuma tetangga, bukan pemilik rumah. Cuma setahu saya, ya begitu, kurang sehat, sakit-sakitan. Nggak pernah keluar rumah,&#8221;</p>
<p>&#8216;Dia masih pakai kursi roda, Bu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih. Tapi sedikit-sedikit sudah bisa jalan,&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa yang merawat dia sepulang dari rumah sakit,&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh kebetulan, sepupu jauhnya perawat, jadi masih keluarga sendiri,&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih muda?&#8221;</p>
<p>&#8220;Banget. Dengar-dengar, sih mau dijodohkan sekalian sama Mas Tyo. Ups walah saya keceplosan ini. Wes-wes&#8230;jangan diteruskan Mbak. Saya ini kalau sudah ngomong susah direm,&#8221;</p>
<p>&#8220;Mereka pasti serasi ya bu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya Mas Tyonya ganteng, Mbak Hanunnya cantik,&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh namanya Hanun&#8230;,&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya. Lha mbak ini sebenarnya siapa to?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya teman lamanya Tyo, Amara,&#8221; Sheila sengaja mengambil nama belakangnya.</p>
<p>&#8220;Oh..bukan orang Yogya ya Mbak,&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya saya dari Jakarta sedang liburan. Bu, terimakasih ya sudah menemani saya. Maaf  lho mengganggu, saya permisi dulu,&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya Mbak Amara, monggo..,&#8221;</p>
<p>Taksi melaju dengan kecepatan sedang, menembus jantung kota Yogya yang belum terlalu malam. Sheila meringkuk di bangku belakang dengan genangan air mata. Pertanyaan yang berkecamuk harus dia jawabi sendiri.</p>
<p>Kenapa dia harus merasa cemburu?</p>
<p>Kenapa Tyo harus dijodohkan?</p>
<p>Apakah Tyo sudah memberitahu ibunya kalau hubungan mereka berakhir?</p>
<p>Atau ibunya memang tidak pernah perduli dengan kehadiran Sheila?</p>
<p>Siapa Hanun itu?</p>
<p>Apa kelebihan gadis itu?</p>
<p>Kenapa Tyo tidak pernah pegang ponselnya lagi?</p>
<p>Kenapa saat Sheila ke Yogya justru Tyo kembali ke Kebumen?</p>
<p>Apakah ini artinya sudah tamat?</p>
<p>TAMAT. Kata itu berputar terus. Lalu Mencabik-cabik. Meninggalkan luka yang semoga tidak permanen.</p>
<p>***</p>
<p>Tari Klasik dari Keraton Pakualaman yang berlangsung di Pura Pakualaman tak lagi menjadi impian Sheila untuk menonton. Dia ingin segera melompat ke terminal Giwangan atau bandara Adi Sutjipto untuk meninggalkan Yogya secepatnya. Tapi Sheila masih terjerat di Jalan Sultan Agung, Kecamatan Pakualaman, Kota Yogyakarta. Mengamati gemulai tarian dengan musik gamelan yang semakin menyayat hatinya.</p>
<p>Jadwal pulang ke Kebumen masih beberapa jam lagi. Tapi hati Sheila sungguh sudah melepuh. raganya sulit berpijak di bumi lagi. Berdamai dengan diri sendiri sangat sulit. Oh rapuhnya diri ini mengabaikan hal yang sesungguhnya. kenapa harus terhanyut dan terhanyut lagi oleh perasaan yang dianggap Sheila sebenarnya bodoh.</p>
<p>Mengapa cinta terus saja menguntit seperti</p>
<p>Sepeti embun yang tak pernah mau pergi dari pucuk daun ketika pagi?</p>
<p>Sheila pikir, dirinya  sudah berhenti</p>
<p>Berhenti menjadi kepingan yang sudah tertata rapi. Ternyata dia tetap sebagai kepingan yang tercecer.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;Ki, aku mau berhenti aja. Aku mau balik ke Jakarta,&#8221;</p>
<p>&#8220;Sheila!! Sadar nggak sih, kamu? Bagaimana mungkin keputusan besar ini kamu buat tiba-tiba,&#8221;</p>
<p>&#8220;Menurutku, Kebumen sudah penuh sesak dan menyakitkan. Aku udah nggak tahan,&#8221; suara Sheila terdengar depresi.</p>
<p>&#8220;Ini bukan kamu Sheil. Kamu nggak serapuh ini. Masa kamu kalah cuma karena laki-laki. This isn&#8217;t true!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini bukan soal kalah atau menang. Ini soal luka yang hilangnya harus total. Dan aku nggak bisa total di sini,&#8221;</p>
<p>&#8220;Sheila, yakinlah kamu itu kuat,&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku akan mengajukan surat pengunduran diri secepatnya. Aku mau balik ke Jakarta, &#8220;</p>
<p>&#8220;Sheila jangan berpikir ketika sedang emosi. Berpeikirlah ketika sudah tenang. Aku nggak bisa melepas kamu untuk hal sepele kaya gini. Gila apa, Sheila yang wonder women kalah karena urusan laki-laki,&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini sama sekali bukan soal kalah menang. Aku kan sudah bilang. Ini menyangkut masa depanku juga!&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tahu, jadi wartawan gajinya emang nggak gede. Tapi potensi kamu bisa keluar di sini. Kamu akan berhasil meskipun bukan sebagai wartawan,&#8221;</p>
<p>&#8220;Keputusanku tetap,&#8221; Sheila keras hati.</p>
<p>&#8220;Sheila..,&#8221; Kinan melembut. Sheila dipeluknya.</p>
<p>&#8220;Pokoknya aku berhentii Ki,&#8221; Sheila berusaha berontak dari pelukan Kinan. Tapi semua sia-sia, Sheila terlampau lemah. Bahkan untuk sekedar batuk.</p>
<p>1032</p>
<br />Filed under: <a href='http://jenkna.wordpress.com/category/j-50-k/'>J 50 K</a> Tagged: <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/j50k/'>J50K</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/kampung-fiksi/'>kampung fiksi</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/novel/'>novel</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jenkna.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jenkna.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jenkna.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jenkna.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jenkna.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jenkna.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jenkna.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jenkna.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jenkna.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jenkna.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jenkna.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jenkna.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jenkna.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jenkna.wordpress.com/849/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=849&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/29/tentang-beranda-jiwa-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa413196383db908af161bb87edd7a58?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">jenkna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Beranda Jiwa (20)</title>
		<link>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/29/tentang-beranda-jiwa-20/</link>
		<comments>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/29/tentang-beranda-jiwa-20/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 10:34:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jenkna</dc:creator>
				<category><![CDATA[J 50 K]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>
		<category><![CDATA[kampung fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jenkna.wordpress.com/?p=845</guid>
		<description><![CDATA[Beranda #24 Setelah segala rangkaian acara pernikahan Endita terlewati, Sheila buru-buru mengubungi Ratri. Sheila sengaja tidak langsung berbicara dengan Tyo, karena takut Tyo sedang mengalami deperesi kedua karena keadaannya tak kunjung membaik. “Bagaimana Mas Tyo, Ratri?” “Apa yang kita khawatirkan bener mbak. Ternyata TBC menyerang tulang Mas Tyo lebih ganas dari sebelumnya. Dokter menyarankan untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=845&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beranda #24</p>
<p>Setelah segala rangkaian acara pernikahan Endita terlewati, Sheila buru-buru mengubungi Ratri. Sheila sengaja tidak langsung berbicara dengan Tyo, karena takut Tyo sedang mengalami deperesi kedua karena keadaannya tak kunjung membaik.</p>
<p>“Bagaimana Mas Tyo, Ratri?”</p>
<p>“Apa yang kita khawatirkan bener mbak. Ternyata TBC menyerang tulang Mas Tyo lebih ganas dari sebelumnya. Dokter menyarankan untuk melakukan rekontruksi ulang. Jadi harus dioperasi lagi,” ujar Ratri.</p>
<p>“Operasi bagaimana lagi?” Sheila shock.</p>
<p>“Pen titaniumnya diangkat. Diganti tulang rusuk plus tulang pinggul sebagai penyangga, ya semacam cangkok gitu, Mbak. Padahal pen titanium kan mahal, tapi jadi nggak ada gunanya,”</p>
<p>“Transferan Mbak udah sampe yang Rp 5 juta?” tanya Sheila.</p>
<p>“Udah Mbak. Terimakasih. Nggak tahu bagaimana membalasnya,”</p>
<p>“Sudah jangan pikirikan itu. Mas Tyo gimana. Emosional, pendiam, atau apa?”</p>
<p>“Dia lebih banyak diam. Mungkin karena menahan rasa sakit,”</p>
<p>“Apa dia menanyakan, Mbak?”</p>
<p>“Iya. Waktu tahu Mbak ke Jakarta, dia sepertinya sedih. Tapi tidak berkata apa-apa lagi,”</p>
<p>“Besok pagi, Mbak pulang ke Kebumen. Mbak akan nengok Mas Tyo,”</p>
<p>“Ehm gini mbak, mulai besok Mas Tyo tinggal di Yogya. Kami masih punya saudara di sana. Kami sudah tidak punya biaya untuk bolak-balik berobat. Kami butuh penginapan yang tetap. Kalau di Yogya selain dekat dengan tempat operasi, makan dan tempat tinggal jadi jaminan saudara,”</p>
<p>“Lho kenapa harus ganti rumah sakit dan dokter?”</p>
<p>“Terpaksa Mbak. Itu keputusan ibu,”</p>
<p>“Kamu ikut ke sana?”</p>
<p>“Aku sudah kena protes suami karena terlalu sering menginap di rumah Ibu, jagain Mas Tyo. Lama-lama, nggak enak sama suami, Mbak,”</p>
<p>“Tyo masih pegang HP kan? Nomornya juga belum ganti kan?”</p>
<p>“Mas Tyo nggak mau pegang HP sekarang. Dia menarik diri dari pergaulan,”</p>
<p>“Lalu bagaimana, Mbak bisa melihat perkembangan dia?”</p>
<p>“Aku kasih alamatnya yang di Yogya aja ya Mbak. Nanti aku SMS,”</p>
<p>“Baik, begitu saja boleh,”</p>
<p>Brukk!! Sheila membanting tubuhnya ke kasur. Rasanya seperti sudah tamat.Hubungannya dengan Tyo memang ditakdirkan tidak mempunyai harapan. Baik sebagai kekasih maupun sahabat.</p>
<p>“Kakak,”</p>
<p>“Eh Bocah kebiasaan. Ketuk pintu dulu kalau mau masuk,”</p>
<p>“Salah sendiri nggak dikunci,”</p>
<p>“Kamu bukannya bikin anak sono, ngapain kemari sih!”</p>
<p>“Gema udah tidur. Lagian, udah berkali-kali digenjot. Capek juga, hihihihihi,” Endita tertawa malu-malu sebari menutupi wajahnya.</p>
<p>“Hah apa?”</p>
<p>“Udah lupain. Kak Riana mana? Perasaan tadi lagi ngobrol sama kakak,”</p>
<p>“Dia cuma nengok aku sebentar. Anaknya lagi rewel, jadi cepet-cepet pulang. Tadi aku ngobrol ditelpon, sama orang lain,”</p>
<p>“Orang lain siapa? Pacarmu?”</p>
<p>“Adiknya,”</p>
<p>“Ya ampunn, udah akrab juga sama adiknya. Bentar lagi kakak nyusul kita dong ya,”</p>
<p>“Duduk sini, kakak mau cerita,”</p>
<p>Sheila akhirnya berbagi cerita tentang sosok Tyo pada Endita. Alur kisahnya kadang berloncatan tak beraturan, tergantung kekuatan ingatan Sheila pada peristiwa-peristiwa yang melekat di pikirannya. Endita menyimakapa yang disampaikan kakaknya. Sesekali dia mengelus punggung Sheila, saat kisahnya sampai pada tema yang menyedihkan. Tapi tak jarang juga Endita merasa geram degan sikap-sikap Tyo yang dianggapnya tidak tegas sebagai laki-laki.</p>
<p>“Kakak mau pendapatku? Aku bersyukur, kakak berpisah sama dia. Oke mungkin dia orang yang ulet, berkarakter, pekerja keras. Tapi dia pesimistik. Kakak itu butuh orang yang melindungi. Ini kesannya kakak yang melindungi dia terus, menjaga dia. Dia memang nggak siap nikah sama kakak, mentalnya belum mau,”</p>
<p>“Kok kesimpulanmu seperti itu?”</p>
<p>“Kak, seorang lelaki yang bertanggungjawab tidak akan pernah berkata kalau ada orang yang lebih baik darinya, kakak boleh memilih orang itu. Dimana letak perjuangan dia? Dia harus mempertahankan kakak, apapun yang terjadi. Aku malah meragukan apa iya dia tulus mencintai kakak?”</p>
<p>“Bagi orang yang lumpuh dan miskin, mungkin sulit bisa percaya kalau orang yang sehat dan mampu, bisa mencintai mereka,”</p>
<p>“Bukan. Dia nggak percaya sama dirinya sendiri,”</p>
<p>“Tapi aku banyak berubah karena dia,”</p>
<p>“Kalau itu, aku nggak membantahnya. Sejak di Kebumen, kakak memang berubah banyak. Lebih wise, hangat, nggak judes, lebih ceria. Tapi itu tidak sepenuhnya karena pacarmu,”</p>
<p>“Well, tapi kalau suatu saat, aku memang berjodoh sama dia gimana?”</p>
<p>“Kebahagiaan kakak adalah nomor satu. Siapa aku, begitu berani menghancurkan kebahagiaan kakak? Tapi aku akan berusaha mencarikan orang lain, sebelum kalian mengalami CLBK,”</p>
<p>“Aih mulai ketularan Riana nih, main jodoh-jodohan,”</p>
<p>“Kakakku sayang, aku mau kakak ada yang menjaga. Kakak udah lama jagain aku sebagai papa dan mama,”</p>
<p>“Berbuatlah sesukamu Dit, asal tidak memaksakan kehendak aja,”</p>
<p>“Asyik! bener ya&#8230;. Aku punya banyak kandidattt,”</p>
<p>“Whatever,”</p>
<p>***</p>
<p>Sheila belum berani duduk berlama-lama di beranda rumah kontrakannya. Karena semua kenangan tentang Tyo akan mudah menyusup ke hatinya. Itu membuatnya serba salah dan gelisah. Kalau Tyo dekat, mungkin Sheila bisa segera memacu kuda besinya ke rumah Tyo. Tapi Tyo di Yogya sekarang.</p>
<p>Sheila memutuskan menginap di rumah Kinan beberapa hari. Karena Sheila tidak pernah merasa sesepi ini. Tapi, rumah yang biasa ia tinggali sendiri, memang terasa hampa. Di rumah Kinan, ramai dengan dua ponakan hiperaktifnya yang tak berhenti berlari, bertengkar, dan berceloteh. Mereka sangat menggemaskan.</p>
<p>Tapi rumah Kinan pun membangkitkan kenangan Sheila. Tyo yang mengajarinya menghadapi anak-anak dengan bahasa mereka, bukan bahasa orang dewasa. Sheila bukan pecinta anak-anak sebelumnya. Aura keibuannya tidak muncul sama sekali. Tapi melihat Tyo yang luwes beradaptasi dengan anak-anak, membuat Sheila iri. Sheila tidak mau kalah.</p>
<p>“Sini bajunya!”</p>
<p>“Nggak mau, sini!”</p>
<p>Manda dan Mokti, dua ponakan Kinan yang usianya tak beda jauh itu berebut baju.</p>
<p>“Eh berisikkk..pada bobo siang sana,””</p>
<p>“Tante Kinan, aku mau baju itu,”</p>
<p>“Kalian ya, senengnya setiap hari ngacak-acak lemari. Orang udah punya baju sendiri-sendiri.Masih aja rebutan. Nanti tante aduin mama, biar dipukul pantatnya lho,” Kinan mengancam.</p>
<p>“Ah bajunya siniii,” Manda dan Mokti bergeming dengan ancaman Kinan. Mereka terus berebut baju.</p>
<p>“Manda Mokti, ikut tante ke kamar yuk. Tante punya dongeng yang seru. Nanti habis bangun tidur siang, kalian boleh deh rebutan baju lagi. Suka didongengin nggak?” Sheila menyela.</p>
<p>“Suka tante,” sahut Manda.</p>
<p>“Ayo sini. Bajunya dibawa nggak papa. Dipeluk rame-rame sambil bobo juga nggak papa. Tapi jangan berebut ya. Nanti dongengnya nggak bisa dibacain kalau kalian ribut,”</p>
<p>Manda dan Mokti menurut. Sheila tak perlu susah-susah menggiring mereka. Dengan kesadaran sendiri, mereka naik ke atas tempat tidur.</p>
<p>“Dongengnya apa tante?”</p>
<p>“Ada baju yang bisa ngomong,”</p>
<p>“Wah asyik tuh kayaknya. Bosen sama dongengnya tante Kinan, kancil mencuri timun terus,” Mokti nyeletuk.</p>
<p>“Oke, kalian siap?”</p>
<p>“Ya tanteee,”</p>
<p>Sheila menarik nafas. Betapa tidak mudah. Ini dongeng yang pernah diceritakan Tyo saat Sheila sulit tidur. Karena mengaku tidak bisa mengarang cerita, Tyo mengambil buku kumpulan dongeng yang biasa dia bacakan untuk muridnya. Sheila masih terjaga sampai dongeng yang dibacakan Tyo itu selesai. Tyo akhirnya memetik gitar. Memainkan melodi karangannya sampai Sheila terlelap.</p>
<p>“Ayo tante,” Mokti menarik ujung baju Sheila.</p>
<p>“ Iya iya,”</p>
<p><em>Lemari baju Hana semakin penuh dengan datangnya penghuni baru. Dia adalah sebuah baju terusanpajang (long dress) yang cantik. Warnanya kuning cerah dengan motif bunga anggrek kecil-kecil berwarna merah di sekitar bagian leher.Di belakangnya ada sebuah tali pita yang bisa diikat serupa kupu-kupu.</em></p>
<p><em>Para penghuni lama lemari baju Hana yaitu rok jeans hitam, piyama biru garis-garis, T Shirt putih polos, jaket beludru cokelat dan baju-baju yang lain sangat senang kedatangan teman baru. Mereka mencoba beramah tamah.</em></p>
<p><em>“Hai kuning selamat datang. Kamu pasti akan senang berada di tempat ini. Hana itu gadis kecil yang penyayang dna baik hati,” sapa piyama biru garis-garis.</em></p>
