Aku menyitir zee, zee menyitir khalil gibran
“persahabatan itu setara dengan cinta, tipis batasnya”
dalam genk tisyara, sebenarnya ada lima orang anak kampung yang saling menyayangi, aku, tuti, arif, muji dan saroh. tapi entah magnet apa yang menarik atau memecah belah kami hingga mengerucut intens menjadi tiga orang.
kalau boleh meminjam lagi lirik lagu sheila on 7, kami adalah kisah klasik untuk masa depan. aku jarang melewati hari-hari tanpa mereka kecuali ketika jarak pandang dan hati kami setelah dewasa memang memilih pada biduknya masing-masing. tapi kami pasti kembali, pada ranting yang dulu kami pijak bersama-sama sebelum melenting ke angkasa yang berbeda.
tapi, kini seperti tidak ada jalan pulang. seperti yang kutulis dalam novelku, kami berakhir dengan sebutan baru, tetangga hanya tetangga sebelah yang meski masih peduli tapi telah hilang rasa pada kehangatan. tapi ini bukan kutukan, hanya saja kami menyerah pada waktu dan keadaan.
menikah adalah salah satu yang membuat kami menjadi semakin jauh tapi lebih merindukan satu sama lain. aku satu-satunya yang tersisa dari mereka yang belum menikah dan punya anak. sedangkan mereka telah emmbentuk keluarga kecilnya sendiri.
uh…aku memang tidak bisa membeli masa lalu dan kenangan dengan uang yang kupunya. pun dengan mesin ajaib doraemon. aku cuma bisa membeli sedikit pulsa sebagai penyambung tali yang putus. itu saja.
inilah awal ambang kedewasaan kami, untuk dipisahkan dan dicerabut atas akar-akar kami sendiri


jadul banged
panjenengan apalagi, jagah…jaman tahun gajah,