Beranda #19
Masakan Padang yang identik dengan pedas bersantan, ternyata mampu menarik simpati lidah orang Jawa seperti Sheila dan Tyo. Salah satu rumah makan masakan Padang, Rasa Minang, sering menjadi langganan mereka berdua untuk santap siang. Apalagi, manajernya yang sudah sangat dekat dengan Sheila bilang, baru melaunching menu yang lebih variatif yakni dendeng batokok dan pengek ikan.
Dendeng batokok, adalah masakan khas Sumatera Barat. Dendeng ini dibuat dari irisan tipis dan lebar daging sapi yang dikeringkan lalu digoreng kering. Setelah diiris tipis melebar, lalu dipukul-pukul dengan batu cobek supaya dagingnya menjadi lembut. Daging goreng ini lalu disiram bumbu balado.
Beda lagi dengan pengek ikan. Pengek ikan merupakan masakan khas Ombilin, Solok. Warna masakan ini sangar karena merah segar dengan banyaknya cabe yang dibubuhkan. Rasa pengek ikan lebih asam. Jenis ikan yang dipakai juga berbeda. Pengek ikan menggunakan ikan laut yang dagingnya berwarna putih dan ukurannya sedang.
Bumbu pangek ikan sangat khas, sehingga rasanya juga khas, pedas-pedas asam. Bagi yang tak berselera makan, masakan ini mampu menggugah selera dengan syarat ikan yang digunakan harus segar.
Selain dendeng batokok dan pengek ikan, Rasa Minang juga menyediakan menu lain seperti nasi ayam balado, nasi ikan balado, nasi cincang, nasi gulai kikil dan masih banyak lagi. Di malam hari, rasa Minang akan merubah wajahnya menjadi warung kuliner malam yang menyajikan aneka nasi goreng seperti nasgor ayam, nasgor pete, nasgor baso, nasgor kornet, nasgor kambing dan lain-lain. Sangat dahsyat menikmati makan malam di rumah makan yang luas dan bersih seperti ini.
Tyo tampak kepedasan tapi masih meneruskan melahap pengek ikan. Sheila yang selesai lebih dulu dengan nasi goreng kambingnya, mencuri kesempatan memandangi Tyo cukup lama. Namun, pikiran Sheila melayang pada kata-kata Kinan, belum lama ini.
“Mas Wawan mulai ngeluh karena produktivitas kamu yang mulai menurun Sheil. Sorry to say, tapi kayaknya waktumu terlalu banyak bersama Tyo,”
Setelah di pindah ke desk ekonomi bisnis, pekerjaan Sheila memang sedikit santai. Liputannya ringan, karena sifatnya komersial dan berhubungan dengan iklan. Peresmian toko, pameran produk, launching produk, yah seputar itu. Beda ketika dia berada di desk floating dan kriminal yang penuh dengan agenda investigasi.
“Mas Wawan sengaja rolling kamu ke berbagai desk dalam tempo yang cepat, karena dia mempersiapkan kamu untuk jadi redaktur Sheil. Wajar kalau dia kecewa, karena tulisanmu sekarang datar, seperti asal ketik, kamu kaya buru-buru mengejar waktu untuk kegiatan lain di luar redaksi,”
Hhhhh….Sheila mendesah. Sheila tidak yakin, dirinya yang workaholic bisa begitu tidak profesional dalam bekerja hanya karena sibuk mengurusi cinta melulu. Tapi kalau sampai Mas Wawan mengeluh pada Kinan, berarti, kelakuan Sheila memang sudah kronis.
“Ada nasi nempel di muka Mas? Ngelihatinnya kaya begitu,”
“Kita bakal jarang ketemu, Mas”
“Kenapa? uhukk” Tyo tersedak.
“Pekerjaan De lebih sibuk sekarang,”
“Ada masalah?”
“Nggak Mas. Tugas Ade lebih berat aja,”
“Kalau begitu, Mas nggak akan sering-sering ngajak Ade keluar. Ade konsen aja ke pekerjaan. Kita kan masih bisa komunikasi lewat telepon. Itu pun kalau Ade nggak sibuk,”
“Nggak gampang ngerubah kebiasaan..,”
“Ade…jangan mulai mendramatisir keadaan deh. De harus mementingkan pekerjaan. Titik,”
Tyo masih batuk-batuk. Dadanya mungkin sakit, karena beberapa kali Tyo mengelusnya.
“Ade perhatikan, Mas udah tiga minggu batuk terus, udah periksa belum?”
“Ini batuk biasa. Mas udah minum obat kok, “
“Pasti nggak ke dokter, pasti obat warung, masa nggak ada perubahan” Sheila mendengus kesal.
Tyo menanggapi dengan cengiran dan muka tak berdosa.