<p><em>Hoho, tapi apa yang terjadi? Si Kuning nan cantik itu tidak menyahut. Dia sangat sombong. Bahkan, saking pongahnya, dia terus menggerutu karena ditumpuk bersamaan dengan piyama biru garis-garis yag tampak kuno dan berawarna pudar. Kuning ingin sekali digantung bersama baju-baju bagus lainnya.</em></p>
<p><em>Memasuki minggu ketiga, si kuning tak juga berubah sifatnya. Bukannya menjalin persahabatan tapi malah semakin suka mengejek dan membanggakan dirinya sendiri.</em></p>
<p><em>“Malam ini, teman Hana berulang tahun. Tentu saja hanya aku yang diajak ke sana. Aku akan melihat balon-balon yang indah. Mendengar musik yang asyik dan bertemu dengan baju-baju yang bagus. Tidak seperti kalian yang hanya diam saja di tempat gelap seperti ini!” Kuning tertawa mengejek.</em></p>
<p><em>“Oooh senangnya. Seperti apa ya pesta?” piyama biru garis-garis mendesah.</em></p>
<p><em>“Kamu cuma sebuah piyama lusuh dan kuno, jadi mana mungki diajak ke pesta,” Kuning makin meledek.</em></p>
<p><em>“Jangan kasar, kuning..,” T shirt putih polos menegur si Kuning.</em></p>
<p><em>“Hei-hei, jangan bertengkar. Piyama jangan terlalu dipikirkan perkataan si Kuning itu ya? Sabar saja,” Jaket beludru cokelat menenangkan piyama biru garis-garis yang hampir menangis.</em></p>
<p><em>“Tidak apa-apa. Fungsiku kan memang menemani Hana tidur. Bukan ke pesta,” sahut piyama, masih dengan nada sedih.</em></p>
<p><em>Para penghuni lemari itu, mendadak terdiam karena mendengar suara dari luar lemari. Ternyata mama dan Hana sedang bercakap-cakap.</em></p>
<p><em>“Hana cepat sedikit ya sayang, supaya tidak telat datang ke acaranya,”</em></p>
<p><em>“Iya Ma, Hana ganti baju dulu,”</em></p>
<p><em>Tangan mungil Hana membuka pintu lemari, lalu meraih si Kuning dari tumpukan bajunya. Waduh, semakin sombonglah si Kuning itu. Dia sempat mencibir ke arah teman-temannya sebelum pintu lemari itu, ditutup kembali.</em></p>
<p><em>“Selamat bersenang-senang buatku. Selama sedih buat kalian!” teriak si Kuning Girang.</em></p>
<p><em>Disuatu pagi yang cerah, Hana berlari-larian kecil, mengekor di belakang Mama menuju ke kamarnya. Hari itu, Hana merasa sangat gembira karena diajak mama membantu orang yang sedang tertimpa musibah.</em></p>
<p><em>“Bantu Mama ya Nak?”</em></p>
<p><em>Hana mengangguk. Beberapa potong baju Hana yang sudah tidak terpakai, dipilih-pilih oleh Mama dan Hana. Kemudian ditata rapi dan dipisahkan di bagian lemari palig atas yang sedari dulu sengaja dikosongkan.</em></p>
<p><em>“Hana tidak apa-apa kan? Tidak sedih?” Mama membelai rambut Hana.</em></p>
<p><em>“Hana sayang sekali dengan baju-baju ini. Tapi teman-teman Hana yang terkena musibah banjir dan longsor lebih membutuhkannya kan, Ma?”</em></p>
<p><em>“Anak baik. Kalau baju ini bisa bicara, mereka pasti akan berterimakasih sama Hana. Karena selama ini sudah merawat mereka dengann baik, selalu merapikannya dan juga menyayaginya. Bahkan, dengan ikhlas membuat mereka tetap berguna buat orang lain,”</em></p>
<p><em>“Sungguh Ma?” mata Hana Berbinar-binar senang. Mama mengangguk.</em></p>
<p><em>“Nah sudah selesai. Biar ditaruh di lemari dulu.Sekarang tiggal menunggu Mang Didin beli kardus. Nanti baju-baju ini dimasukkan ke dalam kardus. Kalau sudah selesai, baru kita bawa ke pos bakti sosial untuk korban bencana alam,” Mama menjelaskan.</em></p>
<p><em>Hana lagi-lagi tersenyum. Setiap melakukan perbuatan baik, hati hanya terasa berbunga-bunga. Rasanya senang sekali.</em></p>
<p><em>Tapi, sebenarnya ada hal aneh yang terjadi pada lemari itu. Sudah dua hari, para penghuni lemari Hana tidak melihat si Kuning yang cantik. Kemana perginya ya?”</em></p>
<p><em>“Hu hu hu&#8230;,” Saat semua baju bertanya-tanya, tiba-tiba si kuning muncul diantar bi Supi, pekerja rumah tangga di rumah Hana.Sepertinya si Kuning baru selesai disetrika. Sebab, aroma pengharum baju yang tercium di udara sangat khas.</em></p>
<p><em>“Lho kuning kenapa? Kok menangis,” tanya jaket beludru cokelat.</em></p>
<p><em>“Iya&#8230;.iya kamu kenapa?” baju-baju yag lain ikut bertanya. Mereka penasaran.</em></p>
<p><em>Dengan nada sedih dan lemah, si Kuning bercerita.</em></p>
<p><em>“Sekarang, aku tidak cantik lagi. Lihat badanku, masih ada sisa-sisa noda makanan pesta yang agak sulit dihilangkan dengan deterjen. Lihat juga lenganku, tidak mulus seperti dulu. Tapi ada jahitannya. Ini jahitan Mama Hana. Jadi malam itu, Hana ketakutan karena dikejar anjing temannya, sampai-sampai tanpa sengaja, lengaku tersangkut kawat berduri yang menempel di samping pagar rumah temannya. Lenganku jadi robek,” si Kuning berkata dengan wajah murung.</em></p>
<p><em>“Sudah jangan menangis lagi. Aku yakin, Hana pasti masih tetap meyayangimu,” hibur piyama biru garus-garis.</em></p>
<p><em>“Hana memang gadis baik. Meski mungkin tidak lagi mengajakku ke pesta tapi dia berjanji akan tetap memakaiku untuk pergi bermain. Kata Hana, dia tidak malu degan jahita dilenganku. Aku masih kelihatan cantik,”</em></p>
<p><em>“Syukurlah,” sahut para peghuni lemari dengan gembira.</em></p>
<p><em>“Oh ya, teman-teman. Maafkan aku karena sudah bersikap sangat sombong. Aku selalu merasa yang paling cantik. Padahal cantik itu tidak mungkin selamanya,” kata si Kuning.</em></p>
<p><em>“Iya kuning, kami maafkan,” teman-teman Kuning, menerima permintaan maaf itu. Mereka lalu tertawa bersama-sama.</em></p>
<p><em>‘Lho kok, baju hangat hijau, celana panjang kotak-kotak, kaos mickey mouse, dan beberapa tema yang lain kenapa ditumpuk terpisah? Ada apa?” si Kuning kaget melihat ada beberapa temannya tidak berada di tempat semula.</em></p>
<p><em>“Kami akan disumbangkan ke korban bencana alam. Kami senang sekali masih bisa bermanfaat. Suatu saat kalian juga bisa seperti kami,” kata baju hangat hijau sembari tersenyum.</em></p>
<p><em>“Sebenarnya sedih juga harus berpisah dengan kalian.Tapi ini kan demi kebaikan ya? Kalau begitu, sebelum kita berpisah, bagaimana kalau kita berbagi cerita. Pasti seru dan asyik,’ usul si Kuning.</em></p>
<p><em>“Setuju&#8230;setuju&#8230;” semua penghuni lemari Hana bersorak sorai.</em></p>
<p><em>Ternyata punya banyak teman itu lebih menyenangkan daripada hidup sendiri. Batin si Kuning yang akhirnya bisa memetik pelajaran dari perbuatan di masa lalunya. </em></p>
<p><em>Tak berapa lama kemudian, si Kuning dengan bersemangat menceritaka suasana pesta ulang tahu teman Hana. Piyama biru garis-garis juga bercerita tentang mimpi-mimpi Hana saat tidur. Yang tak kalah menarik, adalah cerita T Shirt putih polos saat bermain petak umpet di halaman rumah nenek Hana. Semua saling bercerita dengan gembira dan akrab. Segembira Hana yang selalu berbuat kebaikan di hari ini dan selamanya.</em></p>
<p>“Tante kok berhenti, lagi dong tante&#8230;,” Manda berkata setengah sadar. Matanya sudah terpejam. Sheila mengelus-elus rambutnya sampai Manda terdiam. Sementara Mokti, sudah berada di alam mimpi sejak cerita masih di awal.</p>
<p>“Ssst&#8230;pada keok mereka?” Kinan meyembulkan kepalanya di balik pintu. Sheila berjingkat keluar kamar meninggalkan Manda dan Mokti yang sudah tak bersuara lagi.</p>
<p>“Eits bu guru, bisa banget dongengin anak,” Kinan mencubit pipi Sheila.</p>
<p>“Baru belajar. Ini juga pengalaman pertama,’</p>
<p>“Sheil, ada vendor provider seluler yang mau ngadain gathering sama awak media selama tiga hari dua malam di Yogya. Biasa mereka minta satu wartawan untuk ikut gathering itu sekalian meliput. Di kantor kita, yang meliput acara seperti itu biasanya digilir. Besok, kamu aja ya? Ynag lain udha pernah semua,”</p>
<p>“Yogya kamu bilang?”</p>
<p>“Kenapa? Nggak bisa? Atau nggak suka?”</p>
<p>“Bukan. Kira-kira kalau ada acara seperti itu, kita bisa nggak nyuri waktu bentar untuk keluar tanpa ikut rombongan,”</p>
<p>“Wah susah Sheil. Jadwalnya semua diatur. Dari tidur, makan sampai shopping juga diatur. Ya mugkin kalau nyuri-yuri waktu di malam hari waktu nginep di hotel, bisa aja. Emangnya kamu mau kemana?”</p>
<p>“Nggak kemana-mana. Pengen ketemu saudara aja,”</p>
<p>“Kamu ada saudara di Yogya,”</p>
<p>“E..ee.ada di Bantul,” Sheila berbohong.</p>
<p>Sheila tidak tahu kenapa bisa seberuntung ini. Kenapa harus Yogya? Kenapa jalan untuk menemui Tyo dipermudah? Sheila ingin sekali menerka-nerka juga berandai-andai kalau mereka memang berjodoh. Tapi kata-kata Endita mencegat hayalan Sheila,</p>
<p>“Kak, seorang lelaki yang bertanggungjawab tidak akan pernah berkata kalau ada orang yang lebih baik darinya, kakak boleh memilih orang itu. Dimana letak perjuangan dia? Dia harus mempertahankan kakak, apapun yang terjadi. Aku malah meragukan apa iya dia tulus mencintai kakak?” kata-kata Endita itu, cukup mengganggunya. Celakanya, tak Cuma mengganggu, sebagian otak Sheila menyetujuinya.</p>
<p>2302</p>
<br />Filed under: <a href='http://jenkna.wordpress.com/category/j-50-k/'>J 50 K</a> Tagged: <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/j50k/'>J50K</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/kampung-fiksi/'>kampung fiksi</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/novel/'>novel</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jenkna.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jenkna.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jenkna.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jenkna.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jenkna.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jenkna.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jenkna.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jenkna.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jenkna.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jenkna.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jenkna.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jenkna.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jenkna.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jenkna.wordpress.com/845/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=845&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/29/tentang-beranda-jiwa-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa413196383db908af161bb87edd7a58?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">jenkna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Beranda Jiwa (19)</title>
		<link>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/29/tentang-beranda-jiwa-19/</link>
		<comments>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/29/tentang-beranda-jiwa-19/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 10:31:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jenkna</dc:creator>
				<category><![CDATA[J 50 K]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>
		<category><![CDATA[kampung fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jenkna.wordpress.com/?p=843</guid>
		<description><![CDATA[Beranda #23 Inilah kamar bernuansa peach yang telah tiga tahun ditinggalkan Sheila. Tidak ada yang berubah, kecuali hawanya yang dingin. Sheila mengelus sprei bercorak bunga cattleya kesukaannya. Kasur busa yang berbahan dakon, juga masih empuk saat Sheila duduki. Sejenak Sheila tenggelam dalam dunia kenangan masa lalunya saat remaja. Sheila remaja sangat suka membawa teman-temannya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=843&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beranda #23</p>
<p>Inilah kamar bernuansa peach yang telah tiga tahun ditinggalkan Sheila. Tidak ada yang berubah, kecuali hawanya yang dingin. Sheila mengelus sprei bercorak bunga cattleya kesukaannya. Kasur busa yang berbahan dakon, juga masih empuk saat Sheila duduki. Sejenak Sheila tenggelam dalam dunia kenangan masa lalunya saat remaja.</p>
<p>Sheila remaja sangat suka membawa teman-temannya yang perempuan ke kamar itu. Mereka geng yang antipati dengan laki-laki. Terutama laki-laki penindas perempuan. Jadi kalau ada tindakan bully di sekolah kepada teman-teman perempuan mereka yang lain, geng tersebut akan bertindak. Mulai dari mengumpulkan bukti-bukti untuk laporan ke kepala sekolah, sampai berani pasang badan untuk adu fisik. Dari Sembilan orang, enam diantaranya memang jago beladiri, termasuk Sheila dan Riana.</p>
<p>Entah bagaimana chemistry mereka terbangun demikian erat. Mereka sama-sama tidak mau pacaran semasa sekolah. Mereka sebenarnya lebih cocok sebagai geng cantik, banyak yang mengidolakan, tapi mereka seperti sengaja mengumbar kecantikan itu tanpa bisa disentuh. Ibarat mawar, mereka adalah mawar berduri.</p>
<p>Namun, seiring usia yang bertambah, tabiat mereka berubah satu persatu. Semakin dewasa, godaan terhadap lelaki semakin kuat. Riana bahkan menikah muda. Tapi itulah jalan hidup, tidak bisa diterka akan bagaimana. Di luar trauma Sheila pernah mendapat pelecehan seksual saat SMP, Sheila cenderung tetap garang terhadap laki-laki. Kecuali pada Tyo.</p>
<p>Apa kabar Tyo? Sheila menjadi berat bernafas ketika sampai pada nama itu.</p>
<p>“Kak, kok di kamar terus,” Endita tanpa mengetuk pintu, masuk ke kamar Sheila.</p>
<p>“Lagi memandangi kamar Kakak. Nggak ada yang berubah,”</p>
<p>“Aku selalu mengingatkan Bi Sum untuk merapikan dan membersihkan debu-debunya,”</p>
<p>“Thanks ya, Dit,”</p>
<p>“Sam-sam. Hhhhh aku lelahhhhh,” Endita merebahkan diri di kasur.</p>
<p>“Calon pengantin harus jaga kondisi. Apalagi kamu pakai acara adat Banjar segala,”</p>
<p>“Itu permintaan Mas Gema Kak. Orangtuanya kan asal Banjarmasin. Kakek kita juga dari Martapura. Jadi dia mau pakai adat Banjar. Segala macam alasan melestarikan kebudayaan lah dia bilang. Padahal kan aku karakternya coboy begini,” ujar Endita dengan gaya tomboynya.</p>
<p>“Waktu acara lamaran, pasti kamu sibuk sendirian ya. Maaf kakak nggak bisa bantu,”</p>
<p>“Santai kak. Emang capek bangeett..aku mesti nyari sisa-sisa keluarga kita yang masih ada di Martapura. Kalau lagi lamaran itu ada acara balas pantun Kak. Mana bisa Pak Dhe kita yang orang Jawa tulen itu, suruh berbahasa melayu,”</p>
<p>Sheila dan Endita tertawa bersama.</p>
<p>“Untung masih punya Pak Dhe yang bisa jadi wali nikah kita. Kenapa ya, Papa Mama tidak punya garis keturunan yang lebih panjang. Dan kenapa rata-rata saudara kita perempuan, jadi susah,”</p>
<p>“Ngapain bahas hal begituan. Kakak jadi sedih inget mereka,”</p>
<p>“Aku juga kangen papa, kangen mama,”</p>
<p>Sheila belajar menontrol emosinya. Kalau diteruskan, bisa-bisa kamar Sheila nanti banjir air mata.</p>
<p>“Acara Maatar jujurannya gimana? Ceritain dong,” Sheila mengalihkan pembicaraan.</p>
<p>“Oh  tentang kesepakatan mas kawin sebagai tanda pengikat? Ya pokoknya dengan masih berpantun,utusan pihak lelaki minta keluarga kita supaya mas kawin nya tidak melebihi  kesanggupannya. Ah tapi itu kan formalitas, aku sendiri, minta yang agak besar sama Mas Gema,”</p>
<p>“Hus kamu&#8230;Tahu sendiri kan sifat Gema. Dia itu terlalu baik, royal, kamu minta pulau juga bakal dikasih,”</p>
<p>“Tenang, masih dalam batas wajar kok Kak. Lagian Mas Gema maunya juga serba mewah, serba mahal,”</p>
<p>“Ya udah sana balik ke kamarmu. Luluran. Lagi bapingit nggak boleh kemana-mana lho,”</p>
<p>“Alah beli bakso di depan rumah masa nggak boleh?”</p>
<p>“Enditaaa&#8230;,”</p>
<p>“Siap kakak,”</p>
<p>***</p>
<p>Seksi sibuk. Sheila sengaja menceburkan diri dalam kepanitiaan pernikahan Endita. Itu membuat hidupnya lebih bergairah. Sheila memang masih memikirkan keadaan Tyo, tapi dia tidak dikuasai penuh seperti sebelumnya.</p>
<p>Gedung yang dipesan Endita sudah siap 90 persen. Tinggal menambahkan dekor taman dekat panggung pengantin dan penambahan lampu-lampu hias. Sheila ikut melihat proses pembuatan taman yang akan dimeriahkan dengan air mancur kecil di dalamnya.</p>
<p>“Sheil,” seseorang memanggil. Panggilan yang khas.</p>
<p>“Gema,” Sheila yang sedang menghadap ke taman buatan, membalikkan badan.</p>
<p>“Kirain orang Wedding Organizer, ternyata benar kamu,”</p>
<p>“Bukannya aku nggak percaya WO yang udah kamu pesan. Aku suka aja melihat pernak-pernik seperti ini,”</p>
