Beranda #20
Seorang yang mencinta, ketika yang dicintainya luka, pasti merasa lebih terluka lagi, meskipun penderitaan itu tidak terjadi langsung padanya. dan, Sheila merasakan itu. Sheila bisa memberi motivasi dan memompa semangat Tyo untuk bertahan dalam keadaannya, tapi dia sendiri begitu rapuh.
Setiap malam, Sheila terjaga dari tidur dengan perasaan perih. Kantuknya hilang entah kemana. Ia ingin selalu menggenggam tangan Tyo, tapi Tyo melarangnya memiliki perasaan yang terlalu berlebihan.
“Semua harus dilalui dengan tenang, sayang” bisik Tyo setiap kali Sheila mulai gelisah membabi buta.
“Kau mungkin tidak sekhawatir aku, karena kau yang mengalaminya, kau tahu bagaimana cara mengatasinya. Sedangkan aku? tidak tahu bisa apa. Kau mungkin tidak seresah aku, karena kau yang merasakannya, kau tahu bagaimana meredakannya. Sedangkan aku? tidak mengerti dengan apa. Kau mungkin tidak sebingung aku, karena kau yang menjalaninya. kau tahu bagaimana mengendalikannya. Sedangkan aku? tidak paham harus seperti apa,” Sheila selalu protes kalau Tyo sudah menunjukkan mimik kesakitan, tapi tidak mau dikasihani. Justru mengusir Sheila keluar dari kamarnya.
“Simpati boleh, tapi jangan ditatap dengan pandangan kasihan begitu. Mas, nggak mau,”
“Biarkan De mengalami segala kekacauan rasa untukmu. Berpartisipasi supaya merasa lebih baik. Jangan khawatir, karena rasa itu akan kembali sama, dingin dan tenang, sesaat lagi,” Hibur Sheila setiap Tyo mengungkapkan rasa tidak sukanya karena terlalu diperhatikan.
Berpartisipasi supaya merasa lebih baik? Itu kata-kata bohong. Sheila tidak pernah merasa baik, meski sudah mendampingi Tyo menjalani hari-harinya dengan badan digips. Ini sudah enam bulan, tapi gips tidak berpengaruh apapun, karena punggung Tyo memang sudah parah. Tiga rumah sakit yang memeriksa hasil rontgen Tyo, semua dokternya menyarankan untuk operasi.
“Tulang lumbal 2 dan 3 patah, Dua ruas tulang sudah hancur. Tulangnya sudah diselimuti nanah,” kira-kira seperti itu yang dikatakan dokter dan diterima telinga Sheila yang berdenging-denging.
“Mas memang harus dioperasi, supaya bisa seperti dulu lagi. Mas nggak mau kan, jadi nggak produktif?”
“Iya, tapi biayanya pasti sangat mahal. De tahu kan kondisi keluarga Mas?”
“Orangtua Mas pasti mau mengusahakan apapun. Ini keadaan gawat, mereka nggak bisa cuek lagi,”
“Entahlah apa ibu bisa berpikiran seperti De atau nggak?,”
“She’s a mother. Nalurinya sebagai ibu akan bicara juga. Atau kalau memang keluarga Mas, nggak ada yang peduli, De yang akan tanggung semuanya,”
“De, kalau De sampai melakukan itu, lebih baik kita akhiri saja hubungan kita. De tidak perlu berkorban begitu besar buat Mas,”
“Tapi Mas harus operasi secepatnya. De nggak ngasih cuma-cuma, De pinjami uangnya, nanti Mas bisa kembalikan,”
“De bisa pakai uangnya untuk melanjutkan hidup, melanjutkan masa depan Ade. Mas nggak ikhlas, sungguh! De nggak boleh seperti ini,”
“Jangan egois lah Mas.,”
“Ade yang jangan egois. Mas tahu, De cinta betul sama Mas. Tapi jangan terlalu total, hidup itu penuh batu sandungan. Ketika De mencintai secara total, rasanya bisa sakit terus dan kecewa. Sekarang saja, pasti De memiliki perasaan kecewa karena mas sakit, karena De terlampau peduli,”
“Mas kok gitu sih,”
“Sayang, Mas nggak bermaksud jahat. Mas akan berusaha dengan kemampuan Mas sendiri,”
“Baiklah. Tapi jangan melarang De berada di dekat Mas, itu namanya sudah menyakiti,”
“Kalau itu harus. Tanpa De, darimana Mas bisa dapatkan obat bius penghilang rasa sakit,”
“Hhhh Ade disamain obat bius?”
“Daripada obat tikus,”
***
516
