
“sedih dan bahagianya hidup itu kita yang pilih, kita yang putuskan,” kata seorang kawan.
teman saya itu ingin menunjukkan dan menyembunyikan kesedihannya. seperti mama seorang sahabat saya. di rumah, dia punya pressure yang super dahsyat, suami otoriter, anak sulung drop out dari universitas, anak laki-laki satu-satunya juga melakukan hal yang sama setelah bertahun-tahun disekolahkan. Dus, dia juga dikelilingi kerabat yang senang mengadu domba. tapi tawanya tak pernah lepas jika mengobrol dengan saya.
“masalah di rumah ya di rumah, di luar tante juga berhak dong menikmati hidup. stres jangan dibawa ke luar rumah,” ujarnya riang.
Begitukah hatinya? saya berpikir. apa tidak malah menjadi penyakit hati memendam banyak masalah dengan berusaha memanipulasinya menggunakan tawa. tapi dia sungguh tulus, tawanya memang tidak mengada-ada. yah, mungkin dia memilih menjadi bahagia ketika keluar dari lingkaran kesedihannya di rumah.
sedangkan saya? gampang sekali menebak saya sedang sedih, marah atau gembira. saya memang ekspresif. plus pencemas. tidak mudah membuat saya tersenyum saat saya ditimbuni stres yang berlebihan atau sedang dalam keadaan2 seperti di atas. dulu teman sekamar saya pernah jengkel karena sepulang kerja, muka saya ditekuk dan tidak banyak bicara. menurut saya, saat itu orang paling bermasalah di dunia adalah saya. saya baru dapet omelan di kantor, bapak sama ibu sakit, tapi nun jauh di kebumen sana, saya juga mulai meriyang, uang tinggal cukup buat seminggu, motor perlu diservis, saya sampai bingung mau menyelesaikan yang mana dulu. tapi teman saya itu tidak bisa menerima kelakukan saya. kalau sedih, dia berharap saya membaginya, tidak disalurkan dengan cara memasamkan muka. dia jengkel karena dia pikir dengan tertawa bersamanya saya akan lebih baik, tapi waktu saya pulang di tanya saja tidak menyahut dan langsung ambruk ke tempat tidur. saya menyalurkan energi negatif ke seluruh area yang saya sambangi, termasuk kamar tidur saya sendiri.
bapak dan ibu saya sendiri berkali-kali membombardir telinga saya dengan cerita masa lalunya yang tidak sebanding dengan kehidupan saya (apalagi bungsu, paling sejahtera). bapak dan ibu mengalami nasi aking, nasi campur jagung, makan bonggol pisang, makanan2 yang gizinya tak layak. tapi saya juga masih mengalami telur resbus satu dibagi lima (sesuai jumlah saudara), mie instan satu mangkuk di bagi tujuh (sekeluarga) kepala ayam dalam berkat cuma buat bapak, tidak boleh di sentuh anak-anak, dan bayar LKS sering telat. tapi persamaannya, bapak, ibu dan saya sama2 tanpa beban, tidak menganggap itu hal yang dramatis, kasarnya tidak terlampau sedih. kalau mengingatnya tidak ada perasaan sesal. kami memilih kenangan itu sebagai proses yang membahagiakan.
jamane susah, judul ini memang saya cantumkan karena kehidupan itu semakin tua memang semakin banyak cobaan. meski sebenarnya apa yang kita hadapi sekarang lebih ringan dibanding cobaan masa lalu. kenapa saya bisa bilang begitu? saya pernah mengalami saat2 lebih menyedihkan dari ini semua. seharusnya say abisa lebih tegar, ibarat dosis, saya biasa mengkonsumsi obat 500 mg. dihantam yang 250 mg pasti nggak ngefek. tapi seperti yang pernah saya tulis dalam novel (yang gagal terbit) yang namanya manusia kadang tegas kadang getas.