<p>“Dalam waktu dekat, kamu mau nikah juga?”</p>
<p>“Oh nggak..,”</p>
<p>“Kalau memang iya, jangan sungkan untuk minta tolong aku ya Sheil. Kita sekarang kan keluarga,”</p>
<p>“Belum Ge..Sungguh,”</p>
<p>“Aku sebenarnya masih nggak enak. Tiba-tiba melamar adikmu tanpa memberitahu,”</p>
<p>“Nggak papa. Sudah diwakili Endita,”</p>
<p>“Tidak masalah kan, kami menikah duluan?”</p>
<p>“Memangnya kamu mau bongkar dekorasinya sekarang, kalau aku bilang nggak ikhlas?” Sheila tersenyum menggoda Gema.</p>
<p>“Aneh ya, kamu jauh lebih ramah sama aku sekarang. Coba dari dulu begini,”</p>
<p>“Jangan berandai-andai. Jangan menengok masa lalu.Yang mau kamu nikahi itu Endita, adikku satu-satunya. Artinya, kamu langsung berhadapan sama aku Ge,”</p>
<p>“Mengancam nih? Tenang, aku suggguh-sungguh mencintai adikmu, terlepas dari kenyataan bahwa dulu aku sangat menggilaimu,”</p>
<p>Percakapan mereka jadi kikuk. Karena merasa tidak nyaman, Sheila permisi pulang. Ketika sampai di rumah Endita sedag di kelilingi calon periasnya besok. Tubuhnya sedang dilumuri berbagai macam ramuan tradisional, salah satunya kasai. Kegiatan yang dinamakan bakasai itu, terlihat menyenangkan karena ruangan kamar Endita berubah harum.</p>
<p>Dalam keadaan Bapingit atau dipingit, waktu benar-benar digunakan untuk merawat diri yang disebut dengan Bakasai dengan tujuan untuk membersihkan dan merawat diri agar tubuh menjadi bersih dan muka bercahaya atau berseri waktu disandingkan di pelaminan.</p>
<p>“Kak, aku pengen cepet-cepet nikah aja deh. Kelamaan begini ribet. Kebanyakan perkara,” Endita yang sedang tengkurap mengomel-ngomel.</p>
<p>“Memang, prosesinya masih ada apalagi bu?” tanya Sheila ke dukun manten adik kesayangannya.</p>
<p>“Masih ada Batimung untuk mengharumkan badan. Biasanya yang sangat mengganggu pada hari pernikahan adalah banyaknya keringat yang keluar. Keringat akan merusak bedak dan dapat membasahi pakaian pengantin perempuan. Untuk mencegahnya, harus melakukan Batimung. Setelah Batimung badan calon pengantin menjadi harum karena mendapat pengaruh dari uap jerangan Batimung tadi,”</p>
<p>“Setelah itu?” Sheila bertanya lagi</p>
<p>“Tinggal mandi Badudus atau bapapai sebagai proses peralihan antar masa remaja dengan masa dewasasa. Upacara ini juga sebagai penangkal dari perbuatan-perbuatan jahat. Upacara ini akan kita lakukan besok sore,”</p>
<p>“Cuma dua tahap lagi kok, Dit. Sabar..makanya puasa supaya nggak emosian,”</p>
<p>“Aku kan lagi palang merah, Kak,”</p>
<p>“Wah bagus itu, katanya setelah mens adalah masa subur. Bakal cepet punya baby, asyik, bakal langsung punya ponakan,”</p>
<p>“Aduh ngebayangin hamil aja aku ogah!”Endita menggoyang-goyangkan tubuhnya.</p>
<p>“Endita&#8230;jangan gerak-gerak gitu. Orang lagi dilulur!” Sheila memegangi kepala Endita.</p>
<p>***</p>
<p>Oh inilah hari sakral itu. Yang menguras berliter-liter air mata. Kakak-beradik yatim piatu, tanpa didampingi orangtua, menyelenggarakan pesta pernikahan. Banyak yang menaruh simpati dengan kisah dramatis ini. Merekalah, para tetangga, yang menangis meraung-raung, terharu dengan kebahagiaan yang ada di rumah Sheila. Mereka tentu sedang mengingat jasa mama dan papa Sheila yang pandai bergaul dan sangat dermawan. Tapi tidak mungkin hadir dalam sejarah awal rumah tangga, salah satu putrinya, karena sudah meninggal dunia. Semua mendadak jadi jatuh kasihan pada Sheila dan Endita.</p>
<p>Sheila memandangi Endita yang luar biasa cantik. Dia sudah menjalani prosesi Bahias atau Merias Pengantin sejak pukul 10 pagi. Wajah, rambut dan pakainnya tampak bersinar. Jantung Sheila semakin berdebar kencang  saat menyentuh pakaian pengantin adiknya. Semua akhirnya terlihat nyata bagi Sheila. Adiknya menggunakan busana adat pengantin Banjar bernama ba’amar galung pancaran matahari. Busana ini paling populer dan digemari masyarakat suku banjar, karena wujudnya yang tampak mewah dan wibawa jika dipakai. Busana tersebut sudah dimodifikasi dengan tambahan aksesoris modern, seperti mahkota yang dibuat mewah.</p>
<p>Mahkota amar galung pancaran matahari berupa permata yang tengahnya bermotif buah nanas dan matahari. Baju poko lengan pendek tanpa kerah, dan ujung lengannya dihias manik-manik serta rumbai-rumbai itu, tampak pas melekat di badan Endita. Kulit Endita yang kuning yang langsat, bercahaya terkena sinar lampu-lampu.</p>
<p>Hiasan berupa kembang goyang berumpun sebanyak 11-13 kuntum, sisir emas berbentuk melati dengan lima kelopak, anting beruntai panjang, kalung cikak, kalung kebun raja, kalung bentuk biji kurma, ikat pinggang emas, kilat bahu berbentuk garuda paksi, gelang tangan berbentuk kembang jepun, cincin berbentuk pagar mayang, gelang kaki, dan selop tutup bersulam benang emas, melingkari tubuh Endita</p>
<p>Endita semakin menawan dengan rangkaian bunga-bunga. Ada kalung dari bunga mawar dan melati yang sedang kuncup, daun sirih buah tangan yang terbuat dari daun sirih dan dihias dengan bunga mawar, janur, serta bunga kenanga yang diuntai.</p>
<p>“Kamu sudah jadi Nyonya Gema sekarang. Kakak, tidak ingin mengetahui bagaimana perasaanmu. Tapi status tetap membawa efek samping. Kamu harus tahu bagaimana menjaga kehormatan diri dan keluarga kecilmu, Dit,” Sheila menasehati sedikit.</p>
<p>“Rumah sebesar ini, tinggal Kak Sheila dan bi Sum, aku sebenarnya nggak tega Kak,”</p>
<p>“Sudah kewajiban kamu ikut suami. Kakak nggak masalah. Tapi mungkin sementara ini, Kakak juga nggak bisa tinggal di rumah ini. Kakak masih ada urusan di Kebumen,”</p>
<p>“Kakak, udah punya cowok ya? Apa yang mengikat kakak dengan kota kecil itu? Nggak mungkin kalau cuma pekerjaan. Kakak kenapa nggak pernah cerita sih?”</p>
<p>“Maaf, pengantin laki-lakinya sudah datang, acara basandingnya segera dimulai. Mbak Endita siap-siap ya,” salah satu panitia WO yang juga perias Endita, datang mengingatkan.</p>
<p>“Kakak memang sangat mencintai orang itu, cinta buta malah. Mungkin kakak kena karma karena menyakiti banyak hati laki-laki. Kakak ceritakan nanti saja, Gema sudah datang,”</p>
<p>Sheila bergegas menggandeng tangan Endita. Mereka bersiap keluar dari sebuah bilik yang disebut dinding kurung untuk menemui  Gema.</p>
<p>Kedatangan pengantin pria disambut dengan Salawat Nabi dan ketika Salawat itu dikumandangkan Endita keluar dari dinding kurung untuk menyambut Gema. Untuk beberapa saat mereka bersanding di muka pintu, kemudian mereka di bawa ke panggung pengantin untuk bersanding secara resmi.</p>
<p>Pada malam hari pertama sampai ketiga sejak hari perkawinan, diadakan acara Bajajagaan atau menjagai pengantin, yang isinya dengan pertunjukan kesenian,  Bawayang Kulit (Wayang Kulit) dan Bawayang Gong (Wayang Orang).</p>
<p>Tiga hari sesudah upacara perkawinan, Endita masih mengikuti acara sujud, yakni di bawa ke rumah orang tua Gema sebagai wujud bakti pada orang tua . Malam harinya, di rumah Gema juga diadakan acara menjaga pengantin dengan maksud untuk menghibur kedua mempelai yang sedang berkasih mesra.</p>
<p>Disaat itulah Sheila merasa sangat kesepian. Endita mungkin penuh dengan kenakalan. Mereka kerap bermusuhan untuk hal-hal sepele. Tapi darah memang lebih kental dari air, Endita adalah nyawanya. Tapi untunglah, Endita dan Gema belum berniat menempati rumah baru mereka. Selama Sheila masih tinggal di Kebumen, Endita dan Gema, bersedia menempati rumah peninggalan orangtua Sheila itu.</p>
<p>1609</p>
<br />Filed under: <a href='http://jenkna.wordpress.com/category/j-50-k/'>J 50 K</a> Tagged: <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/j50k/'>J50K</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/kampung-fiksi/'>kampung fiksi</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/novel/'>novel</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jenkna.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jenkna.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jenkna.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jenkna.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jenkna.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jenkna.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jenkna.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jenkna.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jenkna.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jenkna.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jenkna.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jenkna.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jenkna.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jenkna.wordpress.com/843/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=843&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/29/tentang-beranda-jiwa-19/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa413196383db908af161bb87edd7a58?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">jenkna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Beranda Jiwa 18</title>
		<link>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/27/tentang-beranda-jiwa-18/</link>
		<comments>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/27/tentang-beranda-jiwa-18/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 10:55:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jenkna</dc:creator>
				<category><![CDATA[J 50 K]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>
		<category><![CDATA[kampung fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jenkna.wordpress.com/?p=835</guid>
		<description><![CDATA[Beranda #22 Paling sulit berkata jujur. Jujur bisa berarti mengakui kebenaran. Tapi, jujur seringkali menimbulkan perasaan merendahkan martabat atau terhina. Padahal itu hanya permainan di wilayah angan-angan kita saja. Berkata jujur kenyataannya sangat membantu meringankan beban. Lalu apa yang membuat hati yang berdesakan karena dan atas nama rasa sakit ini supaya sedikit melonggarkan keadaan gelisahnya? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=835&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beranda #22</p>
<p><em>Paling sulit berkata jujur. Jujur bisa berarti mengakui kebenaran. Tapi, jujur seringkali menimbulkan perasaan merendahkan martabat atau terhina. Padahal itu hanya permainan di wilayah angan-angan kita saja. Berkata jujur kenyataannya sangat membantu meringankan beban. Lalu apa yang membuat hati yang berdesakan karena dan atas nama rasa sakit ini supaya sedikit melonggarkan keadaan gelisahnya? Mungkin dengan berkata jujur, aku bisa lebih tegar. Memandang dunia yang tadinya serupa bola panas menjadi lebih dingin meski belum sekali.</em></p>
<p><em>Sederhana, tentang yang ingin kuungkapkan. Aku&#8230;begitu kehilangan yah kehilangan. Siapapun dia, bersama baik dan buruknya, adalah kisah. Memberi warna yang berbeda. Bahkan yang belum pernah kulihat sama sekali. Tapi inilah kehidupan. Yang ditumbuhi jalan-jalan. Jalan mana yang terpilh&#8230;ada zat yang kasat mata yang telah mengatur semuanya.</em></p>
<p><em>Baiklah, awalnya aku sangat menolak perasaan ini. seperti fenomena -tidak mungkin anjing menarik perhatian kucing-.karena mereka kerap bermusuhan. nyatanya, ketika mereka terpisah, ada yang hilang bersama perpisahan itu. entah apa?</em></p>
<p><em>Tapi waktu adalah penyembuh terbaik, kehilangan itu mutlak tapi perasaan &#8220;hilang&#8221; tidak. Kelak, akan diganti oleh peristiwa, persepsi, suasana yang baru, segalanya baru. Jangan terlalu tergantung pada orang lain. Itu yang penting dipelajari saat kehilangan. Karena saat terlalu terikat pada penopang yang rapuh, ketika kerapuhannya melapukkan dan ambruk. Kitapun ambruk&#8230;semoga kehilangan ini menjewer kepribadian getasku. Semoga</em></p>
<p>Kehilangan, memang kata yang paling mewakili perasaan Sheila. Tyo masih bisa diraihnya, tapi dia berjarak. Bukan Tyo yang dulu. Perasaan dicampakkan seringkali muncul tanpa bisa disanggah. Sheila terus menolak kenyataan bahwa Tyo telah mengakhiri ikatan agung mereka. Tyo yang meggunting pitanya, lalu ditambal dengan pita baru yang dinamai Tyo, persahabatan. Sementara Sheila memandangnya dari jauh dalam diam. Tidak melangkah, tidak mencegah, tidak berkedip. Hanya berdemo dalam hati, tapi tak bisa diluapkan.</p>
<p>Setiap terbagun dari tidur, Sheila sering lupa. Menganggap Tyo masih sebagai calon suami yang digadang-gadangnya. Butuh waktu lebih dari 15 menit untuk tersadar kalau keadaan memang sudah tidak sama lagi. Tyo selalu mengingatkan, perasaannya belum berubah, tapi sekedar itu, Sheila tidak bisa menuntut lagi. Tidak ada perbincangan tentang cinta atau pernikahan lagi. Hubungan mereka hanya sebatas memberi dukungan.</p>
<p>“De harus ingat, satu hal ini, terus menerus. Kalau kita memang berjodoh, pasti akan ada jalan untuk bertemu lagi. Mungkin De harus menikah dulu dengan orang lain, Mas juga. Lalu kita ketemu lagi, dalam keadaan sendiri. Who knows? Tidak ada yang bisa memecahkan kemisteriusan jodoh, sekalipun De sudah memilih mas sebagai belahan jiwa,” kata-kata Tyo memenuhi udara.</p>
<p>Sheila memang memiliki hak untuk mempertanyakan, menggugat, menolak, keputusan sepihak Tyo. Tapi penjelasan tidak lagi penting jika sifatnya menyakitkan. Mulai sekarang Sheila berusaha tidak peduli lagi dengan perasaannya, biar kepedulian itu dialihkan untuk kesembuhan Tyo saja.</p>
<p>Tyo sudah dua bulan terpaku di kursi rodanya. Sheila sekali-kali berada di samping Tyo untuk menyalurkan semangat. Apalagi saat Tyo harus pergi ke klinik fisioterapi untuk memperkuat otot-otot sekaligus memperbaiki pola berjalannya, Sheila nyaris selalu ada. Perlahan, tubuh Tyo yang terasa kaku mulai melentur. Demikian pula dengan kakinya yang selalu gemetaran tanpa terkontrol perlahan mulai mereda. Kakinya yang sempat baal, kini 80 persen sudah mulai terasa. Trauma pernah lumpuh, kadang-kadang masih mengganggu pikiran Tyo. Dia jadi kurang pede berjalan tanpa bantuan walker. Tyo sering dihinggapi rasa takut akan jatuh sehingga pennya lepas dan sebagainya. Tapi Sheila lagi-lagi membuat Tyo lebih nyaman.</p>
<p>“Pasti aku terlihat sangat kejam,memperlakukan kamu seperti ini, De. Kamu masih saja di sekelilingku, tapi aku&#8230;,”</p>
<p>“Mas, jangan membahas yang sudah berlalu. Kata Mas, kita harus melihat ke depan. De, sedang melihatnya sekarang. Mas akan pulih, suatu saat Mas bisa kuliah lagi,Mas bisa kerja lagi, menikah, punya anak. Kita akan berbahagia dengan kehidupan yang telah kita pilih nantinya,”</p>
<p>“Mas senang De bisa sedewasa ini,”</p>
<p>“Usia sama sekali tidak bisa menjadi ukuran kedewasaan. Usia hanyalah urutan, siapa yang lebih dulu lahir, jadi Mas yang lebih muda, berperan besar mempengaruhi Ade untuk yang satu ini. Thanks ya..,”</p>
<p>“Begitukah? Sama-sama Sayang&#8230;,”</p>
<p>“Heh? Apa?,”</p>
<p>“Ng&#8230;.nggak&#8230;,”</p>
<p>***</p>
<p>Dibalik ketabahan yang ditunjukkan Sheila, Kinan, sahabatnya tahu, kalau Sheila sebenarnya remuk redam. Kinan sering membawa Sheila berbelanja, membeli baju atau sepatu, ke salon, berenang, dan berkuda. kegiatan di luar yang menyenangkan dipercaya Kinan bisa memperbaiki situasi hati Sheila. Sheila juga dipertemukan dengan psikolog kenalan Kinan, tanpa dibuka identitasnya sebagai piskolog. Jadi selama bergaul Sheila menganggapnya motivator biasa yang membuka kelas-kelas seminar motivasi, trainer dan semacamnya.</p>
<p>Ratih, nama psikolog berparas ayu dan berperangai lembut itu, meminta Sheila menuangkan perasaannya tentang cinta pada secarik kertas. Sore itu, suasana memang sedang cerah setelah beberapa hari diguyur hujan. Karena pekerjaan mereka sedang off, Kinan memaksa Sheila menikmati sore yang indah itu di sebuah mini cafe.</p>
<p>“Kinan sama Sheila, ayo masing-masing pegang kertas HVSnya. Lalu tulis, gambaran kalian tentang cinta atau perasaan jatuh cinta,” kata Ratih.</p>
<p>Sheila awalnya dongkol disuruh melakukan hal yang sedang tidak ingin diingatnya. Tapi ketika kalimat pertama sudah terbentuk, Sheila begitu larut, hingga melupakan sekelilingnya yang ramai.</p>
