Beranda #21
Keyakinan Tyo mampu menghadapi operasi tanpa bantuan Sheila, ternyata terbukti. Sheila tidak tahu darimana keluarga Tyo mendapat uang yang jumlahnya nyaris menyentuh angka Rp 100 juta. Sedangkan tulang punggung keluarga mereka hanyalah sang ibu. Penghasilan Ibu Tyo berasal dari home industri rempeyek dan konveksi kecil-kecilan.
Tapi Sheila tak ingin memusingkan itu. la cukup lega, akhirnya keluarga besar Tyo jadi lebih hangat setelah Tyo sakit parah. Bisa jadi itu kepedulian yang datang terlambat, tapi Sheila menghargainya. Tyo tidak akan merasa kesepian lagi.
“Mbak nggak kerja,”Ratri, adik Tyo, bertanya sambil menyodorkan secangkir kecil teh hangat. Pas sekali, udara malam begitu dingin menggigit. Sweater woll Sheila bahkan tak mamapu menahan terpaan dinginnya.
“Mbak ijin sehari,”
“Wah, kalau Mas Tyo tahu, dia bisa marah lho mbak. Dia paling nggak suka kalau Mbak menelantarkan pekerjaan,”
“Bagaimana bisa kerja, kalau pikiranku di sini, percuma,”
“iya, aku bisa mengerti perasaan, Mbak,”
“Lama sekali dia sadar, apa sudah ada kabar dari dokter?”
“Belum,”
Sheila begidik. Membayangkan tubuh Tyo dipasangi banyak alat di ruang ICU. Setelah operasi paling tidak satu malam, Tyo memang harus menginap di ICU, sebelum pindah ke ruang perawatan biasa. Sheila berusaha menenangkan diri dengan membuka internet, mencari artikel tetang TBC tulang. Beberapa pengalaman pasien TBC tulang, dihari kedua mereka sudah bisa belajar duduk. Hari berikutnya bisa belajar jalan. Asalkan rajin terapi gerak dan minum obat teratur, pasien akan sembuh. Ini bukan penyakit yang tidak bisa diobati.
***
“Sayang, diminum dulu obatnya,” Sheila membantu Tyo memegangi obat yang hendak diminum. 8 butir. Sheila hanya menelan ludah melihat obat sebanyak dan dengan ukuran sebesar itu.
“De, nanti di depan pintu tolong ditulisin yah, pengunjung yang membawa benda magnet dilarang masuk,”
“Lho kenapa?”
“Nggak tahu ya sekarang aku kan bionic man. Ada pen titanium sama mur ditanam badan Mas, nanti kalau pada nempel gimana?”
“Masihhh bisa bercandaaa,”
“Bercanda bisa, berdansa yang nggak bisa. Kakiku belum bisa gerak nih,” kata Tyo sembari menepuk-nepuk kedua kakinya.
“Sabar sayang, kalau cuma sakit pilek sih, sehari juga udah bisa lari-lari,” Sheila mengusap rambut depan Tyo yang berantakan.
“De lihat, kantung nanah yang dikeluarin dari tubuh Mas nggak? Ih..masa ya di tulang bisa abses, ada nanahnya,”
“Hoeekk, Mas ih..jangan ngomongin itu. De mual,”
“Mual itu bawaan bayi kita,”
Sheila mendelik. Tyo memanyunkan bibirnya.
“De ijin berapa hari dari kantor?”