***
Malam…
pernahkan ada fikir yang menggiringmu untuk tetap membersamaiku?
sampai kulit kita dimakan magnet bumi hingga menggelambir begitu renta?
bisakah kita dalam derit angin yang menampar tetap menegakkan bahu, saling menyangga?
mungkin waktu telah dikebiri waktu yang lain
mungkin jiwa telah digantikan jiwa yang lain
mungkin debu telah dihembusi debu yang lain
tapi apa engkau akan berselumur menjadi manusia yang lain?
kumohonkan tidak
kuharapkan jangan
pergi! bertengger yang jauh
tapi kelak putar wajahmu kembali
sekedar menggarisbawahi bahwa kita terikat
pada kenangan
pada pepohonan
pada hujan
pada bebatuan
aku tidak tahu sampai kapan kita bisa senantiasa “saling”.
malam ini, kamu masih bisa tertawa di seberang, menggodaku
aku juga masih berderai-derai , menanggapinya
entah esok..
entah esok..
kuucapkan kembali, malam ….
sementara aku sedang memetik satu jarum hujan
di jemari
dan kupersembahkan untuk kesejukan kita, dalam hubungan berjudul apapun nantinya….
Sheila sudah lama tidak menciptakan puisi. Tapi segala tentang Tyo menuntunnya untuk mengungkapkan perasaan lewat cara apapun termasuk kalimat-kalimat. Sheila mematuhi Tyo serta keras terhadap dirinya agar tidak terlalu larut dalam cinta. Tapi rindu tetap tidak bisa digubahnya menjadi madu. Rindu tidak pernah manis.
Masalahnya kondisi kesehatan Tyo terlihat makin menurun dari hari ke hari. Sheila ingin mendengar kabarnya tiap detik kalau bisa. Sheila punya firasat jka Tyo tidak baik-baik saja. Terakhir, saat mengantarkan peyek pesanan Sheila, Tyo berjalan terpincang-pincang. Tyo mengaku, kaki kirinya terasa lemah untuk berjalan. Tapi Tyo, si keras kepala itu, selalu menolak menjalani rontgen. Dia lebih percaya tukang urut.
Tiga bulan berlalu, Tyo berusaha tampil tegar dan kekar. Tapi Sheila tahu dia menahan rasa sakit di kaki. Bahkan, Tyo sampai terjatuh dari motor karena kondisinya melemah. Tapi Tyo selalu bilang, dia hanya keselo dan masih setia diurut. Sulit sekali membujuknya pergi ke rumah sakit. Air mata Sheila pun tak bisa lagi jadi senjata.
“Kedua adikku sudah ikut suaminya masing-masing. Selama ini, kalau Mas sakit, ibu nyaris tidak pernah peduli. Dalam kondisi terparah sekalipun, Mas harus ke dapur sendiri ambil makan, memijat badan sendiri, kerokan sendiri, pokoknya mengurus diri sendiri,” Kata-kata Tyo kembali terngiang. Membuat bulir-bulir air mata Sheila jatuh lagi dan lagi.
***
“De, ikan apa yang nggak bisa berenang,”
Tyo masih saja bercanda. Padahal sekarang mereka berada di rumah sakit, menunggu hasil pemeriksaan kondisi kesehatan Tyo. Bujukan Sheila akhirnya mempan. Tyo bersedia mengakhiri ketergantunganya terhadap obat warungd an tukang urut.
“Apa?” tanya Sheila kurang antusias. Dadanya berdebar karena dokter tak kunjung keluar menemui mereka.
“Ikan bego, masa nggak bisa berenang hahhaa aduh,” Tyo memegangi punggungnya. Dia bilang ngilu.
“Mas, makanya jangan kebanyakan ketawa,”
“Daripada kebanyakan minum es malah batuk kaya begini uhuk uhuk..,” Tyo batuk-batuk terus.
“Hanantyo Wicaksono,” asisten dokter yang didatangi Sheila dan Tyo memanggil. Sheila memapah Tyo ke dalam ruangan serba putih dan berbau obat itu.
“Pak Tyo dan ibu…sebagai dokter saya tidak akan menyembunyikan keadaan terburuk dari pasien. Kondisi Pak Tyo sudah cukup parah. Bakteri Mikobakterium tuberkulosanya memang tidak masuk ke paru-paru tapi sudah menyebar ke tulang punggung Bapak. Karena ada tulang yang hancur,tidak ada jalan lain kecuali operasi, untuk pemasangan pen”
“Harus operasi dok? Kalau tidak?’
“Itu akan mempengaruhi organ motorik bapak. Bapak nanti bisa lumpuh,”
“Lumpuh??
Entah bagaimana perasaan Tyo. Sheila tidak berani memandangnya. Apalagi matanya mulai basah. Tyo pasti tidak suka.
“Kalau bapak tidak puas dengan hasil pemeriksaan di rumah sakit ini, bapak bisa mencari second atau bahkan third opinion dari dokter lain. Apa memang harus dioperasi atau tidak,”
Melihat Tyo mengalami uji TBC saja Sheila tersayat hatinya. Melihatnya harus menyetorkan dahak di pagi hari selama dua minggu berturut-turut, tes tuberkulin di kulitnya, ah Sheila bahkan enggan mengingatnya.
1132

salut dah ma semangatnya. lg ngegas trs ya mb?