<p>“Memandang sosoknya dari kejauhan saja membuat hatimu berdesir. Apalagi berdiri di dekatnya. Pipimu akan merona merah dan bola matamu selalu kau gerakkan untuk menghindari tatapannya. Menjauh dari keberadaanya akan membuat matamu cepat memanas, lalu melelehkan air mata. Dadamu sesak dan bergeuruh bagai dijejaki ribuan kuda.</p>
<p>Saat melihatnya bersama orang lain, akan membuatmu merasa tidak berharga dan terasing. Kamu ingin sekali memakitapi pada siapa. Sedangkan keadaan antara kau dan dia belum jelas. Kamu Cuma sedang menerka-nerka apakah ada perasaan khusus dihatinya terhadapmu atau tidak.</p>
<p>Saat melihatnya terpuruk sendirian, kamu akan merasa bersalah meski bukan kamu penyebabnya. Ingin rasanya megulurkan tangan, paling tidak menggenggam pundaknya dan menenangkan dia dengan kata-kata manis yang telah dipersiapkan. Bahkan, kalau perasaanmu sudah tidak terbendung lagi, kamu ingin sekali berlari memeluknya.</p>
<p>Sedangkan, bila ia sedang bahagia, kamu merasa menjadi orang yang paling berhak mengucapkan selamat padanya. Membelikannya sekotak hadiah yang sangat ingin kamu kirimkan, tapi pada akhirnya hanya kamu simpan, karena malu menyerahkannya.</p>
<p>Jangan bertanya padaku apakah pendapat kita sama? Yang jelas bagiku, saat menautkan kelingkingku dengan kelingkingnya saja sudah membuatku demikian senang. Memakai jaketnya juga menyenangkan, seolah-olah menyatu dengan dirinya, bersenyawa dengan bau badannya. Meski dia memikirkan orang lain untuk berada di dekatnya. Tapi akulah yang akan selalu di belakangnya, mendoakannya.</p>
<p>Tahukah kamu, apa yang ingin dilakukan seorang wanita yang tengah berada di balik punggung pria yang dicintainya? Ia terus membatin sembari mengerjapkan mata, &#8211;aku mencintaimu—begitu terus diulang tanpa henti,”</p>
<p>Sheila menyodorkan hasil tulisannya, begitu juga Kinan. Ratih membaca kedua tulisan itu, lalu meletakkannya di meja. Ratih seperti tidak membacanya, kalaupun membaca hanya secara singkat saja.</p>
<p>“Bagaimana perasaan kalian?”</p>
<p>“Terus terang jauh lebih baik,” kata Sheila</p>
<p>“Iya plong gitu,” Kinan menyahut.</p>
<p>“Konsekuensi dari menyimpan perasaan yang tidak menyenangkan akan menimbulkan banyak masalah kesehatan. Sebaliknya, berbicara atau menulis tentang trauma pribadi terbukti memberi terapi  dan menigkatkan kesehatan. Ini latihan yang mudah kan, untuk membuang emosi negatif, jadi jangan sungkan untuk membacarakan masalah kalian pada orang lain yang bisa dipercaya atau melalui tulisan,”</p>
<p>“Maksudmu, kita bisa sakit kalau nggak hepi?” Kinan melongo.</p>
<p>“Jelas sekali. Sebuah kajian ilmiah sudah membuktikan kalau ada hubungan antara kegagalan untuk membicarakan pengalaman traumatis dengan penyakit kanker, tekanan darah tinggi dan gangguan kesehatan lainnya,”</p>
<p>“ihhh serem juga ya&#8230;denger tuh Sheil. Hidup itu harus bahagia-bahagia aja, jangan dibikin rumit,”</p>
<p>“Pernah denger nggak kalau kesedihan itu bisa membuat kita mati. Bukan gara-gara kecelakaan lalu lintas, sakit jantung kronis aja kita bisa wassalam. Justru pencetusnya ya rasa sedih itu,”</p>
<p>“Contohnya?”</p>
<p>“Angka kematian pria meningkat ketika dia menduda karena ditinggal mati istrinya. Itu karena kesedihan. Kalian pernah mendengar juga kisah sedih simpanse yang ditinggal mati induknya? Simpanse yang masih anak-anak sangat tergantung dengan sang induk. Hubungan mereka begitu intim. Memang,mereka mampu mencari makan sendiri, dan kebutuhannya yang lain. Tapi secara psikologis, dia menjadi lesu dan apatis. Dia jadi rentan penyakit. Dan anehnya, penyakit itu tak kunjung sembuh. Keadaan spikologislah yang membuat mereka sakit. Sebulan kemudian ia pun mati menyusul induknya,”</p>
<p>“Tapi menghilangkan kesedihan kan nggak segampang kita menjulurkan lidah,” Kinan protes.</p>
<p>“Nggak perlu jadi orang yang dianugerahi kemampuan istimewa atau harus berlatih bertahun-tahun untuk mengendalikan emosi. Kita semua bisa kok mengendalikan emosi dengan mengubah ekspresi wajah kita. Keep smile aja. Hati yang ceria adalah obat yang manjur, ingat pepatah itu. Tawa bisa memperbaiki sirkulasi darah, melatih otot-otot perut, memperbaiki frekuensi detak jantung, membantu pencernaan,”</p>
<p>“Kalau praktek segampang teorinya, pasti teori nggak dibutuhkan ya&#8230;Sulit sekali Rat. Orang kalau lagi sedih, punya dunia sendiri. Kita mau ngomong apa, dia nggak bakal dengerin,” Kinan melirik ke Sheila dengan lirikan menyindir.</p>
<p>“Dalam hidup itu, rekreasi, tidur cukup dan pola makan yang baik adalah kunci supaya tetap sehat dan gembira. Kadang aku menyebutnya sebagai kemewahan yang belum tentu bisa dimiliki semua orang. Jadi usahakan ketiganya seimbang”</p>
<p>Sheila menyeruput tandas sisa lemon tea di gelasnya. Meski kesedihan jadi bahaya latin kematian, toh Shiela tetap punya hak untuk bersedih. Semua orang juga tahu, jika hanya waktu yang bisa menyembuhkan.</p>
<p>***</p>
<p>Endita dan Gema akan menikah.</p>
<p>Kabar bahagia itu, terselip diantara rasa pedih yang masih bercokol di hati Sheila. Ternyata, mereka membuat keputusan berani lebih cepat dari yang Sheila bayangkan. Gema tak butuh waktu lama untuk bangkit dan menemukan cinta baru. Kalau Sheila bisa mencontoh, Gema pantas jadi panutan.</p>
<p>Sheila sedang mengemasi barang-barangnya, saat ponselnya berdering. Nomor yang memanggilnya adalah nomor asing. Sheila sempat membiarkannya. Sheila malas mengangkat telpon dari orang iseng. Tapi sebuah SMS kemudian mengejutkannya.</p>
<p>“Mbak bisa ke rumah sebentar? RATRI,”</p>
<p>Melihat SMS itu, Sheila langsung menelpon balik.</p>
<p>“Ada apa? Ada sesuatu sama Mas Tyo?”</p>
<p>“Iya mbak, demamnya nggak turun-turun, panasnya sampai 39 derajat celcius. Setelah aku bongkar kamarnya, Mas Tyo ternyata tidak menghabiskan obat yang harusnya diminum secara teratur. Apa mungkin dia stres karena harus minum obat berbulan-bulan ya mbak, kalau bakterinya balik lagi gimana?” suara Ratri bergetar.</p>
<p>Sheila melihat tiket keretanya. Masih tiga jam lagi baru berangkat. Dia bisa menengok Tyo sebentar sebelum ke stasiun.</p>
<p>“Mbak ke sana..sekarang,”</p>
<p>Sheila memasuki kamar Tyo yang sedikit sumpek. Tyo terbaring, sepertinya sedang tidur. Sementara, Ratri di sampingnya. Ibu tidak ada, Bapak juga entah kemana. Hanya kakak beradik itu yang sama-sama diam dalam cahaya lampu yang tidak begitu terang.</p>
<p>“Ratri..,”</p>
<p>“Mbak, mungkin Mas Tyo harus di X-ray lagi. Dia harus diperiksa. Mas Tyo mulai berhenti minum obat setelah dia sering muntah dan diare setelah minum obat,”</p>
<p>“Ibu dimana? Kalian harus memusyawarahkan ini,”</p>
<p>“Mas Tyo justru makin stres karena ibu selalu mengungkit-ungkit tanah kami yang tak seberapa terpaksa dijual hanya untuk pengobatan Mas Tyo.Kami juga terlilit hutang dengan rentenir. Tinggal sawah dua ubin saja yang kami miliki dan rumah ini. Ibu masih nggak rela kalau itu juga harus dijual untuk pengobatan lanjutan Mas Tyo,”</p>
<p>“Tapi Mbak khawatir, kuman TBC menyerang tulang Mas Tyo lebih ganas dari sebelumnya, karena dia berhenti minum obat. Mbak sendiri, sore ini harus berangkat ke Jakarta untuk urusan keluarga. Mbak pengen ikut jagain Mas Tyo..Tapi urusan yang satu ini benar-benar nggak bisa ditinggalkan,”</p>
<p>“Aku nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi, mbak. Meskipun pada akhirnya ibu nggak akan tega membiarkan Mas Tyo begitu. Tapi dia pasti pakai marah-marah dulu. Kondisi psikologis Mas Tyo jadi makin terpuruk,”</p>
<p>“Mbak usahakan secepatnya kembali ke sini untuk nemenin Mas Tyo. Begini, mbak minta nomer rekening kamu, nanti mbak transfer uang. Jumlahnya mungkin jauh dari cukup untuk pengobatan Mas mu, tapi semoga bisa membantu,”</p>
<p>“Jangan Mbak. Mbak udah membantu banyak. Nanti kalau ketahuan Mas tyo, dia bisa marah,”</p>
<p>“Sekarang yang harus kita lakukan adalah menolong Mas Tyo. Jangan pikirkan yang lain,”</p>
<p>“Bagaimana, kami mengembalikannya?”</p>
<p>“Tolong kasih sayangi Mas Tyo. Jaga dia baik-baik. Kamu harus mengabari terus perkembangan Mas Tyo ke Mbak,”</p>
<p>Sheila memegang tangan Ratri tapi matanya menatap Tyo. Ternyata cinta tetap bekerja. Mempersembahkan semua yang ada. Sheila tak lagi merasa dicampakkan. Dia justru diberi kesempatan untuk menebus segala kesalahan di masa lalunya.</p>
<p>1902</p>
<div>
<div>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://jenkna.wordpress.com/category/j-50-k/'>J 50 K</a> Tagged: <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/j50k/'>J50K</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/kampung-fiksi/'>kampung fiksi</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/novel/'>novel</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jenkna.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jenkna.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jenkna.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jenkna.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jenkna.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jenkna.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jenkna.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jenkna.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jenkna.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jenkna.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jenkna.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jenkna.wordpress.com/835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jenkna.wordpress.com/835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jenkna.wordpress.com/835/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=835&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/27/tentang-beranda-jiwa-18/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa413196383db908af161bb87edd7a58?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">jenkna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Beranda Jiwa 17</title>
		<link>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/26/tentang-beranda-jiwa-17/</link>
		<comments>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/26/tentang-beranda-jiwa-17/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 17:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jenkna</dc:creator>
				<category><![CDATA[J 50 K]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>
		<category><![CDATA[Kampungfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jenkna.wordpress.com/?p=829</guid>
		<description><![CDATA[Beranda #21 Keyakinan Tyo mampu menghadapi operasi tanpa bantuan Sheila, ternyata terbukti. Sheila tidak tahu darimana keluarga Tyo mendapat uang yang jumlahnya nyaris menyentuh angka Rp 100 juta. Sedangkan tulang punggung keluarga mereka hanyalah sang ibu. Penghasilan Ibu Tyo berasal dari home industri rempeyek dan konveksi kecil-kecilan. Tapi Sheila tak ingin memusingkan itu. la cukup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=829&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beranda #21</p>
<p>Keyakinan Tyo mampu menghadapi operasi tanpa bantuan Sheila, ternyata terbukti. Sheila tidak tahu darimana keluarga Tyo mendapat uang yang jumlahnya nyaris menyentuh angka Rp 100 juta. Sedangkan tulang punggung keluarga mereka hanyalah sang ibu. Penghasilan Ibu Tyo berasal dari home industri rempeyek dan konveksi kecil-kecilan.</p>
<p>Tapi Sheila tak ingin memusingkan itu. la cukup lega, akhirnya keluarga besar Tyo jadi lebih hangat setelah Tyo sakit parah. Bisa jadi itu kepedulian yang datang terlambat, tapi Sheila menghargainya. Tyo tidak akan merasa kesepian lagi.</p>
<p>“Mbak nggak kerja,”Ratri, adik Tyo, bertanya sambil menyodorkan secangkir kecil teh hangat. Pas sekali, udara malam begitu dingin menggigit. Sweater woll Sheila bahkan tak mamapu menahan terpaan dinginnya.</p>
<p>“Mbak ijin sehari,”</p>
<p>“Wah, kalau Mas Tyo tahu, dia bisa marah lho mbak. Dia paling nggak suka kalau Mbak menelantarkan pekerjaan,”</p>
<p>“Bagaimana bisa kerja, kalau pikiranku di sini, percuma,”</p>
<p>“iya, aku bisa mengerti perasaan, Mbak,”</p>
<p>“Lama sekali dia sadar, apa sudah ada kabar dari dokter?”</p>
<p>“Belum,”</p>
<p>Sheila begidik. Membayangkan tubuh Tyo dipasangi banyak alat di ruang ICU. Setelah operasi paling tidak satu malam, Tyo memang harus menginap di ICU, sebelum pindah ke ruang perawatan biasa. Sheila berusaha menenangkan diri dengan membuka internet, mencari artikel tetang TBC tulang. Beberapa pengalaman pasien TBC tulang, dihari kedua mereka sudah bisa belajar duduk. Hari berikutnya bisa belajar jalan. Asalkan rajin terapi gerak dan minum obat teratur, pasien akan sembuh. Ini bukan penyakit yang tidak bisa diobati.</p>
<p>***</p>
<p>“Sayang, diminum dulu obatnya,” Sheila membantu Tyo memegangi obat yang hendak diminum. 8 butir. Sheila hanya menelan ludah melihat obat sebanyak dan dengan ukuran sebesar itu.</p>
<p>“De, nanti di depan pintu tolong ditulisin yah, pengunjung yang membawa benda magnet dilarang masuk,”</p>
<p>“Lho kenapa?”</p>
<p>“Nggak tahu ya sekarang aku kan bionic man. Ada pen titanium sama mur ditanam badan Mas, nanti kalau pada nempel gimana?”</p>
<p>“Masihhh bisa bercandaaa,”</p>
<p>“Bercanda bisa, berdansa yang nggak bisa. Kakiku belum bisa gerak nih,” kata Tyo sembari menepuk-nepuk kedua kakinya.</p>
<p>“Sabar sayang, kalau cuma sakit pilek sih, sehari juga udah bisa lari-lari,” Sheila mengusap rambut depan Tyo yang berantakan.</p>
<p>“De lihat, kantung nanah yang dikeluarin dari tubuh Mas nggak? Ih..masa ya di tulang bisa abses,  ada nanahnya,”</p>
<p>“Hoeekk, Mas ih..jangan ngomongin itu. De mual,”</p>
<p>“Mual itu bawaan bayi kita,”</p>
<p>Sheila mendelik. Tyo memanyunkan bibirnya.</p>
<p>“De ijin berapa hari dari kantor?”</p>
<p>“Besok kebetulan tanggal merah, koran kan nggak terbit. De ijin sehari, plus libur sehari berarti,”</p>
<p>“De pulang aja ke Kebumen. Mas, mungkin masih lama dirawat di sini,”</p>
<p>“Iya Mas memang harus lebih lama di rumah sakit. Untung aja Purwokerto punya rumah sakit khusus tulang yang bagus, jadinya De nggak terlalu jauh buat jenguk Mas,”</p>
<p>“Sayang, Mas harus bilang apa untuk semua yang sudah de lakukan,”</p>
<p>“Mas, nggak ngusir Ade aja, De udah seneng. Mas kalau sakit suka berubah galak,”</p>
<p>“Mas malu kalau terlihat lemah, mau nangis juga nggak enak di depan Ade,”</p>
<p>“Menangis bukan lemah atau cengeng. Itu hanya ekspresi jiwa,”</p>
<p>“Ya tapi&#8230;.eh ada dokter&#8230;.,”</p>
<p>Dokter Gunawan Sp OT Spine datang bersama beberapa perawat dan co as dokter, memeriksa keadaan Tyo. Senyumnya yang kebapakan dan sifatnya yang suka berkelakar, membuat Tyo sangat nyaman. Dia pula yang meyakinkan Tyo untuk segera menjalani operasi, disaat dokter-dokter lain tidak mampu membujuknya.</p>
<p>“Mas Tyo akan mengalami masa-masa sulit setelah operasi. Itu wajar. Nafsu makan berkurang, berat badan turun, kaki belum bisa bebas digerakkan. Macam-macam lah. Tapi kalau disiplin menjalni fisioterapi, minum obat tepat waktu, Mas Tyo akan sembuh. Sugesti diri Anda juga, kalau semua bisa dilewati dengan baik-baik saja,” kata dokter Gunawan.</p>
<p>“Oh ya dok, saya takut penyakit saya menular. Bahaya tidak kalau kami sedekat ini?” Tangan Tyo menarik badan Sheila lebih dekat dengannya.</p>
<p>“hahaha&#8230;Ya memang keluarga ataupun yang dekat dengan pasien sebaiknya memeriksakan diri juga Karena penularannya tergolong cepat. Bisa melalui udara, darah dan peralatan makanan. Kalau mengalami gejala-gejala seperti berat badan turun drastis, demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas, tapi bukan tifus, malaria atau infeksi saluran nafas akut, disertai keringat malam, pembesaran kelenjar getah bening yang biasanya di daerah leher, ketiak dan lipatan paha, juga batuk lama lebih dari 30 hari, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter,”</p>
<p>“De, jauh-jauh sana,” Tyo cepat-cepat menyuruh Sheila menjauh. Tindakan Tyo kembali memancig tawa dokter Gunawan.</p>