“Besok kebetulan tanggal merah, koran kan nggak terbit. De ijin sehari, plus libur sehari berarti,”
“De pulang aja ke Kebumen. Mas, mungkin masih lama dirawat di sini,”
“Iya Mas memang harus lebih lama di rumah sakit. Untung aja Purwokerto punya rumah sakit khusus tulang yang bagus, jadinya De nggak terlalu jauh buat jenguk Mas,”
“Sayang, Mas harus bilang apa untuk semua yang sudah de lakukan,”
“Mas, nggak ngusir Ade aja, De udah seneng. Mas kalau sakit suka berubah galak,”
“Mas malu kalau terlihat lemah, mau nangis juga nggak enak di depan Ade,”
“Menangis bukan lemah atau cengeng. Itu hanya ekspresi jiwa,”
“Ya tapi….eh ada dokter….,”
Dokter Gunawan Sp OT Spine datang bersama beberapa perawat dan co as dokter, memeriksa keadaan Tyo. Senyumnya yang kebapakan dan sifatnya yang suka berkelakar, membuat Tyo sangat nyaman. Dia pula yang meyakinkan Tyo untuk segera menjalani operasi, disaat dokter-dokter lain tidak mampu membujuknya.
“Mas Tyo akan mengalami masa-masa sulit setelah operasi. Itu wajar. Nafsu makan berkurang, berat badan turun, kaki belum bisa bebas digerakkan. Macam-macam lah. Tapi kalau disiplin menjalni fisioterapi, minum obat tepat waktu, Mas Tyo akan sembuh. Sugesti diri Anda juga, kalau semua bisa dilewati dengan baik-baik saja,” kata dokter Gunawan.
“Oh ya dok, saya takut penyakit saya menular. Bahaya tidak kalau kami sedekat ini?” Tangan Tyo menarik badan Sheila lebih dekat dengannya.
“hahaha…Ya memang keluarga ataupun yang dekat dengan pasien sebaiknya memeriksakan diri juga Karena penularannya tergolong cepat. Bisa melalui udara, darah dan peralatan makanan. Kalau mengalami gejala-gejala seperti berat badan turun drastis, demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas, tapi bukan tifus, malaria atau infeksi saluran nafas akut, disertai keringat malam, pembesaran kelenjar getah bening yang biasanya di daerah leher, ketiak dan lipatan paha, juga batuk lama lebih dari 30 hari, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter,”
“De, jauh-jauh sana,” Tyo cepat-cepat menyuruh Sheila menjauh. Tindakan Tyo kembali memancig tawa dokter Gunawan.
“Mas tyo juga harus rajin pakai masker, menjaga ventilasi dan makan makanan bergizi. Oh ya, sekali lagi soal obat, harus dikonsumsi secara teratur dalam jangka lama atau berkisar satu tahun. Di sinilah kedisiplinan pasien sangat dituntut. Seringkali, pengobatan yang lama menimbulkan kebosanan pasien. Jika hal itu terjadi, kuman tersebut menjadi kebal terhadap antibiotika,”
“Saya akan jadi satpamnya dok,” celetuk Sheila.
“Terimakasih. Sudah ya, besok kita cek lagi,”
“Terimakasih dokter,” ujar Sheila dan Tyo hampir bersamaan.
***
Sudah satu minggu, tumpukan pekerjaan kantor merenggut waktu Sheila membersamai Tyo. Gelaran safety riding yang merupakan kerjasama kantornya dengan kepolisian lalu lintas, sedang menjadi primadona di sekolah-sekolah. Sheila yang sudah kadung ditunjuk sebagai koordinator liputan, harus mengikuti agenda itu sampai selesai.
Padahal, Ratri pernah mengirim SMS kalau Tyo mengalami depresi karena tak kunjung bisa berjalan. Sheila sudah sangat ingin terlibat dalam keterpurukan Tyo seperti biasa, meski Tyo melarangnya memiliki rasa peduli yang berlebihan. Kata Tyo, hubungan kekasih, bukan untuk menjerat, membuat pasangannya tidak bebas beraktualisasi.
“Ki, please, ini kan tinggal sesi terakhir. Pasrahin ke Nugroho aja ya, Aku harus ke tempat Tyo. Andai kamu tahu keadaan dia sekarang. Dia masih belum bisa berjalan,”
Sheila sampai memohon-mohon untuk dibebastugaskan dihari terakhir penyelenggaraan safety riding tahap pertama. Sheila sudah tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya untuk secepat mungkin menemui Tyo. Untunglah, Kinan, bukan orang yang tak punya hati, dia mengijinkan.