seperti saat ini, saya harus memilih, pengalaman-pengalaman mana yang lebih patut mendominasi perasaan saya hari ini. di satu sisi, saya baru dicaci maki, diancam, ditertawakan oleh orang-orang penting. saya juga dipaksa menembus birokrasi yang menurut kemampuan saya, saya sangat sulit menembusnya. tapi disisi lain, feature saya mendapat pujian, bahkan salah satunya (karena tidak ada pilihan lain,
), akan dilombakan ke Jakarta.
saya sedang menimbang-nimbang, ekspresi apa yang tepat saya munculkan hari ini dan selanjutnya…dan biarkan dulu sampai saya tertidur. sampai besok…
wah jenk.. klo bahas ttg lika-liku kehidupan emang ga ada habisnya.. terkadang ada yg ingin dibagi tapi sulit utk diceritakan..
life is so complicated.. !!
semoga aja kita bisa mencapai sesuatu dlm hidup ini ya..
Hi Friend.. Interesting post.. Nice cool blog.. Keep up the good work.. Do visit my blog and post your comments.. Take care mate.. Cheers!!!
iya hidup ini susah sekali sekarang…
kok tunggu sampai besok?
(penasaran pengen cepet liat)
sekarang aja
hhh..jaman edan yen ra edan ra komanan..
jaman susah yen ra susah ra eleng sing susah..
@alone, pasti bisa!!!
ayo senyum…kalo cemberut 32 syaraf mukamu mengendur lho (sok tau)
@rian,
@udin, im happy now
@damalyk, nggih mekaten, leres niku, saestu
wew…mamanya sahabat kamu termasuk org yg hebat, mgkn dia ga mau ngeliatin kesedihannya sama org laen. Coz kalo kita lagi sebel or sedih bisa ngaruh juga kan ke lingkungan sekitar.
U/ Jenka: menurut aku sih jalanin aja apa adanya jgn terlalu dipusingin, caiyooooo..!!!
thx masukannya
Untuk apa kita memperlihatkan kesedihan pada orang lain paling mereka cuma bilang “kasian ya” kita bisa berdiri sendiri tanpa mengemis simpatik yg kadang hanya gombal,,palsu..
OOT = “mb’ adekmu udah kangen nih,, kok jarang main ya,, “
Tuhan sudah memberikan Aturan bagaimana manusia saat bersedih, saat menangis dan bagaimana saat tertawa. Lingkungan, sahabat, kawan dan mungkin alam ini juga terlibat untuk menentukan apakah kita tertawa, tersenyum, berduka, marah, tersenyum dan segala macam rasa.
Tapi penentu dari itu semua yang paling menentukan adalah DIRI KITA sendiri. Itu kenapa kita sering melihat orang yg seharusnya bahagia, akan tetapi hatinya menangis dan mungkin juga sebaliknya.
Kita belajar dari semua rasa itu :0
Salam
kalo memang dirimu seperti itu, kasihan sekali dirimu.
frend, jika kamu menjalani hidup maka ikhlaskan dirimu dalam menjalaninya. kewajibanmu adalah melakukan semampumu selainnya adalah urusan sang penciptamu. satu nasihatku jangan melihat persoalan dari satu sisi. cobalah melihat dari sisi-sisi lainnya, engkau pasti akan melihat hikmah dan bersyukur atas segala apa yang menimpamu dalam menjalani kehidupanmu.
@fandi, meluncurrr
@ari, tosssssss. itulah yang saya maksud, bahwa kebahagiaan dan kesedihan kita yang pilih. tulisan anda sangat menyejukkan hati saya. thanks yaa
@arif, emh…aku tidak pernah melupakan sisi manapun
saya sedang menimbang-nimbang, ekspresi apa yang tepat saya munculkan hari ini dan selanjutnya…dan biarkan dulu sampai saya tertidur. sampai besok…
Cari wangsit ya mbak….hehe….
Smoga mendapat ekspresi yang tepat di hari esok dan kemudian hari….
Yang jelas hidup begitu ngga akan pernah merasakan kebahagiaan yang sebenernya