<p>“Mas tyo juga harus rajin pakai masker, menjaga ventilasi dan makan makanan bergizi. Oh ya, sekali lagi soal obat,  harus dikonsumsi secara teratur dalam jangka lama atau berkisar satu tahun. Di sinilah kedisiplinan pasien sangat dituntut. Seringkali, pengobatan yang lama menimbulkan kebosanan  pasien. Jika hal itu terjadi, kuman tersebut menjadi kebal terhadap antibiotika,”</p>
<p>“Saya akan jadi satpamnya dok,” celetuk Sheila.</p>
<p>“Terimakasih. Sudah ya, besok kita cek lagi,”</p>
<p>“Terimakasih dokter,” ujar Sheila dan Tyo hampir bersamaan.</p>
<p>***</p>
<p>Sudah satu minggu, tumpukan pekerjaan kantor merenggut waktu Sheila membersamai Tyo. Gelaran safety riding yang merupakan kerjasama kantornya dengan kepolisian lalu lintas, sedang menjadi primadona di sekolah-sekolah. Sheila yang sudah kadung ditunjuk sebagai koordinator liputan, harus mengikuti agenda itu sampai selesai.</p>
<p>Padahal, Ratri pernah mengirim SMS kalau Tyo mengalami depresi karena tak kunjung bisa berjalan. Sheila sudah sangat ingin terlibat dalam keterpurukan Tyo seperti biasa, meski Tyo melarangnya memiliki rasa peduli yang berlebihan. Kata Tyo, hubungan kekasih, bukan untuk menjerat, membuat pasangannya tidak bebas beraktualisasi.</p>
<p>&#8220;Ki, please, ini kan tinggal sesi terakhir. Pasrahin ke Nugroho aja ya, Aku harus ke tempat Tyo. Andai kamu tahu keadaan dia sekarang. Dia masih belum bisa berjalan,&#8221;</p>
<p>Sheila sampai memohon-mohon untuk dibebastugaskan dihari terakhir penyelenggaraan safety riding tahap pertama. Sheila sudah tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya untuk secepat mungkin menemui Tyo. Untunglah, Kinan, bukan orang yang tak punya hati, dia mengijinkan.</p>
<p>Di atas kursi roda, dengan berat badan yang terus merosot, hingga nyaris kulit pembalut tulang, Tyo menatap nanar pada Sheila. Wajahnya sudah seputih kapas dan tidak ada segaris senyum yang biasa menyambut kedatangan Sheila. Saat Sheila bersimpuh di depan kursi roda, Sheila melihat mata kekasihnya berkaca-kaca.</p>
<p>Ratri bilang Tyo tidak bisa menelan nasi. baru melihat nasi saja dia selalu muntah. Jadi hanya bubur  sumsum yang dikonsumsinya tiap hari. Berat badannya sudah turun sekitar delapan kilo.</p>
<p>&#8220;Sayang&#8230;,&#8221; Sheila memanggil.</p>
<p>&#8220;Boleh nggak Mas peluk Ade, sekalii aja,&#8221; ucap Tyo lirih.</p>
<p>&#8220;Kenapa cuma sekali? Berkali-kali juga boleh,&#8221; Sheila berdiri lalu membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Tyo yang kini memakai masker.</p>
<p>Keduanya berpelukan. Sungguh, 10 menit yang hangat. Sheila tak mampu membendung airmatanya lagi. Tapi saat Tyo melepas pelukannya, Sheila sudah mengemas air mata itu dengan punggung tangannya.</p>
<p>&#8220;Sayang, dengarkan Mas baik-baik. Tolong Ade berpikir secara jernih. Tanamkan juga pada pikiran Ade, kalau Mas ini nggak bermaksud jahat,&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas mau bicara apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayang, Mas mau kita kembali seperti waktu pertama kita ketemu. Sebagai sahabat yang baik,&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksud mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Anggaplah ini jalan yang bercabang, kalau mau menengok masa lalu, tentu perasaan kita yang harus diperkuat, karena masa lalu membentuk perasaan kita yang sekarang. Tapi kalau mau menatap masa depan, De harus berani melawan perasaan itu, dan berjalanlah dengan realitas yang ada,&#8221;</p>
<p>&#8220;Tolong jangan berputar-putar, Ade nggak ngerti,&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita kembali bersahabat aja ya&#8230;De harus bisa hidup tanpa bergantung dengan Mas lagi sebagai kekasih. Mas yakin De bisa. Perasaan mas nggak pernah berubah hingga detik ini, perasaan yang sangat dalam sampai Mas tidak mau ditarik keluar dari kedalaman itu. Tapi keadaanlah yang berubah, semua sudah tidak sama lagi. Tolong, kali ini jangan debat Mas. Mas sudah terlalu lelah untuk sekedar menaikkan volume suara supaya Ade mengerti,&#8221;</p>
<p>Sheila terkesiap. Ini sebuah perpisahan yang tidak dirancang sama sekali. Ini terlalu sepihak. Batin Sheila menjerit-jerit. Lutut Sheila gemetaran, seperti tak sanggup menyangga tubuhnya lagi. Sheila akhirnya terduduk di hadapan Tyo. Matanya kering. Air mata sudah tidak bisa dipompa lagi.</p>
<p>&#8220;De&#8230;jadilah pribadi yang kuat. kebahagiaan bisa didapat dari mana saja, tidak selalu searah, tidak harus dari Mas,&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan bilang apa-apa lagi, Mas. Cukup,&#8221; Sheila sedikit membentak. Giginya gemerutuk, menahan seribu macam rasa sakit yang membuncah.</p>
<p>&#8220;Sayang&#8230;.,&#8221; Tyo membuka kedua tangannya lagi, berharap Sheila menghambur ke pelukannya, untuk yang terakhir kali.</p>
<p>Sheila terlalu lemah untuk bangkit. Dia hanya mampu merebahkan kepalanya di atas pangkuan Tyo. Semua serba gelap dalam dunia Sheila. Otaknya berharap kosong berisi angin atau minimal kerupuk. Supaya tidak terasa apa-apa.</p>
<p>***</p>
<p>1320</p>
<br />Filed under: <a href='http://jenkna.wordpress.com/category/j-50-k/'>J 50 K</a> Tagged: <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/j50k/'>J50K</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/kampungfiksi/'>Kampungfiksi</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/novel/'>novel</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jenkna.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jenkna.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jenkna.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jenkna.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jenkna.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jenkna.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jenkna.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jenkna.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jenkna.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jenkna.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jenkna.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jenkna.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jenkna.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jenkna.wordpress.com/829/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=829&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/26/tentang-beranda-jiwa-17/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa413196383db908af161bb87edd7a58?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">jenkna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Beranda Jiwa 16</title>
		<link>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/25/tentang-beranda-jiwa-16/</link>
		<comments>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/25/tentang-beranda-jiwa-16/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 23:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jenkna</dc:creator>
				<category><![CDATA[J 50 K]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>
		<category><![CDATA[kampung fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jenkna.wordpress.com/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[Beranda #20 Seorang yang mencinta, ketika yang dicintainya luka, pasti merasa lebih terluka lagi, meskipun penderitaan itu tidak terjadi langsung padanya. dan, Sheila merasakan itu.  Sheila bisa memberi motivasi dan memompa semangat Tyo untuk bertahan dalam keadaannya, tapi dia sendiri begitu rapuh. Setiap malam, Sheila terjaga dari tidur dengan perasaan perih. Kantuknya hilang entah kemana. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=826&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beranda #20</p>
<p>Seorang yang mencinta, ketika yang dicintainya luka, pasti merasa lebih terluka lagi, meskipun penderitaan itu tidak terjadi langsung padanya. dan, Sheila merasakan itu.  Sheila bisa memberi motivasi dan memompa semangat Tyo untuk bertahan dalam keadaannya, tapi dia sendiri begitu rapuh.</p>
<p>Setiap malam, Sheila terjaga dari tidur dengan perasaan perih. Kantuknya hilang entah kemana. Ia ingin selalu menggenggam tangan Tyo, tapi Tyo melarangnya memiliki perasaan yang terlalu berlebihan.</p>
<p>&#8220;Semua harus dilalui dengan tenang, sayang&#8221; bisik Tyo setiap kali Sheila mulai gelisah membabi buta.</p>
<p>&#8220;Kau mungkin tidak sekhawatir aku, karena kau yang mengalaminya, kau tahu bagaimana cara mengatasinya. Sedangkan aku? tidak tahu  bisa apa. Kau mungkin tidak seresah aku, karena kau yang merasakannya, kau tahu bagaimana meredakannya. Sedangkan aku? tidak mengerti dengan apa. Kau mungkin tidak sebingung aku, karena kau yang menjalaninya. kau tahu bagaimana mengendalikannya. Sedangkan aku? tidak paham harus seperti apa,&#8221; Sheila selalu protes kalau Tyo sudah menunjukkan mimik kesakitan, tapi tidak mau dikasihani. Justru mengusir Sheila keluar dari kamarnya.</p>
<p>&#8220;Simpati boleh, tapi jangan ditatap dengan pandangan kasihan begitu. Mas, nggak mau,&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarkan De mengalami segala kekacauan rasa untukmu. Berpartisipasi supaya  merasa lebih baik. Jangan khawatir, karena rasa itu akan kembali sama, dingin dan tenang, sesaat lagi,&#8221; Hibur Sheila setiap Tyo mengungkapkan rasa tidak sukanya karena terlalu diperhatikan.</p>
<p>Berpartisipasi supaya merasa lebih baik? Itu kata-kata bohong. Sheila tidak pernah merasa baik, meski sudah mendampingi Tyo menjalani hari-harinya dengan badan digips. Ini sudah enam bulan, tapi gips tidak berpengaruh apapun, karena punggung Tyo memang sudah parah. Tiga rumah sakit yang memeriksa hasil rontgen Tyo, semua dokternya menyarankan untuk operasi.</p>
<p>&#8220;Tulang lumbal 2 dan 3 patah, Dua ruas tulang sudah hancur. Tulangnya sudah diselimuti nanah,&#8221; kira-kira seperti itu yang dikatakan dokter dan diterima telinga Sheila yang berdenging-denging.</p>
<p>&#8220;Mas memang harus dioperasi, supaya bisa seperti dulu lagi. Mas nggak mau kan, jadi nggak produktif?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, tapi biayanya pasti sangat mahal. De tahu kan kondisi keluarga Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orangtua Mas pasti mau mengusahakan apapun. Ini keadaan gawat, mereka nggak bisa cuek lagi,&#8221;</p>
<p>&#8220;Entahlah apa ibu bisa berpikiran seperti De atau nggak?,&#8221;</p>
<p>&#8220;She&#8217;s a mother. Nalurinya sebagai ibu akan bicara juga. Atau kalau memang keluarga Mas, nggak ada yang peduli, De yang akan tanggung semuanya,&#8221;</p>
<p>&#8220;De, kalau De sampai melakukan itu, lebih baik kita akhiri saja hubungan kita. De tidak perlu berkorban begitu besar buat Mas,&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Mas harus operasi secepatnya. De nggak ngasih cuma-cuma, De pinjami uangnya, nanti Mas bisa kembalikan,&#8221;</p>
<p>&#8220;De bisa pakai uangnya untuk melanjutkan hidup, melanjutkan masa depan Ade. Mas nggak ikhlas, sungguh! De nggak boleh seperti ini,&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan egois lah Mas.,&#8221;</p>
<p>&#8220;Ade yang jangan egois. Mas tahu, De cinta betul sama Mas. Tapi jangan terlalu total, hidup itu penuh batu sandungan. Ketika De mencintai secara total, rasanya bisa sakit terus dan kecewa. Sekarang saja, pasti De memiliki perasaan kecewa karena mas sakit, karena De terlampau peduli,&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas kok gitu sih,&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayang, Mas nggak bermaksud jahat. Mas akan berusaha dengan kemampuan Mas sendiri,&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah. Tapi jangan melarang De berada di dekat Mas, itu namanya sudah menyakiti,&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau itu harus. Tanpa De, darimana Mas bisa dapatkan obat bius penghilang rasa sakit,&#8221;</p>
<p>&#8220;Hhhh Ade disamain obat bius?&#8221;</p>
<p>&#8220;Daripada obat tikus,&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>516</p>
<br />Filed under: <a href='http://jenkna.wordpress.com/category/j-50-k/'>J 50 K</a> Tagged: <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/j50k/'>J50K</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/kampung-fiksi/'>kampung fiksi</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/novel/'>novel</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jenkna.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jenkna.wordpress.com/826/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jenkna.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jenkna.wordpress.com/826/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jenkna.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jenkna.wordpress.com/826/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jenkna.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jenkna.wordpress.com/826/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jenkna.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jenkna.wordpress.com/826/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jenkna.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jenkna.wordpress.com/826/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jenkna.wordpress.com/826/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jenkna.wordpress.com/826/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=826&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/25/tentang-beranda-jiwa-16/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa413196383db908af161bb87edd7a58?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">jenkna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Beranda Jiwa (15)</title>
		<link>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/24/tentang-beranda-jiwa-15/</link>
		<comments>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/24/tentang-beranda-jiwa-15/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 17:08:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jenkna</dc:creator>
				<category><![CDATA[J 50 K]]></category>
		<category><![CDATA[kampung fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jenkna.wordpress.com/?p=821</guid>
		<description><![CDATA[Beranda #19 Masakan Padang yang identik dengan pedas bersantan, ternyata mampu menarik simpati lidah orang Jawa seperti Sheila dan Tyo. Salah satu rumah makan masakan Padang, Rasa Minang, sering menjadi langganan mereka berdua untuk santap siang. Apalagi, manajernya yang sudah sangat dekat dengan Sheila bilang, baru melaunching menu yang lebih variatif  yakni dendeng batokok dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=821&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beranda #19</p>
<p>Masakan Padang yang identik dengan pedas bersantan, ternyata mampu menarik simpati lidah orang Jawa seperti Sheila dan Tyo. Salah satu rumah makan masakan Padang, Rasa Minang, sering menjadi langganan mereka berdua untuk santap siang. Apalagi, manajernya yang sudah sangat dekat dengan Sheila bilang, baru melaunching menu yang lebih variatif  yakni dendeng batokok dan pengek ikan.</p>
<p>Dendeng batokok, adalah masakan khas Sumatera Barat. Dendeng ini dibuat dari irisan tipis dan lebar daging sapi yang dikeringkan lalu digoreng kering. Setelah diiris tipis melebar, lalu dipukul-pukul dengan batu cobek supaya dagingnya menjadi lembut. Daging goreng ini lalu disiram bumbu balado.</p>
<p>Beda lagi dengan pengek ikan. Pengek ikan merupakan masakan khas Ombilin, Solok. Warna masakan ini sangar karena merah segar dengan banyaknya cabe yang dibubuhkan. Rasa pengek ikan lebih asam. Jenis ikan yang dipakai juga berbeda. Pengek ikan menggunakan ikan laut yang dagingnya berwarna putih dan ukurannya  sedang.</p>
<p>Bumbu pangek ikan sangat khas, sehingga rasanya juga khas, pedas-pedas asam. Bagi  yang tak berselera makan, masakan ini mampu menggugah selera dengan syarat ikan yang digunakan harus segar.</p>
<p>Selain dendeng batokok dan pengek ikan, Rasa Minang juga menyediakan menu lain seperti nasi ayam balado, nasi ikan balado, nasi cincang, nasi gulai kikil dan masih banyak lagi. Di malam hari, rasa Minang akan merubah wajahnya menjadi warung kuliner malam yang menyajikan aneka nasi goreng seperti nasgor ayam, nasgor pete, nasgor baso, nasgor kornet, nasgor kambing dan lain-lain. Sangat dahsyat menikmati makan malam di rumah makan yang luas dan bersih seperti ini.</p>
