Beranda #26
Surat pengunduran diri Sheila, disambut heboh di HPK. Mas Wawan, tidak menyangka Shiela benar-benar memutuskan berhenti. Padahal, meskipun belakangan sering ijin, tapi pekerjaan Sheila selalu bagus. Bukan cuma secara redaksional, dari segi kedekatan dengan narasumber, isi berita, dan ketepatan deadline.
Kinan, bahkan sudah sangat pasrah dengan keputusan itu. Dia tidak bisa marah dan memaksakan diri untuk tidak kecewa. HPK kehilangan tambang emas. Mungkin tiga tahun merupakan waktu yang singkat untuk menyebut Sheila soerang repoter brilian. Tapi nyatanya seperti itu.
“Terimakasih ya Ki. Kamu yang mengangkatku dari lumpur. Bisa tinggal di kota ini, mendapat pekerjaan baru. Tapi aku malah megecewakan kamu,”
“Kalau aku bilang kecewa pun, kamu tidak akan menjilat ludah lagi kan? Kamu tetap berhenti kan?”
“Aku juga tidak terlalu suka hidup di Jakarta. Tapi rumahku harus dirawat. Endita sudah menikah sekarang. Dia ingin segera menempati rumah barunya. Aku nggak boeh egois Ki. Papa juga meninggalkan usaha yang sampai saat ini masih jalan, tapi stagnan. Aku mau banget waktu kamu menawarkan bisnis di sini. Tapi, ternyata prioritasku lain sekarang,”
“Kalau kamu nggak putus sama Tyo. Mungkin langkah seperti ini nggak kamu ambil,”
“Ki, ngantuk banget hoaaaaeemmmmm, aku tidur duluan ya,”
Sheila tak menanggapi perkataan terakhir Kinan. Ia pura-pura menguap lagu pergi tidur. Seperti biasa, rumah kontrakannya dibiarkan kosong. Berandanya dibiarkan semakin dingin dan berdebu. Sementara, Sheila mencari kehangatan di rumah Kinan.
***
Daun pohon sengon berguguran seperti salju. Daunnya yang mungil kecoklatan terus terbang merendah, mengikuti tiupan angin. Beberapa helainya, bertengger di rambut Sheila. Sementara yang lain mengotori sepatunya. Kemarau sepertinya akan sangat panjang tahun ini. Seperti Sheila yang mungkin akan lama tak menjenjakkan bumi Kebumen lagi.
“Mbak..,”
“Ratri,”
“Mbak serius mau kembali ke Jakarta,”
“Iya, “
“Mbok nunggu ketemu Mas Tyo dulu, Mbak. Apa perlu aku antar ke Yogya? Sayang sekali, kemarin Mas Tyo pulang sebentar, cuma ngambil surat-surat, trus balik lagi,”
“Memangnya nggak ada yang bisa disuruh?”
“Siapa lagi? Ibu mana mau? Setelah pulang dari Yogya, Ibu sibuk ngurusi pesanan dan jahitan. Bapak orangnya nggak bisa megambil keputusan tanpa persetujuan ibu. Di rumah ini, Ibu yang berkuasa penuh,”
“Mungkin memang belum saatnya ketemu. Ehm..Ratri, siapa yang merawat Mas Tyo di sana?”
“Kurang tahu. Kata ibu sih, ada saudara jauh kami. Namanya Mbak Hanun, dia perawat. Baru saja diangkat jadi PNS kemarin,”
“Ibu berarti tahu betul apa kebutuhan Mas Tyo. Dia menempatkan Masmu ditempat yang tepat. Yang merawat orangnya kompeten,”
“Aku malah jadi malu mbak. Masa anak sendiri di rawat orang lain, orangtua kaya lepas tangan,”
“Tapi sepertinya itu yang terbaik buat Mas Tyo,”
“Mbak, nggak kenapa-kenapa kan? Setelah cerita soal Mbak Hanun, perasaanku jadi nggak enak,”
“Memang kenapa? Kamu takut aku cemburu? Aku udah nggak boleh cemburu lagi Ratri. Kami sekarang cuma berteman,”
“Ah mas Tyo nya aja yang minderan. Gara-gara nggak pede, malah melepas orang baik kaya mbak. Ujung-ujungnya dia tersiksa sendiri. Kalau malam-malam dia itu suka mengigau lho mbak, bilangnya De..ade..jangan tinggalin Mas ya..gitu..Kalau aku intip diam-diam, Mas Tyo juga sering ngelamun, sambil lihat fotonya Mbak Sheila di HP,”
“Dua orang yang saling mencintai, tapi tetap berpisah. Itu namanya apa? Ya belum berjodoh. Cinta ya cinta, jodoh ya jodoh…beda Ratri,”
“Sebelum ada tarub dan janur kuning berkibar, lalu ijab kabul terucap, jodoh masih terbuka mbak,”
Sheila terdiam. Tapi Batinnya mengamini ucapan Ratri.
“Sampaikan salamku saja ya, kalau mas Tyo Pulang. Semoga dia cepat sembuh,”
“Aduh Mbak Sheila….jangan pergi,” Ratri menubruk badan Sheila. Memeluknya erat. Tangisnya menyayat hati. Sheila berusaha tegar walau matanya juga basah. Dia melihat sekeliling rumah Tyo yang masih setia dengan cat warna merah mudanya sebagai salam perpisahan. Sungguh, terlalu banyak orang yang mulai dicintai Sheila di rumah ini. Termasuk ibu sekalipun.