Di atas kursi roda, dengan berat badan yang terus merosot, hingga nyaris kulit pembalut tulang, Tyo menatap nanar pada Sheila. Wajahnya sudah seputih kapas dan tidak ada segaris senyum yang biasa menyambut kedatangan Sheila. Saat Sheila bersimpuh di depan kursi roda, Sheila melihat mata kekasihnya berkaca-kaca.
Ratri bilang Tyo tidak bisa menelan nasi. baru melihat nasi saja dia selalu muntah. Jadi hanya bubur sumsum yang dikonsumsinya tiap hari. Berat badannya sudah turun sekitar delapan kilo.
“Sayang…,” Sheila memanggil.
“Boleh nggak Mas peluk Ade, sekalii aja,” ucap Tyo lirih.
“Kenapa cuma sekali? Berkali-kali juga boleh,” Sheila berdiri lalu membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Tyo yang kini memakai masker.
Keduanya berpelukan. Sungguh, 10 menit yang hangat. Sheila tak mampu membendung airmatanya lagi. Tapi saat Tyo melepas pelukannya, Sheila sudah mengemas air mata itu dengan punggung tangannya.
“Sayang, dengarkan Mas baik-baik. Tolong Ade berpikir secara jernih. Tanamkan juga pada pikiran Ade, kalau Mas ini nggak bermaksud jahat,”
“Mas mau bicara apa?”
“Sayang, Mas mau kita kembali seperti waktu pertama kita ketemu. Sebagai sahabat yang baik,”
“Maksud mas?”
“Anggaplah ini jalan yang bercabang, kalau mau menengok masa lalu, tentu perasaan kita yang harus diperkuat, karena masa lalu membentuk perasaan kita yang sekarang. Tapi kalau mau menatap masa depan, De harus berani melawan perasaan itu, dan berjalanlah dengan realitas yang ada,”
“Tolong jangan berputar-putar, Ade nggak ngerti,”
“Kita kembali bersahabat aja ya…De harus bisa hidup tanpa bergantung dengan Mas lagi sebagai kekasih. Mas yakin De bisa. Perasaan mas nggak pernah berubah hingga detik ini, perasaan yang sangat dalam sampai Mas tidak mau ditarik keluar dari kedalaman itu. Tapi keadaanlah yang berubah, semua sudah tidak sama lagi. Tolong, kali ini jangan debat Mas. Mas sudah terlalu lelah untuk sekedar menaikkan volume suara supaya Ade mengerti,”
Sheila terkesiap. Ini sebuah perpisahan yang tidak dirancang sama sekali. Ini terlalu sepihak. Batin Sheila menjerit-jerit. Lutut Sheila gemetaran, seperti tak sanggup menyangga tubuhnya lagi. Sheila akhirnya terduduk di hadapan Tyo. Matanya kering. Air mata sudah tidak bisa dipompa lagi.
“De…jadilah pribadi yang kuat. kebahagiaan bisa didapat dari mana saja, tidak selalu searah, tidak harus dari Mas,”
“Jangan bilang apa-apa lagi, Mas. Cukup,” Sheila sedikit membentak. Giginya gemerutuk, menahan seribu macam rasa sakit yang membuncah.
“Sayang….,” Tyo membuka kedua tangannya lagi, berharap Sheila menghambur ke pelukannya, untuk yang terakhir kali.
Sheila terlalu lemah untuk bangkit. Dia hanya mampu merebahkan kepalanya di atas pangkuan Tyo. Semua serba gelap dalam dunia Sheila. Otaknya berharap kosong berisi angin atau minimal kerupuk. Supaya tidak terasa apa-apa.
***
1320