<p>Tyo tampak kepedasan tapi masih meneruskan melahap pengek ikan. Sheila yang selesai lebih dulu dengan nasi goreng kambingnya, mencuri kesempatan memandangi Tyo cukup lama. Namun, pikiran Sheila melayang pada kata-kata Kinan, belum lama ini.</p>
<p>&#8220;Mas Wawan mulai ngeluh karena produktivitas kamu yang mulai menurun Sheil. Sorry to say, tapi kayaknya waktumu terlalu banyak bersama Tyo,&#8221;</p>
<p>Setelah di pindah ke desk ekonomi bisnis, pekerjaan Sheila memang sedikit santai. Liputannya ringan, karena sifatnya komersial dan berhubungan dengan iklan. Peresmian toko, pameran produk, launching produk, yah seputar itu. Beda ketika dia berada di desk floating dan kriminal yang penuh dengan agenda investigasi.</p>
<p>&#8220;Mas Wawan sengaja rolling kamu  ke berbagai desk dalam tempo yang cepat, karena dia mempersiapkan kamu untuk jadi redaktur Sheil. Wajar kalau dia kecewa, karena tulisanmu sekarang datar, seperti asal ketik, kamu kaya buru-buru mengejar waktu untuk kegiatan lain di luar redaksi,&#8221;</p>
<p>Hhhhh&#8230;.Sheila mendesah. Sheila tidak yakin, dirinya yang workaholic bisa begitu tidak profesional dalam bekerja hanya karena sibuk mengurusi cinta melulu. Tapi kalau sampai Mas Wawan mengeluh pada Kinan, berarti, kelakuan Sheila memang sudah kronis.</p>
<p>&#8220;Ada nasi nempel di muka Mas? Ngelihatinnya kaya begitu,&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita bakal jarang ketemu, Mas&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa? uhukk&#8221; Tyo tersedak.</p>
<p>&#8220;Pekerjaan De lebih sibuk sekarang,&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada masalah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak Mas. Tugas Ade lebih berat aja,&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, Mas nggak akan sering-sering ngajak Ade keluar. Ade konsen aja ke pekerjaan. Kita kan masih bisa komunikasi lewat telepon. Itu pun kalau Ade nggak sibuk,&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak gampang ngerubah kebiasaan..,&#8221;</p>
<p>&#8220;Ade&#8230;jangan mulai mendramatisir keadaan deh. De harus mementingkan pekerjaan. Titik,&#8221;</p>
<p>Tyo masih batuk-batuk. Dadanya mungkin sakit, karena beberapa kali Tyo mengelusnya.</p>
<p>&#8220;Ade perhatikan, Mas udah tiga minggu batuk terus, udah periksa belum?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini batuk biasa. Mas udah minum obat kok, &#8220;</p>
<p>&#8220;Pasti nggak ke dokter, pasti obat warung, masa nggak ada perubahan&#8221; Sheila mendengus kesal.</p>
<p>Tyo menanggapi dengan cengiran dan muka tak berdosa.</p>
<p>***</p>
<p><em>Malam&#8230; </em><br />
<em>pernahkan ada fikir yang menggiringmu untuk tetap membersamaiku? </em><br />
<em>sampai kulit kita dimakan magnet bumi hingga menggelambir begitu renta? </em><br />
<em>bisakah kita dalam derit angin yang menampar tetap menegakkan bahu, saling menyangga? </em><br />
<em>mungkin waktu telah dikebiri waktu yang lain </em><br />
<em>mungkin jiwa telah digantikan jiwa yang lain </em><br />
<em>mungkin debu telah dihembusi debu yang lain </em><br />
<em>tapi apa engkau akan berselumur menjadi manusia yang lain? </em><br />
<em>kumohonkan tidak </em><br />
<em>kuharapkan jangan </em><br />
<em>pergi! bertengger yang jauh </em><br />
<em>tapi kelak putar wajahmu kembali </em><br />
<em>sekedar menggarisbawahi bahwa kita terikat </em><br />
<em>pada kenangan </em><br />
<em>pada pepohonan </em><br />
<em>pada hujan </em><br />
<em>pada bebatuan </em><br />
<em>aku tidak tahu sampai kapan kita bisa senantiasa “saling”. </em><br />
<em>malam ini, kamu masih bisa tertawa di seberang, menggodaku </em><br />
<em>aku juga masih berderai-derai , menanggapinya </em><br />
<em>entah esok.. </em><br />
<em>entah esok.. </em><br />
<em>kuucapkan kembali, malam &#8230;. </em><br />
<em>sementara aku sedang memetik satu jarum hujan </em><br />
<em>di jemari </em><br />
<em>dan kupersembahkan untuk kesejukan kita, dalam hubungan berjudul apapun nantinya&#8230;. </em></p>
<p>Sheila sudah lama tidak menciptakan puisi. Tapi segala tentang Tyo menuntunnya untuk mengungkapkan perasaan lewat cara apapun termasuk kalimat-kalimat. Sheila mematuhi Tyo serta keras terhadap dirinya agar tidak terlalu larut dalam cinta. Tapi rindu tetap tidak bisa digubahnya menjadi madu. Rindu tidak pernah manis.</p>
<p>Masalahnya kondisi kesehatan Tyo terlihat makin menurun dari hari ke hari. Sheila ingin mendengar kabarnya tiap detik kalau bisa. Sheila punya firasat jka Tyo tidak baik-baik saja. Terakhir, saat mengantarkan peyek pesanan Sheila, Tyo berjalan terpincang-pincang. Tyo mengaku, kaki kirinya terasa lemah untuk berjalan. Tapi Tyo, si keras kepala itu, selalu menolak menjalani rontgen. Dia lebih percaya tukang urut.</p>
<p>Tiga bulan berlalu, Tyo berusaha tampil tegar dan kekar. Tapi Sheila tahu dia menahan rasa sakit di kaki. Bahkan, Tyo sampai terjatuh dari motor karena kondisinya melemah. Tapi Tyo selalu bilang, dia hanya keselo dan masih setia diurut. Sulit sekali membujuknya pergi ke rumah sakit. Air mata Sheila pun tak bisa lagi jadi senjata.</p>
<p>&#8220;Kedua adikku sudah ikut suaminya masing-masing. Selama ini, kalau Mas sakit, ibu nyaris tidak pernah peduli. Dalam kondisi terparah sekalipun, Mas harus ke dapur sendiri ambil makan, memijat badan sendiri, kerokan sendiri, pokoknya mengurus diri sendiri,&#8221; Kata-kata Tyo kembali terngiang. Membuat bulir-bulir air mata Sheila jatuh lagi dan lagi.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;De, ikan apa yang nggak bisa berenang,&#8221;</p>
<p>Tyo masih saja bercanda. Padahal sekarang mereka berada di rumah sakit, menunggu hasil pemeriksaan kondisi kesehatan Tyo. Bujukan Sheila akhirnya mempan. Tyo bersedia mengakhiri ketergantunganya terhadap obat warungd an tukang urut.</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221; tanya Sheila kurang antusias. Dadanya berdebar karena dokter tak kunjung keluar menemui mereka.</p>
<p>&#8220;Ikan bego, masa nggak bisa berenang hahhaa aduh,&#8221; Tyo memegangi punggungnya. Dia bilang ngilu.</p>
<p>&#8220;Mas, makanya jangan kebanyakan ketawa,&#8221;</p>
<p>&#8220;Daripada kebanyakan minum es malah batuk kaya begini uhuk uhuk..,&#8221; Tyo batuk-batuk terus.</p>
<p>&#8220;Hanantyo Wicaksono,&#8221; asisten dokter yang didatangi Sheila dan Tyo memanggil. Sheila memapah Tyo ke dalam ruangan serba putih dan berbau obat itu.</p>
<p>&#8220;Pak Tyo dan ibu&#8230;sebagai dokter saya tidak akan menyembunyikan keadaan terburuk dari pasien. Kondisi Pak Tyo sudah cukup parah. Bakteri <em>Mikobakterium tuberkulosa</em>nya memang tidak masuk ke paru-paru tapi sudah menyebar ke tulang punggung Bapak. Karena ada tulang yang hancur,tidak ada jalan lain kecuali operasi, untuk pemasangan pen&#8221;</p>
<p>&#8220;Harus operasi dok? Kalau tidak?&#8217;</p>
<p>&#8220;Itu akan mempengaruhi organ motorik bapak. Bapak nanti bisa lumpuh,&#8221;</p>
<p>&#8220;Lumpuh??</p>
<p>Entah bagaimana perasaan Tyo. Sheila tidak berani memandangnya. Apalagi matanya mulai basah. Tyo pasti tidak suka.</p>
<p>&#8220;Kalau bapak tidak puas dengan hasil pemeriksaan di rumah sakit ini, bapak bisa mencari second atau bahkan third opinion dari dokter lain. Apa memang harus dioperasi atau tidak,&#8221;</p>
<p>Melihat Tyo mengalami uji TBC saja Sheila tersayat hatinya. Melihatnya harus menyetorkan dahak di pagi hari selama dua minggu berturut-turut,  tes tuberkulin di kulitnya, ah Sheila bahkan enggan mengingatnya.</p>
<p>1132</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://jenkna.wordpress.com/category/j-50-k/'>J 50 K</a> Tagged: <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/j-50-k/'>J 50 K</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/kampung-fiksi/'>kampung fiksi</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/novel/'>novel</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jenkna.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jenkna.wordpress.com/821/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jenkna.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jenkna.wordpress.com/821/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jenkna.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jenkna.wordpress.com/821/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jenkna.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jenkna.wordpress.com/821/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jenkna.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jenkna.wordpress.com/821/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jenkna.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jenkna.wordpress.com/821/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jenkna.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jenkna.wordpress.com/821/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=821&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/24/tentang-beranda-jiwa-15/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa413196383db908af161bb87edd7a58?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">jenkna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Beranda Jiwa (14)</title>
		<link>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/23/tentang-beranda-jiwa-14/</link>
		<comments>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/23/tentang-beranda-jiwa-14/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 16:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jenkna</dc:creator>
				<category><![CDATA[J 50 K]]></category>
		<category><![CDATA[kampung fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jenkna.wordpress.com/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[Beranda #18 Kalau Sheila ditanya hari apa yang paling medebarkan dalam hidupnya, mungkin hari ini. Tyo tiba-tiba saja mengajak Sheila ke rumahnya. Bertemu ayah dan ibunya. Peristiwa ini tidak direncanakan. Sheila bahkan tanpa persiapan. Sheila sudah lama tidak berhubungan dengan sosok seorang ibu atau ayah, setelah orangtuanya meninggal. Entah bagaimana menghadapi orangtua yang Sheila harap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=814&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beranda #18</p>
<p>Kalau Sheila ditanya hari apa yang paling medebarkan dalam hidupnya, mungkin hari ini. Tyo tiba-tiba saja mengajak Sheila ke rumahnya. Bertemu ayah dan ibunya. Peristiwa ini tidak direncanakan. Sheila bahkan tanpa persiapan. Sheila sudah lama tidak berhubungan dengan sosok seorang ibu atau ayah, setelah orangtuanya meninggal. Entah bagaimana menghadapi orangtua yang Sheila harap kelak menjadi orangtuanya juga. Sikap apa yang harus Sheila tunjukkan. Sheila orang yang kaku, sulit berbasa-basi.</p>
<p>&#8220;Mas&#8230;De takut,&#8221;</p>
<p>&#8220;Takut kaya mau perang aja. Udah santai, Mas udah cerita ke Ibu soal Ade. Nggak masalah, ibu setuju kok,&#8221;</p>
<p>&#8220;De gugup,&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau De nggak gugup, itu namanya nggak normal. Semua orang yang akan bertemu orang asing, apalagi ini calon mertua. Ya gugup pasti,&#8221;</p>
<p>&#8220;Calon mertua?,&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya, De nggak pengen nikah sama mas,&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya pengen bangett, kapan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Heehehe nunggu mas selesai kuliah dulu yaa, sabar, lima tahun lagi,&#8221;</p>
<p>&#8220;Ade udah jadi nenek-nenek dong!!&#8221; Sheila mencubit pinggang Tyo.</p>
<p>&#8220;Addu duuuu duuuu, enakk cubitannya,&#8221;</p>
<p>&#8220;Mending Ade liputan pembunuhan deh, daripada diajak ke rumah Mas, nervous berat,&#8221;</p>
<p>&#8220;Cepat atau lambat, ini proses yang harus De jalani. Mas juga nanti sama, sowan ke keluarganya Ade,&#8221;</p>
<p>&#8220;De kan nggak punya keluarga,&#8221;</p>
<p>&#8220;Huss, adikmu, keluarga pak dhemu, itu kan keluarga namanya,&#8221;</p>
<p>&#8220;Masss,&#8221; Sheila masih merajuk.</p>
<p>&#8220;Ssst udah hampir sampai nih. Nanti kalau ibu ngomong yang nggak enak. Diemin aja. Ibu emang cerewet, apa aja bisa jadi omongan. Nggak usah diambil hati okey?&#8221;</p>
<p>&#8220;He-em,&#8221;</p>
<p>Rumah Tyo yang cukup jauh dari kota akhirnya tampak juga. Halaman depannya sejuk dinaungi pohon mangga dan rambutan, membuat rumah sederhana berwarna merah muda itu dikelilingi hawa segar.Kaki Sheila gemetar menapaki tangga kecil menuju kursi kayu panjang yang dipajang di depan rumah.</p>
<p>“Selamat datang digubuk saya, Mbak,”</p>
<p>“Mas!” Sheila menabok punggung Tyo yang menggodanya.</p>
<p>Sheila lalu duduk dengan kikuk. Dia menolak mengikuti langkah Tyo masuk ke dalam rumah. Sheila mencoba menenangkan diri dengan mengatur nafasnya satu-satu. Tapi tetap tidak bisa tenang.</p>
<p>“De, masuk,” Tyo kembali memerintah. Sheila tak bisa membantah lagi.</p>
<p>Sheila duduk di ruang tamu. Matanya sibuk mengintai sudut-sudut ruangan. Kadang-kadang, Sheila juga merapikan dressnya yang terlihat kusut. Sheila kaget waktu ada seorang gadis muda membawa nampan berisi teh manis dan dua toples camilan ke hadapannya. Mukanya mirip Tyo.</p>
<p>“Mbak Sheila ya,”</p>
<p>“Iya,”</p>
<p>“Saya Ratri, adik bungsunya Mas Tyo,”</p>
<p>“Wah, yang sebentar lagi mau nikah ya? Kapan nih undangannya,” Sheila mencoba akrab.</p>
<p>“Iya Mbak. Bulan depan, Insya Allah. Datang ya mbak, Silahkan Mbak minumannya,”</p>
<p>“Pasti datang, De. Makasih ya&#8230;”</p>
<p>“Saya tinggal ke belakang dulu ya Mbak, “</p>
<p>“Iya..,”</p>
<p>Sheila yang merasa dehidrasi karena panik, bergegas menyeruput teh panas yang disajikan Ratri. Baru dua tegukan, Sheila nyaris menyemburkan tegukan yang ketiga begitu melihat wanita paruh baya keluar bersama seorang gadis muda yang tak kalah cantik dengan Ratri. Mereka berbicara bahasa Jawa dengan tempo yang cukup cepat untuk ukuran Sheila. Sehingga Sheila tidak bisa menangkap isi pembicaraan itu. Saat melewati Sheila keduanya tersenyum dan mengangguk. Sheila membalasnya. Tak lama kemudian Tyo menyusul di belakang mereka, bercakap-cakap dengan gadis itu sebentar dan mengantarnya hingga ke halaman rumah.</p>
<p>“Ibu, itu Sheila,” Tyo berbisik ke ibunya, ketika sudah masuk lagi ke dalam rumah.</p>
<p>“Ibu,” Sheila spontan mencium tangan wanita yang telah melahirkan kekasihnya itu.</p>
<p>“Ya begini ini gubuknya Tyo. Mungkin nggak kaya di rumah mbak Sheila yang gedong. Silahkan itu makanan sama minumannya dicicipi. Maaf, adanya cuma itu. Udah anggap aja rumah sendiri, jangan sungkan-sungkan. Ibu mau nerusin kerjaan dulu. Biar dapurnya tetep ngebul mbak. Makum Tyo kan belum bisa kerja yang bener, belum punya gaji yang cukup buat kuliah sama kebutuhan sehari-hari. Ibu tinggal dulu yaa,”</p>
<p>Sheila hanya bisa mengangguk, tanpa menjawab sepatah kata pun. Tyo benar, lebih baik tidak menjawab apa-apa.</p>
<p>“Lihat sendiri kan?”</p>
<p>Sheila menarik tangan Tyo agar ikut duduk di smpingnya. Sheila mengusap-usap bahu Tyo.</p>
<p>“Sabar, Sayang&#8230;.Bapak mana?”</p>
<p>“Lagi keluar,”</p>
<p>“Eh Mas, Ade nggak asing sama wajah perempuan yang keluar bareng ibu tadi. Pernah lihat di facebook Mas,&#8230;dia&#8230;ehm&#8230;,”</p>
<p>“Iya, dia memang sering ke sini pesan peyek sama ibu,”</p>
<p>“Oh I see, dia mantan mu&#8230;,”</p>
<p>“Kenapa? Cemburu?”</p>
<p>“Dia memang yang paling Ade cemburui. Cantik, berkepribadian dewasa, sayang sama Mas, dekat sama keluarga Mas,”</p>
<p>“Kami masih berhubungan baik sebagai teman. Tapi soal perasaan kan sudah berubah, Mas cuma sayang sama Ade,”</p>
<p>“De tetap nggak bisa nahan cemburu kalau Mas udah bicara soal dia,”</p>
<p>“Lho kapan?”</p>
<p>“Setiap kali Mas marah sama Ade, Mas masih aja membandingkan De sama Dia. Tidak merasakah dirimu? De mencatatnya di otak!”</p>
<p>“Kapan?”</p>