***
Secarik kertas. Tepatnya sobekan kertas. Entah bagaimana cara Ratri mengambilnya dari buku catatan Tyo yang seadanya. Tyo selalu mengaku tak bisa menulis. Apalagi menulis sesuatu yang berbau sastra. Tapi, kata Ratri, tulisan Tyo untuk yang satu ini sangat indah. Dia tak sengaja iku t membacanya karena Tyo menyelipkan kertas itu di bawah bantalnya.
“Waktu Mas Tyo ke Yogya, baru aku ambil. Sepertinya Mas Tyo nggak sadar. Aku cuma membantu Mas Tyo menyampaikan perasaannya sama Mbak,”
Sheila menggenggam kertas itu. Rasanya panas. Kasihan Tyo, Sheila ternyata tak ingin membacanya, karena takut merasa sakit atau bahagia. Sheila hanya menyimpannya pada selipan kopernya. Dan, setelah itu, berusaha melupakan.
Dear Sheila
Ijinkan aku ucap sapa di awal jumpa kita. Harapku saat ini, keadaanmu adalah yang terbaik. Apapun nantinya kesanmu karena goresan ini. Seburuk-buruknya kesan tidak akan mengubah segala rasa yang tersimpan dalam sanubari ini padamu. Ada banyak kata yang hendak kuhadirkan dalam dekap dua tanganmu, Namun akan sampaikah ribuan kata itu padamu?
Dear..
Setiap denta waktu dilamun sunyi, mengantarku segera luncurkan kata dan merangkai kalimat tentangmu serta mengungkapkan kata yang begitu gemuruh agar lapang dada ini, melepas beban yang menghimpit. Meski tak mampu juga menguraikannya dengan sempurna.
Pertama kau hadir, membawa pesona yang tak lekang oleh terpuruknya bimbangku padamu. Lewat kerlingmu, senyum hangatmu, juga sapa jenakamu, sempat membersitkan tanya dalam benakku. Adakah penantian itu untukku? Adakah rasa sepi itu karenaku? Adakah hatimu diliputi berjuta asa yang terpendam bagiku? Ah betapa, aku selalu ingin menjadi sosok yang paling berarti dan dihargai jika bersamamu. Tak kupungkiri, sikap yang kau tawarkan melambungkanku pada angan muluk yang tak berkesudahan.Apalagi harapan itu nampak kau bentang lebar-lebar di hadapanku. Menarik diri ini agar mau berjuang memasukinya.
Dear..
Lambat laun ada yang menjalar pelan memenuhi ruang kosong dalam jiwaku. Menempatkanku pada keadaan yang tak kumengerti. Entah apa nama atau judulnya. Yang kutahu, ada sisi indah dalam hidupku yang membuncah. Membuatku menjadi berarti hanya dengan sebuah kehadiranmu. Rasa ini, tertimbun dan dengan segera mengokohkan akarnya tanpa aku sanggup menafikkannya. Karena itu benar-benar di luar nalarku. Di sisi lain, bayangmu tak kunjung lepas, padahal sedikit banyak, aku telah berusaha melupakan masa lalu. Namun, sungguh kamu terkecuali. Seandainya kamu tahu, jauh di lubuk hatiku, seolah ada suatu gema yang melarangku mengotori kesetiaan rasa ini padamu. Kenapa keseriusan itu hanya padamu?
Kekasihku yang jauh…
Saat sepi sendiri, seandainya ada yang membuatku merasakan panasnya rindu, kamulah orangnya. Pun saat angan kita melambung jauh, merasa ada yang hilang dari kenangan masa lalu, yang terkadang membuat sakit, perih dan kecewa, kamu juga orangnya.Membiaskan masa depanku tentang segala harapan untuk merenda hari menikmati anugerah-Nya, itu adalah kamu. Dan, bila aku merasa kehilangan percaya diri, terpuruk dalam ketidakberdayaan, terpojok pada keadaan dan disaat semua tak lagi hadirkan getaran, tak suakakan aliran rindu, tak lagi punya arti, kamulah yag akan mengubahnya.
Inikah wujud cinta yang tersohor agung itu? Yang tidak bisa diraba hanya bisa diselami dengan mata hati. Sungguhkah aku telah menjatuhkan piihan hanya pada engkau?
Segala perkataa apapu asal keluar dari bibirmu, semua terasa lain, seolah sebuah janji yang harus terpatri dan terjaga bagi setiap bongkahannya.
Ketahuilah Sayang..
Walau samar dan tak kentara, meski lirih dan sendu, senandung rindu untukmu belum lelah kudendangkan. Suaranya yang sayup, mungkin tak terjamah olehmu. Mungkin dengan teriring doaku, akan mampu meraba getar rasa di hatimu.
Sayang,
Jika kamu bertanya apa itu cinta? Tanyalah pada hatimu. Maka ia akan menjawab. Cinta itu seluas hatimu memandang dunia ini hingga kau merasakan limpahan kasih sayang semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Sebagaimana aku menyayangimu tanpa sesuatu yang nisbi.
Yours
Hanantyo Wicaksono
1187