<p>“Ya sering, lebih dari empat kali. Mas memang selalu mengawali dengan kata-kata, Maaf ya De bukannya Mas mau membandingkan. Cuma mantan mas yang dulu, tahu banget gimana membujuk Mas kalau lagi marah. Kalau dia ikut marah, Mas akan semakin marah. Jadi, dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ya, Mas diajak ngobrol kaya biasa aja, sampai Mas reda dengan sendirinya. Dia nggak pernah nanya, Mas marah ya, mas kok marah sih, mas kenapa diam aja. Meskipun usianya masih muda, tapi pikirannya dewasa banget,” Sheila nyerocos menirukan ucapan Tyo tiap mereka sedang mendiskusikan pertengkaran.</p>
<p>“Mas, hanya cerita, bukan membandingkan,”</p>
<p>“Tapi terlontar tiap kali kitabertengkar dan sedang menuju proses berbaikan. De adalah De, nggak bisa bersikap seperti dia,”</p>
<p>“Sayang&#8230;,”</p>
<p>“Sudahlah&#8230;,”</p>
<p>“Maaf, untuk keegoisan Mas yang satu itu,”</p>
<p>“Iya, De juga minta maaf, nggak selalu bersikap seperti yang Mas harapkan,”</p>
<p>“Mas sayang banget sama Ade,” Tyo menyentuh ujung dagu Sheila.</p>
<p>“Ade juga sayang Mas,” Sheila menyandarkan kepalanya di bahu Tyo.</p>
<p>***</p>
<p>PERNIKAHAN.</p>
<p>Gerbang sakral itu&#8230;Sheila sangat menginginkannya sekarang. Sebelum bertemu Tyo, gambaran pernikahan terlalu jauh. Menghayalkannya saja malas. Tapi saat ini, Sheila merasa siap. Dia sudah 28 tahun,  dan Tyo 25 tahun. Bukan usia mencari pacar lagi, tapi suami.</p>
<p>Percakapan Sheila dan Tyo juga mulai penuh dengan rancangan-rancangan masa depan. Sheila makin yakin, kalau Tyo memang jodoh yang telah dipersiapkan untuknya.</p>
<p>Keputusan Tyo membawa Sheila ke rumahnya. Melibatkan Sheila pada acara pernikahan adik bungsunya, dianggap Sheila sebagai pintu penghubung ke derajat hubungan yang lebih tinggi. Sheila tinggal menunggu, Tyo melamarnya. Tapi&#8230;ketika harapan membumbung terlalu tinggi, seringkali dia menukik kembali menju bumi. Jatuhnya sangat menyakitkan.</p>
<p>&#8220;Kedua adik perempuan Mas sudah menikah. Giliran Mas kapan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas harus selesai kuliah dulu, abis itu nyari kerja. Itu harapan orangtua Mas. Dalam waktu dekat, Mas belum siap secara finansial. Mas, mau jadi laki-laki yang bertanggungjawab, tidak mau menyengsarakan istri. Iya sekarang masih bisa bilang cinta, ketika Mas tidak bisa menafkahi secara benar, cinta itu akan kalah sama urusan perut,&#8221;</p>
<p>Kata-kata Tyo mungkin mengesankan kedewasaan dan tanggungjawab, tapi bagi Sheila, itu omong kosong. Menurut Sheila, materi bisa dicari bersama-sama. Semua tinggal kesiapan mental, bukan soal uang.</p>
<p>&#8220;Tapi, banyak kok teman-teman Ade yang nggak punya apa-apa, setelah menikah mereka bisa hidup layak,&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayang, mereka adalah mereka. Keadaan mereka tidak sama dengan Mas. De tahu berapa gaji Mas sebagai guru wiyata bakti? Seujung kukunya gaji Ade. Mas, nggak mau bergantung sama Ade. Mas nggak mau Ade sengsara, terluka, saat menjalani hidup bersama Mas,&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita belum menjalaninya, kenapa sudah tahu bakal sengsara?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita harus realistis De, jangan sampai cinta melumpuhkan logika. Mas, yakin, logika Ade juga terus berputar, berpikir,&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi De nggak mau lama-lama pacaran, Mas. De takut. Dorongan seksual itu, mas tahu kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya Mas tahu. Seberapa pun kita berusaha mengendalikannya, dorongan itu semakin kuat,&#8221;</p>
<p>&#8220;Cuma Mas yang bisa bikin De terangsang,&#8221; Sheila berusaha jujur, meski itu memalukan.</p>
<p>&#8220;Tapi itu bukan ciri khusus bahwa jodoh kita sudah dekat,&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas nggak mau berjodoh sama Ade?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan itu maksud Mas. Mas juga baru sekarang terpikir soal pernikahan, Setelah sama Ade. Tapi Mas butuh waktu dua sampai tiga tahun untuk menyelesaikan kuliah. Butuh waktu lagi untuk mencari pekerjaan yang sekiranya menghidupi,&#8221;</p>
<p>&#8220;De, akan sabar menunggu,&#8221;</p>
<p>&#8220;De nggak khawatir? Reproduksimu bagaimana? Tiga tahun lagi De sudah kepala tiga,&#8221;</p>
<p>&#8220;Tujuan pernikahan bukan selalu melahirkan keturunan,&#8221;</p>
<p>&#8220;De bisa ngomong itu sekarang. Tapi nanti De akan menyesal,&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya arah pembicaraan Mas kemana? Mas peseimis soal hubungan kita? Mas seolah-olah mau berhenti berjuang..,&#8221;</p>
<p>&#8220;De, bukan seperti itu!! De memahami perasaan Mas yang begitu besar ke ade nggak sih?. Dalam otak Mas, cuma kebahagiaan Ade yang terpenting. Makanya Mas pernah bilang, rela mundur kalau ada yang lebih bisa membahagiakan Ade. Mas akan mengorbankan apa saja, termasuk perasaan Mas,&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebaliknya, itu sikap yang mengecewakan dan menyakitkan buat Ade. Itu bukan pegorbanan, itu pengecut!&#8221;</p>
<p>&#8220;De jangan kasar,&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukannya kasar. De ingin meluapkan perasaan saja. De hanya perempuan yang ingin segera menikah,&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kitaberjodoh, kita pasti nikah. Mas sudah bilang berkali-kali, jangan ragukan perasaan mas. Ini tentang keadaan yang belum memungkinkan saja, tapi cita-cita menikah tetap jalan,&#8221;</p>
<p>&#8220;Makanya mas jangan melemah dong, kita harus berjuang sama-sama. Kalau ini soal kesiapan dan waktu, De mau nunggu,&#8221;</p>
<p>&#8220;Pengertian De sama Mas yang egois terlalu besar. Mas merasa nggak pantas mendapatkannya,&#8221;</p>
<p>&#8220;Selama De sanggup melakukannya, Pasti De lakukan. Kalau De udah nggak kuat, De akan bilang dan De nggak ragu untuk melepas Mas,&#8221;</p>
<p>&#8220;Melepasku? Seperti apa rasanya terlepas&#8230;..&#8221; suara Tyo seperti mengambang diudara. Lalu terdiam.</p>
<p>Tyo membelakangi Sheila. Menatap dinding. Tubuhnya kaku. Sama sekali tak ada gerakan. Bahkan bahunya seperti tidak naik turun. Tyo tidak memperdulikan panggilan Sheila yang mulai panik.</p>
<p>&#8220;Sayang, kenapa? Lihat Ade,&#8221;</p>
<p>Tyo Masih dalam posisinya semula. Tak ada rintihan, desahan nafas atau suara-suara helaan yang biasanya terdengar kalau Tyo sedang menahan perasaannya. Sheila berdiri lalu pindah ke hadapan Tyo. Mata Sheila terbelalak, melihat air mata Tyo mengalir. Tyo menangis tanpa suara. Pasti itu sangat menyakitkan. Tyo tidak pernah menangis di hadapan Sheila sebelumnya. Dia tidak pernah ingin terlihat lemah. Dia sering melarang Sheila menangis, karena baginya itu bisa melemahkan jiwa kelaki-lakiannya. Tapi sekarang, Tyo menumpahkan tangisnya juga.</p>
<p>&#8220;Sayang&#8230;,&#8221; spontan Sheila mendekap Tyo.</p>
<p>&#8220;Mas nggak bisa membayangkan kita berpisah, nggak bisa,&#8221; Tyo bicara patah-patah.</p>
<p>Sheila menciumi tangan Tyo dan mulai menangis. Beranda rumah Sheila terasa dingin saat mereka sama-sama menangis.</p>
<p>1586</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://jenkna.wordpress.com/category/j-50-k/'>J 50 K</a> Tagged: <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/j-50-k/'>J 50 K</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/kampung-fiksi/'>kampung fiksi</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/novel/'>novel</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jenkna.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jenkna.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jenkna.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jenkna.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jenkna.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jenkna.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jenkna.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jenkna.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jenkna.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jenkna.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jenkna.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jenkna.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jenkna.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jenkna.wordpress.com/814/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=814&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/23/tentang-beranda-jiwa-14/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa413196383db908af161bb87edd7a58?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">jenkna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Beranda Jiwa 13</title>
		<link>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/22/tentang-beranda-jiwa-13/</link>
		<comments>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/22/tentang-beranda-jiwa-13/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 11:13:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jenkna</dc:creator>
				<category><![CDATA[J 50 K]]></category>
		<category><![CDATA[kampung fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jenkna.wordpress.com/?p=808</guid>
		<description><![CDATA[Beranda# 17 &#8220;De nggak pernah dibilang cantik, bajunya bagus, atau minimal, manis kek, mas nggak pernah muji,&#8221; Sheila protes pada Tyo saat mereka makan siang bersama sepulang Tyo kuliah. Karena kuliah di Universitas Terbuka, Tyo hanya kuliah dua hari, yaitu Sabtu dan Minggu. &#8220;De, dari dulu, dari mantan-mantannya Mas, Mas juga nggak pernah memuji soal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=808&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beranda# 17</p>
<p>&#8220;De nggak pernah dibilang cantik, bajunya bagus, atau minimal, manis kek, mas nggak pernah muji,&#8221; Sheila protes pada Tyo saat mereka makan siang bersama sepulang Tyo kuliah. Karena kuliah di Universitas Terbuka, Tyo hanya kuliah dua hari, yaitu Sabtu dan Minggu.<br />
&#8220;De, dari dulu, dari mantan-mantannya Mas, Mas juga nggak pernah memuji soal fisik. Itu bukan karakter Mas. Tapi kalau momennya pas, pasti tanpa diminta pun Mas bakal ngomong. Mas lebih suka berbicara tentang sifat bukan fisik,&#8221;<br />
&#8220;Tapi perempuan kan paling suka dengar pujian&#8230;,&#8221; Sheila masih cemberut.<br />
&#8220;Mas nggak mau kebanyakan ngegombal. Nanti lama-lama De pasti bosen. Kualitas hubungan kita, terletak pada yang nyata-nyata aja, bukan di atas puji memuji, Oke?&#8221;<br />
&#8220;Memang mantannya Mas, sering minta dipuji juga?&#8221;<br />
&#8220;Ya, kaya kamu itu. Kalau mau pergi ribut baget, bagus nggak bajunya, Mas nggak bakal jawab kalau yang gitu-gitu,&#8221;<br />
Sheila menyoraki dirinya sendiri.Dia yang sering berinisiatif membuka cerita cinta Tyo di masa lalu, tapi dia sendiri yang terbakar cemburu memikirkan Tyo pernah memiliki mantan kekasih.<br />
&#8216;Tuuu kan, Ade mulai nih, panas. Makanya udah jangan nanya soal mantan,&#8221; Tyo tersenyum menggoda.<br />
&#8220;Dulu, mas mellihat Ade sosok yang mature, kayaknya jauh dari manja. Sekarang setelah sama mas, kok jadi manja banget ya?&#8221;<br />
&#8220;Ya karena aku Ade dan kamu Mas,&#8221;<br />
&#8220;Aatau panggil mbak lagi aja ya,&#8221;<br />
&#8220;Jangan&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Takut kelihatan tua ya,&#8221;<br />
&#8220;Emang aku lebih tua, itu nggak bisa diubah, kenapa juga milih orang yang lebih tua,&#8221; Sheila tiba-tiba berubah sensitif.<br />
&#8220;Ini tanggal berapa sih! Owh tanggal 25, udah masuk siklus  Pre Menstruasi Syndrom (PMS) nih.. Pantesan dari kemarin bawaannya aneh, yang diem aja, yang nangis, yang nungging,&#8221;</p>
<p>Sheila tertegun. Iya satu dua jerawat sudah muncul. Pinggangnya juga mulai pegal-pegal. Belum kedua payudaranya terasa lebih besar, dan sakit jika tersentuh. Perutnya seperti kram. Nafsu makaannya bertambah, dan kadang menangis karena hal-hal sepele. Tyo sampai menghapali perubahan hormon yang membuat tingkah laku Sheila unik.<br />
&#8220;Gini aja, setiap tanggal 25, kita tetapkan sebagai pelampiasan day, karena semua terlihat serba salah. Mas akan memakluminya karena itu permintaan nona hormon yang tidak bisa dikendalikan,&#8221;<br />
&#8220;Nggak usah, PMS kan bisa maju dan mundur, dan waktunya nggak cukup sehari. Bisa berhari-hari sampai mensnya keluar,&#8221;<br />
&#8220;Ya ya, De ngaku PMS terus selama sebulan juga mas percaya, De kan biasa mengkambinghitamkan nona hormon kalau lagi ngambek,&#8221;<br />
Tyo akhirnya menyadari juga kebiasaan Sheila yang curang. Tapi kali ini, Sheila tidak akan mengkambinghitamkan nona hormon lagi. Kehadirannya tidak salah, justru alamiah. Sheila yang salah menjadikannya nyonya besar. Sheila yang salah membuatnya merasa jadi majikan. Intinya, Sheila dikendalikan hormonnya bukan sebaliknya.<br />
&#8220;Maaf De harusnya bisa mengendalikan perasaan De&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Iya sayang&#8230;De harus tahu ya, buat sebagian orang, mungkin manjanya perempuan itu menyebalkan. Tapi Mas suka kalau De manja. Mas jadi merasa dibutuhkan. Apalagi, De juga tahu banget kapan saatnya Mas diperlakukan sebaliknya. Cuma De yang bisa begitu,&#8221;<br />
Tyo mengelus belahan rambut Sheila yang senyumnya kembang kempis karena baru saja dipuji.</p>
<p>***</p>
<p>Kota Kebumen begitu semrawut dan membara siang itu. Tapi perasaan cinta membuat segala suasana melembut. delman, becak, motor, mobil, dan angkudes seolah hanya melintas seperti pemeran cameo. Sedangkan Sheila hanya terfokus pada satu orang. Pemeran utama dalam sanubarinya. Orang itu telah mengalihkan dunianya, merebut perhatiannya…</p>
<p>Sebagian orang mengatakan, pukul 09.30 masih pagi. Meski terik matahari seakan tumpah bagai pertengahan siang, Sheila lebih memilih seperti pendapat orang-orang. Ah, Sheila sungguh tidak ingin beranjak dari pagi. Membeli mesin waktu kalau bisa. Menghentikannya supaya kebersamaannya dengan Tyo lebih lama. Sheila menunggu lelaki tercintanya nyaris satu jam. Di kota yang belum lama dikenalnya, Sheila merasa hampa. Tapi menunggu terkadang sangat menyenangkan. Semakin cepat bertemu berarti semakin cepat pula berpisah. Membayangkan melepas jemarinya dari tautan jemari Sheila saja rasanya enggan.</p>
<p>Jadi, Sheila menikmati detik-detik mendebarkan itu. Memejamkan mata, membayangkan senyumnya. Setiap tatapan pertama, yang Sheila dan tyo lakukan adalah tersenyum. Seperti perlambang kalimat “Hai, ketemu lagi. aku baik-baik saja, cinta”. Tapi rasa gelisah juga tak berhenti menjalar. kegelisahan yang sulit dicari alasannya. Otak Sheila hanya berseru soal pertemuan dengan Tyo saja.</p>
<p>Sheila mengenyahkan rasa khawatir karena Tyo tak kunjung menjemput dengan mengirim BB messager tanpa makna. sekedar menyapa teman yang sebenarnya tak seberapa penting untuk disapa. dan…saat matanya menjauh dari tuts HP, dia langsung tertumbuk pada sepasang sorot indah sang lelaki. Akhirnya, Tyo datang, nyaris tanpa  Sheila sadari. Hati Sheila luruh. Seperti melepas beban yang teronggok sangat lama. Ini sudah hampir satu tahun, tapi Sheila masih saja kikuk dan malu saat berduaan dengan Tyo. Dengan gemetar, Sheila menyambar tangan Tyo untuk dicium.</p>
<p>&#8220;De, temenin mas ke Warnet dulu ya. Mas mau ngecek nilai ujian,&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho kan bisa pake laptop sama modemnya Ade,&#8221;</p>
<p>&#8220;Udah, pokoknya ikut aja,&#8221;</p>
<p>&#8220;Kan Ade yang ulangtahun, Mas dong yang nurut sama Ade,&#8221;</p>
<p>Tyo memelototkan matanya.Tapi Sheila tahu itu hanya candaan Tyo. Sheila akhirnya mengalah.</p>
<p>&#8220;Tapi pakai motor sendiri-sendiri ya, motor Ade harus ganti oli soalnya,&#8221;</p>
<p>&#8220;Hhhh&#8230;pake acara ganti oli segala. Kan Mas pengen berduaaaann. Besok kan Mas harus pergi ke Wonosobo Studi banding PNPM. Tiga hari lagi,&#8221; Tyo menunjukkan mimik lucu.</p>
<p>Kali ini, kemauan Sheila tidak bisa dibantah. Mereka berada di atas motor masing-masing. Tapi insiden datang, saat dalam perjalanan menuju warnet, datang sepeda motor beraliran ngawurisme, melaju sangat tidak tahu aturan. Menambah semrawut lalu lintas yang sudah kacau balau. Kalau Sheila tidak mengerem, mereka pasti sudah bertabrakan. Karena Sheila mengerem secara mendadak.,ban motornya selip, hingga ambruk ke sebelah kiri. Syukurnya, Sheila berhasil meloncat dan  tidak jatuh tertimpa motor. Di atas segala rasa sakit menahan pegal di kakinya, Sheila lebih terbebani malu.</p>
<p>Tyo sendiri sudah berjalan  sedikit agak jauh di depan. Sheila pikir, Tyo tidak akan melihat kejadian yang memilukan dan memalukan ini. Tapi Tyo ternyata berhenti dan nyaris berbalik. Jika di adegan sinetron, sang lelaki segera membanting motornya dan berlari menuju si wanita tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Sheila justru punya pikiran lain. Ia berharap Tyo tidak melihat itu semua. Melihat kebodohannya berkendara.</p>
<p>Jantung Sheila masih berdebar keras meski insiden itu berlalu. Tapi Sheila bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Sheila dan Tyo lalu memacu kuda besi masing-masing lagi. Entah apa yang ada di kepala Tyo melihat Sheila nyaris tertabrak. Apakah dia khawatir, atau menganggap biasa saja. Sheila tidak bisa membaca raut wajah Tyo di balik helmnya. yang jelas, sampai di Warnet, tidak ada bahasan itu. Sungguh melegakan. Tidak perlu memperpanjang kebodohan.</p>
<p>Bilik nomer 6. Sangat sempit untuk menampung Sheila dan Tyo.  Tapi Tyo bersikukuh memilih warnet tanpa AC itu</p>
<p>“Sayang…” Tyo memangil, lembut. Sheila menoleh.</p>
<p>Tyo  menyodorkan bungkusan kado berbentuk kotak, warna merah, motif bunga. Perayaan ulang tahun di warnet, memangnya tidka ada yang lebih romantis? Meski begitu, tindakan Tyo sampai membuat Sheila  lupa, sudah mengatakan terimakasih atau belum. Sheila merasa seperti ABG yang baru kenal cinta monyet. Malu-malu tidak jelas. Beradu pandang saja rasanya muka Sheila tersengat hawa panas.</p>
<p>&#8220;Mas, kirain mau bawa De ke warung makan agak mewah dikit,&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya nanti ke warung mewah, mepet sawah. Bukannya rumah Kinan deket sama sawah. Sekalian  De, mas juga mau nyari hasil ujian,&#8221;</p>
<p>“Iya Oke. Dibuka di sini ya, boleh?”</p>
<p>Tyo mengangguk. Telapak tangannya mengusap wajah. Kasihan, agak sedikit pucat. Sheila mengelus wajah kekasihnya yang basah keringat. Tangannya juga. punggungnya apalagi. Sheila tersenyum geli. Tyo sedikit gusar karena ditertawakan. Dia tak kalah grogi rupanya.</p>
<p>“Aku tegang tau nggak..Takut nggak cocok.  Tapi, kalau nggak suka, nanti bisa ditukar kok,”ucapnya. hhh…belum apa-apa dia sudah kehilangan percaya diri. Menyebalkan. sejurus kemudian, Sheila menyobek bungkus kado yang mungkin telah susah payah dihiasnya. Terlihat karton sepatu. wah…Sheila membatin dia akan punya sepatu baru. Begitu plesternya terbuka, ada plastik bening berisi kain. Ternyata baju.</p>
<p>Sheila menelitinya seksama. Tyo menahan napas. Tak sabar melihat reaksi Sheila. Sheila sengaja berlama-lama, menyiksa kekasih dengan cara seperti ini, cukup mengesankan dan menyenangkan. Hem…blazer mirip kain woll merah marun dengan dalaman warna putih berkerah tanpa lengan. Sheila mencoba mengukurnya dengan menempelkannya ke tubuh. Sepertinya pas. Ini baju yang memang Sheila inginkan meski modelnya bukan yang ter up to date.</p>
<p>“De, selamat ulang tahun ya, semakin sayang sama mas,” Tyo kembali pada kebiasaan lamanya, cengangas cengenges . Sebenarnya kalimat yang dia ucapkan lebih panjang. Tapi Sheila tidak mendengar. Pertama, suara debar jantungnya rasanya jauh lebih kencang. Kedua Sheila menahan haru. Oke ini memang di warnet, tapi romantisnya bagi Sheila sudha cukup.</p>
<p>&#8216;Mas jangan meluk atau cium Ade, nanti kalau ada Satpol PP razia, bisa diciduk kita.Dikira berbuat mesum,&#8221; Sheila berbisik.</p>
<p>&#8220;Dikitttt aja..,&#8221; Tyo mengecup kening Sheila dua detik.</p>
<p>&#8220;Mas, Ade juga mau ngasih mas sesuatu. Nih, ada handuk kecil. Mas kan suka keirngetan,&#8221; Sheila menyodorkan handuk baru yang memang sengaja dibelinya untuk Tyo.</p>
<p>Sheila menepis airmata yang nyaris tumpah. Sheila berusaha tidak memandang mata Tyo untuk sementara. Sheila hanya menatap layar monitor komputer, sambil menggenggam jemari Tyo dan mengusap -usap punggungnya saja. Tyo gantian mengelap wajahnya dengan handuk pemberian Sheila. Terlihat sekali kelegaan di matanya. Sheila mau tidak mau tertawa dengan tingkah Tyo yang konyol. Seharusnya sebagai laki-laki dewasa, dia tidak perlu begitu ketakutan ketika memberi kado. Sheila sudah bilang berkali-kali, kado tidak penting. Cukup kehadirannya.</p>
<p>“Simbol itu penting,”Tyo ngeyel.</p>
<p>Sheila masih menimang-nimang baju pemberian Tyo. Ada rasa hangat mengalir di sekujur tubuh. Kalau boleh memeluk, Sheila ingin sekali merengkuhnya. Membenamkan kepala di dadanya. Tapi, Sheila hanya bisa merengkuh pundaknya, mengelus punggungnya. Ya, sesederhana itu. Sheila lalu mengangkat pergelangan tangan Tyo yang kurus. Miris rasanya. Tyo semakin hari semakin kurus entah apa sebabnya. Tyo  menepis tangan Sheila. tidak nyaman dipandang kasihan.</p>
<p>“Ade juga kurus,” Tyo melakukan pembelaan. “</p>
<p>Tuhan, apa yang bisa kulakukan untuk membuat tubuhnya lebih kuat. Sheila mendesah sendirian.</p>
<p>&#8220;Nilainya udah ketemu belum,&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm kayaknya dicek besok aja,&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas, sengaja ya cuma numpang ngasih kado di warnet. Kalau begitu, dirumah kontrakan Ade juga bisa,&#8221;</p>
<p>&#8220;Hehehhehehe,&#8221;</p>
<p>&#8220;Cengar-cengir aja,&#8221;</p>
<p>&#8220;Nih udah sempet download lagu-lagunya Yngwie Malmsteen, Idolanya Mas. Nggak sia-sia kan ke Warnet,&#8221;"</p>
<p>&#8220;Pinter cari alasan,&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba, handphone Sheila menjerit. Kinan sudah menunggu di rumahnya. Kinan memang mengadakan sedikit pesta kecil-kecilan untuk Sheila. Sheila dan Tyo saling memandang. Tersenyum. Mengalihkan arah bola mata ke monitor, memandang lagi, tersenyum lagi. Bahasa tubuh yang baku untuk mengakui kalau sama-sama tak ingin mengakhiri kebersamaan hari ini.</p>
<p>Perjalanan ke rumah Kinan, medannya agak sulit karena ada jalan menurun yang cukup curam. Aspal jalan itu sudah terkelupas dan menyisakan tanah serta bebatuan kasar. Belum lagi berlubang di sana-sini. Sugesti bahwa Sheila bisa melaluinya seperti biasa tak bekerja.</p>
<p>Sugestinya mati. aku pasti jatuh. batin Sheila berkoar-koar tanpa bisa dicegah.</p>
<p>“Ade tenang, remnya yang stabil, jangan direm kenceng begitu. Dan jangan berhenti, nanti jatuh,” Tyo seperti bayangan Edward Cullen yang terus menguntit Bella Swan. Sheila tahu Tyo berusaha menjaga Sheila dengan instruksinya. Tapi instruksi itu keluar masuk tidak jelas dalam otak Sheila. Sheila justru fokus pada rasa sakit yang belum terjadi. karena jika terbentur batu-batu itu dan tertimpa motor, Sheila mungkin akan berdarah, lebam, lecet apalagi… pada turunan curam terakhir, Sheila sudah tidak bisa menguasai stang. dan….ya…sesuai prediksinya,  terseok jatuh ke sebelah kiri. Untung tidak rubuh seratus persen. Entah apa yang Tyo pikirkan, ini kebodohan kedua.</p>
<p>Sheila menunjukkan muka memelas. Setengah manja, Sheila merengek pertolongan. Tyo mengambil alih kendali motor dan memboncengkan Sheila sampai jalan yang lebih landai. Tyo lalu menyuruh Sheila melanjutkan perjalanan lebih dulu, karena dia harus naik lagi mengambil motornya yang terparkir sembarangan. Sheila memperhatikan kelebat punggungnya dari kaca spion. Apa cinta benar-benar membuat laki-laki menjadi lebih sabar?</p>
<p>&#8220;De, nggak denger instruksi Mas sih. Kenapa sih naik motornya mengkahwatirkan begitu. Tadi aja hampir ketabrak. Mas tuh jadi ngerasa ilang separo nyawa, berasa nggak becus jagain Ade,&#8221; Tyo nyerocos sembari mmebanting tubuhnya di Sofa rumah Kinan.</p>
<p>&#8220;Iya Maaf,&#8221;</p>
<p>Sheila lalu mengalami histeria aneh. Sheila jadi lebih cerewet menanyakan apa Tyo baik-baik saja, sampai Tyo merasa risih. Sheila ingin memijit bahunya, atau apalah yang bisa Sheila lakukan untuk memastikan dia sehat setelah naik ke dataran tinggi dengan perut kosong dan dehidrasi.</p>
<p>&#8220;Banyak anak kecil di sini, De jangan pegang-pegang ah,&#8221; Tyo mengingatkan Sheila.</p>
<p>Mereka, sepanjang sore terpaksa berlatih mengendalikan diri. Sheila menyalurkan cinta hanya lewat tatapan, begitu juga sebaliknya. Sheila sibuk membantu Kinan di dapur. Sedangkan Tyo asyik meladeni dua keponakan Kinan yang hiperaktif. Sheila tidak sempat menghitung berapa lama mereka duduk berdekatan, tapi tidak bisa menjangkau satu sama lain. Mereka membentuk dinding sendiri.</p>
<p>Sheila melihat Tyoberseliweran antara ruang tamu, ruang keluarga dan dapur, itu membuat Sheila tenang. Setidaknya Tyo ada. Sheila mengalah tidak memilikinya secara khusus. Tapi…Sheila sangat rindu…meski dekat tapi Sheila merindukanya…</p>
<p>&#8220;Ki, makasih ya dah bikin pesta kecil buat aku,&#8221;</p>
<p>&#8220;Pesta apa, kita kan cuma makan bareng aja. Kebetulan keponakanku juga ada yang ultah hari ini. Anak-anak redaksi juga nggak ada yang kita undang. Ini semacam private party, buat kamu dan Tyo, biar bisa berduaan,&#8221;</p>
<p>&#8220;Berduaan apaan, banyak tuyul-tuyul begini,&#8221; Sheila tertawa.</p>
<p>&#8220;Mereka bisa jadi satpam, biar kalian nggak ngapa-ngapain. Ya udah, aku tinggal ke dalam dulu ya. Mau beresin dapur, Sheila kamu di sini aja, temenin Tyo,&#8221;</p>
<p>&#8220;Sipp,&#8221;</p>
<p>Saat itu, hampir senja, Sheila melihat Tyo sudah sangat kelelahan. Merebahkan diri di sofa panjang. Tangannya bersidekap memeluk bantal. Matanya terpejam. Melihatnya tertidur, menjadi hal yang Sheila sukai. Tidur seperti bayi yang tidak punya daya. Kalau tidur dipangkuan Sheila, pasti akan lebih nyaman. Sheila mengelus kening Tyo. menyematkan jemarinya ke helai rambut depan Tyo. Tyo terbangun. Sorot matanya merah dan sayu. Sheila semakin merasa bersalah. Tapi, Tyo meyakinkan Sheila bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana tidak khawatir? Sheila adalah orang terpanik di dunia jika terjadi sesuatu yang tidak beres pada Tyo. Ya, paling tidak  Sheila merasa begitu.</p>
<p>&#8220;Sayang, sini..,&#8221; Sheila meminta Tyo tidur di pangkuannya. Mungkin karena rindunya juga membuncah, Tyo tak ragu lagi. Dia menurut.</p>
<p>&#8220;Tidurlah&#8230;,&#8221; Sheila membelai kepala Tyo.</p>
<p>Bukannya tidur, Tyo malah mendekap pinggang gadis itu. Lalu menciumi perut Sheila.</p>
<p>&#8220;Kalau kita punya anak nanti, aku mau dia seperti kamu, cerdas, punya banyak keahlian. Tapi kalau soal kesabaran, keuletan, kedewasaan, dia harus menuruni sifat Mas,&#8221;</p>
<p>&#8220;Ngayalnya jauh amat Mas,&#8221;</p>
<p>&#8220;Kegiatan asyik yang gak bayar ya berhayal yang indah-indah,&#8221;</p>
<p>Disaat Sheila masih sangat ingin bercakap-cakap lebih lama, tiba-tiba dua keponakan Kinan sudah mengerubuti Tyo lagi.</p>
<p>&#8220;Om main PS lagiii!&#8221; seru mereka. Untung Kinan, memberi kode untuk persiapan makan malam.</p>
<p>“Sayang, mau minum apa?”</p>
<p>“Teh manis hangat,” jawab Tyo singkat</p>
<p>Meski singkat, tapi Sheila suka cara dia menatap, seperti mengatakan, dia suka dilayani begitu. Sheila menyeduh teh dengan air panas. Lalu memasukkan sebutir gula batu ke dalamnya. Sembari mengaduk, Sheila merapikan meja dan menata masakan. Rasanya melayani lelaki yang dicintai, seperti  duduk di sebuah taman indah dalam keadaan lelah. Lalu diberkahi kesiur angin sejuk yang menyamankan tubuh. Singkatnya, hati Sheila senang. bergembira.</p>
<p>Sebenarnya, Sheila ingin melakukan lebih. seperti mengambilkan nasi, lauk dan sayur ke piringnya. Tapi, sheila tidak ingin membuatnya tidak nyaman. Jadi Sheila membiarkan Tyo melakukannya sendiri. Sheila dan Tyo duduk berdampingan. Ia melahap makanan dengan begitu nikmat. Sesekali melempar lelucon sampai Sheila dan Kinan terbahak. Kalau guyonannya keterlaluan, Sheila kadang tak sadar menyentuh jemarinya, gemas. Sebelum Tyo beranjak dari meja makan, Sheilasempat mengiriskan buah kiwi untuknya. Melihatnya mengernyit menahan rasa asam, membuat Sheila mendapat lawakan gratis. Wajahnya sangat lucu.</p>
<p>Malam terus merambat tanpa memberi jeda pada Sheila untuk memeluknya sebentar saja. Malam akan membawanya pulang. Saat Tyo mengancingkan jaket, hati Sheila seperti terbelah. Andai bisa lebih lama. Andai Sheila bisa bersamanya sampai hari berganti pagi. Berat ketika harus mengantar Tyo sampai ke pintu. Tubuh Sheila terasa ringan, tak menapak bumi. Limbung dalam hati. Sakit, tak bisa berlama-lama menggenggam erat punggung tangannya. Menciumnya hanya dalam hitung detik.</p>
<p>&#8220;Maaf ya Mas, De harus nginap di rumah Kinan, ada proyek dari kantor yang mesti kita selesaikan,&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak papa. Mas bisa mengerti. Besok, sebelum Mas berangkat ke Wonosobo, Mas perlu mampir jemput Ade nggak,&#8221;</p>
<p>&#8220;Terserah Mas, &#8221; Jawab Sheila.Tapi dalam hatinya bersorak, tentu saja.<br />
“Iya apa nggak?” Tyo menanyakan ulang.</p>
<p>&#8220;Terserah Mas. Kalau kondisi Mas memungkinkan, &#8220;</p>
<p>“Baiklah, Mas pulang, ya?” Tyo melihat ke bola mata Sheila. lembut. Sheila hanya mengangguk. Dalam imajinasi Sheila, Sheila sudah merengkuh lengannya dalam gamitan jemari supaya tak pergi. Tapi kenyataannya, Tyo tetap pergi. Gelap menelan tubuh kurusnya. Sheila tidak bisa melihat gerak geriknya lagi dalam remang. Hanya deru suara motornya yang berpacu seirama debar jantung Sheila. Inilah perpisahan kecil itu. Sheila sekarang seperti sendirian. mengumpulkan serpihan bayangnya di setiap sudut rumah Kinan supaya tetap jelas.</p>
<p>Tyo masih di sofa ruang tamu, di depan TV, memegang stik PS,  duduk sejajar dengan Sheila di ruang makan. Sheila terus melakukan napak tilas. Sheila dan kerinduannya memekik-mekik sendiri memanggil nama Tyo. Berharap Tyo juga mengingat seperti cara Sheilamengingatnya.</p>
<p>“Sayang, tiba-tiba aku merindukan hujan. Basah yang dibawanya membuatmu meminjamkan sebagian tubuhmu untuk melindungi, dingin yang menyertainya, membuat genggamanmu menguat supaya aku tetap hangat,” desah Sheila pada langit-langit kamar. Saat itu, semua sudah terlelap. Sheila terjaga dalam rindu yang semakin menggigit.</p>
<p>2720</p>
<br />Filed under: <a href='http://jenkna.wordpress.com/category/j-50-k/'>J 50 K</a> Tagged: <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/j-50-k/'>J 50 K</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/kampung-fiksi/'>kampung fiksi</a>, <a href='http://jenkna.wordpress.com/tag/novel/'>novel</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jenkna.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jenkna.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jenkna.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jenkna.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jenkna.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jenkna.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jenkna.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jenkna.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jenkna.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jenkna.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jenkna.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jenkna.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jenkna.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jenkna.wordpress.com/808/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jenkna.wordpress.com&amp;blog=2997874&amp;post=808&amp;subd=jenkna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jenkna.wordpress.com/2012/01/22/tentang-beranda-jiwa-13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aa413196383db908af161bb87edd7a58?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">jenkna</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
